Jan 13, 2010

Belajar dari Hachiko



Saya mengetahui tentang Hachiko dari seorang teman, Lidya namanya. Awalnya Lidya merekomendasikan sebuah film yang dibintangi oleh Richard Gere berjudul Hachiko, tentang kisah seekor anjing bernama Hachiko. Dari hanya melihat trailernya yang sangat menyentuh, saya kemudian tertarik dengan kisah sebenarnya, karena film tersebut diangkat dari kisah nyata.

Alkisah, pada jaman dulu di Jepang, sekitar tahun 1920-an, seorang profesor, Hidesaburo Ueno, memungut seekor anak anjing jenis akita. Anjing tersebut kemudian dipelihara oleh profesor tersebut dan diberi nama Hachi. Hachi kemudian menjadi sahabat sang profesor dan tumbuh besar bersama sang profesor. Setiap harinya, hachi mengantar sang profesor ke stasiun kereta dan akan kembali ke stasiun itu sore harinya untuk menyambut sang profesor pulang mengajar. Hingga suatu hari, sang profesor terkena stroke dan meninggal saat mengajar. Hachi yang tidak mengetahui tentang meninggalnya sang sahabat, tetap kembali untuk menunggu di stasiun kereta, menunggu kedatangan sahabatnya itu, bahkan setelah tidak lagi tinggal dengan keluarga profesor Ueno. Bertahun-tahun lamanya Hachi kembali untuk menunggu di depan stasiun, hingga ajal menjemputnya. Tersentuh oleh kesetiaan Hachi, seorang seniman membuat sebuah patung Hachi di depan stasiun Shibuya, Tokyo, Jepang. Sampai sekarang, patung Hachiko dianggap sebagai lambang kesetiaan.

Apa yang bisa kita pelajari dari Hachiko? Tentu saja kesetiaannya. Meskipun sudah banyak orang mengetahui bahwa seekor anjing adalah hewan paling setia kepada majikannya, tapi tetap saja ketinggian hati manusia membuat kita tidak belajar dari anjing. Begitu banyak contoh ketidak setiaan manusia yang bahkan mungkin anda sendiri pernah melakukannya. Ambil saja contoh para selebriti yang meramaikan acara infotainment dengan perselingkuhan mereka. Atau mungkin anda mau mengambil contoh rekan kerja anda yang selalu berpindah-pindah pekerjaan dengan alasan mencari pendapatan yang lebih besar, tidak ada nilai kesetiaan pada perusahaan tempatnya bekerja (beberapa menyebutnya profesional). Apa susahnya sih setia? Anjing saja bisa melakukannya, masa kita tidak bisa?

Lalu apakah saya termasuk orang yang setia? Sampai saat ini saya berani katakan YA. Bagaimana dengan anda?

Oct 12, 2009

Two in one Day


King and Queen

If i'm a bee, would you be my honey?
If i'm a king, would you be my queen?
When i fall down, would you pick me up?
When i'm being honest, would you lie?

Words are often just spoken
Vows shall not be broken
I love you, and that is true
Have i become the best for you

What a Day

What a day, what a day
What a fabulous day
A day when i see lots of smiles
A day full of things so nice

Today i'm being reassured
By things that you said
Oh how lucky i'll be
To have you as my wife to be

What you said you'd become
Has made me really calm
Through your eyes i saw honesty
What a great wife you are to be

thank you for the day 

Oct 3, 2009

Batik Day


Beberapa waktu yang lalu, saya diberitahu oleh seorang teman bahwa pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO (bener yah?) akan mengesahkan Batik Indonesia sebagai World Culture Heritage. Katanya, ini artinya, dunia sudah mengakui bahwa Batik yang belakangan di-klaim oleh negara tetangga sebagai budayanya adalah budaya Indonesia. Dia juga mengajak saya untuk memakai batik pada hari tersebut.

Setelah diperiksa di kalender, tanggal 2 Oktober jatuh pada hari Jum'at, hari dimana saya mengenakan batik ke tempat kerja sebagai seragam, jadi tanpa himbauan atau tanpa kejadian batik diakui sebagai budaya Indonesia, saya akan tetap mengenakan batik.

Tiba di tanggal yang dimaksud, saya terkejut saat di angkot menuju ke tempat kerja. Bukan terkejut karena melihat semua penumpang memakai batik pagi itu, tapi saya terkejut karena supir angkotnya juga memakai batik. Bukannya mengecilkan seorang supir angkot, tapi bagi saya untuk seorang supir angkot memakai batik saat ia bekerja adalah pemandangan yang tidak pernah saya temui. Hebat juga si supir angkot berusia sekitar 30-an itu sampai tahu tentang hari batik.

Setibanya di kantor, saya masih disuguhi pemandangan orang-orang memakai batik. Bahkan pekerja yang jarang memakai batik hari itu memakai batik. Disini batik, disana batik, dimana-mana batik. Untungnya, sepanjang hari itu saya tidak menemukan orang yang memakai batik dengan motif yang sama dengan saya.

Senangnya bisa ikut berpartisipasi merayakan disahkannya batik sebagai warisan budaya dunia. Sudah sepantasnya kita sebagai warga Indonesia bangga dengan budaya Indonesia. Kalau negara lain saja bisa menyukai budaya kita, kenapa kita harus malu dengan budaya kita.


- Kota batik di Pekalongan, bukan Jogja, bukan Solo....- Slank

Sep 23, 2009

The Bear Writes a Blog


Beberapa hari belakangan, semasa liburan Lebaran ini, keseharian saya seperti layaknya seekor beruang. Setiap hari diisi dengan tidur dan makan, disellingi kegiatan yang (menurut banyak orang) tidak bermanfaat hehehehe....

Oleh karena itu beberapa hari belakangan ini status di Facebook saya berhubungan dengan beruang, dimulai dari Polar bear mode On, Grizzlie bear mode On, sampai ke Honey Bear mode On. Sebenarnya semua beruang memang memiliki masa hibernasi dimana mereka akan tidur dalam waktu yang cukup lama untuk menghemat energi mereka, jadi tidak masalah beruang mana yang saya pakai.



Awalnya saya pakai polar bear alias beruang kutub karena warnanya putih dan terlihat lebih lucu (saya kan lucu, jadi cocok dong hehehehe). Tapi kemudian ada yang protes, katanya saya lebih cocok seperti beruang madu karena hitam (uhhh!). Akhirnya saya ambil jalan tengah, mengganti menjadi beruang grizzly yang berwarna coklat. Setelah beberapa saat, kalau dipikir-pikir, beruang grizzly kan menyeramkan, biarpun coklat (seperti warna kulit saya) tapi grizzly besar dan menyeramkan. Sehingga pada akhirnya saya menurut dan memakai beruang madu yang berwarna hitam.

Lebih cocok manakah?

Sep 18, 2009

Perutkuuu……


Kenapa dengan perutku? Buncit? Kalau itu sih semua yang pernah melihat saya sudah tau. Tapi sekarang saya bukan mau menulis tentang seberapa buncit perut saya jika dibandingkan dengan perut orang lain, saya mau menulis sebuah kejadian yang berhubungan dengan perut saya yang buncit.

Perut saya (atau lebih tepatnya lambung saya) sensitif dengan makanan pedas dan asam. Seringkali jika saya memakan makanan yang pedas atau asam (atau dua-duanya, sayur asem dan sambal terasi pedas misalnya) perut saya memberontak, perut saya sakit dan memaksa saya harus bolak-balik ke toilet. Hal seperti ini yang seringkali menghalangi niat saya untuk bisa menikmati makanan tertentu, makanan yang sebenarnya sangat lezat tetapi tidak bisa saya nikmati karena rasanya.

Yanti sudah tau tentang “kekurangan” ini, dan ia dengan penuh perhatian selalu mengingatkan apabila makanan yang hendak saya santap itu asam atau pedas. Beberapa kali bahkan melarang saya menyantap makanan yang memiliki rasa asam dan pedas (terima kasih banyak sudah mengingatkan saya untuk tidak menyiksa diri sendiri). Tapi karena pada dasarnya saya sangat senang makan, dan karena pada dasarnya saya nakal, jadi seringkali peringatan atau larangannya saya tidak ikuti (maaf ya sering bikin kamu kawatir).

Nah, pada saat menulis ini, perut saya sakit luar biasa, mengerjakan tulisan ini sambil sesekali ditinggal ke toilet. Kenapa? Apakah saya habis menyantap sesuatu yang pedas dan asam?

Malam sebelumnya (lebih tepat sore sih) saya ikut buka bersama dengan teman kantor Yanti. Acaranya diadakan di sebuah restoran seafood di kawasan Jakarta Pusat. Makanan yang dipesan beraneka macam dan dalam jumlah cukup banyak. Sebut saja udang saus mayonnaise, udang api cabai garam, tahu kipas, kerang ijo, calamari ring (cumi goreng tepung), cah kangkung dan kepiting saus tiram.

Dari menu diatas, masih ada dua menu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ada udang bambu dan kepiting soka. Udang bambu bernama seperti itu karena memang bentuk cangkangnya seperti bambu. Sementara nama kepiting soka sering saya lihat di daftar sold out dari restoran tersebut (terlihat setiap kali saya melewati restoran tersebut), membuat saya penasaran dengan bentuk dan rasa kepiting soka. Saya tanya pada teman yang membuka tenda seafood dekat rumah, menurutnya kepiting soka adalah jenis kepiting yang cangkangnya tidak sekeras kepiting biasa sehingga bisa ikut dimakan. Entahlah apa benar seperti itu.

Mengingat saya belum pernah merasakan kedua jenis makanan itu, saya tidak mau kelupaan untuk ikut menikmati du jenis makanan tersebut. Udang bambunya dimasak dalam 2 bumbu, tidak ada yang pedas, dan rasanya mirip rasa bekicot tanpa rasa pahit yang kadang didapati pada bekicot. Lalu kepiting soka dimasak cabai garam, rasanya tidak terlalu istimewa, mirip rasa kepiting biasa, hanya saja tekstur dagingnya lebih lembut dan lebih berair.

Selama ini, saya tidak pernah punya alergi pada seafood, oleh karena itu saya dengan percaya diri menyantap makanan yang ada. Yang terjadi kemudian adalah, lidah saya gatal. Merasa itu merupakan gejala awal alergi, saya kemudian meminum susu segar, berharap susu kembali dapat menolong saya (kalau sakit atau tidak enak badan, saya sering minum susu dan kemudian merasa lebih segar). Gatal di lidah memang tidak hilang, tapi kekakuannya hilang (sebelumnya sempat terasa lidah saya kaku). Beberapa saat kemudian, saat berada di kendaraan, perut saya sakit. Sesampainya di rumah, pemberontakan perut saya agak berkurang. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke warnet. Sepulangnya dari warnet, saya makan lagi, kali ini menyantap nasi goreng buatan sendiri. Setelah makan, perut saya kembali berontak, dan malam itu saya beberapa kali harus terbangun untuk pergi ke kamar mandi.

Sampai pagi ini, perut saya belum juga bersahabat. Tiba di tempat bekerja, saya langsung mampir di toilet. Setelah itu menyalakan computer, memulai menulis postingan ini, ke toilet lagi, meneruskan postingan, toilet lagi, menyelesaikan postingan ini, dan sekarang selesai sudah postingan ini. Ada yang mau berpendapat kenapa kira-kira perut saya berontak padahal saya tidak menyentuh makanan pedas atau asam? Kalau saya curiga dengan kepiting soka atau kerang bambu…..

Sep 13, 2009

Lagi Lagi Soal Antri


Lagi lagi saya berurusan dengan orang yang tidak bisa mengantri dengan baik. Kejadiannya baru saja, tepatnya Sabtu 12 September 2009 di sebuah restoran yang menyajikan menu berbahan dasar ayam di Plasa Semanggi.

saat itu saya, Yanti dan Dios sedang menunggu waktu dimulainya pertunjukan film yang akan kami tonton (Final Destination - Red). Karena sudah dekat waktunya berbuka puasa, kami bergegas menempati tempat duduk di restoran itu sebelum terlalu ramai oleh pengunjung yang akan berbuka puasa. Kami secara bergantian memesan makanan agar tempat duduk kami tidak ditempati orang lain.

Saya dan Yanti kemudian mulai mengantri untuk memesan makanan. Antrian yang tidak terlalu panjang sebenarnya, hanya ada satu orang didepan kami berdua. Lalu kemudian datang 2 orang lagi dibelakang kami, dan seorang Ibu-ibu disebelah baris antrian. dari awal saya sudah mencium niat busuk ibu tersebut.

Benar saja. Segera setelah orang di depan kami beranjak pergi, si ibu dengan seenaknya hendak menyalip antrian. Ibu itu sepertinya ditegur oleh Yanti, saya sendiri terlalu sibuk memelototi ibu tersebut sehingga tidak mendengar apa yang dikatakan Yanti. Ibu itu berkata pada pramusaji restoran "Mas, air mineralnya berapa?" Mas pramusaji yang ditanya menjawab "Lima ribu lima ratus bu"

Saya kesal, sudah si ibu tidak tahu diri, si pramusaji malah meladeni, padahal dia tau kami sudah antri dari tadi. Saya dengan kesal berkata pada pramusaji tersebut "Mana managernya, saya mau bicara sama managernya." Yanti mencoba menenangkan saya sementara si pramusaji mulai berubah raut mukanya menjadi takut dan si ibu kurang ajar itu terus berusaha meyakinkan agar dia bisa dilayani lebih dulu dengan alasan hanya membeli sedikit dan cepat.

Saat saya hendak menanyakan dimana managernya kembali, si pramusaji berkata pada ibu kurang ajar itu "Maaf bu, Mba ini duluan" sambil menunjuk ke arah Yanti. Saya sudah kesal, dan meskipun si pramusaji berusaha melayani kami dengan baik, tapi saya tidak mau bicara lagi sama pramusaji bodoh itu. Saya membiarkan Yanti melakukan semua pesanan dan segala macam urusan dengan si pramusaji.

Kenapa sih orang Indonesia susah sekali mengantri? Kalaupun memang mau beli sedikit ya harus antri dong. Mau beli banyak atau sedikit semua harus antri. Orang-orang yang selalu memudahkan segala cara adalah orang yang bisa membuat negara ini hancur.

Oh, sepertinya kata-kata saya yang mencari manager restoran sangat berpengaruh pada si pramusaji bodoh. Kenapa? Dia dengan bodohnya tidak memasukkan satu pesanan kami ke dalam struk, dan salah memberikan nomor pada kami sehingga nomor yang kami pegang berbeda dengan nomor pesanan pada struk. Hal ini menyebabkan pesanan kami terlambat diantar dan sudah dingin saat tiba di meja kami. Restoran bodoh, pramusaji bodoh, dan ibu kurang ajar, lengkap sudah!

Sep 6, 2009

Buka Bersama Teman SD, and A Whole Lot More


Bulan Ramadhan sudah tiba. Di saat istimewa ini biasanya banyak diadakan acara sahur atau berbuka puasa bersama. Kami, alumni Sekolah Dasar Negeri 07 PAgi Cipinang Muara, juga tidak mau ketinggalan mengadakan acara serupa.

Idenya terbersit dari beberapa minggu lalu, saat saya dan sahabat saya Diosnardo Rahmanto, kopdar dengan 2 teman SD lain, Euis Noviyanti dan Wahyu Kumala Jati, di Plasa Senayan. Rencananya mau reunian, di sekolah tercinta sambil mungkin ada bakti sosialnya, tapi berhubung bulan Ramadhan sudah dekat jadi diambillah keputusan berbuka puasa bersama.

Akhirnya, acara yang disiapkan secara mendadak dan dengan waktu yang singkat, bisa terlaksana dengan baik. dari banyak nama yang bisa dihubungi (terima kasih banyak Facebook) akhirnya hanya sebagian besar saja yang bisa datang. Saya dan Yanti yang tiba pertama di rumah makan tempat acara berlangsung. Disusul kemudian oleh Euis, Dios dan Arry. Beberapa saat kemudian berturut-turut datang Menik, Indra, Irsan, Adi, Indah Irma beserta Syauqi sang buah hati dan suami, Iin dan Lukman.

Tidak terlalu lama menunggu, saat terdengar Adzan Maghrib, semua langsung menikmati makanan dan minuman yang sudah tersedia. Dibuka dengan es kacang merah yang mantap rasanya (hanya saya yang memesan es kacang merah, yang lain memesan es kopyor), kemudian dilanjutkan mencicipi sayur asem yang ternyata juga mantap, menyegarkan, dan terakhir menyantap nasi pluncut empal gepuk, tempe mendoan, ikan asin dan sambal. Meskipun bukan menu yang terkenal dari rumah makan tersebut, tapi rasa masakannya tetap enak. Setelah makan, rombongan perokok terpaksa mengungsi ke luar rumah makan karena larangan merokok dari ibu yang membawa anak bayi hehehehe….



Setelah Adi dan Indah pamit undur diri lebih dulu dari yang lain, tidak lama kemudian saya, Yanti dan Dios pamit undur diri juga. Saya sudah dikejar waktu untuk futsal, sementara Dios ikut kami karena sehabis futsal rencananya kami akan pergi karaoke. Kurang dari satu jam bermain, kami kemudian beranjak ke tempat karaoke. Kami sedikit beruntung karena waiting list malam itu tidak terlalu banyak dan pergerakannya tidak lama, sehingga kurang dari 30 menit menunggu, kami sudah berada di ruangan karaoke, bernyanyi gila-gilaan, tertawa dan bercanda. Setelah itu, tentu saja kami pulang, karena sudah malam.

Saya mengatakan pada Yanti bahwa malam itu kembali jadi hari yang membahalahkan. Paginya saya menemani Yanti ke daerah Jakarta Selatan, kemudian menempuh kemacetan menuju toko buku, berbuka puasa bersama teman SD saya, futsal, dan ditutup karaoke (setelah itu di rumah sempat menonton DVD sebentar). Melelahkan, tapi juga membahagiakan. Senangnya saya bisa menemani orang tersayang, bertemu teman-teman yang sudah lama tidak saya jumpai, serta melakukan kegiatan yang menjadi kesenangan saya, dan melakukannya bersama orang-orang terdekat.

Aug 11, 2009

Hari yang membahalahkan


Hari yang membahalahkan?
Bingung ya?
Bahasa apa itu?
Itu bahasa yang saya ciptakan sendiri, dengan asal-asalan, yang penting mengandung dua kata yang saya maksud.

Hari yang membalahkan adalah hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan. Iya, hari itu hari Rabu yang cerah. Saya berangkat sesuai waktu saya biasanya berangkat. Tapi karena tidak beruntung mendapatkan bis yang berjalan layaknya seekor siput, saya akhirnya sampai kantor terlambat. Sesampainya dikantor, langsung mengerjakan apa yang harus dikerjakan (sarapan pagi, menikmati teh manis panas, mendengarkan musik, dan sesekali memutar DVD konser Jason Mraz yang saya beli semalam sebelumnya). Semua dikerjakan dengan mengejar waktu, karena menurut pengumuman di hari sebelumnya, listrik di kantor akan dimatikan mulai pukul 10.00 sampai pukul 13.00.

Tunggu punya tunggu, listrik baru padam pukul 11.00 siang. Karena tidak bisa bekerja tanpa listrik yang menyalakan komputer, maka kami pergi ke luar kantor. Saya memanfaatkan waktu untuk pergi menemani Yanti mengurus SIM di Kalibata. Setelah ojek yang saya tumpangi sempat salah jalan, akhirnya saya tiba di tujuan setengah jam kemudian. Bertemu dengan Yanti, menunggu, makan siang, menunggu lagi, semua dilakukan di bawah teriknya sinar matahari. Setelah menunggu dan menunggu (dengan sabar tentunya…bukan si Sabar teman SMU lho, maksudnya dengan hati sabar….bukan hatinya si Sabar teman SMU juga lho….ah, sudahlah, pusing saya) akhirnya SIM yang dinanti diperoleh. Bergegas kami kembali ke kantor masing-masing.

Saya yang tergesa-gesa, memutuskan naik ojek dari kantor Yanti. Hamper mengalami kecelakaan karena pengemudinya mengendarai motor layaknya Valentino Rossi di sirkuit balap, saya tiba di kantor 10 menit dari saat menaiki ojek. Bergegas menuju ruangan, menanyakan keadaan, turun kembali ke bawah membeli kertas pembungkus kado, naik lagi ke lantai 6, membungkus kado untuk Yanti (dimarahi oleh Mba’ ku karena salah membungkus), menikmati segelas teh vanilla, bersiap pulang dan akhirnya pulang.

Tidak pulang juga, tapi menjemput Yanti lebih dulu. Rencana awal sih mau mengajak Yanti pergi entah kemana menghabiskan waktu sampai mendekati pergantian hari, baru kemudian memberikan kado yang sudah disiapkan. Tapi mengingat diri saya dan dirinya sudah terkuras energinya saat menunggu SIM, saya memutuskan untuk tidak mengajaknya pergi dan menyerahkan kadonya 4 jam sebelum pergantian hari. Kado yang diterima dengan senyuman yang paling manis yang pernah saya lihat. Setelahnya, kami pulang. Saya mampir ke warnet untuk mem-post tulisan-tulisan yang sudah menumpuk layaknya cucian. Setelah itu pulang ke rumah, mencuci muka, chatting sebentar dengan Yanti sampai saya tertidur karena lelahnya. Terbangun di 22 menit melewati pergantian hari, menelpon Yanti, mengucapkan selamat ulang tahun, membuka facebook, menulis pesan di wall Yanti, membuat beberapa komentar disana sini, lalu tertidur pulas.

Wuah, what a day. Lelah memang, tapi kalau melihat senyumannya sepertinya semua kelelahan hilang saat itu juga. Percaya atau tidak, saya sendiri juga terus tersenyum sepanjang malam….teringat senyum dirinya….saya mungkin tersenyum juga saat tertidur hehehehehehe…..

Aug 5, 2009

Biro Jodoh??


Selagi saya mulai menulis sebuah tulisan yang serupa dengan dua tulisan saya sebelumnya, saya terhenti dan terdiam. Sesaat kemudian saya tertawa sendiri. Saya geli bila memikirkannya..

Saya pernah membuat beberapa tulisan mengenai teman saya, orang yang saya kenal, yang masih sendiri (alias belum punya pacar). Berhubung saya senang berbagi, saya sangat ingin mereka yang saya kenal, teman-teman saya, yang masih sendiri, merasakan apa yang sedang saya rasakan, merasa sangat beruntung dan bahagia. Ya, merasa beruntung saya telah menemukan seseorang yang saya sayangi, dan juga menyayangi saya. Ya, bahagia karena hidup menjadi lebih berwarna dengan kehadirannya. Oleh karena itu saya sangat ingin teman-teman saya, orang yang saya kenal, yang masih sendiri, untuk dapat memiliki pasangan, maka terciptalah beberapa tulisan yang “mempromosikan” diri mereka.

“Promosi” disini bukan berarti saya bermaksud menjual atau menyewakan mereka, sama sekali tidak ada maksud seperti itu. Tidak ada juga niat saya merendahkan atau mengejek mereka, lihat saja isi tulisan saya, tidak ada yang menjelek-jelekkan. Tidak untuk membuat malu, karena tulisan dibuat setelah disetujui yang bersangkutan. Tujuannya hanyalah mendeskripsikan hal-hal baik mengenai yang bersangkutan.

Lalu kenapa saya tertawa?
Saya tertawa karena geli. Geli kalau memikirkan betapa saya melakukannya dengan serius. Saya benar-benar serius saat menulis deskripsi tentang mereka. Geli karena saya dengan serius ingin mereka bahagia bertemu dengan (mungkin) jodoh mereka. Geli karena saya merasa diri saya seperti apa yang orang sebut sebagai “mak comblang”. Geli karena setelah dilihat beberapa kali, rumah saya seperti sebuah biro jodoh online. Geli karena sebenarnya aktifitas “mak comblang” pernah beberapa kali saya lakukan sebelum ini…dan hasilnya memuaskan. Bukan dalam hal finansial, tapi lebih dari berhasilnya beberapa pasangan berjodoh karena ulah saya mempromosikan orang lain.

Hahahahaha….tuh kan, saya tertawa lagi :P

Aug 4, 2009

Influence


Yanti pernah bertanya pada saya, jenis musik apakah yang didengar oleh mereka yang pernah mengisi hati saya (ex-girlfriend), dan apakah ada yang mempengaruhi selera saya dalam mendengar musik. Saya menjawab, karena pada dasarnya saya mendengarkan hampir semua jenis musik maka tidak ada yang terlalu membawa pengaruh besar pada selera musik saya. Dan setelah dipikir-pikir lagi, memang yang memberi pengaruh pada selera saya bukanlah mereka yang pernah mengisi hati saya.

Waktu kecil, musik yang saya dengarkan adalah lagu anak-anak, dan juga soundtrack dari film-film kegemaran saya. Sebut saja lagu pembuka dari film Lion Maru, Megaloman, Getter Robo, Zabogar, Voltus, Goggle Five, Gaban, Sarivan, Saider, dan banyak film anak lainnya. Saya bahkan punya kaset lagu-lagu dari film tersebut.

Saya kemudian berkenalan dengan musik-musik lain dari kakak sepupu saya. Ia mengenalkan saya pada Michael Jackson, Tommy Page, Frente, Neri Per Caso, The Cranberries, Stryper, musik reggae, Jazz, musik hip-hop dan rap. Ia juga mengenalkan saya pada The Police, U2, Yes, DreamTheatre, Toto, Metallica, Suede, Porno For Pyros, Mighty-Mighty Bosstones, R.E.M, Bjork, Sade, Smashing Pumpkins, dan masih banyak lagi.

Dari kakak saya, saya berkenalan dengan banyak musik lokal seperti Slank, Dewa 19, KLA Project, Nike Ardilla, dan banyak lagi. Dari dirinya juga saya mengenal boy-band pertama yaitu New Kids On The Block. Kakak saya adalah penggemar berat dari kwintet Danny, Donnie, Jordan, Jonathan dan Joey ini.

Oh, hampir lupa, saya juga terpengaruh oleh koleksi kaset Papa saya yang banyaak. Darinya saya mengenal ABBA, The Beeges, The Beatles, Lobo, Nana Miskouri (ini bener gak yah?), Simon and Garfunkel, The Everly Brothers, The Carpenters, dan masih banyak lagi.

Teman-teman sekolah saya mengenalkan saya pada Iwa K, Ramones, Sex Pistols, Green Day, Ugly Kid Joe, Oasis, Blur, Space, Netral, dan banyak lainnya. Dari teman kuliah, saya mengenal Morissey, The Cardigans, Coldplay, The Rasmus, Placebo, dan banyak lagi.

Dari TV, saya mengenal dan menyukai Jewel, No Doubt, Britney Spears, Spice Girls, Hanson, The Moffatts, Lene Marlin, /rif, Avril Lavigne, Sarah McLachlan, Alanis Morissette, Aerosmith, Maroon 5, Rihanna, James Blunt, Mika, Alicia Keys, t.a.T.u, Kings of Convenience, Sheila on 7, Padi, Peterpan, dan lain-lain.

Dari sepupu saya Andre, saya mengenal musik-musik Jepang seperti Do As Infinity, L’arc en Ciel, Day After Tomorrow, Glay, dan dari dia pula saya menyukai Mocca. Dari adik angkat saya, Iwan, saya mengenal My Chemical Romance, Fall Out Boys, Story of the Year, dan band-band beraliran keras lainnya. Dari Rio saya mengenal band yang bahkan lebih keras lagi, seperti Straightout, dan lain-lain.

Intinya selera musik saya tidak pernah terpengaruh oleh ex-girlfriend. Selera musik mereka kebetulan sudah saya kenal dan sukai sebelum bertemu mereka. Saya memang kemudian menyukai Jason Mraz, Led Zepellin dan Endah-Rhesa dari Yanti, tapi Yanti kan bukan ex-girlfriend saya..hehehehehehe…..

---- Let the music heal your soul – Bravo All Stars ----