Showing posts with label saya dan Tea. Show all posts
Showing posts with label saya dan Tea. Show all posts

Dec 22, 2013

Dapoer Pusenlis Trip to Bromo

Tergelitik menulis cerita yang sebenarnya terjadi di bulan Mei 2013 yang lalu, cerita perjalanan wisata saya dan istri serta keluarga kecil saya di kantor.

Judulnya Dapoer Pusenlis Trip to Bromo. Apa itu Dapoer Pusenlis? Dapoer Pusenlis (selanjutnya disebut DP) adalah sekumpulan kecil pekerja (pegawai dan outsourcing) di PT PLN (Persero) Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan yang biasa berkumpul bersama saat makan siang, bersahabat baik satu sama lain, bertukar cerita, tertawa dan menangis bersama. DP adalah keluarga kecil saya di kantor. Kenapa dapoer? Karena awal kami berkumpul adalah makan siang bersama yang kemudian berlanjut jadi memasak makan siang bersama di dapur kantor.

Saat sedang bertukar cerita tentang trip pertama DP ke puncak pada 2012, tercetus usulan untuk berlibur bersama kembali di tahun 2013. Usul yang disambut baik dan kemudian direncanakan dengan matang. Awalnya pilihan tujuan wisata adalah wisata bahari di Karimun Jawa dan wisata kuliner di Jogja. Saat hendak voting tujuan, ada yang mengusulkan untuk wisata ke Bromo, maka masuklah Bromo sebagai opsi ketiga yang dapat dipilih. Voting berlangsung ketat dengan beberapa kali terjadi "swing votes", dan akhirnya terpilihlah Bromo sebagau tujuan liburan kami berikutnya, mengalahkan Karimun Jawa dengan selisih tipis dan Jogja yang tidak dapat vote sama sekali.


Setelah tujuan ditetapkan, maka dimulailah rencana wisata kami. Mulai dari menabung tiap bulan demi menyewa bus dan jeep, mengumpulkan dana melalui lomba dan bazaar saat Hari Listrik Nasional, sampai menawarkan jasa ojek yang dananya untuk ke Bromo. Selain itu, masing-masing orang berburu tiket pesawat termurah yang ada, ada pula yang labil antara naik pesawat atau kereta api. Setelah beberapa orang berhasil mendapatkan tiket pesawat super murah dari batavia air lalu kemudian kehilangan uang mereka karena kemudian Batavia Air bangkrut, tetap tidak menyurutkan niat kami pergi ke Bromo (yah, beberapa orang kemudian mundur sih, karena tiket maskapai lain diluar jangkauan dompet mereka). Setelah tiket sudah di tangan, maka berangkatlah kami berwisata bersama.



Tujuan pertama kami adalah Surabaya. Saya dan istri, serta Pak Anto bersama istri dan dua anaknya sempat "terdampar" di Surabaya satu hari lebih awal dari yang lainnya. Semua karena kesalahan saya mengingat tanggal berangkat yang berakibat tiket yang kami beli lebih awal satu hari dari yang lainnya. Terpaksalah kami ber-enam menginap semalam di Surabaya. Untung dapat hotel murah. Daripada bengong di Surabaya, akhirnya kami membuat rencana dadakan untuk berwisata dulu di Surabaya dan sekitarnya. Hasilnya saya dan istri sempat mencicipi beberapa makanan khas Surabaya seperti sate klopo, rawon taman bungkul, martabak bulan, lalu kemudian bersama keluarga pak Anto kami sempat mengunjungi musium kapal selam dan mencicipi bebek sinjay khas Madura.

Kami kemudian rendezvouz dengan teman-teman lainnya di bandara. Dengan jam penerbangan yang berbeda-beda, kami menunggu hingga jam 18.30 waktu setempat, kemudian berangkat dari bandara menuju Batu menggunakan Elf yang kami sewa. Setelah sempat berhenti untuk makan soto ayam lombok, kami akhirnya tiba di villa yang kami sewa. Villa-nya bagus dan nyaman, sangat cocok untuk melepas lelah perjalanan Surabaya-Batu. Awalnya ada rencana untuk mengunjungi taman kota Batu di malam hari dan jika sempat main-main ke Batu Night Spectacular, namun karena kami tiba di villa sudah lewat tengah malam dan semuanya dalam kondisi lelah akhirnya rencana jalan-jalan di kota Batu kami batalkan.



Esok paginya, kami melanjutkan perjalanan wisata dengan mengunjungi pemandian air panas. Sial bagi kami, rupanya hari itu adalah hari dimana pemandian tersebut tutup, akhirnya kami tidak jadi mandi air panas dan memilih berenang di kolam renang umum di dekat situ. Sambil berenang beberapa dari kami sempat mencicipi sate kelinci yang tersedia di warung kolam renang tersebut. Selesai berenang perjalanan kami lanjutkan menuju Jatimpark 2. Karena sudah sore, akhirnya kami hanya berfoto saja di depan Jatimpark 2 dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Yoschi's hotel, tempat kami menginap di Bromo.

Hotel yang mendapat rekomendasi bagus di beberapa website ternyata memberikan kekecewaan bagi rombongan kami. Kamar hotelnya ternyata penuh debu dan kamar mandinya banyak lintah. Kekecewaan berikut terjadi saat hendak menggunakan jip. Jip yang kami pesan ternyata datang terlambat, padahal rombongan kammi sudah siap lebih awal daripada penghuni hotel lainnya. Untungnya kami masih mendapatkan momen sunrise dari viewpoint yang baik. Setelah menikmati sunrise, kami melanjutkan ke bukit teletubbies, pasir berbisik dan terakhir mendaki gunung Bromo. Kebanyakan dari kami memilih menggunakan kuda dan sisanya memilih berjalan kaki. Setelah puas mencapai puncak gunung Bromo, kami kemudian kembali ke hotel untuk beres-beres dan check out. Kamipun kembali ke Surabaya, menginap semalam di rumah nenek dari salah satu teman dan kemudian berpisah di jam berbeda sesuai jam penerbangan kami.





It was fun, berlibur bersama menyenangkan sekali, apalagi mengingat usaha yang kami lakukan bersama agar rencana liburan kami terwujud. Setibanya di Jakarta dan kembali beraktifitas, rencana liburan berikutnya disusun. Kemana? Rencananya kami akan ke Karimun Jawa di tahun 2014. Can't wait, so excited :D

Jan 12, 2012

Where Have I Been?

Tahun yang baru, setelah vakum dalam waktu yang cukup lama akhirnya keinginan menulis datang kembali. Maaf kepada kawan-kawan semua yang menanti kehadiran tulisan saya *emang ada ya?*

Alangkah baiknya jika saya memulai kembali dengan berbagi apa saja yang terjadi selama saya tidak menulis :)

Mari dimulai dengan.....saya sudah menikah! :D

Jun 9, 2010

10 Things I Like About You

Bukan, ini bukan judul sekuel ataupun prekuel dari film remaja “10 Things I Hate About You”. Saya tertarik menulis ini karena kejadian yang saya alami. Kejadian yang sebenarnya mungkin tidak perlu dibahas panjang lebar atau didiskusikan secara mendalam, tapi buat saya cukup untuk dibuat menjadi tulisan.

Suatu malam, salah seorang teman saya sedang menyusun daftar 10 hal yang dia sukai dari pacarnya. Dari cara bicaranya, saya menangkap dirinya agak kesulitan untuk menemukan 10 hal tersebut –entah bercanda atau tidak-. Karena saya rasa saya bisa menemukan banyak hal dalam waktu singkat mengenai pacar saya.

Saat tiba di rumah, saya kemudian mencoba mendaftarkan hal yang saya sukai dari pacar saya. Tidak sampai 10 menit, daftar yang saya tulis di pesan singkat handphone sudah mencapai 2 halaman. Daftar itu masih bisa saya teruskan jika saja saya tidak bermasalah saat mengirimnya ke pacar saya –pesan berkali-kali gagal terkirim, saya capek sendiri jadinya – . Saya sendiri tidak terlalu heran kenapa saya bisa cepat membuat daftar tersebut. Saya sudah cukup lama mengenal pacar saya, dan karena waktu pula saya belajar untuk menyukai semua hal yang saya temui pada dirinya.

Tidak ada yang salah sih kalau dalam membuat daftar 10 hal yang anda sukai dari pasangan anda membutuhkan waktu berpikir yang sedikit lama. Mungkin anda perlu mengingat hal-hal khusus mengenai diri pasangan anda. Atau mungkin memang tidak terlalu banyak hal yang anda sukai dari pasangan, bisa saja terjadi karena anda terpaksa berada dalam hubungan tersebut. Atau bisa jadi juga anda memang perlu waktu untuk mengenal pasangan anda lebih jauh lagi, hitung-hitung sekalian memantapkan diri.

Dalam suatu hubungan, saya rasa penting untuk benar-benar menyukai pasangan anda sepenuhnya. Membuat daftar apa yang anda sukai dan yang tidak anda sukai dari pasangan juga bisa membantu hubungan tersebut menuju arah yang lebih baik –tapi bisa juga menuju ke arah lebih buruk, tergantung bagaimana anda dan pasangan anda menyikapi daftar tersebut-. Dari daftar yang dibuat oleh pasangan anda, anda bisa melakukan interospeksi pada diri sendiri, apa yang perlu dilakukan agar hubungan menjadi lebih baik. Begitupun sebaliknya, pasangan anda bisa interospeksi diri berdasarkan daftar yang anda buat. Jika anda atau pasangan anda memilih untuk tidak merubah diri sendiri berdasarkan daftar hal yang tidak disukai, maka hal yang harus dilakukan adalah kompromi. Anda harus bisa menerima hal yang anda tidak sukai dari pasangan dan bahkan jika bisa anda harus belajar menyukai hal yang anda tidak sukai tersebut. Begitupun sebaliknya, pasangan anda harus bisa menerima apa yang ia tidak suka dari anda dan bahkan harus belajar menyukai hal tersebut. Pada akhirnya, daftar yang anda tidak sukai dari pasangan anda akan menjadi kosong, dan daftar hal yang anda sukai dari pasangan anda akan terisi penuh dengan mudahnya.

Kenalilah dahulu pasangan anda lebih dalam sebelum mengambil langkah besar dalam hidup anda. Belajar mengenal pasangan memang bisa dilakukan setelah anda mengikat janji sehidup semati, tapi lebih baik anda mengenalnya sebelumnya agar tidak ada ombak yang akan menggoyangkan bahtera rumah tangga anda nantinya. Pada akhirnya, ingatlah bahwa apa yang disatukan oleh Tuhan tidak seharusnya dipisahkan oleh manusia.

- Love is All, Love is You – The Beatles

May 5, 2010

B9, B10, B11

Haaaiiii….

Sudah nonton film “Manusia Setrikaan Kedua” –Iron Man 2- belum? Kemarin –Selasa, 4 Mei 2010- atas prakarsa seorang wanita berparas manis, saya menonton film yang sepertinya banyak dinanti orang tersebut. Bagaimana tidak banyak dinanti? Semenjak tiketnya dijual pertama kali pada Rabu minggu sebelumnya, begitu banyak orang yang terlihat Excited dengan kehadiran film tersebut. Akun Twitter saya sampai dipenuhi dengan ReTweet orang-orang yang senang karena telah mendapat tiket menonton Iron Man 2. Entah kenapa mereka sampai berlebihan seperti itu, padahal filmnya hanya film yang tidak terlalu istimewa. Atau karena mereka mengidolakan sang superhero? Saya malah berpikir kalau penggemar Batman, Superman dan Spiderman lebih banyak.

Iron Man jilid pertama menceritakan tentang bagaimana seorang multi milyarder yang bernama Tony Stark bisa menjadi sang Manusia Besi. Sebuah film superhero dengan efek khusus yang sangat baik. Tapi ya itu saja kelebihannya. Dalam jilid kedua ini kisahnya melanjutkan kisah dalam jilid pertama setelah beberapa tahun kemudian. Dikisahkan bagaimana sang superhero mengalami kejenuhan akibat tidak adanya lawan yang seimbang, perseteruan dengan pesaing bisnis, sampai ke munculnya seseorang yang mampu menciptakan reaktor mini yang mirip dengan kepunyaan sang superhero.

Eniweey…saya menulis kali ini bukan untuk membahas bagaimana serunya film tersebut. Saya lebih berkeinginan berbagi tentang apa yang terjadi saat saya dan seorang wanita berparas manis menonton film tersebut.

Saya dan wanita berparas manis memutuskan menonton di Plaza Indonesia XXI, jam pertunjukan 19.30. Karena memesan tiket melalui M-Tix, kami tidak bisa memilih tempat duduk yang kami inginkan. Tempat duduk yang kami dapatkan adalah B7 dan B8. Saya lebih senang menonton dari kursi deret A, karena pasti terhindar dari tendangan kaki penonton dibelakang –secara baris A adalah baris paling belakang-, tapi karena tidak bisa memilih ya saya terima saja duduk di baris B. Untungnya B7 dan B8 terletak agak di tengah-tengah, saya agak kurang bisa menikmati film kalau duduk di pinggiran.

Untung? Setidaknya saya pikir seperti itu……

Sebelumnya, biar saya jelaskan dulu kenapa lokasi yang terpilih adalah Plaza Indonesia. Pertama, dari sekian banyak lokasi bioskop yang dekat dengan kantor kami, Plaza Indonesia adalah lokasi terdekat yang menyediakan fasilitas M-Tix. Kedua, kebetulan saat itu Plaza Indonesia XXI menayangkan film Iron Man 2 di 3 (Tiga) studio sekaligus, sehingga ada banyak pilihan waktu menonton. Ketiga, dan ini pendapat pribadi saya, suasananya enak, karena Plaza Indonesia tergolong tempat untuk kalangan menengah keatas maka fasilitas yang disediakan sangat baik. Keempat, kembali pendapat pribadi saya, karena tempatnya yang eksklusif saya merasa seharusnya tempat tersebut dikunjungi oleh orang-orang yang berpendidikan, tidak norak, dan sedikit banyak mengerti peraturan.

Kembali ke kejadian saat menonton. Beberapa menit film diputar, mulai terasa ada hal-hal yang mengganggu. Suara-suara mengobrol sambil berbisik sesekali terdengar, namun karena sudah memaklumi sifat penonton Indonesia saya tidak bereaksi, setidaknya sampai batas volume suara tertentu. Lalu ada juga beberapa yang menggunakan telepon genggamnya, menyebabkan kesilauan sesaat. Tapi gangguan-gangguan itu belum seberapa jika dibandingkan dengan gangguan yang dialami oleh wanita berparas manis teman menonton saya.

Apa yang dialami olehnya adalah sesuatu yang bisa membuat saya meledak-ledak, dan bahkan mungkin akan memasukkan Plaza Indonesia XXI ke dalam daftar bioskop yang tidak akan dikunjungi. Sebagai orang yang mengenyam pendidikan dan mengerti peraturan saat menonton film di bioskop, saya mengerti dan mematuhi dengan baik semua peraturan yang ada. Telepon genggam sudah dalam kondisi Silent, dimasukkan ke dalam tas dan tas tersebut saya letakkan dibawah tempat duduk, jadi tidak ada yang akan terganggu oleh telepon genggam saya. Saya tidak mengangkat kaki, tidak menyandarkan kaki pada tempat duduk di depan saya, dan juga tidak menendang-nendang tempat duduk di depan saya. Saya duduk tenang, menikmati film yang ditayangkan, berbisik jika memang ada yang harus dibicarakan pada teman menonton. Hampir semua yang saya lakukan, TIDAK dilakukan oleh orang yang duduk di tempat duduk B9, B10 dan B11, tempat duduk yang lebih dekat dengan wanita berparas manis teman menonton saya.

Tempat duduk B9 diisi oleh seorang wanita bertubuh kurus, dengan rambut diikat, mengenakan kemeja dan rok. Tempat duduk B10 diisi seorang wanita berjilbab bertubuh sedang. Tempat duduk B11 diisi seorang wanita berkacamata dan sedikit gemuk. Ketiganya selalu berceloteh tanpa memelankan volume suara mereka, untuk mengomentari setiap adegan yang ada. Biarpun sudah diminta untuk diam –secara tidak langsung, dengan mengeluarkan suara ssshhhhh- tapi mereka tetap menjadi komentator film di malam itu. Selain itu, beberapa kali saya mendapati B9 menggunakan telepon genggamnya, mungkin untuk mengirim SMS kepada seseorang, dan isi SMS itu adalah komentarnya yang tidak penting atas film yang ditontonnya. Lalu beberapa saat setelah seorang teknisi memperbaiki pendingin udara –lebih tepatnya menurunkan temperatur pendingin udara- B9 mulai bergerak-gerak yang tidak perlu. Gerakannya seperti seseorang yang menahan keinginan buang air karena dinginnya udara di dalam ruangan. Buat saya, tingkah laku norak mereka seperti tingkah laku seseorang yang belum pernah menonton film di bioskop.

Begitulah, wanita berparas manis teman menonton saya sepanjang pertunjukan terganggu oleh tingkah laku norak dan kampungan dari penonton yang pada tanggal 4 Mei 2010 duduk di B9, B10 dan B11, Teater 2, Plaza Indonesia XXI, jam pertunjukan 19.30 WIB.


Mar 5, 2010

Apa Kabar Dunia?


Wah wah.... sudah lama juga saya tidak menulis disini... Jadi kangen....

Apa Kabar Dunia?

Seperti yang terlihat (untuk mereka yang pernah berkunjung) ada beberapa perubahan disana sini (sebenarnya hanya menambah beberapa widget sih hehehehehe....) yang berhubungan dengan aktifitas saya belakangan ini.

Yup!

Sejak akhir Januari yang lalu saya resmi bergabung dalam sebuah Jaringan Bisnis. Sudah bukan barang baru bagi saya, karena sebelumnya belahan jiwa saya sudah bergabung dan saya sudah berkali-kali diajak bergabung olehnya.

Jika sebelumnya saya selalu menolak, di akhir tahun 2009 saya baru mendapatkan "feel"-nya menjalankan bisnis ini. Diam-diam saya memutuskan untuk bergabung. Waktu yang saya pilih untuk bergabung awalnya adalah bulan Februari, bertepatan dengan banyaknya orang "berkasih-sayang", saya bermaksud mendaftarkan diri sebagai hadiah untuk dirinya. Tapi kemudian seorang teman baik membutuhkan bantuan saya di akhir bulan Januari, dan saya akhirnya membantu teman baik saya. Tidak jadi hadiah hari kasih sayang tidak apalah, toh intinya saya sudah bergabung sebagai hadiah untuk dirinya. :)

Anyway, bisnis apa siih?

Di klik aja widget-widget barunya yaa.... ^_^

Oct 12, 2009

Two in one Day


King and Queen

If i'm a bee, would you be my honey?
If i'm a king, would you be my queen?
When i fall down, would you pick me up?
When i'm being honest, would you lie?

Words are often just spoken
Vows shall not be broken
I love you, and that is true
Have i become the best for you

What a Day

What a day, what a day
What a fabulous day
A day when i see lots of smiles
A day full of things so nice

Today i'm being reassured
By things that you said
Oh how lucky i'll be
To have you as my wife to be

What you said you'd become
Has made me really calm
Through your eyes i saw honesty
What a great wife you are to be

thank you for the day 

Sep 18, 2009

Perutkuuu……


Kenapa dengan perutku? Buncit? Kalau itu sih semua yang pernah melihat saya sudah tau. Tapi sekarang saya bukan mau menulis tentang seberapa buncit perut saya jika dibandingkan dengan perut orang lain, saya mau menulis sebuah kejadian yang berhubungan dengan perut saya yang buncit.

Perut saya (atau lebih tepatnya lambung saya) sensitif dengan makanan pedas dan asam. Seringkali jika saya memakan makanan yang pedas atau asam (atau dua-duanya, sayur asem dan sambal terasi pedas misalnya) perut saya memberontak, perut saya sakit dan memaksa saya harus bolak-balik ke toilet. Hal seperti ini yang seringkali menghalangi niat saya untuk bisa menikmati makanan tertentu, makanan yang sebenarnya sangat lezat tetapi tidak bisa saya nikmati karena rasanya.

Yanti sudah tau tentang “kekurangan” ini, dan ia dengan penuh perhatian selalu mengingatkan apabila makanan yang hendak saya santap itu asam atau pedas. Beberapa kali bahkan melarang saya menyantap makanan yang memiliki rasa asam dan pedas (terima kasih banyak sudah mengingatkan saya untuk tidak menyiksa diri sendiri). Tapi karena pada dasarnya saya sangat senang makan, dan karena pada dasarnya saya nakal, jadi seringkali peringatan atau larangannya saya tidak ikuti (maaf ya sering bikin kamu kawatir).

Nah, pada saat menulis ini, perut saya sakit luar biasa, mengerjakan tulisan ini sambil sesekali ditinggal ke toilet. Kenapa? Apakah saya habis menyantap sesuatu yang pedas dan asam?

Malam sebelumnya (lebih tepat sore sih) saya ikut buka bersama dengan teman kantor Yanti. Acaranya diadakan di sebuah restoran seafood di kawasan Jakarta Pusat. Makanan yang dipesan beraneka macam dan dalam jumlah cukup banyak. Sebut saja udang saus mayonnaise, udang api cabai garam, tahu kipas, kerang ijo, calamari ring (cumi goreng tepung), cah kangkung dan kepiting saus tiram.

Dari menu diatas, masih ada dua menu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ada udang bambu dan kepiting soka. Udang bambu bernama seperti itu karena memang bentuk cangkangnya seperti bambu. Sementara nama kepiting soka sering saya lihat di daftar sold out dari restoran tersebut (terlihat setiap kali saya melewati restoran tersebut), membuat saya penasaran dengan bentuk dan rasa kepiting soka. Saya tanya pada teman yang membuka tenda seafood dekat rumah, menurutnya kepiting soka adalah jenis kepiting yang cangkangnya tidak sekeras kepiting biasa sehingga bisa ikut dimakan. Entahlah apa benar seperti itu.

Mengingat saya belum pernah merasakan kedua jenis makanan itu, saya tidak mau kelupaan untuk ikut menikmati du jenis makanan tersebut. Udang bambunya dimasak dalam 2 bumbu, tidak ada yang pedas, dan rasanya mirip rasa bekicot tanpa rasa pahit yang kadang didapati pada bekicot. Lalu kepiting soka dimasak cabai garam, rasanya tidak terlalu istimewa, mirip rasa kepiting biasa, hanya saja tekstur dagingnya lebih lembut dan lebih berair.

Selama ini, saya tidak pernah punya alergi pada seafood, oleh karena itu saya dengan percaya diri menyantap makanan yang ada. Yang terjadi kemudian adalah, lidah saya gatal. Merasa itu merupakan gejala awal alergi, saya kemudian meminum susu segar, berharap susu kembali dapat menolong saya (kalau sakit atau tidak enak badan, saya sering minum susu dan kemudian merasa lebih segar). Gatal di lidah memang tidak hilang, tapi kekakuannya hilang (sebelumnya sempat terasa lidah saya kaku). Beberapa saat kemudian, saat berada di kendaraan, perut saya sakit. Sesampainya di rumah, pemberontakan perut saya agak berkurang. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke warnet. Sepulangnya dari warnet, saya makan lagi, kali ini menyantap nasi goreng buatan sendiri. Setelah makan, perut saya kembali berontak, dan malam itu saya beberapa kali harus terbangun untuk pergi ke kamar mandi.

Sampai pagi ini, perut saya belum juga bersahabat. Tiba di tempat bekerja, saya langsung mampir di toilet. Setelah itu menyalakan computer, memulai menulis postingan ini, ke toilet lagi, meneruskan postingan, toilet lagi, menyelesaikan postingan ini, dan sekarang selesai sudah postingan ini. Ada yang mau berpendapat kenapa kira-kira perut saya berontak padahal saya tidak menyentuh makanan pedas atau asam? Kalau saya curiga dengan kepiting soka atau kerang bambu…..

Sep 13, 2009

Lagi Lagi Soal Antri


Lagi lagi saya berurusan dengan orang yang tidak bisa mengantri dengan baik. Kejadiannya baru saja, tepatnya Sabtu 12 September 2009 di sebuah restoran yang menyajikan menu berbahan dasar ayam di Plasa Semanggi.

saat itu saya, Yanti dan Dios sedang menunggu waktu dimulainya pertunjukan film yang akan kami tonton (Final Destination - Red). Karena sudah dekat waktunya berbuka puasa, kami bergegas menempati tempat duduk di restoran itu sebelum terlalu ramai oleh pengunjung yang akan berbuka puasa. Kami secara bergantian memesan makanan agar tempat duduk kami tidak ditempati orang lain.

Saya dan Yanti kemudian mulai mengantri untuk memesan makanan. Antrian yang tidak terlalu panjang sebenarnya, hanya ada satu orang didepan kami berdua. Lalu kemudian datang 2 orang lagi dibelakang kami, dan seorang Ibu-ibu disebelah baris antrian. dari awal saya sudah mencium niat busuk ibu tersebut.

Benar saja. Segera setelah orang di depan kami beranjak pergi, si ibu dengan seenaknya hendak menyalip antrian. Ibu itu sepertinya ditegur oleh Yanti, saya sendiri terlalu sibuk memelototi ibu tersebut sehingga tidak mendengar apa yang dikatakan Yanti. Ibu itu berkata pada pramusaji restoran "Mas, air mineralnya berapa?" Mas pramusaji yang ditanya menjawab "Lima ribu lima ratus bu"

Saya kesal, sudah si ibu tidak tahu diri, si pramusaji malah meladeni, padahal dia tau kami sudah antri dari tadi. Saya dengan kesal berkata pada pramusaji tersebut "Mana managernya, saya mau bicara sama managernya." Yanti mencoba menenangkan saya sementara si pramusaji mulai berubah raut mukanya menjadi takut dan si ibu kurang ajar itu terus berusaha meyakinkan agar dia bisa dilayani lebih dulu dengan alasan hanya membeli sedikit dan cepat.

Saat saya hendak menanyakan dimana managernya kembali, si pramusaji berkata pada ibu kurang ajar itu "Maaf bu, Mba ini duluan" sambil menunjuk ke arah Yanti. Saya sudah kesal, dan meskipun si pramusaji berusaha melayani kami dengan baik, tapi saya tidak mau bicara lagi sama pramusaji bodoh itu. Saya membiarkan Yanti melakukan semua pesanan dan segala macam urusan dengan si pramusaji.

Kenapa sih orang Indonesia susah sekali mengantri? Kalaupun memang mau beli sedikit ya harus antri dong. Mau beli banyak atau sedikit semua harus antri. Orang-orang yang selalu memudahkan segala cara adalah orang yang bisa membuat negara ini hancur.

Oh, sepertinya kata-kata saya yang mencari manager restoran sangat berpengaruh pada si pramusaji bodoh. Kenapa? Dia dengan bodohnya tidak memasukkan satu pesanan kami ke dalam struk, dan salah memberikan nomor pada kami sehingga nomor yang kami pegang berbeda dengan nomor pesanan pada struk. Hal ini menyebabkan pesanan kami terlambat diantar dan sudah dingin saat tiba di meja kami. Restoran bodoh, pramusaji bodoh, dan ibu kurang ajar, lengkap sudah!

Sep 6, 2009

Buka Bersama Teman SD, and A Whole Lot More


Bulan Ramadhan sudah tiba. Di saat istimewa ini biasanya banyak diadakan acara sahur atau berbuka puasa bersama. Kami, alumni Sekolah Dasar Negeri 07 PAgi Cipinang Muara, juga tidak mau ketinggalan mengadakan acara serupa.

Idenya terbersit dari beberapa minggu lalu, saat saya dan sahabat saya Diosnardo Rahmanto, kopdar dengan 2 teman SD lain, Euis Noviyanti dan Wahyu Kumala Jati, di Plasa Senayan. Rencananya mau reunian, di sekolah tercinta sambil mungkin ada bakti sosialnya, tapi berhubung bulan Ramadhan sudah dekat jadi diambillah keputusan berbuka puasa bersama.

Akhirnya, acara yang disiapkan secara mendadak dan dengan waktu yang singkat, bisa terlaksana dengan baik. dari banyak nama yang bisa dihubungi (terima kasih banyak Facebook) akhirnya hanya sebagian besar saja yang bisa datang. Saya dan Yanti yang tiba pertama di rumah makan tempat acara berlangsung. Disusul kemudian oleh Euis, Dios dan Arry. Beberapa saat kemudian berturut-turut datang Menik, Indra, Irsan, Adi, Indah Irma beserta Syauqi sang buah hati dan suami, Iin dan Lukman.

Tidak terlalu lama menunggu, saat terdengar Adzan Maghrib, semua langsung menikmati makanan dan minuman yang sudah tersedia. Dibuka dengan es kacang merah yang mantap rasanya (hanya saya yang memesan es kacang merah, yang lain memesan es kopyor), kemudian dilanjutkan mencicipi sayur asem yang ternyata juga mantap, menyegarkan, dan terakhir menyantap nasi pluncut empal gepuk, tempe mendoan, ikan asin dan sambal. Meskipun bukan menu yang terkenal dari rumah makan tersebut, tapi rasa masakannya tetap enak. Setelah makan, rombongan perokok terpaksa mengungsi ke luar rumah makan karena larangan merokok dari ibu yang membawa anak bayi hehehehe….



Setelah Adi dan Indah pamit undur diri lebih dulu dari yang lain, tidak lama kemudian saya, Yanti dan Dios pamit undur diri juga. Saya sudah dikejar waktu untuk futsal, sementara Dios ikut kami karena sehabis futsal rencananya kami akan pergi karaoke. Kurang dari satu jam bermain, kami kemudian beranjak ke tempat karaoke. Kami sedikit beruntung karena waiting list malam itu tidak terlalu banyak dan pergerakannya tidak lama, sehingga kurang dari 30 menit menunggu, kami sudah berada di ruangan karaoke, bernyanyi gila-gilaan, tertawa dan bercanda. Setelah itu, tentu saja kami pulang, karena sudah malam.

Saya mengatakan pada Yanti bahwa malam itu kembali jadi hari yang membahalahkan. Paginya saya menemani Yanti ke daerah Jakarta Selatan, kemudian menempuh kemacetan menuju toko buku, berbuka puasa bersama teman SD saya, futsal, dan ditutup karaoke (setelah itu di rumah sempat menonton DVD sebentar). Melelahkan, tapi juga membahagiakan. Senangnya saya bisa menemani orang tersayang, bertemu teman-teman yang sudah lama tidak saya jumpai, serta melakukan kegiatan yang menjadi kesenangan saya, dan melakukannya bersama orang-orang terdekat.

Aug 11, 2009

Hari yang membahalahkan


Hari yang membahalahkan?
Bingung ya?
Bahasa apa itu?
Itu bahasa yang saya ciptakan sendiri, dengan asal-asalan, yang penting mengandung dua kata yang saya maksud.

Hari yang membalahkan adalah hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan. Iya, hari itu hari Rabu yang cerah. Saya berangkat sesuai waktu saya biasanya berangkat. Tapi karena tidak beruntung mendapatkan bis yang berjalan layaknya seekor siput, saya akhirnya sampai kantor terlambat. Sesampainya dikantor, langsung mengerjakan apa yang harus dikerjakan (sarapan pagi, menikmati teh manis panas, mendengarkan musik, dan sesekali memutar DVD konser Jason Mraz yang saya beli semalam sebelumnya). Semua dikerjakan dengan mengejar waktu, karena menurut pengumuman di hari sebelumnya, listrik di kantor akan dimatikan mulai pukul 10.00 sampai pukul 13.00.

Tunggu punya tunggu, listrik baru padam pukul 11.00 siang. Karena tidak bisa bekerja tanpa listrik yang menyalakan komputer, maka kami pergi ke luar kantor. Saya memanfaatkan waktu untuk pergi menemani Yanti mengurus SIM di Kalibata. Setelah ojek yang saya tumpangi sempat salah jalan, akhirnya saya tiba di tujuan setengah jam kemudian. Bertemu dengan Yanti, menunggu, makan siang, menunggu lagi, semua dilakukan di bawah teriknya sinar matahari. Setelah menunggu dan menunggu (dengan sabar tentunya…bukan si Sabar teman SMU lho, maksudnya dengan hati sabar….bukan hatinya si Sabar teman SMU juga lho….ah, sudahlah, pusing saya) akhirnya SIM yang dinanti diperoleh. Bergegas kami kembali ke kantor masing-masing.

Saya yang tergesa-gesa, memutuskan naik ojek dari kantor Yanti. Hamper mengalami kecelakaan karena pengemudinya mengendarai motor layaknya Valentino Rossi di sirkuit balap, saya tiba di kantor 10 menit dari saat menaiki ojek. Bergegas menuju ruangan, menanyakan keadaan, turun kembali ke bawah membeli kertas pembungkus kado, naik lagi ke lantai 6, membungkus kado untuk Yanti (dimarahi oleh Mba’ ku karena salah membungkus), menikmati segelas teh vanilla, bersiap pulang dan akhirnya pulang.

Tidak pulang juga, tapi menjemput Yanti lebih dulu. Rencana awal sih mau mengajak Yanti pergi entah kemana menghabiskan waktu sampai mendekati pergantian hari, baru kemudian memberikan kado yang sudah disiapkan. Tapi mengingat diri saya dan dirinya sudah terkuras energinya saat menunggu SIM, saya memutuskan untuk tidak mengajaknya pergi dan menyerahkan kadonya 4 jam sebelum pergantian hari. Kado yang diterima dengan senyuman yang paling manis yang pernah saya lihat. Setelahnya, kami pulang. Saya mampir ke warnet untuk mem-post tulisan-tulisan yang sudah menumpuk layaknya cucian. Setelah itu pulang ke rumah, mencuci muka, chatting sebentar dengan Yanti sampai saya tertidur karena lelahnya. Terbangun di 22 menit melewati pergantian hari, menelpon Yanti, mengucapkan selamat ulang tahun, membuka facebook, menulis pesan di wall Yanti, membuat beberapa komentar disana sini, lalu tertidur pulas.

Wuah, what a day. Lelah memang, tapi kalau melihat senyumannya sepertinya semua kelelahan hilang saat itu juga. Percaya atau tidak, saya sendiri juga terus tersenyum sepanjang malam….teringat senyum dirinya….saya mungkin tersenyum juga saat tertidur hehehehehehe…..

Jul 30, 2009

Happy Birthday Ariyanti


Life is full of ups and downs
Life is full of smiles and frowns
At times you cried so hard
And times you laughed so loud

Spending my life with you
Will always be my ups, not downs
Spending a second without you
That’s when I lose grounds

Knowing someone like you
Is what every man would want to
Spending entire life with you
Is the first thing I want to do

Your eyes are beautiful, they shine like star
Each stare will sent every man up far
Your smile is like a medicine
That cures every hurt and pain

Everything about you is special
It’s not a lie, it’s so real
I already see my future with you
Please stay with me and say I do

And on this special day
I have a few words to say
Happy Birthday dear Ariyanti
You will always be my sweet Tea

-I Love You Tea-

Jul 1, 2009

On That Saturday Night


On That Saturday Night

Pagi hari, terbangun oleh suara televisi. Tidak lama kemudian terdengar nada dering -Jason Mraz’s Lucky- yang hanya akan berbunyi jika satu orang tertentu menelepon ke telepon genggam saya. Setelah menekan tombol bergambar seperti gagang telepon, yang artinya saya menjawab telepon tersebut, suara yang menyejukkan hati terdengar di seberang sana. Suara itu menanyakan apakah saya masih tertidur, apakah dirinya membangunkan saya yang sedang terlelap. Segera saya menjawab tidak, karena saya memang sudah terbangun sebelum dirinya menelepon saya. Suara itu mengingatkan akan rencana yang saya dan dirinya buat di hari sebelumnya, rencana untuk membawa Aiyo-nya tersayang ke dokter, agar tidak lagi sakit, agar tidak lagi ngambek. Segera setelah sambungan telepon diakhiri, kami mandi (tidak bersama, di rumah masing-masing….saya mandi, saya tidak tahu apakah dirinya mandi karena saya tidak melihatnya saat itu, saya hanya percaya pada kata-katanya yang mengatakan bahwa dirinya akan mandi).

Selesai mandi, saya menyempatkan membuka buku-wajah (facebook), sambil berpakaian dan kemudian mengambil makanan, makanan yang saat saya makan waktu itu disebut sarapan. Dari buku-wajah, saya melihat status dirinya, menggambarkan apa yang akan dirinya lakukan hari itu, pergi ke dokternya Aiyo. Sudah ada beberapa komentar yang masuk, dan dirinya juga sudah menjawab, membuat saya bertanya apakah benar dirinya tadi mandi? Jangan-jangan malah sibuk membalas komentar pada buku-wajahnya 

Setelah sarapan saya habiskan, saya beranjak keluar rumah, dengan pakaian kegemaran saya, yang santai, sambil menenteng tas yang berisi notebook, charger notebook dan mouse. Saya berjalan agak jauh, menerjang teriknya matahari di pagi menjelang siang itu, panasnya membuat saya berkeringat. Tiba di rumah seorang teman baik, menitipkan tas berisi notebook, charger notebook dan mouse kepada seorang ibu yang bekerja di rumah itu, berpamitan, bertemu teman baik di sebuah pos penjagaan keamanan, mengobrol dengannya selama beberapa saat, mengenai gaji saya yang belum dibayarkan saat itu,dan juga mengenai keinginan adik teman baik saya itu bersekolah di tempat yang lebih murah, sesuatu yang melegakan teman baik saya.

Mengingat waktu yang tidak bersahabat, saya berpamitan pada teman baik saya, melanjutkan perjalan kakian menuju tempat yang sudah disepakati bersama dirinya. Saat sudah dekat dengan tempat yang dimaksud, telepon genggam saya bergetar, mengeluarkan nada dering singkat, yang berarti pertanda ada sebuah pesan singkat yang masuk. Dirinya mengirimkan pesan kepadaku untuk merubah tempat bertemu, padahal saya sudah dekat tempat tersebut. Segera saya balas, mengatakan padanya agar tetap di tempat awal, mengatakan padanya bahwa saya sudah dekat tempat awal. Saya pun akhirnya menunggu di tempat awal. Menunggu dan menunggu, bagian dari hidup saya, dan juga semua orang, tidak ada manusia di dunia ini yang terhindar dari kegiatan yang bernama menunggu. Tidak lama kemudian, sebuah benda yang sangat saya kenal, terlihat oleh mata saya, dan membuyarkan lamunan saya. Segera saya berdiri dari tempat yang saya duduki, berjalan cepat menuju benda yang saya kenal baik, benda yang didalamnya terdapat dirinya, benda yang diberi nama Aiyo.

Saya, dirinya dan Aiyo segera menuju dokter Aiyo. Sesampainya disana, kami menunggu Aiyo disembuhkan, melihat cara-cara para dokter menyembuhkan Aiyo. Setelah selesai, saya dan dirinya menyempatkan makan siang terlebih dahulu, makan yang sebenarnya sudah tidak siang lagi, tetapi sudah sore. Barulah setelah perut terisi tepung dan bongkahan daging, ditambah air dan buah kelapa, yang disajikan dengan es batu dan air gula, juga segelas teh yang dikemas dalam botol, disajikan dengan es batu, kami beranjak pulang. Dirinya mangantar diriku (terima kasih), lalu kemudian pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan, dirinya meminta diriku untuk datang ke rumah dirinya malam ini, sebelum saya dan dirinya pergi menemui beberapa teman dirinya, untuk menyanyi dan bergembira.

Setelah tertidur selama setengah jam, saya bergegas membersihkan tubuh saya dengan mandi. Kemudian berpakaian lengkap. Lalu setelah itu beranjak keluar rumah, dan bergegas menuju rumah dirinya. Naik angkutan umum sebanyak dua kali, ditambah satu kali menaiki sepeda motor yang dikendarai seorang bapak tua, bapak tua yang bercerita bagaimana saat-saat seperti ini, saat-saat liburan sekolah, jalanan akan ramai dipenuhi mereka yang pulang kampung. Sampai di rumah dirinya, bermain dengan kucing dirinya, diajak makan malam bersama keluarga dirinya (terima kasih), dan kemudian pergi lagi bersama dirinya dan Aiyo. Pergi menembus malam menuju tempat dimana saya dan dirinya, akan bertemu teman-teman dirinya. Tiba lebih awal, saya dan dirinya menunggu, bukan hanya menunggu teman-teman dirinya, tapi juga menunggu adanya tempat untuk kami semua bernyanyi. Menunggu sambil melihat-lihat, melihat majalah, melihat orang lain, melihat buku-wajah lewat telepon genggam. Satu-persatu teman dirinya datang, saya dikenalkan, mereka dikenalkan, saling mengenal, bertukar cerita, bertukar canda.

Saat tempat tersedia, saya, dirinya dan teman-teman dirinya bergegas memasuki ruangan, ruangan kecil dengan tempat duduk berbentuk L, meja, televisi layar lebar, layar monitor, dua buah mikrofon dan sebuah alat pengendali jarak jauh berukuran besar. Semuanya bernyanyi, tertawa, bergembira, mengeluarkan asap, minum, tidur, semua dilakukan di ruangan kecil itu. Semua dilakukan sampai lewat tengah malam. Setelah itu, semua meninggalkan tempat itu, menuju rumah masing-masing. Saya, dirinya dan Aiyo pulang melewati jalanan yang gelap dan sepi, jauh lebih sepi dibandingkan pagi, siang atau sore hari. Tetap bertukar cerita, bertukar canda, tersenyum, tertawa. Sampai di rumah, mengganti pakaian, mencuci muka, menyikat gigi, minum air putih, mengirim pesan singkat pada dirinya, mengucapkan selamat malam, dan kemudian dengan senyuman yang lebar saya tertidur.

Hari yang menyenangkan.

Bagaimana tidak? Apakah anda tidak senang menghabiskan satu hari bersama seseorang yang anda cintai? Tentu saja semua akan senang menghabiskan waktu bersama yang dicintainya, begitupun saya. Dirinya mempercayai bahwa tiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaan dirinya sendiri, bahwa tidak ada yang bisa membuat seseorang bahagia selain dirinya sendiri, dan ya, saya memilih untuk berbahagia bersama dirinya 

“Lucky I’m in love with my best friend…” (Lucky – Jason Mraz featuring Colbie Caillat)

Gerrardino Togar Putra


Gerrardino Togar Putra

Sabtu malam, 20 Juni 2009, sewaktu saya sedang berada di rumah Yanti, sebuah pesan singkat masuk ke handphone saya. Isinya “A new liverpudlian was born today..Gerrardino Togar Putra..w 3,19 kg, h 49 cm..ynwa...” Pesan singkat tersebut dari sahabat baik saya, Alfred Roy Marlo (Ook), yang beristrikan sahabat baik saya juga, Pudji Rahayu (Poo). Melihat kata “Liverpudlian” (penggemar klub Liverpool) saya seharusnya kesal, tapi untuk liverpudlian yang satu ini saya sangat senang. Saya senang dua sahabat baik saya mendapatkan buah hati mereka.

Hari senin, 22 Juni 2009, saya dan Yanti pergi ke Rumah Sakit St. Carolus untuk mengunjungi Pudji, Ook dan Gerrard. Karena sudah mengetahui di ruang mana Pudji dan Gerrard menginap dari Ook, saya dan Yanti langsung menuju informasi menanyakan letak kamar tersebut. Setelah mendapat petunjuk lengkap, kami bergegas menuju ruangan tersebut. Sesampainya di ruangan yang dituju, saya sempat bingung ada dimana Pudji, karena ternyata di dalam ruangan itu terdapat banyak tempat tidur dan hampir semuanya tertutup tirai. Tidak mungkin dong saya mengintip ke setiap tirai yang tertutup. Akhirnya saya kembali keluar ruangan, sambil memastikan apakah benar yang sekilas saya lihat dari luar jendela adalah Pudji. Ternyata benar Pudji, meski tidak jelas sedang apa. Sesaat kemudian Ook datang bersama Ibunya, Ibu mertuanya, dan Adiknya, Uteng. Ook mengatakan pada saya bahwa Pudji ada di tempat tidur dekat jendela. Saya kemudian masuk dan mencoba melihat ke balik tirai, namun Pudji sedang menyusui, jadi saya keluar ruangan lagi dan mengobrol dengan Ook. Setelah sempat ke toilet sebentar, akhirnya saya diperbolehkan masuk untuk melihat Gerrard.

Lucuuuuuu….. Gerrard lucu, mungil, merah, ganteng. Saking gemasnya, saya berkali-kali mencubit Pudji (iya dong, daripada saya cubit Gerrard :P) dan Yanti (maaf ya, yang terdekat kamu ma Pudji sih :P). Matanya sipit, yang menurut pudji mirip Kakeknya Gerrard (Bapaknya Ook). Hidungnya jelas bukan hidung Pudji yang mancung dan bentuknya bagus, mungkin hidungnya Ook (bukan berarti Ook tidak mancung, tapi hidungnya tidak sebagus Pudji). Bibirnya jelas bukan bibir Pudji juga, lebih ke bibirnya Ook. Telinganya, jelas telinga Pudji, dan yang paling akhir, kata Pudji, keningnya mirip kening Pudji (ya ya ya…saya lupa melihat keningnya…benar mirip). Benar-benar perpaduan kedua orang tuanya.

I love babies, and I really love little Gerrard. Selamat datang di dunia Gerrard. Semoga menjadi anak yang baik, yang bisa membahagiakan orang tua dan keluarga. GBU.

Oh….jangan ikut-ikut bapak jadi Liverpudlians ya Gerrard. Biarpun nama kamu diambil dari gelandang terbaik Liverpool, tapi klub terbaik di Inggris itu Manchester United .

Jun 14, 2009

The Night We Watched Star Trek


Jum'at, 12 Juni 2009, saya dan Yanti kembali menonton sebuah film. Kali ini adalah film yang sangat ingin ditonton oleh Yanti yaitu Star Trek. Saya sendiri dulu mengikuti serial Star Trek : The Next Generation dengan Captain Jean-Luc Picard dan Commander William Riker, lalu tokoh-tokoh lain seperti The Klingon Dorf dan (Tokoh Favorit saya) The Android Data. Sementara untuk versi film, saya belum pernah menontonnya, saya hanya mengetahui tentang tokoh Mr. Spock.

Karena harus mengantar pesanan Bu Wulan, kami baru bisa berangkat menuju bioskop sekitar jam setengah delapan (lagi-lagi hanya kira-kira, saya tidak pakai jam). Dan karena waktu yang sedikit, kami memutuskan menonton di tempat yang dekat yaitu Metropole XXI (Kapok ke MPX, padahal tadinya mau rame-rame kesanah). Setelah membeli tiket, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Kami (atau mungkin saya) yang mengira jam pertunjukan adalah jam 21.45, makan hingga jam 21.00. Sebelum beranjak, Yanti memeriksa tiket dan ternyata jam pertunjukannya adalah jam 21.25. Kami meninggalkan rumah makan jam 21.15, dan langsung memasuki ruangan bioskop. Oh, Karena malam itu lumayan penuh, kami akhirnya mendapat kursi yang agak berada di depan (4 baris dari bangku terdepan). Setelah beberapa saat celingak-celinguk mencari orang yang berpotensi mengganggu, kami melihat seorang perempuan bertubuh besar yang duduk 2 baris di depan kami adalah potensi pengganggu. Dia dengan sibuknya memotret dirinya sendiri, berkali-kali, layaknya seseorang yang belum pernah masuk Metropole, baru mendapat handphone berkamera, atau memang hanya seorang yang narsis sejati (HUehehehehehe).

Tak lama kemudian film dimulai. Dua kursi sebelah kami kosong, sang empunya tiket belum memasuki ruangan. Beberapa menit film berjalan, barulah mereka duduk di kursinya. Orang seperti ini termasuk pengganggu bagi saya, entah buat anda. Dan ternyata, mereka tidak hanya orang menyebalkan yang terlambat datang ke dalam ruang bioskop, tapi mencakup seluruh kriteria sebagai pengganggu utama saat menonton. Selain terlambat, mereka juga mengobrol saat film diputar, mengomentari setiap adegan, menerka kejadian berikutnya, dan yang paling menyebalkan adalah keduanya secara bergantian pergi ke toilet (haduuuh....ganggu aja deh, kenapa ga dari sebelum masuk disetor dulu sih??!!).

Filmnya ternyata seru, saya menyebutnya sebagai film komedi berbumbu science fiction dan action. Saya tidak henti-hentinya tertawa (kecuali saat harus mengucapkan ssshhhh dua kali pada dua perempuan dibelakang kami yang berisik). Setelah film selesai, kamipun meninggalkan bioskop sambil terus membahas film yang baru saja kami tonton. Tentang bagaimana kami sama-sama belum pernah menonton yang versi William Shatner, sampai ke sangat miripnya Zachary Quinto dengan pemeran Mr.Spock yang lama.

Oh, sebagai penutup hari yang menyenangkan, Yanti mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada saya. The first one to say it :)- Thank You Yanti.

Jun 11, 2009

The Light


THE LIGHT


I’ve been in the dark for a while
Too many detours on my trail
The old light I use to see
Got even more and more tiny

Then somehow I see a light
It’s new and it’s so bright
So I begin to follow the light
And let it lead my heart

It gives me power to keep me smiling
It gives me power to stay living
The light that gives me the thrill
After so many times I have been ill

The light belongs to someone else
Made me think things that doesn’t make sense
I would’ve steal it for my good use
But I wouldn’t do such an abuse

The love that I feel is killing me
I really want us forever be
Having you now is not possible
So I will wait until you and I are able


-I Love You-