Jun 11, 2009

Pelayanan Pelanggan


Pelayanan Pelanggan

Pernahkah anda mendapatkan pelayanan yang tidak berkenan di hati anda dari sebuah instansi yang seharusnya melayani anda dengan baik? Misalnya, pernahkah anda mendapat pelayanan tidak memuaskan dari sebuah restoran, pusat perbelanjaan, bank, puskesmas, rumah sakit, perusahaan asuransi, dan lain sebagainya? Pelayanan yang tidak memuaskan juga banyak jenisnya, tergantung dari pribadi masing-masing. Ada yang sudah cukup puas dengan pelayanan standar, cukup puas walaupun ada kekurangan-kekurangan kecil yang tidak terlalu berpengaruh, tetapi ada juga yang mengharapkan pelayanan optimal, pelayanan yang lebih dari standar dan tanpa cela. Kemudian jika dilanjutkan, seperti apakah definisi pelayanan yang “standar” itu? Buat saya pribadi, pelayanan yang standar adalah pelayanan yang ramah dan sesuai aturan. Jika yang melayani saya ramah dan sesuai aturan (misalnya tidak mempersulit sesuatu yang sebenarnya tidak sulit) maka saya sudah sangat puas. Kejujuran dari instansi tersebut juga penting, tidak ada keinginan mencurangi atau menipu pelanggan adalah sesuatu yang bisa membuat kita nyaman.

Karena pentingnya kepuasan pelanggan, maka banyak (bahkan hampir semua) perusahaan memiliki apa yang disebut pelayanan pelanggan (atau banyak istilah lain seperti customer service, customer relation, customer care, dan sebagainya). Mereka yang bekerja pada sektor itu biasanya akan sering sekali berhubungan dengan pelanggan, mereka pula yang nantinya akan merumuskan cara-cara baku dari perusahaan untuk menghadapi pelanggan dan mendapatkan kepuasan dari pelanggan. Jika ada keluhan atau pertanyaan dari pelanggan, maka mereka-mereka ini yang akan bergerak paling depan untuk menanggapi.

Lalu bagaimana jika pelanggan masih tidak merasa puas bahkan setelah berurusan panjang dengan bagian pelayanan pelanggan? Bagaimana jika pelayanan yang diberikan sangat buruk bahkan hingga ke bagian pelayanan pelanggan? Kepada siapa kita berkeluh kesah? Kepada siapa kita bisa melapor sehingga kita bisa mendapatkan pelayanan yang berhak kita dapatkan? Kalau tidak salah ada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Laporan keburukan dari suatu produk bisa kita adukan kesana. Lalu bagaimana dengan keburukan pelayanan publik macam Bank, puskesmas, rumah sakit, dan sebagainya. Mereka tidak menjual produk, tapi jasa. Apakah YLKI bisa menerima laporan keluhan kita? Kata teman baik saya BISA (tapi saya tidak tahu juga, maaf kalau salah ya). Mengingat sebuah perusahaan jasa menjual jasanya, maka bentuk pelayanan yang tidak baik dari perusahaan jasa bisa dianggap produk cacat dan bisa diadukan (menurut saya lho, maaf kalau salah).

Lalu (banyak sekali pakai lalu hari ini saya) kalau anda mendapatkan pelayanan yang sangat tidak memuaskan, apakah yang akan anda lakukan? Memendam di dalam hati? Melaporkan ke pihak terkait (misalnya YLKI, atau ke kepolisian jika memang sudah merugikan dan melanggar hukum)? Atau anda lebih memilih curhat melalui bermacam media seperti internet, Koran, radio dan televisi? Apapun yang anda lakukan, jika anda merasa benar, lakukanlah. Tapi jika anda hanya ingin mencari sensasi dan keuntungan padahal anda salah, lebih baik anda memendam ketidak puasan anda dalam hati. Kenapa demikian? Karena jika anda benar, maka berjuang demi kebenaran adalah sesuatu yang sangat jarang ditemukan di Negara ini, hampir semua bagian penuh dengan ke-tidak benar-an. Jika anda salah, sebaiknya jangan memenuhi Negara ini dengan sensasi yang penuh kebohongan seperti yang banyak terlihat di televisi. Tidak banyak untung yang diperoleh, dan malah jika bangkainya terungkap nama anda sendiri yang akan hancur.

Sudah hak kita untuk mendapatkan pelayanan yang baik. Sudah hak kita pula untuk mengeluarkan pendapat. Akan sangat tragis jika seseorang yang sudah mendapatkan pelayanan yang tidak memuaskan bagi dirinya untuk kemudian harus berurusan dengan pihak berwajib hanya karena menceritakan pengalamannya kepada orang lain. Sangat menyedihkan saat seseorang kehilangan dua haknya, hak mendapat pelayanan yang baik dan hak untuk bebas mengeluarkan pendapat. Dimana bedanya menyampaikan sesuatu yang mengganjal di hati lewat surat kabar, TV, radio dan internet selain media penyampaiannya? Surat elektronik (e-mail) yang berisi keluhan bukankah sama saja dengan surat suara pembaca pada surat kabar? Suara pendengar di radio bukankah sama saja dengan seseorang yang diwawancara oleh TV? Saya sering melihat suara pembaca surat kabar yang mengeluhkan pelayanan yang diberikan kepadanya, bahkan kadang dengan kata-kata yang sangat menunjukkan emosi berlebih. Hari ini saya membaca surat pembaca dari seseorang yang mengeluhkan pelayanan yang diperolehnya dari sebuah tempat pelayanan kesehatan publik, sementara di halaman depan surat kabar yang sama menyajikan berita tentang seseorang yang dituntut hanya karena menyampaikan keluhannya mengenai pelayanan yang dia dapatkan melalui surat elektronik. Apakah yang mengirim surat pembaca hari ini akan menerima tuntutan pula, meskipun jika memang apa yang dikatakan oleh dia sepenuhnya benar? Jika iya, maka sekali lagi, hak manusia untuk mengeluarkan pendapat kembali tidak dihargai.

Begitu banyak orang yang mengirim surat pada banyak surat kabar di Negara ini yang isinya mengeluhkan pelayanan yang didapatnya. Mereka hanya memakai hak mereka berpendapat. Tanggapan dari yang dikeluhkan selama ini juga biasanya positif. Instansi yang dikeluhkan biasanya merasa tidak bersalah (walau ada juga yang berbesar hati mengakui kesalahannya) namun tetap mengambil segala cara yang baik agar tercapai win-win solution. Mereka akan melakukan pendekatan pada pelanggan yang mengeluh dan berusaha merubah keluhan tersebut menjadi kepuasan dengan memberi pelayanan yang sesuai dengan yang diminta pelanggan. Apa salahnya memenuhi permintaan pelanggan jika sesuatu yang diminta masih masuk dalam pelayanan? Jika memang terbukti ada kesalahan pelayanan, maka instansi bisa meminta maaf, dan percayalah bahwa warga Indonesia adalah manusia yang pemaaf. Sebesar apapun kesalahannya, jika kemudian pelayanan keluhannya baik, pasti akan dimaafkan dan nama instansi tidak akan jelek di masyarakat. Menurut saya inilah cara penanganan keluhan yang paling tepat, karena menunjukkan kebesaran hati dan kedewasaan suatu perusahaan.

Oleh karena itu, ada baiknya jika pihak yang berhubungan dengan pelayanan publik tetap memberikan pelayanan yang terbaik, termasuk dalam hal pelayanan menanggapi keluhan pelanggan.


-It's your God-forsaken right to be loved…..(Jason Mraz – I’m Yours)-

Pagi Gelap


Pagi ini gelap sekali
Bukan karena banyaknya awan
Bukan karena listrik yang padam
Tapi karena kurangnya sinar mentari

Mentari yang menyinari hatiku
Mentari yang mewarnai hariku
Mentari yang selalu ada di benakku
Mentari yang lengkapi hidupku

Mentariku sedang terbaring lemah
Menghimpun tenaga tuk tetap bersinar
Menyinari hatiku yang mulai gundah
Karena sinarnya terasa pudar

Cepatlah sembuh mentari jiwa
Aku merindukan cerah senyuman
Aku merindukan riang tawa
Aku merindukan hangat pelukan

Bila tiba saatnya nanti
Kan kurawat sepenuh hati
Takkan kubiarkan gelapnya malam
Membuat sinarmu menjadi padam

The Light


THE LIGHT


I’ve been in the dark for a while
Too many detours on my trail
The old light I use to see
Got even more and more tiny

Then somehow I see a light
It’s new and it’s so bright
So I begin to follow the light
And let it lead my heart

It gives me power to keep me smiling
It gives me power to stay living
The light that gives me the thrill
After so many times I have been ill

The light belongs to someone else
Made me think things that doesn’t make sense
I would’ve steal it for my good use
But I wouldn’t do such an abuse

The love that I feel is killing me
I really want us forever be
Having you now is not possible
So I will wait until you and I are able


-I Love You-

I Adore You


Pertama lihat lirik ini dari Mba' Raya. Waktu itu belum tau lagunya kaya apa. Dari Mba' Raya juga akhirnya bisa denger lagu ini...enak...dan yang pasti liriknya bagus eeuuyy :)-

I'm maybe not romantic
I'm maybe not poetic
sometimes I'm not that fluent
to find those magic words
I wish that I could show you my emotion
how can I give a notion
to use all my attention
to say how deeply I adore you
I hope you do forgive me
on moments when I'm clumpsy
the truth is some uncertain
when we're about to make love
how my jokes they cover my confusion
though it's not my intention
to tease you with this nonsense
you should know
how deeply I adore you
don't reject me
you could hurt me
although I seem so silly
but it'll hurt me
I'm maybe different
as you've discovered
but I'm getting warm inside
whenever you are near me
I'm no longer lonely
don't ever leave me
cause I can't stand
the coldless when you are gone


-I Adore You (Daniel Sahuleka)-

Jun 1, 2009

SSsssSSShhhHHHhhhh......


SSsssSSShhhHHHhhhh……..

Sabtu kemarin, saya dan “Best Movies Partner” saya menonton Terminator: Salvation. Berhubung bosan dengan biskop yang paling sering kami kunjungi (bioskop yang dekat kantor kami) maka kami memutuskan (sebenarnya saya membiarkan dia yang memutuskan huehehehehe) untuk menonton di Djakarta Theatre XXI. Alasan lainnya adalah bahwa hari itu kedua studio Djakarta Theatre menayangkan Terminator: Salvation.

Tiba pukul 7 malam, kami membeli tiket untuk jam 21.50 karena jam pertunjukan lain yang dekat waktunya (19.30 dan 20.00) sudah hampir terisi penuh tempat duduknya. Karena harus menunggu lama, kami memutuskan makan malam dahulu. Dan karena masih belum waktunya juga, kami memutuskan membeli snack dan minuman untuk didalam bioskop, dan kemudian menunggu sambil ngopi dan nyoklat (hazelnut coffee dan ice chocolate, mudeng opo ora?). sempat juga saya mencoba memakan coklat yang akhirnya membuat saya mual dan ingin (maaf) muntah. Untungnya tidak sampai (maaf) muntah hehehehehe….

Setelah quick toilet time, kami akhirnya memasuki ruangan bioskop. Layarnya sudah memutar trailer pertama. Kami memilih deretan favorit yaitu deret paling atas, hanya saja kali ini kami tidak di tengah, tapi 2 bangku dari bangku paling kanan. 2 bangku paling kanan sudah terisi oleh laki-laki dan perempuan yang tampaknya usianya lebih tua dari kami (kalau lebih muda berarti mukanya boros banget, sumpah!). Dari gelagat awal yang saya lihat, saya sepertinya akan kesal dengan perempuan itu, karena sepanjang trailer terus berkutat dengan handphone. Tapi saat film akan dimulai, dia mematikan handphone-nya, dan saya sedikit tenang.

Beberapa saat setelah film dimulai, 4 bangku sebelah kiri kami yang tadinya kosong akhirnya diisi oleh sang pemilik karcis (doh, penonton yang telat begini nih yang bikin kesal, harus disenterin jalannya dan akhirnya bikin silau, sering menghalangi layar pula). Beberapa saat kemudian, mereka memancing kekesalan lainnya dengan tetap memainkan handphone dan mengobrol. Karena kesal, saya mengeluarkan suara “SSSHHHHH…..” tanda agar diam dan mereka terdiam, meskipun yang perempuan tetap berkali-kali memainkan handphone-nya (kalau penting banget sms-annya, keluar dulu deh, jangan bikin silau yang lain…buat yang sibuk fesbukan lewat bebehnya juga, nanti-nanti saja kenapa sih…ngeseliiiiiinnnnn). Tidak lama, pasangan disebelah kanan saya juga mengobrol, bahkan lebih keras daripada rombongan 4 orang yang sebelumnya berisik. Saya kembali mau mengeluarkan suara “SSSHHHHH..” pada mereka, tapi partner menonton saya mencegah dan mencoba menenangkan saya. Mereka akhirnya tetap mengobrol layaknya orang norak yang baru pertama kali menonton di bioskop, sepertinya mereka mendapat gelar Doktor dalam hal menonton layar tancap, tapi mereka tidak lulus TK menonton di bioskop (iya, kalian yang duduk di bangku A1 dan A2 Djakarta Theatre 1 hari Sabtu 30 Mei 2009 jam pertunjukan 21.50 WIB). Karena terus-terusan dicegah, saya tidak bisa melampiaskan kekesalan saya yang sudah sampai di kepala. Akhirnya saya memutuskan untuk meledek mereka dengan menyumpal kuping kanan saya, dengan harapan mereka cukup berpendidikan dan mengerti maksud saya, yang adalah mereka terlalu berisik. Tapi dasar memang norak dan tidak berpendidikan, mereka tetap mengobrol seolah-olah bioskop itu milik mereka sendiri. Terus seperti itu sampai akhir film. Selesai film, saya terus melihat ke arah laki-laki norak itu, dengan harapan dia melihat saya juga dan memulai gara-gara (uugghhh…beneran mau nonjok tu orang waktu itu…kesaaaaaaaaaalllll). Tapi dia selamat karena dia tidak sekalipun melihat ke arah saya. Setelah setengah kosong, kamipun beranjak keluar dan memutuskan langsung pulang.

Untungnya, mood buruk saya segera hilang sekeluarnya kami dari bioskop. Bahkan saya jadi super senang setibanya di rumah. Kenapa? Kasih tahu tidak yaa…? Hmmmmm….. Ogah :-P

Good Movie + Good Company = Amazing Time
Thank you so much…It’s been another amazing time 

Terminator: Salvation


Terminator: Salvation

Anda tentu mengenal film Terminator dan Terminator 2: Judgement Day yang dibintangi oleh Gubernur California, Arnold Schwarzenegger? Rasanya hampir semua orang pernah menonton salah satu dari film diatas dan hampir semua orang pula mengenal sang pemeran utama. Terminator: Salvation merupakan edisi ke-4 (empat) dari cerita tentang pertempuran manusia dan mesin di masa depan. Saya sendiri entah kenapa melewatkan edisi ke-3 dari film ini, padahal saya menyukai dua edisi sebelumnya.

Ceritanya masih berkisar pada sosok “Penyelamat umat manusia di masa depan” yaitu John Connor. Bedanya, kali ini John Connor sudah dewasa dan merupakan sosok panutan pergerakan pemberontakan melawan mesin. Setiap anggota pemberontakan mengenal sosok John Connor dan menganggapnya sebagai pemimpin tidak resmi. Selain itu ada tokoh Kyle Reese (saya lupa dengan nama ini awalnya, padahal harusnya saya ingat, tapi kemudian saya diingatkan di dalam film siapa dia sebenarnya) dan Marcus (nah kalau yang ini saya lupa nama belakangnya siapa, beneran lupa :P). Film ini menitik beratkan kisahnya pada ketiga sosok ini dan tentu saja berbagai jenis pasukan mesin yang menjadi lawan mereka seperti T-600, T-800, dan Motominator.

Lalu apakah umat manusia mampu memenangkan pertempuran melawan mesin dibawah komando John Connor? Saya tidak akan membocorkan ceritanya, karena film ini lumayan bagus, cukup menghibur terutama bagi mereka yang menyenangi film yang penuh aksi. Jadi, silahkan menontonnya sendiri.

Not This Year Lads...


Not This Year Lads

Tadinya, saya berencana untuk cepat pulang kerja dan tidur lebih awal (sangat awal, sebisa mungkin sebelum jam 9) agar saya bisa tetap segar saat dan setelah menonton pertandingan final Liga Champions Eropa antara Barcelona melawan Manchester United. Tapi, saat pagi hari di hari H, saya menjadi sangat malas untuk menonton pertandingan tersebut. Saya menjadi malas kalau harus pulang cepat dan tidur lebih awal. Biasanya ini tanda-tanda Manchester United akan kalah, kalau saya kemudian menjadi malas menonton Manchester United tanpa alasan jelas dan kuat.
Saya kemudian memutuskan mengikuti permintaan seseorang untuk menonton film Angels and Demons sepulang kantor. Dia lupa dengan rencana saya tidur lebih awal hari itu, lupa ada pertandingan final Liga Champions dini harinya. Tapi saya justru sangat senang dia lupa hal itu, karena kalau dia ingat, sudah tentu dia tidak akan mengeluarkan ide menonton film hari itu dan membuat saya bosan di rumah saja (Thanks).
Maka, hari itu, saya tidak jadi pulang cepat dan tidur lebih awal, melainkan menghabiskan malam dengan seseorang. Perasaan cemas dan takut Manchester United kalah, lenyap begitu saja, tergantikan perasaan bahagia menghabiskan waktu dengannya.
Filmnya bagus, bahkan sedikit lebih baik dibanding film yang diadaptasi dari novel Dan Brown sebelumnya, Da Vinci Code. Beberapa hal yang sedikit menyebalkan adalah masih adanya orang bodoh dan norak yang hadir di dalam ruangan teater (tidak mematikan atau men-silent handphone), beberapa yang mengobrol dengan suara yang cukup keras, beberapa yang duduk dalam posisi yang menghalangi pandangan mata, transisi antar roll film yang kurang mulus dan pasangan sesama jenis yang duduk disebelah saya yang sekaligus merupakan Spoiler. Sepanjang film, kedua orang tersebut berulang kali mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan kejadian berikutnya dalam film, mengungkap siapa tokoh antagonis sebenarnya, pokoknya benar-benar menyebalkan (ternyata begini ya rasanya kalau di spoil…maaf ya Ri kalau sering spoiling).
Pulangnya, saya sempat mampir ke tempat saya biasa nongkrong, karena ada rencana nonton bareng dan saya diajak ikutan. Tepat tengah malam saya pulang ke rumah. Setibanya di rumah saya mengganti baju, mencuci muka dan kaki, mencoba kembali menelpon seseorang, menemukan donat kampung dan kemudian memakannya, meminum air 2 botol dan mengobrol di telpon dengan seseorang sampai sekitar jam 00.30 WIB. Jam 01.30 saya bangun kembali, menyalakan televisi, dan menunggu dimulainya pertandingan sambil tetap tiduran di tempat tidur. Entah kenapa saya merasa harus tetap member dukungan pada Manchester United.
Menit ke-10, Barcelona mencetak gol melalui Samuel Eto’o. Pertandingan berjalan berat sebelah, Barcelona terus mengurung Manchester United. Saat istirahat, saya sempat memindahkan channel ke stasiun TV lain, mencari-cari yang agak lebih menarik ketimbang mendengarkan orang-orang sok jago yang mencoba mengatakan kesalahan Manchester United dan bagaimana caranya Manchester United bisa keluar dari tekanan (seolah-olah seorang Sir Alex Ferguson tidak ada apa-apanya dibanding mereka). Setelah babak kedua dimulai, saya kembali menonton. Menit ke-70, Barcelona kembali mencetak gol melalui sundulan Lionel Andres “Messias” Messi. Manchester United tetap tidak bisa membalikkan keadaan, hingga akhirnya wasit meniup peluit panjang. Barcelona menjadi juara Liga Champions Eropa tahun ini, mengalahkan sang juara bertahan.
Selesai menonton, saya mengucapkan selamat kepada teman-teman saya yang saya tahu merupakan fans Barcelona (buat yang dukung barca karena tidak mau MU menang, kelaut aja, tim anda bukan yang mengalahkan MU. Apalagi kalau anda penggemar klub Italia, tidak usah bicara banyak dan berkomentar, dua tahun belakangan saya tidak mendengar ada gaung kehebatan dari klub Italia huahahahahaha). Mungkin untuk pertama kalinya saya bisa tersenyum setelah Manchester United kalah. Semua karena malam sebelumnya yang menyenangkan, dan juga karena saya mengakui bahwa pagi itu Barcelona bermain lebih hebat, mereka pantas menjadi juara eropa.
Salut buat el Barca. Untuk Red Devils, selalu ada tahun berikutnya, dan berikutnya, dan seterusnya. Saya akan tetap menjadi pendukung setiamu sampai mati.

Glory! Glory! Man United!

Tea


Tea can make me strong
Tea can make me calm
Tea is like a song
That always keeps me warm
Tea helps me to relax
When things are going wrong

Tea is sweet
And Tea has a wonderful scent
No matter how hard life gets
With Tea my life is perfect

Oh how I am in Love with Tea

Patience


Patience

Patience, bahasa Inggris untuk kesabaran, sesuatu yang pasti dimiliki setiap orang dengan tingkat yang berbeda-beda. Ada yang tingkat kesabarannya tinggi, ada pula yang tingkat kesabarannya rendah. Yang manakah anda? Anda sendiri yang bisa menilai tingkat kesabaran anda, dan juga beberapa orang yang mengenal anda dengan baik.

Pernahkah anda mengantri selama berjam-jam tanpa harus kesal, marah, atau apapun yang mengikuti emosi negatif anda? Atau pernahkah anda saat sedang mengantri anda melihat orang lain yang tidak mematuhi aturan mengantri yang baik dan benar? Apakah anda marah? Kesal? Atau anda hanya diam saja tanpa perubahan emosi sama sekali dan tetap mengantri dengan baik?

Saya pribadi bukan orang yang memiliki kesabaran tinggi jika sedang mengantri. Jika waktu mengantri saya rasakan sudah diluar batas normal (alias berjalan lamban), saya biasanya kehilangan kesabaran dan mulai gelisah mencari tahu apa penyebab lambannya antrian bergerak. Jika sudah menemukan kesalahan antrian tersebut, saya biasanya menggerutu, memarah-marahi pihak yang bersangkutan, bahkan mungkin akan meninggalkan antrian dan tidak pernah mengantri di tempat yang sama lagi.

Lalu apakah saya bukan seseorang yang memiliki kesabaran yang tinggi? Saya sempat merasa bahwa saya termasuk orang yang tidak sabaran. Tapi setelah banyak sekali yang mengatakan bahwa saya orang yang sangat sabar, seseorang yang walaupun ditindas masih tetap bisa tersenyum dan menertawakan penderitaannya, saya mulai merasa tingkat kesabaran saya tidak rendah-rendah amat. Saya bisa menunggu orang lain sampai berjam-jam tanpa harus merasa kesal dan marah-marah kepada orang yang saya tunggu, padahal kalau keadaannya dibalik, seringkali saya dimarahi karena keterlambatan saya. Karena rasa tidak enak jika membuat orang lain kesal dan marah, ditambah tidak enaknya jika harus kesal saat menunggu orang lain, saya kemudian memilih untuk selalu berusaha tiba lebih awal pada setiap janji yang saya buat. Dengan saya tiba lebih awal, tidak akan ada lagi yang marah dan kesal.

Kembali berbicara tentang kesabaran. Kesabaran biasanya selalu berhubungan dengan kegiatan menunggu. Menunggu kendaraan umum untuk dinaiki di pinggir jalan. Menunggu menu pesanan makanan dan minuman di restoran. Menunggu tanggal gajian, tanggal-tanggal istimewa, dan kegiatan menunggu lainnya. Bahkan tanpa disadari, kita semua sedang menunggu kematian. Lalu apakah anda bisa bersabar dengan semua kegiatan menunggu anda? Ataukah anda lambat laun akan merasa tertekan ketika semua hal yang anda tunggu dalam hidup anda tidak kunjung datang? Banyak sekali yang tidak sabar menunggu kendaraan umum dipinggir jalan, sehingga memutuskan menaiki kendaraan lain yang ongkosnya lebih mahal. Tidak sabar menunggu makanan dan minuman disajikan sehingga marah-marah dan kemudian kehilangan selera makan. Tidak sabar menunggu jodoh sehingga pada usia tertentu saat belum juga menemukan jodohnya orang tersebut mengalami tekanan yang besar (dari diri sendiri atau dari orang lain yang menanyakan “kapan nikah”) dan kemudian jika sangat parah menjadi penghuni rumah sakit jiwa.

Tidak mudah untuk bisa bersabar. Tapi percayalah, jika anda bersabar, sesuatu yang lebih baik akan datang untuk anda, sesuatu yang lebih baik dari apa yang anda dapatkan saat anda tidak bersabar. Karena dengan kesabaran ada pengharapan, dan dengan adanya harapan maka ada kehidupan. Saya sendiri berusaha keras untuk bisa bersabar di semua aspek kehidupan saya. Saya masih sering gagal, tapi setidaknya saya berusaha menghidupkan pengharapan, untuk sesuatu yang lebih baik.

Dan saya akan bersabar menunggu kamu 

“I’ll wait for you, I promise you…I will” (Lucky – Jason Mraz feat. Colbie Caillat)

May 5, 2009

Artist

Artist

If a picture paints what I’m feeling

The picture will be so beautiful

It will be a masterpiece

If a song describes how I’m feeling

The song will be so wonderful

It will become an anthem of love

If a poem tells of how I’m feeling

The poem will be so stunning

It will be remembered forever

You are beautiful

You make my life so wonderful

You are the artist

That creates these amazing feelings

-- I Love U --