Dec 1, 2008

Gadis Manis Dalam Bis

Gadis Manis Dalam Bis

Seperti diketahui, hampir setiap hari saya naik bis ke kantor. Di dalam bis saya hampir pasti bertemu orang-orang yang sama tiap harinya. Ada bapak bertubuh pendek dan berambut tipis, pegawai PEMDA, turun di DKI tiap harinya. Ada seorang wanita gemuk berkacamata, keturunan tionghoa, naik dari Kramat Sentiong dan turun di Jembatan Serong. Ada seorang wanita gemuk dengan rambut panjang dan agak berwarna kuning, tiap pagi memakai sandal jepit, turun di Gang Harlan, tempat saya turun juga – dan ia ternyata karyawan di anak perusahaan yang berkantor di lantai 3-

Kemudian ada seorang wanita berambut panjang, selalu memberikan uang receh kepada pengamen (yang sepanjang perjalanan kadang-kadang bisa sampai 4-5 kali), turun di Jatibaru. Ada seorang pria, selalu berseragam, kulitnya hitam, turun di Bank Indonesia. Ada anak STM, kecil, kurus, bertampang menyebalkan (dan memang menyebalkan dengan sering meminta temannya membayari ongkos), turun di Kenari, dekat sekolahnya SMK Negeri 34.

Mengamati wajah-wajah mereka yang sejalan, satu bis dengan kita, kadang sangat menyenangkan mengingat begitu sedikitnya hal yang bisa dilakukan sepanjang perjalanan. Tapi yang paling menyenangkan buat saya adalah melihat salah seorang gadis penumpang bis yang belum saya sebutkan diatas. Gadis ini punya sorot mata tajam (duhh, kalau sudah lihat sorot mata tajam wanita saya suka terpesona sendiri….GAK BOLEH…GAK BOLEHHHHH!!!), matanya juga bagus, bulat, wajahnya manis, senyumnya juga manis, giginya berpagar, tidak memakai make-up, rambutnya hitam panjang, sedikit ikal. Saya pertama bertemu gadis ini justru bukan di pagi hari saat berangkat bekerja, melainkan saat pulang kantor. Waktu itu saya naik duluan. Saat bus berjalan saya tertidur. Saya kemudian terbangun karena ada yang duduk di samping saya, gadis itu yang duduk di samping saya. Saat itu bus berada di jalan Sabang, gadis itu naik dari sana. Sepanjang perjalanan, saya tidak bisa tertidur kembali, karena gadis yang duduk di sebelah saya sepertinya lelah sekali, atau mungkin juga dugem semalaman, hingga langsung tertidur pulas, dan kepalanya berkali-kali mengenai pundak saya. Karena kasihan, saya kemudian mengijinkan dia menyandarkan kepalanya di pundak saya sepanjang perjalanan (btw, Sara, ini kejadiannya tahun 2007 ya, bukan baru-baru ini). Gadis itu terbangun di Kantor Pos Jatinegara, dan turun di Terminal Kampung Melayu, tempat saya turun. Gadis itu kemudian melanjutkan naik mikrolet M16 jurusan Kp.Melayu-Pasar Minggu. Tapi perkiraan saya rumahnya ada di sepanjang jalan Otista – jalan Dewi Sartika, karena lewat dari itu ada kendaraan yang langsung ke Tanah Abang, logikanya buat apa dia jauh-jauh naik kendaraan ke Kampung Melayu dulu kalau ada yang langsung ke Tanah Abang?

Beberapa hari kemudian saya melihat dia lagi, kali ini pagi hari dalam perjalanan berangkat ke kantor. Seperti saat pertama saya melihatnya, sorot matanya tajam dan terlihat mengantuk (pada akhirnya saya selalu melihat dia mengantuk…mungkin malamnya dia selalu dugem, atau mungkin senang begadang seperti saya sebelum bekerja) dan ada lingkar hitam di sekitar matanya. Sepertinya, dia masih ingat saya, karena sempat melempar senyumnya ke arah saya, dan sepertinya dia mau duduk di sebelah saya, tapi tempat duduk sebelah saya sudah diisi oleh bapak-bapak, merokok pula, akhirnya dia duduk tiga baris di depan saya. Sepanjang perjalanan gadis itu mendengarkan musik melalui handphone-nya. Hari itu dia turun di Telkom. Kemudian saya tidak pernah bertemu gadis itu lagi selama kurang lebih 2 bulan.

Sampai kemudian, saya kembali melihatnya. Tapi kali ini sepertinya dia sudah lupa pada saya, dan saya tidak begitu perduli karena toh saya hanya senang memperhatikan saja, tidak ada harapan berkenalan atau lebih. Yang bikin kaget, sekarang tempat turunnya berbeda, tidak lagi di Telkom, tetapi turun di Jembatan Serong (keterangan : jarak Jembatan Serong dan Telkom cukup jauh). Selama berbulan-bulan dia turun di jembatan serong, sampai kemudian tempat turunnya berubah lagi, dan kali ini turun di jalan Sabang. Entah apa atau dimana kerjanya sampai harus berpindah-pindah seperti itu. Sampai hari ini saya masih sering melihat gadis itu di dalam bis, tadi pagi pun saya melihatnya. Awalnya saya lihat dia tidak ada di dalam bis, yang ada adalah wanita yang satu gedung kantor dengan saya. Kemudian saya melihat gadis itu keluar dari toilet umum terminal, lagi-lagi dengan wajah tanpa make-up dan penuh kantuknya. Dalam hati saya berkata “dugem lagi nih yee..” hehehehe………



Take a look around, you might like what you found

3 comments:

quinie said...

hm... kadang kita kenal muka ajah dan ga sadar kita mulai hapal ritme mereka. Itulah kenapa saya suka banget naik angkot karena bisa mengamati banyak orang :)

Arnold Linting said...

hehehehe....setujuuuu

Ariyanti Danurtiyas said...

@Ratu: Sampe2 di angkot juga ketemu gw ya Tu? Hehe...