Showing posts with label my day. Show all posts
Showing posts with label my day. Show all posts

Jul 4, 2012

Catatan Pendek

Sejujurnya, banyak ide di kepala saya selama beberapa bulan ini...tapi sayangnya, waktu tidak memungkinkan...di kantor tidak mungkin, di rumah yang ada tinggal tidur aja...maklum, tiap hari menempuh jarak bekasi-tanah abang pp...

Jan 12, 2012

Where Have I Been?

Tahun yang baru, setelah vakum dalam waktu yang cukup lama akhirnya keinginan menulis datang kembali. Maaf kepada kawan-kawan semua yang menanti kehadiran tulisan saya *emang ada ya?*

Alangkah baiknya jika saya memulai kembali dengan berbagi apa saja yang terjadi selama saya tidak menulis :)

Mari dimulai dengan.....saya sudah menikah! :D

Apr 7, 2010

Kalau Saya Sedang Tidak Jelas, Ini Hasilnya....

Selamat sore...

Saya sedang terkena penyakit "malas menulis" belakangan ini. Banyak banget kejadian yang sebenarnya bisa berbuah tulisan, tapi apa daya, saya hanya mampu menelurkan sedikit tulisan. Bahkan rencana menulis review banyak film yang sudah ditonton juga harus terbengkalai karena pikiran buntu dan tubuh malas.

Sekarang, saat sedang semangat-semangatnya menulis, karena terbawa euforia kembali menulisnya salah satu penulis favorit saya, saya malah tidak ada ide mau menulis apa. Bingung....

Yah, akhirnya saya hanya mampir kesana kemari, menjenguk blog beberapa teman -memakan waktu yang lama juga, karena saya bukan pembaca yang cepat hehehe- dan meninggalkan beberapa jejak pada tulisan yang menarik bagi saya. Lalu meneruskan "melukis" menggunakan program Paint di komputer -lebih ke iseng iseng corat coret saja sebenarnya- dan menghasilkan lukisan seperti yang ada di atas. Tidak lupa saya berkunjung ke rumah blogger favorit saya dan mendapati bahwa rumahnya baru saja berganti baju. Setelah lama mengamati baju barunya, saya kemudian sedikit memperbaiki rumah saya -hayoo, apa yang berubah??-

Nah, setelah selesai berbenah, baru saya mendapat ide hendak menulis apa, dan lahirlah tulisan ini.

..............

- benar benar parah penyakit ini *hufh* -

Mar 29, 2010

Reuni Kecil SMU part 2

Akhirnya, rencana reuni kecil sambil karaoke dengan teman-teman SMU terlaksana lagi. Tepatnya hari sabtu, tanggal 27 Maret 2010, beberapa alumni SMUN 61 Jakarta angkatan 99 berkumpul di Mega Bekasi.

Rencana reuni kecil ini sendiri tercetus di awal bulan. Karena sudah cukup lama tidak saling bertemu, dan merindukan bernyanyi bersama seperti yang kami lakukan di tahun 2009 yang lalu, saya melempar ide untuk kembali karaoke tahun ini. Dari undangan awal sebanyak 16 orang, pada hari H berkumpul 9 orang di tempat yang ditentukan, yang lainnya tidak dapat menghadiri karena alasan yang berbeda (wish you were here T_T).

Berdasarkan pemikiran lokasi yang tidak terlalu jauh dari domisili para peserta, serta ke-ekonomisan ruang karaoke yang akan dipakai (tapi kualitas tetap okeh) maka dipilih Mega Bekasi sebagai lokasi pertemuan. Saat hari H tiba, karena yang sudah konfirmasi kehadiran cukup banyak, maka saya dan Yanti yang datang lebih dulu memesan ruangan dengan ukuran terbesar, mengantisipasi kalau ada peserta yang mengkonfirmasi belakangan. Waktunya juga diundur satu jam karena beberapa mengabarkan akan datang terlambat.

Setelah menunggu, kami masuk terlebih dahulu karena yang lain belum datang. Setelah beberapa saat menyanyikan lagu-lagu The Beatles plus satu lagu Jason Mraz, Ratu datang membawa hadiah buat saya dan Yanti (terima kasih banyak ya bu guru, hadiahnya sudah sukses bertengger di dua tas saya ^_^). Ratu ikut sibuk memilih lagu yang kebanyakan adalah lagunya BCL. Ditanya kenapa pilih lagu BCL, kata Ratu “Lagunya BCL kan nadanya gak susah”.  Setelah beberapa saat bernyanyi bertiga, Odhel dan Frida kemudian datang. Mereka mengabarkan bahwa Wiwid, yang sudah mengabarkan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan dari sebelum kami memasuki ruangan 1 jam yang lalu, terjebak kemacetan. Tidak lama kemudian Wiwid datang bersama Niniet dan suami. Acara pilih lagu dan bernyanyi terus berlanjut. Karena banyaknya lagu yang dipilih (dan terkadang tidak dinyanyikan sampai habis) saya hanya ingat beberapa lagu saja. Setengah jam sebelum bubar, Firdaus datang dan langsung bergabung.

Selesai karaoke, diluar kami bertemu Senni, yang kebetulan tidak bisa ikut bergabung. Setelah mengabadikan diri di depan tulisan tempat karaoke, rombongan melanjutkan dengan makan. Setelah makan, satu persatu mulai mengundurkan diri, mulai dari Niniet dan suami, lalu kemudian Wiwid, Frida dan Odhel. Saya dan Yanti yang hendak ke Supermarket, berpisah dengan Ratu dan Firdaus di lantai dasar.

Hari saya dan Yanti belum berakhir, tapi reuni kecilnya sudah berakhir. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati hari itu, bertemu dengan teman lama dan bersenang-senang. Semoga semuanya juga senang dan mau ikut lagi kalau diajak di lain waktu ^_^

-  Love you all  -

Mar 6, 2010

The Best


“You’re the best”

Dalam hidup anda, berapa kalikah anda mendengar orang lain mengucapkan kata-kata tersebut kepada anda? Kata-kata yang entah diucapkan dengan tulus atau tidak, tetapi dapat membuat seseorang menjadi senang. Kata-kata yang jika diterjemahkan secara langsung memiliki arti “Kau adalah yang terbaik”, yang mana jika diucapkan kepada anda berarti anda dianggap sebagai yang terbaik oleh yang mengucapkan kata-kata tersebut.

Terbaik disini bisa dalam berbagai hal. Bisa saja pada saat anda memecahkan masalah rumit yang tidak bisa dipecahkan oleh orang lain, anda diberikan kata-kata bahwa anda yang terbaik. Atau memang karena anda sangat menguasai satu hal hingga tidak ada yang menyamai anda, maka anda akan diberikan kata-kata tersebut. Bisa juga karena keseluruhan yang ada pada diri anda menjadikan anda seseorang yang berbeda dari yang lainnya, sehingga seseorang memberikan anda gelar “terbaik” tersebut. Banyak hal yang dapat memicu terucapnya kata-kata "terbaik".

Saya pribadi jarang sekali mendengar kata-kata itu diucapkan kepada saya. Entah apakah saya memang seorang “loser”, atau memang hanya seseorang yang tidak menonjol. Saya mendapatkan kata-kata “the best” selepas ujian akhir SMU, yang kemungkinan karena sesuatu yang saya lakukan saat ujian (tidak mau ditulis disini, bukan perbuatan yang baik). Predikat “the best” dalam hal yang satu itu bertahan sampai masa kuliah. Selain dari itu, tidak pernah lagi saya mendengar atau menerima ucapan yang menyatakan saya yang terbaik (sekali dua kali pernah sih, tapi tidak jelas diucapkan untuk apa).

Hingga beberapa waktu yang lalu, saya menerima ucapan “you’re the best” dari seseorang. Sungguh, jika boleh bersumpah saya akan bersumpah, kata-kata itu berarti sekali buat saya. Saya tidak tahu apa yang membuat saya "terbaik", dan sesungguhnya saya tidak perduli alasannya, saya hanya senang bisa mendengarnya.

Thank you so much ^_^

Sep 23, 2009

The Bear Writes a Blog


Beberapa hari belakangan, semasa liburan Lebaran ini, keseharian saya seperti layaknya seekor beruang. Setiap hari diisi dengan tidur dan makan, disellingi kegiatan yang (menurut banyak orang) tidak bermanfaat hehehehe....

Oleh karena itu beberapa hari belakangan ini status di Facebook saya berhubungan dengan beruang, dimulai dari Polar bear mode On, Grizzlie bear mode On, sampai ke Honey Bear mode On. Sebenarnya semua beruang memang memiliki masa hibernasi dimana mereka akan tidur dalam waktu yang cukup lama untuk menghemat energi mereka, jadi tidak masalah beruang mana yang saya pakai.



Awalnya saya pakai polar bear alias beruang kutub karena warnanya putih dan terlihat lebih lucu (saya kan lucu, jadi cocok dong hehehehe). Tapi kemudian ada yang protes, katanya saya lebih cocok seperti beruang madu karena hitam (uhhh!). Akhirnya saya ambil jalan tengah, mengganti menjadi beruang grizzly yang berwarna coklat. Setelah beberapa saat, kalau dipikir-pikir, beruang grizzly kan menyeramkan, biarpun coklat (seperti warna kulit saya) tapi grizzly besar dan menyeramkan. Sehingga pada akhirnya saya menurut dan memakai beruang madu yang berwarna hitam.

Lebih cocok manakah?

Sep 18, 2009

Perutkuuu……


Kenapa dengan perutku? Buncit? Kalau itu sih semua yang pernah melihat saya sudah tau. Tapi sekarang saya bukan mau menulis tentang seberapa buncit perut saya jika dibandingkan dengan perut orang lain, saya mau menulis sebuah kejadian yang berhubungan dengan perut saya yang buncit.

Perut saya (atau lebih tepatnya lambung saya) sensitif dengan makanan pedas dan asam. Seringkali jika saya memakan makanan yang pedas atau asam (atau dua-duanya, sayur asem dan sambal terasi pedas misalnya) perut saya memberontak, perut saya sakit dan memaksa saya harus bolak-balik ke toilet. Hal seperti ini yang seringkali menghalangi niat saya untuk bisa menikmati makanan tertentu, makanan yang sebenarnya sangat lezat tetapi tidak bisa saya nikmati karena rasanya.

Yanti sudah tau tentang “kekurangan” ini, dan ia dengan penuh perhatian selalu mengingatkan apabila makanan yang hendak saya santap itu asam atau pedas. Beberapa kali bahkan melarang saya menyantap makanan yang memiliki rasa asam dan pedas (terima kasih banyak sudah mengingatkan saya untuk tidak menyiksa diri sendiri). Tapi karena pada dasarnya saya sangat senang makan, dan karena pada dasarnya saya nakal, jadi seringkali peringatan atau larangannya saya tidak ikuti (maaf ya sering bikin kamu kawatir).

Nah, pada saat menulis ini, perut saya sakit luar biasa, mengerjakan tulisan ini sambil sesekali ditinggal ke toilet. Kenapa? Apakah saya habis menyantap sesuatu yang pedas dan asam?

Malam sebelumnya (lebih tepat sore sih) saya ikut buka bersama dengan teman kantor Yanti. Acaranya diadakan di sebuah restoran seafood di kawasan Jakarta Pusat. Makanan yang dipesan beraneka macam dan dalam jumlah cukup banyak. Sebut saja udang saus mayonnaise, udang api cabai garam, tahu kipas, kerang ijo, calamari ring (cumi goreng tepung), cah kangkung dan kepiting saus tiram.

Dari menu diatas, masih ada dua menu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ada udang bambu dan kepiting soka. Udang bambu bernama seperti itu karena memang bentuk cangkangnya seperti bambu. Sementara nama kepiting soka sering saya lihat di daftar sold out dari restoran tersebut (terlihat setiap kali saya melewati restoran tersebut), membuat saya penasaran dengan bentuk dan rasa kepiting soka. Saya tanya pada teman yang membuka tenda seafood dekat rumah, menurutnya kepiting soka adalah jenis kepiting yang cangkangnya tidak sekeras kepiting biasa sehingga bisa ikut dimakan. Entahlah apa benar seperti itu.

Mengingat saya belum pernah merasakan kedua jenis makanan itu, saya tidak mau kelupaan untuk ikut menikmati du jenis makanan tersebut. Udang bambunya dimasak dalam 2 bumbu, tidak ada yang pedas, dan rasanya mirip rasa bekicot tanpa rasa pahit yang kadang didapati pada bekicot. Lalu kepiting soka dimasak cabai garam, rasanya tidak terlalu istimewa, mirip rasa kepiting biasa, hanya saja tekstur dagingnya lebih lembut dan lebih berair.

Selama ini, saya tidak pernah punya alergi pada seafood, oleh karena itu saya dengan percaya diri menyantap makanan yang ada. Yang terjadi kemudian adalah, lidah saya gatal. Merasa itu merupakan gejala awal alergi, saya kemudian meminum susu segar, berharap susu kembali dapat menolong saya (kalau sakit atau tidak enak badan, saya sering minum susu dan kemudian merasa lebih segar). Gatal di lidah memang tidak hilang, tapi kekakuannya hilang (sebelumnya sempat terasa lidah saya kaku). Beberapa saat kemudian, saat berada di kendaraan, perut saya sakit. Sesampainya di rumah, pemberontakan perut saya agak berkurang. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke warnet. Sepulangnya dari warnet, saya makan lagi, kali ini menyantap nasi goreng buatan sendiri. Setelah makan, perut saya kembali berontak, dan malam itu saya beberapa kali harus terbangun untuk pergi ke kamar mandi.

Sampai pagi ini, perut saya belum juga bersahabat. Tiba di tempat bekerja, saya langsung mampir di toilet. Setelah itu menyalakan computer, memulai menulis postingan ini, ke toilet lagi, meneruskan postingan, toilet lagi, menyelesaikan postingan ini, dan sekarang selesai sudah postingan ini. Ada yang mau berpendapat kenapa kira-kira perut saya berontak padahal saya tidak menyentuh makanan pedas atau asam? Kalau saya curiga dengan kepiting soka atau kerang bambu…..

Sep 13, 2009

Lagi Lagi Soal Antri


Lagi lagi saya berurusan dengan orang yang tidak bisa mengantri dengan baik. Kejadiannya baru saja, tepatnya Sabtu 12 September 2009 di sebuah restoran yang menyajikan menu berbahan dasar ayam di Plasa Semanggi.

saat itu saya, Yanti dan Dios sedang menunggu waktu dimulainya pertunjukan film yang akan kami tonton (Final Destination - Red). Karena sudah dekat waktunya berbuka puasa, kami bergegas menempati tempat duduk di restoran itu sebelum terlalu ramai oleh pengunjung yang akan berbuka puasa. Kami secara bergantian memesan makanan agar tempat duduk kami tidak ditempati orang lain.

Saya dan Yanti kemudian mulai mengantri untuk memesan makanan. Antrian yang tidak terlalu panjang sebenarnya, hanya ada satu orang didepan kami berdua. Lalu kemudian datang 2 orang lagi dibelakang kami, dan seorang Ibu-ibu disebelah baris antrian. dari awal saya sudah mencium niat busuk ibu tersebut.

Benar saja. Segera setelah orang di depan kami beranjak pergi, si ibu dengan seenaknya hendak menyalip antrian. Ibu itu sepertinya ditegur oleh Yanti, saya sendiri terlalu sibuk memelototi ibu tersebut sehingga tidak mendengar apa yang dikatakan Yanti. Ibu itu berkata pada pramusaji restoran "Mas, air mineralnya berapa?" Mas pramusaji yang ditanya menjawab "Lima ribu lima ratus bu"

Saya kesal, sudah si ibu tidak tahu diri, si pramusaji malah meladeni, padahal dia tau kami sudah antri dari tadi. Saya dengan kesal berkata pada pramusaji tersebut "Mana managernya, saya mau bicara sama managernya." Yanti mencoba menenangkan saya sementara si pramusaji mulai berubah raut mukanya menjadi takut dan si ibu kurang ajar itu terus berusaha meyakinkan agar dia bisa dilayani lebih dulu dengan alasan hanya membeli sedikit dan cepat.

Saat saya hendak menanyakan dimana managernya kembali, si pramusaji berkata pada ibu kurang ajar itu "Maaf bu, Mba ini duluan" sambil menunjuk ke arah Yanti. Saya sudah kesal, dan meskipun si pramusaji berusaha melayani kami dengan baik, tapi saya tidak mau bicara lagi sama pramusaji bodoh itu. Saya membiarkan Yanti melakukan semua pesanan dan segala macam urusan dengan si pramusaji.

Kenapa sih orang Indonesia susah sekali mengantri? Kalaupun memang mau beli sedikit ya harus antri dong. Mau beli banyak atau sedikit semua harus antri. Orang-orang yang selalu memudahkan segala cara adalah orang yang bisa membuat negara ini hancur.

Oh, sepertinya kata-kata saya yang mencari manager restoran sangat berpengaruh pada si pramusaji bodoh. Kenapa? Dia dengan bodohnya tidak memasukkan satu pesanan kami ke dalam struk, dan salah memberikan nomor pada kami sehingga nomor yang kami pegang berbeda dengan nomor pesanan pada struk. Hal ini menyebabkan pesanan kami terlambat diantar dan sudah dingin saat tiba di meja kami. Restoran bodoh, pramusaji bodoh, dan ibu kurang ajar, lengkap sudah!

Sep 6, 2009

Buka Bersama Teman SD, and A Whole Lot More


Bulan Ramadhan sudah tiba. Di saat istimewa ini biasanya banyak diadakan acara sahur atau berbuka puasa bersama. Kami, alumni Sekolah Dasar Negeri 07 PAgi Cipinang Muara, juga tidak mau ketinggalan mengadakan acara serupa.

Idenya terbersit dari beberapa minggu lalu, saat saya dan sahabat saya Diosnardo Rahmanto, kopdar dengan 2 teman SD lain, Euis Noviyanti dan Wahyu Kumala Jati, di Plasa Senayan. Rencananya mau reunian, di sekolah tercinta sambil mungkin ada bakti sosialnya, tapi berhubung bulan Ramadhan sudah dekat jadi diambillah keputusan berbuka puasa bersama.

Akhirnya, acara yang disiapkan secara mendadak dan dengan waktu yang singkat, bisa terlaksana dengan baik. dari banyak nama yang bisa dihubungi (terima kasih banyak Facebook) akhirnya hanya sebagian besar saja yang bisa datang. Saya dan Yanti yang tiba pertama di rumah makan tempat acara berlangsung. Disusul kemudian oleh Euis, Dios dan Arry. Beberapa saat kemudian berturut-turut datang Menik, Indra, Irsan, Adi, Indah Irma beserta Syauqi sang buah hati dan suami, Iin dan Lukman.

Tidak terlalu lama menunggu, saat terdengar Adzan Maghrib, semua langsung menikmati makanan dan minuman yang sudah tersedia. Dibuka dengan es kacang merah yang mantap rasanya (hanya saya yang memesan es kacang merah, yang lain memesan es kopyor), kemudian dilanjutkan mencicipi sayur asem yang ternyata juga mantap, menyegarkan, dan terakhir menyantap nasi pluncut empal gepuk, tempe mendoan, ikan asin dan sambal. Meskipun bukan menu yang terkenal dari rumah makan tersebut, tapi rasa masakannya tetap enak. Setelah makan, rombongan perokok terpaksa mengungsi ke luar rumah makan karena larangan merokok dari ibu yang membawa anak bayi hehehehe….



Setelah Adi dan Indah pamit undur diri lebih dulu dari yang lain, tidak lama kemudian saya, Yanti dan Dios pamit undur diri juga. Saya sudah dikejar waktu untuk futsal, sementara Dios ikut kami karena sehabis futsal rencananya kami akan pergi karaoke. Kurang dari satu jam bermain, kami kemudian beranjak ke tempat karaoke. Kami sedikit beruntung karena waiting list malam itu tidak terlalu banyak dan pergerakannya tidak lama, sehingga kurang dari 30 menit menunggu, kami sudah berada di ruangan karaoke, bernyanyi gila-gilaan, tertawa dan bercanda. Setelah itu, tentu saja kami pulang, karena sudah malam.

Saya mengatakan pada Yanti bahwa malam itu kembali jadi hari yang membahalahkan. Paginya saya menemani Yanti ke daerah Jakarta Selatan, kemudian menempuh kemacetan menuju toko buku, berbuka puasa bersama teman SD saya, futsal, dan ditutup karaoke (setelah itu di rumah sempat menonton DVD sebentar). Melelahkan, tapi juga membahagiakan. Senangnya saya bisa menemani orang tersayang, bertemu teman-teman yang sudah lama tidak saya jumpai, serta melakukan kegiatan yang menjadi kesenangan saya, dan melakukannya bersama orang-orang terdekat.

Aug 11, 2009

Hari yang membahalahkan


Hari yang membahalahkan?
Bingung ya?
Bahasa apa itu?
Itu bahasa yang saya ciptakan sendiri, dengan asal-asalan, yang penting mengandung dua kata yang saya maksud.

Hari yang membalahkan adalah hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan. Iya, hari itu hari Rabu yang cerah. Saya berangkat sesuai waktu saya biasanya berangkat. Tapi karena tidak beruntung mendapatkan bis yang berjalan layaknya seekor siput, saya akhirnya sampai kantor terlambat. Sesampainya dikantor, langsung mengerjakan apa yang harus dikerjakan (sarapan pagi, menikmati teh manis panas, mendengarkan musik, dan sesekali memutar DVD konser Jason Mraz yang saya beli semalam sebelumnya). Semua dikerjakan dengan mengejar waktu, karena menurut pengumuman di hari sebelumnya, listrik di kantor akan dimatikan mulai pukul 10.00 sampai pukul 13.00.

Tunggu punya tunggu, listrik baru padam pukul 11.00 siang. Karena tidak bisa bekerja tanpa listrik yang menyalakan komputer, maka kami pergi ke luar kantor. Saya memanfaatkan waktu untuk pergi menemani Yanti mengurus SIM di Kalibata. Setelah ojek yang saya tumpangi sempat salah jalan, akhirnya saya tiba di tujuan setengah jam kemudian. Bertemu dengan Yanti, menunggu, makan siang, menunggu lagi, semua dilakukan di bawah teriknya sinar matahari. Setelah menunggu dan menunggu (dengan sabar tentunya…bukan si Sabar teman SMU lho, maksudnya dengan hati sabar….bukan hatinya si Sabar teman SMU juga lho….ah, sudahlah, pusing saya) akhirnya SIM yang dinanti diperoleh. Bergegas kami kembali ke kantor masing-masing.

Saya yang tergesa-gesa, memutuskan naik ojek dari kantor Yanti. Hamper mengalami kecelakaan karena pengemudinya mengendarai motor layaknya Valentino Rossi di sirkuit balap, saya tiba di kantor 10 menit dari saat menaiki ojek. Bergegas menuju ruangan, menanyakan keadaan, turun kembali ke bawah membeli kertas pembungkus kado, naik lagi ke lantai 6, membungkus kado untuk Yanti (dimarahi oleh Mba’ ku karena salah membungkus), menikmati segelas teh vanilla, bersiap pulang dan akhirnya pulang.

Tidak pulang juga, tapi menjemput Yanti lebih dulu. Rencana awal sih mau mengajak Yanti pergi entah kemana menghabiskan waktu sampai mendekati pergantian hari, baru kemudian memberikan kado yang sudah disiapkan. Tapi mengingat diri saya dan dirinya sudah terkuras energinya saat menunggu SIM, saya memutuskan untuk tidak mengajaknya pergi dan menyerahkan kadonya 4 jam sebelum pergantian hari. Kado yang diterima dengan senyuman yang paling manis yang pernah saya lihat. Setelahnya, kami pulang. Saya mampir ke warnet untuk mem-post tulisan-tulisan yang sudah menumpuk layaknya cucian. Setelah itu pulang ke rumah, mencuci muka, chatting sebentar dengan Yanti sampai saya tertidur karena lelahnya. Terbangun di 22 menit melewati pergantian hari, menelpon Yanti, mengucapkan selamat ulang tahun, membuka facebook, menulis pesan di wall Yanti, membuat beberapa komentar disana sini, lalu tertidur pulas.

Wuah, what a day. Lelah memang, tapi kalau melihat senyumannya sepertinya semua kelelahan hilang saat itu juga. Percaya atau tidak, saya sendiri juga terus tersenyum sepanjang malam….teringat senyum dirinya….saya mungkin tersenyum juga saat tertidur hehehehehehe…..

Aug 5, 2009

Biro Jodoh??


Selagi saya mulai menulis sebuah tulisan yang serupa dengan dua tulisan saya sebelumnya, saya terhenti dan terdiam. Sesaat kemudian saya tertawa sendiri. Saya geli bila memikirkannya..

Saya pernah membuat beberapa tulisan mengenai teman saya, orang yang saya kenal, yang masih sendiri (alias belum punya pacar). Berhubung saya senang berbagi, saya sangat ingin mereka yang saya kenal, teman-teman saya, yang masih sendiri, merasakan apa yang sedang saya rasakan, merasa sangat beruntung dan bahagia. Ya, merasa beruntung saya telah menemukan seseorang yang saya sayangi, dan juga menyayangi saya. Ya, bahagia karena hidup menjadi lebih berwarna dengan kehadirannya. Oleh karena itu saya sangat ingin teman-teman saya, orang yang saya kenal, yang masih sendiri, untuk dapat memiliki pasangan, maka terciptalah beberapa tulisan yang “mempromosikan” diri mereka.

“Promosi” disini bukan berarti saya bermaksud menjual atau menyewakan mereka, sama sekali tidak ada maksud seperti itu. Tidak ada juga niat saya merendahkan atau mengejek mereka, lihat saja isi tulisan saya, tidak ada yang menjelek-jelekkan. Tidak untuk membuat malu, karena tulisan dibuat setelah disetujui yang bersangkutan. Tujuannya hanyalah mendeskripsikan hal-hal baik mengenai yang bersangkutan.

Lalu kenapa saya tertawa?
Saya tertawa karena geli. Geli kalau memikirkan betapa saya melakukannya dengan serius. Saya benar-benar serius saat menulis deskripsi tentang mereka. Geli karena saya dengan serius ingin mereka bahagia bertemu dengan (mungkin) jodoh mereka. Geli karena saya merasa diri saya seperti apa yang orang sebut sebagai “mak comblang”. Geli karena setelah dilihat beberapa kali, rumah saya seperti sebuah biro jodoh online. Geli karena sebenarnya aktifitas “mak comblang” pernah beberapa kali saya lakukan sebelum ini…dan hasilnya memuaskan. Bukan dalam hal finansial, tapi lebih dari berhasilnya beberapa pasangan berjodoh karena ulah saya mempromosikan orang lain.

Hahahahaha….tuh kan, saya tertawa lagi :P

Aug 1, 2009

Wierd Thing...


Aneh…

Ada kejadian yang buat saya aneh. Mungkin seorang sarjana komputer atau seseorang yang mengerti tentang gelombang radio yang mungkin bisa menjelaskan apa yang terjadi.

Di kantor, saya menggunakan PC Acer Aspiredengan spesifikasi yang lumayan. Monitor yang saya pakai adalah Acer X193w, sebuah monitor LCD layar lebar. PC tersebut dilengkapi dengan sepasang speaker standar. Suara yang dihasilkan untuk mendengar musik tentu tidak maksimal, tetapi lumayanlah untuk sekedar bernyanyi kecil saat bekerja. Karena keterbatasan ruang (mungkin), PC-nya diletakkan diatas meja, bersebelahan dengan monitor, dan speaker ada di samping monitor.

Saya set volume pada volume control PC ke semua maksimum. Volume pada program pemutar file musik juga di set pada posisi maksimum, sehingga kendali volume ada pada tombol pengatur volume pada speaker. Jika sedang ada rapat, volume speaker saya kecilkan, tapi tidak mematikan speaker, sehingga kadang sayup terdengar suara musik, dan seringkali menangkap sinyal handphone sehingga mengeluarkan suara khas sinyal handphone.

Yang sedikit aneh adalah, beberapa kali, saat saya mengecilkan volume speaker, suara yang keluar dari speaker tetap terdengar, dan suara yang keluar itu bukanlah suara dari PC. Tadinya saya pikir suara itu adalah suara sayup-sayup dari musik yang saya putar. Tapi saat saya dengarkan dengan seksama, mendekatkan speaker yang sedang ber-volume rendah ke telinga saya, apa yang saya dengar sedikit mengejutkan saya. Suara volume rendah yang terdengar adalah suara siaran sebuah stasiun radio.

Kenapa sampai bisa mengeluarkan suara radio saat volumenya minimum? Entahlah. Mungkin karena gelombang radionya tertangkap oleh PC, atau karena hal lain yang sifatnya teknis, yang saya tidak mengerti. Suara siaran radio itu tidak terdengar lagi saat volume dinaikkan.

Buat yang mengerti, bisa jelaskan pada saya kenapa seperti itu? Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

Jul 8, 2009

One Day..


Pagi ini matahari bersinar terang, langit biru tanpa awan...
Gedung tinggi terlihat di kejauhan, tersamarkan kepulan asap kendaraan…
Gedung-gedung terlihat semakin buram, dan buram, dan buram…
Hingga kemudian menjadi gelap, semuanya gelap…

Cahaya datang bersama dengan hadirnya wajah…
Sesosok wajah yang kukenal dengan baik…
Wajah yang tersenyum dengan indahnya…
Wajah yang memancarkan kehangatan…

Wajah itu memberikan kecupan lembut…
Tangannya menggenggam tanganku…
Menarik tanganku, menariknya untuk mengikutinya…
Memasuki sebuah rumah kecil yang indah…

Suara merdunya memenuhi telinga…
Menyanyikan lagu yang kusuka…
Sambil terus bernyanyi dan tersenyum…
Ia memelukku dengan erat…

Pundakku terguncang, suara merdunya hilang…
Pundakku terguncang, terdengar suara lain…
Suara yang berbeda namun kukenal juga…
Suara yang berkata “De..de..bangun…ada bos”

Handphone-ku


Handphone-ku

Sudah beberapa bulan ini handphone saya, Samsung tipe SGH-J200, mengalami kerusakan. Joystick (penggerak kursor) – nya sedikit susah di gerakkan ke bawah. Tadinya, karena masih ada tombol atas-bawah di samping, saya membiarkan saja. Lama-kelamaan, semua arah tidak bisa, hanya tinggal menekan tengahnya, dan kadang-kadang tombol atas yang bisa.

Keadaan joystick rusak itu saya biarkan selama beberapa waktu, karena saya masih bisa menggunakan fungsi yang lain. Meskipun saya kemudian harus merelakan tidak bisa memakai beberapa fitur kegemaran saya seperti browsing menggunakan Opera Mini, aplikasi-aplikasi seperti Yamee, e-Buddy, Nimbuzz dan skype. Pikir saya waktu itu adalah yang penting saya masih bisa membuka facebook dan browsing melalui browser bawaan handphone (Netfront). Sementara menu-menu lain di handphone masih bisa dijalankan juga menggunakan tombol atas-bawah di samping dan kedua softkeys.

Hari ini, akhirnya joystick handphone saya menyerah. Joystick handphone saya lepas dari tempatnya seharusnya berada. Sekarang, di hendphone saya ada sebuah lubang yang cukup besar, tempat joystick awalnya. Uh, sekarang hanya bisa menyesal, kenapa tidak dari awal saya perbaiki ya?

Jul 5, 2009

Nonton Ice Age 3D


Nonton Ice Age 3D

Kamis siang, setelah mendengar bahwa film Ice Age 3: Dawn of the Dinosaur sudah beredar dari hari rabunya, saya tiba-tiba ingin menonton film itu. Bulan ini memang sepertinya pecinta film dimanjakan dengan banyaknya film musim panas (summer movies) dari Hollywood yang dirilis. Setelah sebelumnya berturut-turut merilis Terminator 4, Star Trek dan Transformers 2, kini giliran Ice Age 3. Berikutnya masih banyak film yang mengantri, menunggu jadwal rilis seperti Harry Potter and the Half Blood Prince, Public Enemies, 2012, dan judul-judul lainnya.

Kembali ke hari kamis siang itu, saya menanyakan Yanti apakah mau menonton film Ice Age juga. Ternyata Yanti mau (dooh, sudah tahu sebenarnya, tapi ditanya lagi untuk memastikan hehehehe), jadi kami berencana menonton di malam harinya sepulang kerja, karena kalau Jum’at Yanti tidak bisa. Ketika Yanti mengusulkan menonton di Blitz Megaplex, saya mengiyakan, berhubung masih di awal bulan jadi masih bisa mengiyakan, dan lagi ada sesuatu yang menarik yang membuat saya juga mengiyakan (hehehehe). Kamipun janjian bertemu di Blitz dan kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing.

Pulang kerja, saya dengan santai (mengingat saya pulang 1 jam lebih awal daripada Yanti) pergi menuju Grand Indonesia. Sempat terpikir jalan kaki karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dan masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi akhirnya saya memutuskan untuk naik metro mini saja, mumpung kosong pikir saya. Tapi di pertengahan jalan ternyata banyak sekali yang naik, sampai-sampai saya yang duduk bisa terjepit oleh mereka yang berdiri (aneh kan? Ya memang begitu kejadiannya hehehe). Akhirnya, setelah beberapa menit terjepit, saya tiba di Grand Indonesia, dan langsung meluncur ke 2 tempat tujuan, toilet dan Blitz .

Seperti biasa, tempat menunggunya adalah smoking lounge. Saya tiba tepat pada saat Yanti justru baru mau berangkat. Karena masih agak lama, saya membeli minum, melihat-lihat trailer film dan berkutat dengan Facebook. Sekitar satu jam kemudian Yanti datang, dan kami masih harus menunggu selama sekitar 1 jam lagi. Yanti memberitahu saya bahwa filmnya dalam format 3-D, another surprise (hehehehe). Rupanya animo masyarakat terhadap film ini cukup tinggi, karena setelah ritual ke toilet dan membeli cemilan plus minuman, kami terpaksa menunggu hingga antrian memasuki ruangan auditorium agak sepi.

Setelah berfoto sambil mengenakan kacamata yang dibagikan, filmnya dimulai. Untuk review filmnya silakan klik disini. Komentar pertama yang keluar dari Yanti adalah “No Subtitle?” Iyalah, mungkin agak bingung juga kalau gambar yang kita lihat 3 Dimensi tapi ada teksnya, makanya tidak ada subtitlenya. Mudah-mudahan anak-anak kecil yang menonton malam itu bisa mengerti jalan ceritanya hanya dengan mendengar suara dalam bahasa inggris dan melihat gambarnya. Sepanjang film, saya tidak henti-hentinya tertawa (dan mengunyah tentunya, hehehehe). Filmnya sangat lucu, saya sampai capek tertawa terus. Tampaknya seisi ruang pertunjukan juga capek tertawa. Gambar animasinya sangat bagus, ditambah lagi format 3-dimensinya, menambah bagus animasi yang sudah bagus. Saya jadi teringat, terakhir kali saya melihat film 3-dimensi adalah waktu saya kecil di Teater Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah. Lama sekali? Iya, memang sudah selama itu saya tidak menonton film 3-dimensi. Sensasinya masih sama, menyenangkan, menakjubkan, dan membuat saya sedikit pusing karena saya harus menatap gambar baik-baik dalam waktu yang lama.

Malam yang menyenangkan, malam yang selalu membuat saya berharap……yah, biar saya saja yang tahu harapan saya sendiri hehehehe .

Jul 1, 2009

Garuda Di Dadaku


Garuda Di Dadaku

Beberapa hari sebelum beredarnya Transformers 2: Revenge of the Fallen, Yanti merekomendasikan untuk menonton Garuda Di Dadaku. Saya meng-iya-kan, maka Garuda Di Dadaku masuk kedalam daftar menonton saya dan Yanti. Terus terang, sebelum saya menontonnya, saya tidak berharap banyak pada film ini, mengingat ini film lokal. Bahkan setelah beberapa teman baik merekomendasikan film ini juga, saya tetap tidak berharap banyak pada film ini. Sudah terlalu banyak film mengecewakan dari sineas-sineas lokal.

Filmnya berkisah tentang seorang anak kecil berusia 12 tahun yang bernama Bayu. Bayu memiliki bakat dalam bermain sepakbola, bakat yang didapat dari (almarhum) Ayahnya. Tetapi Kakek Bayu tidak menyukai sepakbola dan melarang Bayu bermain sepakbola. Bahkan untuk membahas mengenai sepakbola juga tidak boleh. Kakek Bayu menginginkan Bayu menjadi orang sukses, dan menurutnya sepakbola bukan jalan untuk menjadi sukses. Oleh karena itu ia memasukkan Bayu ke dalam berbagai macam les, mulai dari les musik, melukis, sampai bahasa Inggris.

Bayu mempunyai seorang sahabat bernama Heri yang juga menggemari sepakbola. Hanya saja, tidak seperti Bayu, Heri tidak bisa bermain sepakbola karena dirinya lumpuh sejak kecil. Di hari ulang tahun Bayu, Heri mengajaknya menonton pertandingan final sepakbola remaja. Setelah pertandingan, mereka bertemu dengan seorang pelatih dari SSB Arsenal (kenapa harus Arsenal ya? Kan ga jago heheheheheh). Dari pertemuan itu dimulailah perjalanan Bayu yang dibantu Heri mengejar impian memakai Garuda di dada (baju tim nasional Indonesia). Berhasil tidaknya, silahkan anda lihat sendiri ya.

Film ini dikemas ringan, mengingat sasaran penontonnya kemungkinan adalah semua umur, ditambah humor-humor yang cukup menggelitik. Ide cerita yang sama mungkin sudah pernah anda temukan pada film lainnya seperti Bend it like Beckham, tapi bahkan film Hollywood juga sering mengulang ide yang sama dengan film lain, jadi saya tidak akan mempermasalahkan itu. Tidak ada akting yang menonjol, baik dari pemeran yang senior maupun yang junior. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah baiknya akting pendatang baru Emir yang berperan sebagai Bayu. Juga begitu pasnya seorang Ramzi memerankan tokoh Mang Duloh, supir Heri, dengan celotehan-celotehan dan polah tingkah lakunya yang membuat penonton tertawa. Secara keseluruhan, film ini menghibur, tidak terlalu bagus tapi menghibur. Saya bahkan berani mengatakan, menurut pendapat saya, film ini lebih baik jika dibandingkan dengan Transformer 2: Revenge of the Fallen (lagi-lagi, saya terlanjur dibuat sangat kecewa oleh Michael Bay dan tim Transformers 2 yang gagal membuat film yang lebih menarik dari apa yang sudah mereka buat).

Rate : 2/5

On That Saturday Night


On That Saturday Night

Pagi hari, terbangun oleh suara televisi. Tidak lama kemudian terdengar nada dering -Jason Mraz’s Lucky- yang hanya akan berbunyi jika satu orang tertentu menelepon ke telepon genggam saya. Setelah menekan tombol bergambar seperti gagang telepon, yang artinya saya menjawab telepon tersebut, suara yang menyejukkan hati terdengar di seberang sana. Suara itu menanyakan apakah saya masih tertidur, apakah dirinya membangunkan saya yang sedang terlelap. Segera saya menjawab tidak, karena saya memang sudah terbangun sebelum dirinya menelepon saya. Suara itu mengingatkan akan rencana yang saya dan dirinya buat di hari sebelumnya, rencana untuk membawa Aiyo-nya tersayang ke dokter, agar tidak lagi sakit, agar tidak lagi ngambek. Segera setelah sambungan telepon diakhiri, kami mandi (tidak bersama, di rumah masing-masing….saya mandi, saya tidak tahu apakah dirinya mandi karena saya tidak melihatnya saat itu, saya hanya percaya pada kata-katanya yang mengatakan bahwa dirinya akan mandi).

Selesai mandi, saya menyempatkan membuka buku-wajah (facebook), sambil berpakaian dan kemudian mengambil makanan, makanan yang saat saya makan waktu itu disebut sarapan. Dari buku-wajah, saya melihat status dirinya, menggambarkan apa yang akan dirinya lakukan hari itu, pergi ke dokternya Aiyo. Sudah ada beberapa komentar yang masuk, dan dirinya juga sudah menjawab, membuat saya bertanya apakah benar dirinya tadi mandi? Jangan-jangan malah sibuk membalas komentar pada buku-wajahnya 

Setelah sarapan saya habiskan, saya beranjak keluar rumah, dengan pakaian kegemaran saya, yang santai, sambil menenteng tas yang berisi notebook, charger notebook dan mouse. Saya berjalan agak jauh, menerjang teriknya matahari di pagi menjelang siang itu, panasnya membuat saya berkeringat. Tiba di rumah seorang teman baik, menitipkan tas berisi notebook, charger notebook dan mouse kepada seorang ibu yang bekerja di rumah itu, berpamitan, bertemu teman baik di sebuah pos penjagaan keamanan, mengobrol dengannya selama beberapa saat, mengenai gaji saya yang belum dibayarkan saat itu,dan juga mengenai keinginan adik teman baik saya itu bersekolah di tempat yang lebih murah, sesuatu yang melegakan teman baik saya.

Mengingat waktu yang tidak bersahabat, saya berpamitan pada teman baik saya, melanjutkan perjalan kakian menuju tempat yang sudah disepakati bersama dirinya. Saat sudah dekat dengan tempat yang dimaksud, telepon genggam saya bergetar, mengeluarkan nada dering singkat, yang berarti pertanda ada sebuah pesan singkat yang masuk. Dirinya mengirimkan pesan kepadaku untuk merubah tempat bertemu, padahal saya sudah dekat tempat tersebut. Segera saya balas, mengatakan padanya agar tetap di tempat awal, mengatakan padanya bahwa saya sudah dekat tempat awal. Saya pun akhirnya menunggu di tempat awal. Menunggu dan menunggu, bagian dari hidup saya, dan juga semua orang, tidak ada manusia di dunia ini yang terhindar dari kegiatan yang bernama menunggu. Tidak lama kemudian, sebuah benda yang sangat saya kenal, terlihat oleh mata saya, dan membuyarkan lamunan saya. Segera saya berdiri dari tempat yang saya duduki, berjalan cepat menuju benda yang saya kenal baik, benda yang didalamnya terdapat dirinya, benda yang diberi nama Aiyo.

Saya, dirinya dan Aiyo segera menuju dokter Aiyo. Sesampainya disana, kami menunggu Aiyo disembuhkan, melihat cara-cara para dokter menyembuhkan Aiyo. Setelah selesai, saya dan dirinya menyempatkan makan siang terlebih dahulu, makan yang sebenarnya sudah tidak siang lagi, tetapi sudah sore. Barulah setelah perut terisi tepung dan bongkahan daging, ditambah air dan buah kelapa, yang disajikan dengan es batu dan air gula, juga segelas teh yang dikemas dalam botol, disajikan dengan es batu, kami beranjak pulang. Dirinya mangantar diriku (terima kasih), lalu kemudian pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan, dirinya meminta diriku untuk datang ke rumah dirinya malam ini, sebelum saya dan dirinya pergi menemui beberapa teman dirinya, untuk menyanyi dan bergembira.

Setelah tertidur selama setengah jam, saya bergegas membersihkan tubuh saya dengan mandi. Kemudian berpakaian lengkap. Lalu setelah itu beranjak keluar rumah, dan bergegas menuju rumah dirinya. Naik angkutan umum sebanyak dua kali, ditambah satu kali menaiki sepeda motor yang dikendarai seorang bapak tua, bapak tua yang bercerita bagaimana saat-saat seperti ini, saat-saat liburan sekolah, jalanan akan ramai dipenuhi mereka yang pulang kampung. Sampai di rumah dirinya, bermain dengan kucing dirinya, diajak makan malam bersama keluarga dirinya (terima kasih), dan kemudian pergi lagi bersama dirinya dan Aiyo. Pergi menembus malam menuju tempat dimana saya dan dirinya, akan bertemu teman-teman dirinya. Tiba lebih awal, saya dan dirinya menunggu, bukan hanya menunggu teman-teman dirinya, tapi juga menunggu adanya tempat untuk kami semua bernyanyi. Menunggu sambil melihat-lihat, melihat majalah, melihat orang lain, melihat buku-wajah lewat telepon genggam. Satu-persatu teman dirinya datang, saya dikenalkan, mereka dikenalkan, saling mengenal, bertukar cerita, bertukar canda.

Saat tempat tersedia, saya, dirinya dan teman-teman dirinya bergegas memasuki ruangan, ruangan kecil dengan tempat duduk berbentuk L, meja, televisi layar lebar, layar monitor, dua buah mikrofon dan sebuah alat pengendali jarak jauh berukuran besar. Semuanya bernyanyi, tertawa, bergembira, mengeluarkan asap, minum, tidur, semua dilakukan di ruangan kecil itu. Semua dilakukan sampai lewat tengah malam. Setelah itu, semua meninggalkan tempat itu, menuju rumah masing-masing. Saya, dirinya dan Aiyo pulang melewati jalanan yang gelap dan sepi, jauh lebih sepi dibandingkan pagi, siang atau sore hari. Tetap bertukar cerita, bertukar canda, tersenyum, tertawa. Sampai di rumah, mengganti pakaian, mencuci muka, menyikat gigi, minum air putih, mengirim pesan singkat pada dirinya, mengucapkan selamat malam, dan kemudian dengan senyuman yang lebar saya tertidur.

Hari yang menyenangkan.

Bagaimana tidak? Apakah anda tidak senang menghabiskan satu hari bersama seseorang yang anda cintai? Tentu saja semua akan senang menghabiskan waktu bersama yang dicintainya, begitupun saya. Dirinya mempercayai bahwa tiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaan dirinya sendiri, bahwa tidak ada yang bisa membuat seseorang bahagia selain dirinya sendiri, dan ya, saya memilih untuk berbahagia bersama dirinya 

“Lucky I’m in love with my best friend…” (Lucky – Jason Mraz featuring Colbie Caillat)

Gerrardino Togar Putra


Gerrardino Togar Putra

Sabtu malam, 20 Juni 2009, sewaktu saya sedang berada di rumah Yanti, sebuah pesan singkat masuk ke handphone saya. Isinya “A new liverpudlian was born today..Gerrardino Togar Putra..w 3,19 kg, h 49 cm..ynwa...” Pesan singkat tersebut dari sahabat baik saya, Alfred Roy Marlo (Ook), yang beristrikan sahabat baik saya juga, Pudji Rahayu (Poo). Melihat kata “Liverpudlian” (penggemar klub Liverpool) saya seharusnya kesal, tapi untuk liverpudlian yang satu ini saya sangat senang. Saya senang dua sahabat baik saya mendapatkan buah hati mereka.

Hari senin, 22 Juni 2009, saya dan Yanti pergi ke Rumah Sakit St. Carolus untuk mengunjungi Pudji, Ook dan Gerrard. Karena sudah mengetahui di ruang mana Pudji dan Gerrard menginap dari Ook, saya dan Yanti langsung menuju informasi menanyakan letak kamar tersebut. Setelah mendapat petunjuk lengkap, kami bergegas menuju ruangan tersebut. Sesampainya di ruangan yang dituju, saya sempat bingung ada dimana Pudji, karena ternyata di dalam ruangan itu terdapat banyak tempat tidur dan hampir semuanya tertutup tirai. Tidak mungkin dong saya mengintip ke setiap tirai yang tertutup. Akhirnya saya kembali keluar ruangan, sambil memastikan apakah benar yang sekilas saya lihat dari luar jendela adalah Pudji. Ternyata benar Pudji, meski tidak jelas sedang apa. Sesaat kemudian Ook datang bersama Ibunya, Ibu mertuanya, dan Adiknya, Uteng. Ook mengatakan pada saya bahwa Pudji ada di tempat tidur dekat jendela. Saya kemudian masuk dan mencoba melihat ke balik tirai, namun Pudji sedang menyusui, jadi saya keluar ruangan lagi dan mengobrol dengan Ook. Setelah sempat ke toilet sebentar, akhirnya saya diperbolehkan masuk untuk melihat Gerrard.

Lucuuuuuu….. Gerrard lucu, mungil, merah, ganteng. Saking gemasnya, saya berkali-kali mencubit Pudji (iya dong, daripada saya cubit Gerrard :P) dan Yanti (maaf ya, yang terdekat kamu ma Pudji sih :P). Matanya sipit, yang menurut pudji mirip Kakeknya Gerrard (Bapaknya Ook). Hidungnya jelas bukan hidung Pudji yang mancung dan bentuknya bagus, mungkin hidungnya Ook (bukan berarti Ook tidak mancung, tapi hidungnya tidak sebagus Pudji). Bibirnya jelas bukan bibir Pudji juga, lebih ke bibirnya Ook. Telinganya, jelas telinga Pudji, dan yang paling akhir, kata Pudji, keningnya mirip kening Pudji (ya ya ya…saya lupa melihat keningnya…benar mirip). Benar-benar perpaduan kedua orang tuanya.

I love babies, and I really love little Gerrard. Selamat datang di dunia Gerrard. Semoga menjadi anak yang baik, yang bisa membahagiakan orang tua dan keluarga. GBU.

Oh….jangan ikut-ikut bapak jadi Liverpudlians ya Gerrard. Biarpun nama kamu diambil dari gelandang terbaik Liverpool, tapi klub terbaik di Inggris itu Manchester United .

Where Did You Go Queen Bee?


Where Did You Go Queen Bee?

Beberapa waktu yang lalu, saat sedang mengobrol di kantor, Mba Raya melihat sesuatu di jendela. Saat saya menoleh, saya melihat apa yang dilihat Mba Raya, seekor serangga menempel di jendela. Tertarik, kami mendekati jendela tersebut dan memperhatikan serangga yang menempel pada sisi luar jendela. Saya dan Mba Raya kemudian berusaha memotret serangga tersebut.

Serangga yang menempel pada jendela waktu itu adalah seekor lebah besar. Tidak gemuk, tidak juga berwarna oranye-hitam (seperti kebanyakan digambarkan). Sebenarnya mungkin hanya lebah biasa, tapi ukurannya yang besar membuatnya berbeda di mata kami. Saya pribadi belum pernah melihat lebah sebesar itu. Kalau saya melihatnya terbang di dekat saya, pastilah saya tidak akan terkagum-kagum melihatnya, dan akan berlari secepat mungkin menjauh dari lebah itu. Tapi kali ini, karena saya bisa dengan tenang mengamatinya, saya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengagumi lebah itu.

Saya menyebutnya Queenbee (Ratu Lebah – entah apakah ia benar ratu lebah atau hanya lebah pekerja biasa), karena ukurannya yang besar dan keanggunannya layaknya ratu. Pada awal kedatangannya, Queenbee tidak memiliki sungut…atau alat penyengatnya…saya lupa namanya apa, apa benar ya namanya sungut? Di hari berikutnya, Queenbee kembali mampir ke jendela yang sama, namun kali ini di bagian ekornya sudah terlihat ujung yang tajam seperti duri. Alat penyengatnya sudah kembali. Queenbee kembali datang di hari berikutnya, sampai-sampai saya menganggapnya sebagai teman baru kami. Setiap kali hadir Queenbee akan selalu berada di tempat yang sama.

Sampai suatu hari, kami tidak melihatnya lagi. Queenbee yang selalu menghiasi jendela ruangan lantai 6 tidak terlihat lagi. Yang terlihat kini hanya gedung-gedung di kejauhan, langit biru dan awan putih (plus kepulan asap kendaraan). Kemana perginya Queenbee? We misses you….

- God Save the Queen -

Jun 14, 2009

The Night We Watched Star Trek


Jum'at, 12 Juni 2009, saya dan Yanti kembali menonton sebuah film. Kali ini adalah film yang sangat ingin ditonton oleh Yanti yaitu Star Trek. Saya sendiri dulu mengikuti serial Star Trek : The Next Generation dengan Captain Jean-Luc Picard dan Commander William Riker, lalu tokoh-tokoh lain seperti The Klingon Dorf dan (Tokoh Favorit saya) The Android Data. Sementara untuk versi film, saya belum pernah menontonnya, saya hanya mengetahui tentang tokoh Mr. Spock.

Karena harus mengantar pesanan Bu Wulan, kami baru bisa berangkat menuju bioskop sekitar jam setengah delapan (lagi-lagi hanya kira-kira, saya tidak pakai jam). Dan karena waktu yang sedikit, kami memutuskan menonton di tempat yang dekat yaitu Metropole XXI (Kapok ke MPX, padahal tadinya mau rame-rame kesanah). Setelah membeli tiket, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Kami (atau mungkin saya) yang mengira jam pertunjukan adalah jam 21.45, makan hingga jam 21.00. Sebelum beranjak, Yanti memeriksa tiket dan ternyata jam pertunjukannya adalah jam 21.25. Kami meninggalkan rumah makan jam 21.15, dan langsung memasuki ruangan bioskop. Oh, Karena malam itu lumayan penuh, kami akhirnya mendapat kursi yang agak berada di depan (4 baris dari bangku terdepan). Setelah beberapa saat celingak-celinguk mencari orang yang berpotensi mengganggu, kami melihat seorang perempuan bertubuh besar yang duduk 2 baris di depan kami adalah potensi pengganggu. Dia dengan sibuknya memotret dirinya sendiri, berkali-kali, layaknya seseorang yang belum pernah masuk Metropole, baru mendapat handphone berkamera, atau memang hanya seorang yang narsis sejati (HUehehehehehe).

Tak lama kemudian film dimulai. Dua kursi sebelah kami kosong, sang empunya tiket belum memasuki ruangan. Beberapa menit film berjalan, barulah mereka duduk di kursinya. Orang seperti ini termasuk pengganggu bagi saya, entah buat anda. Dan ternyata, mereka tidak hanya orang menyebalkan yang terlambat datang ke dalam ruang bioskop, tapi mencakup seluruh kriteria sebagai pengganggu utama saat menonton. Selain terlambat, mereka juga mengobrol saat film diputar, mengomentari setiap adegan, menerka kejadian berikutnya, dan yang paling menyebalkan adalah keduanya secara bergantian pergi ke toilet (haduuuh....ganggu aja deh, kenapa ga dari sebelum masuk disetor dulu sih??!!).

Filmnya ternyata seru, saya menyebutnya sebagai film komedi berbumbu science fiction dan action. Saya tidak henti-hentinya tertawa (kecuali saat harus mengucapkan ssshhhh dua kali pada dua perempuan dibelakang kami yang berisik). Setelah film selesai, kamipun meninggalkan bioskop sambil terus membahas film yang baru saja kami tonton. Tentang bagaimana kami sama-sama belum pernah menonton yang versi William Shatner, sampai ke sangat miripnya Zachary Quinto dengan pemeran Mr.Spock yang lama.

Oh, sebagai penutup hari yang menyenangkan, Yanti mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada saya. The first one to say it :)- Thank You Yanti.