Showing posts with label movies. Show all posts
Showing posts with label movies. Show all posts

Mar 8, 2016

88th Annual Academy Award - My Thoughts

88th Annual Academy Award


Perhelatan Academy Awards yang ke-88 memang sudah berlalu sejak minggu lalu, daftar pemenang juga bisa dilihat di berbagai media, tapi tidak ada salahnya kalau saya menulis pendapat saya pribadi mengenai para pemenang dan hal-hal seputar perhelatan penghargaan insan film Hollywood yang dikenal luas sebagai The Oscars.

Mari mulai mengenai jalannya acara. Komedian Chris Rock yang menjadi Pembawa Acara memberikan sebuah Opening Monologue yang mengejutkan, dengan menyatakan kalau Hollywood Rasis! Meski disampaikan dengan gayanya yang lucu, tapi esensi yang disampaikan sepertinya tepat sasaran, mengingat tahun ini tidak ada nominasi berkulit hitam. Apakah aktor berkulit hitam tahun ini tidak berkarya? Saya rasa tidak. Samuel L. Jackson bermain baik di The Hateful EightWill Smith juga berperan baik di Concussion, meskipun tidak sebaik penampilannya di Seven Pounds atau The Pursuit of Happiness. Lalu bagaimana dengan Straight Outta ComptonThat movie is epic. Jadi, apakah Hollywood rasis? Bisa iya, bisa juga tidak. Ada baiknya mungkin kita lihat juga nominasi lain sebelum menghakimi.


Dari segi penghargaan yang diberikan, the 88th Oscars merupakan malam bagi Mad Max : Fury Road dan Leonardo DiCaprio. Mengapa? Pertama-tama Mad Max: Fury Road meraih 6 Award, terbanyak dari film lain yang berkompetisi tahun ini. Meskipun tidak meraih satupun yang dianggap “penting” seperti best Actor/Actress, Best Director atau Best Picture, tapi raihan 6 award yang kebanyakan dari sisi teknis menunjukkan bahwa Mad Max:Fury Road merupakan film yang bagus, dan saya akui memang film ini bagus. Kedua, Leonardo DiCaprio akhirnya memenangkan Oscar untuk Best Actor in a Leading Role. Yup, Aktor ini bolak-balik masuk nominasi untuk aktingnya yang baik di film lain, tapi baru tahun ini dia memenangkan piala berbentuk manusia berlapis emas. Ada yang meragukan kualitas akting Leonardo DiCaprio? Mulai dari Basketball Diary, Titanic, Romeo+Juliet, Inception, The Great Gatsby, penampilannya selalu baik hanya saja mungkin kurang keberuntungan *hahaha*.

Alicia Vikander

Mark Rylance














Alicia Vikander memenangkan Best Actress in a Supporting Role untuk perannya di The Danish Girl, bersaing dengan Kate Winslet, Rachel McAdams, Rooney Mara dan Jennifer Jason Leigh. Sedikit catatan bagi ada yang belum menonton The Danish Girl, bersiap terpukau dengan akting dari Edward Redmayne. Film lain Alicia Vikander juga memenangkan Oscar untuk Best Visual Effect, yaitu Ex-Machina. Untuk Best Actor in a Supporting Role piala manusia emas botak dibawa pulang oleh Mark Rylance untuk peran apiknya sebagai mata-mata Rusia dalam film Bridge of Spies. Disini saya agak heran, memang akting Mark Rylance sangat baik, tapi saya awalnya menduga Mark Ruffalo yang akan memenangkan Oscar di kategori ini, karena saya memang lebih terkesan dengan penampilan Mark Ruffalo di Spotlight. Well, sepertinya selera saya dengan selera Academy sedikit berbeda.

Brie Larson
Leonardo DiCaprio














Untuk Actor dan Actress in a Leading Role sepertinya selera saya dan anggota Academy sama. Saya tidak kaget kalau Brie Larson yang memenangkan category Actress in a Leading Role. Hal ini karena menurut saya nominator lainnya tidak dalam penampilan terbaik mereka. Saya pernah melihat penampilan Cate Blanchett dan Jennifer Lawrence yang lebih baik daripada menampilan mereka di Carol dan Joy. Leonardo DiCaprio memenangkan Oscar juga sebenarnya tidak membuat saya kaget, saya pun berpendapat tahun ini memang tahunnya Leo. Saya justru kaget The Revenant tidak mendominasi 88th Oscars, hanya memenangkan 3 piala dari 12 nominasi. Apa ini berarti saya juga menjagokan The Revenant untuk Best Picture? Tidak, saya lebih mengharapkan Room dan Spotlight yang memenangkan kategori film terbaik, kenyataannya memang akhirnya Spotlight yang membawa pulang Piala Oscar untuk kategori tersebut. Kenapa saya menjagokan kedua film tersebut? Spotlight punya cerita yang berbobot dan disajikan dengan penampilan luar biasa para pemeran di film ini, terutama Mark Ruffalo. Sementara untuk Room, ceritanya memang sederhana, tapi jika anda sudah menonton film ini apakah anda tidak terpukau dengan akting dari Jacob Tremblay? Baru berusia 9 tahun tapi Tremblay bermain sangat baik sebagai Jack di film ini. Lalu kenapa Jacob Tremblay tidak masuk nominasi Aktor Terbaik? Entahlah….

Jacob Tremblay

Kembali ke pertanyaan awal...apakah Hollywood rasis? Menurut saya tidak, hanya saja kebetulan tahun ini memang aktor/aktris berkulit hitam masih kurang greget karena untuk di kategori Best Actor sudah diisi oleh yang menampilkan kualitas luar biasa. Bahkan seorang Tom Hanks tidak masuk dalam nominasi. So, better luck next time buat mereka yang berkulit hitam.

Well, that’s it, my insight about the 88th Academy Awards. Sekali lagi ini hanya pendapat pribadi saya sebagai pecinta film. Silakan dikomentari, saya akan dengan senang hati menanggapi (kalau ada waktu..hahahahaha).

May 5, 2010

B9, B10, B11

Haaaiiii….

Sudah nonton film “Manusia Setrikaan Kedua” –Iron Man 2- belum? Kemarin –Selasa, 4 Mei 2010- atas prakarsa seorang wanita berparas manis, saya menonton film yang sepertinya banyak dinanti orang tersebut. Bagaimana tidak banyak dinanti? Semenjak tiketnya dijual pertama kali pada Rabu minggu sebelumnya, begitu banyak orang yang terlihat Excited dengan kehadiran film tersebut. Akun Twitter saya sampai dipenuhi dengan ReTweet orang-orang yang senang karena telah mendapat tiket menonton Iron Man 2. Entah kenapa mereka sampai berlebihan seperti itu, padahal filmnya hanya film yang tidak terlalu istimewa. Atau karena mereka mengidolakan sang superhero? Saya malah berpikir kalau penggemar Batman, Superman dan Spiderman lebih banyak.

Iron Man jilid pertama menceritakan tentang bagaimana seorang multi milyarder yang bernama Tony Stark bisa menjadi sang Manusia Besi. Sebuah film superhero dengan efek khusus yang sangat baik. Tapi ya itu saja kelebihannya. Dalam jilid kedua ini kisahnya melanjutkan kisah dalam jilid pertama setelah beberapa tahun kemudian. Dikisahkan bagaimana sang superhero mengalami kejenuhan akibat tidak adanya lawan yang seimbang, perseteruan dengan pesaing bisnis, sampai ke munculnya seseorang yang mampu menciptakan reaktor mini yang mirip dengan kepunyaan sang superhero.

Eniweey…saya menulis kali ini bukan untuk membahas bagaimana serunya film tersebut. Saya lebih berkeinginan berbagi tentang apa yang terjadi saat saya dan seorang wanita berparas manis menonton film tersebut.

Saya dan wanita berparas manis memutuskan menonton di Plaza Indonesia XXI, jam pertunjukan 19.30. Karena memesan tiket melalui M-Tix, kami tidak bisa memilih tempat duduk yang kami inginkan. Tempat duduk yang kami dapatkan adalah B7 dan B8. Saya lebih senang menonton dari kursi deret A, karena pasti terhindar dari tendangan kaki penonton dibelakang –secara baris A adalah baris paling belakang-, tapi karena tidak bisa memilih ya saya terima saja duduk di baris B. Untungnya B7 dan B8 terletak agak di tengah-tengah, saya agak kurang bisa menikmati film kalau duduk di pinggiran.

Untung? Setidaknya saya pikir seperti itu……

Sebelumnya, biar saya jelaskan dulu kenapa lokasi yang terpilih adalah Plaza Indonesia. Pertama, dari sekian banyak lokasi bioskop yang dekat dengan kantor kami, Plaza Indonesia adalah lokasi terdekat yang menyediakan fasilitas M-Tix. Kedua, kebetulan saat itu Plaza Indonesia XXI menayangkan film Iron Man 2 di 3 (Tiga) studio sekaligus, sehingga ada banyak pilihan waktu menonton. Ketiga, dan ini pendapat pribadi saya, suasananya enak, karena Plaza Indonesia tergolong tempat untuk kalangan menengah keatas maka fasilitas yang disediakan sangat baik. Keempat, kembali pendapat pribadi saya, karena tempatnya yang eksklusif saya merasa seharusnya tempat tersebut dikunjungi oleh orang-orang yang berpendidikan, tidak norak, dan sedikit banyak mengerti peraturan.

Kembali ke kejadian saat menonton. Beberapa menit film diputar, mulai terasa ada hal-hal yang mengganggu. Suara-suara mengobrol sambil berbisik sesekali terdengar, namun karena sudah memaklumi sifat penonton Indonesia saya tidak bereaksi, setidaknya sampai batas volume suara tertentu. Lalu ada juga beberapa yang menggunakan telepon genggamnya, menyebabkan kesilauan sesaat. Tapi gangguan-gangguan itu belum seberapa jika dibandingkan dengan gangguan yang dialami oleh wanita berparas manis teman menonton saya.

Apa yang dialami olehnya adalah sesuatu yang bisa membuat saya meledak-ledak, dan bahkan mungkin akan memasukkan Plaza Indonesia XXI ke dalam daftar bioskop yang tidak akan dikunjungi. Sebagai orang yang mengenyam pendidikan dan mengerti peraturan saat menonton film di bioskop, saya mengerti dan mematuhi dengan baik semua peraturan yang ada. Telepon genggam sudah dalam kondisi Silent, dimasukkan ke dalam tas dan tas tersebut saya letakkan dibawah tempat duduk, jadi tidak ada yang akan terganggu oleh telepon genggam saya. Saya tidak mengangkat kaki, tidak menyandarkan kaki pada tempat duduk di depan saya, dan juga tidak menendang-nendang tempat duduk di depan saya. Saya duduk tenang, menikmati film yang ditayangkan, berbisik jika memang ada yang harus dibicarakan pada teman menonton. Hampir semua yang saya lakukan, TIDAK dilakukan oleh orang yang duduk di tempat duduk B9, B10 dan B11, tempat duduk yang lebih dekat dengan wanita berparas manis teman menonton saya.

Tempat duduk B9 diisi oleh seorang wanita bertubuh kurus, dengan rambut diikat, mengenakan kemeja dan rok. Tempat duduk B10 diisi seorang wanita berjilbab bertubuh sedang. Tempat duduk B11 diisi seorang wanita berkacamata dan sedikit gemuk. Ketiganya selalu berceloteh tanpa memelankan volume suara mereka, untuk mengomentari setiap adegan yang ada. Biarpun sudah diminta untuk diam –secara tidak langsung, dengan mengeluarkan suara ssshhhhh- tapi mereka tetap menjadi komentator film di malam itu. Selain itu, beberapa kali saya mendapati B9 menggunakan telepon genggamnya, mungkin untuk mengirim SMS kepada seseorang, dan isi SMS itu adalah komentarnya yang tidak penting atas film yang ditontonnya. Lalu beberapa saat setelah seorang teknisi memperbaiki pendingin udara –lebih tepatnya menurunkan temperatur pendingin udara- B9 mulai bergerak-gerak yang tidak perlu. Gerakannya seperti seseorang yang menahan keinginan buang air karena dinginnya udara di dalam ruangan. Buat saya, tingkah laku norak mereka seperti tingkah laku seseorang yang belum pernah menonton film di bioskop.

Begitulah, wanita berparas manis teman menonton saya sepanjang pertunjukan terganggu oleh tingkah laku norak dan kampungan dari penonton yang pada tanggal 4 Mei 2010 duduk di B9, B10 dan B11, Teater 2, Plaza Indonesia XXI, jam pertunjukan 19.30 WIB.


Apr 15, 2010

3D and 2D

Menonton film dengan format 3D tentu sangat menyenangkan, bisa melihat gambar yang tampak sangat nyata, seolah-olah semuanya terjadi tepat di depan mata anda. Karena begitu banyaknya peminat film dalam format 3D, maka banyak film Hollywood yang dibuat dalam format 3D.

Namun pernahkah anda menonton satu film dalam dua format yang berbeda? Apakah begitu terasa perbedaan gambar film 3D dengan film 2D? Apakah anda merasa menyesal mengeluarkan uang lebih banyak tapi hasil yang didapat tidak terlalu jauh dengan menonton yang 2D?

Saya sendiri berpendapat, sebelum menonton film dalam format 3D, kita harus tahu sebelumnya apakah film tersebut memang sedari awal direncanakan dan dibuat untuk format 3D. kenapa demikian? Karena film yang sedari awal memang direncanakan lebih mengedepankan format 3D maka hasilnya akan menakjubkan. Adegan-adegan yang ada memang sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga akan terlihat perbedaan antara 3D dan 2D.

Bagaimana mengetahui bahwa film tersebut dibuat untuk format 3D? Selain banyak mencari referensi film semisal majalah, acara TV atau internet, ada baiknya kita juga memperhatikan trailer film dimanapun kita menemukan trailer tersebut, entah itu di bioskop sebelum pertunjukan atau dimanapun. Jika dalam trailer disebut “coming to your theatres in 3D” maka kemungkinan besar film itu dibuat untuk format 3D. Selain itu, penggemar film pasti sudah bisa membedakan apakah film tersebut dibuat untuk 3D atau tidak dari adegan-adegan yang ditampilkan. Penggemar film pasti tahu apakah sebuah adegan akan lebih bagus dalam format 3D atau tidak.


Beberapa contoh film yang memang sengaja dibuat untuk format 3D diantaranya adalah UP, Ice Age 3, Christmas Carols, Avatar dan How To Train Your Dragons. Sementara film yang tidak direncanakan untuk format 3D namun akhirnya dibuat dalam format 3D adalah Clash of the Titans. Terlihat jelas bahwa film ini biasa-biasa saja versi 3D-nya, tidak ada yang istimewa, bahkan cenderung sedikit membuat kepala terasa pusing saat melihat gambarnya. Belum lagi adanya subtitle –teks – di layar yang menggangu –film dengan format 3D biasanya tidak diberikan subtitle agar tidak mengganggu penonton dalam menikmati keistimewaan gambar- dan jelas-jelas merupakan tanda bahwa film itu adalah film format 2D yang kemudian diproses ulang agar menjadi 3D.

Jadi, sebelum anda tertipu, sebelum anda kecewa saat menonton film 3D, ada baiknya anda perkaya referensi anda tentang film tersebut.

Selamat menonton



Apr 13, 2010

Mengenang Masa Kecil

Setelah mengunduh lagu Frente!, saya iseng-iseng mencoba mengunduh lagu yang sudah susah dicari di pasaran, misalnya I would do anything for love(but I won’t do that) – Meatloaf, Promise I make – Dakota Moon, Teardrops – Radio, I will be here for you – Michael W Smith, Tribute – Tenacious D, dan beberapa lagu yang dahulu sekali saya miliki kasetnya, yaitu lagu-lagu dari Tommy Page.

Melihat mudahnya mendapatkan lagu-lagu langka ini di dunia maya, saya terpikir untuk mencari lagu-lagu tema film anak jaman dulu. Ya, film yang dulu entah ditayangkan di televisi atau ditonton melalui video betamax. Film-film kartun dan film-film robot-robotan –seperti power rangers dan ksatria baja hitam-. Saya mengenal beberapa lagu tema film anak jaman dulu, saya bahkan sempat punya album kaset lagu film Gaban dan album lagu-lagu film anak terbaik –pada masa itu tentunya-.
Goggle V

Beberapa lagu sudah saya unduh, masih sangat terbatas karena kecepatan koneksi yang tidak memungkinkan saya mengunduh berpuluh-puluh lagu dalam satu hari. Yang sudah berhasil saya unduh adalah lagu tema uchuu keiji Gaban (Gaban), uchuu keiji Sharivan (Sharivan), uchuu keiji Shaider (Shaider), Denjin Zaborger (Zabogar), Megaloman, Goggle V, Lion Maru, Getter Robo, Ikkyu San, Silverhawks dan Thundercats. Daftar ini akan bertambah, apalagi ada beberapa lagu yang ternyata kualitasnya jelek dan saya hendak mencari yang kualitasnya lebih baik.

Selesai mengunduh lagu-lagu tersebut, saya mendengarkan lagu-lagu tersebut berulang-ulang, sambil sedikit mengingat tokoh dan cerita dari film yang dimaksud.
Sharivan - Gaban - Shaider

Saya ingat Gaban adalah “polisi luar angkasa” dengan baju besi berwarna putih, Sharivan dan Shaider adalah sesame “polisi luar angkasa” dengan warna merah dan biru. Ketiganya memiliki serial sendiri namun sempat muncul secara bersamaan di salah satu episode Shaider.
Megaloman

Megaloman adalah jagoan –bener ya jagoan istilahnya?- seperti ultraman, dengan penampilan seluruh tubuh ditutup latex –atau apapun itu, yang pasti karet-, hanya saja tidak seperti ultraman, Megaloma memiliki rambut putih yang panjang sehingga penampilannya sangat mirip dengan penyanyi rock. Senjata andalannya adalah lemparan bola api dari rambutnya sambil berteriak “megalon fire!”
Zaborger

Denjin Zaborger adalah sebuah motor yang bisa berubah menjadi robot –atau sebaliknya ya???- dengan warna silver dan merah. Zabogar dikendalikan oleh pengendara motornya melalui helm yang ada microfon kecilnya. Di akhir-akhir episodenya, zabogar sempat rusak dan kemudian diperbaiki sehingga untuk berubah menjadi robot diperlukan 2 motor.
Lion Maru

Lion Maru adalah seorang samurai pembela kebenaran yang dapat berubah wujud menjadi manusia-singa. Dengan pedang saktinya sang samurai berjuang sendirian melawan penjahat. Di akhir cerita, barulah sang jagoan mendapat bantuan dari rivalnya yang bernama Tiger Joe, seorang samurai yang mampu berubah wujud menjadi manusia-harimau.
Getter Robo

Getter robo adalah film kartun sejenis dengan voltus V. Bedanya getter robo hanya terdiri dari 3 pesawat independen yang dapat bergabung menjadi sebuah robot. Uniknya, robot yang dibentuk berbeda-beda pula tergantung urutan penggabungan pesawat. Ada 3 jenis robot yang bisa dihasilkan. Sama seperti zabogar, di akhir-akhir filmnya getter robo mengalami kerusakan, sehingga perlu diperbaiki untuk tetap melawan musuh. Getter robo yang sudah diperbaiki muncul dengan nama Shin Getter Robo.
Thundercats and Silverhawks

Silverhawks adalah film kartun –yang sepertinya buatan amerika, entahlah- tentang sekelompok penjaga perdamaian luar angkasa, yang tubuhnya memiliki sayap layaknya elang (hawk) dan berwarna silver –kecuali yang paling kecil, warnanya bronze-. Thundercats juga film kartun –yang juga sepertinya buatan amerika, entahlah- yang bercerita tentang sekelompok manusia-kucing pembela kebenaran.

Wah…jadi mau nonton fil-film itu lagi….masih ada tidak ya?




Mar 10, 2010

Avatar vs Hurt Locker

Sudah banyak yang tahu bagaimana Avatar bersaing keras dengan Hurt Locker di beberapa ajang penghargaan film. Avatar memenangkan pertarungan di Golden Globe Awards yang diumumkan pada 17 Januari 2010 yang lalu. Kekalahan dari Avatar dibalas dengan telak oleh Hurt Locker pada ajang BAFTA Awards yang diumumkan tanggal 21 Februari 2010.

Persaingan terus memanas menjelang diumumkannya pemenang Academy Awards 2010. Lalu siapa yang menang? Avatar ataukah Hurt Locker? Yuk, saya ada daftarnya :)


  • Best Motion Picture of the Year : The Hurt Locker 
  • Best Actor in a Leading Role : Jeff Bridges (Crazy Heart)
  • Best Actress in a Leading Role : Sandra Bullock (The Blind Side)
  • Best Actor in a Supporting Role : Christoph Waltz (Inglourious Basterds)
  • Best Actress in a Supporting Role : Mo'Nique (Precious: Based on the Novel Push by Sapphire)
  • Best Director : Kathryn Bigelow (The Hurt Locker)
  • Best Original Screenplay : Mark Boal (The Hurt Locker)
  • Best Adaptive Screenplay : Geoffrey Fletcher (Precious: Based on the Novel Push by Sapphire)
  • Best Cinematography : Mauro Fiore (Avatar)
  • Best Editing : Bob Murawski, Chris Innis (The Hurt Locker)
  • Best Art Direction : Rick Carter, Robert Stromberg, Kim Sinclair (Avatar)
  • Best Costume : Sandy Powell (The Young Victoria)
  • Best Make-up : Barney Burman, Mindy Hall, Joel Harlow (Star Trek)
  • Best Original Score : Michael Giacchino (Up)
  • Best Original Song : T-Bone Burnett, Ryan Bingham (Crazy Heart)
  • Best Sound Mixing : Paul N.J. Ottosson, Ray Beckett (The Hurt Locker)
  • Best Sound Editing : Paul N.J. Ottosson (The Hurt Locker)
  • Best Visual Effects :  Joe Letteri, Stephen Rosenbaum, Richard Baneham, Andy Jones (Avatar)
  • Best Animation : Up
  • Best Foreign Language Film : El Secreto de sus Ojos (Argentina)


Avatar menerima 3 award untuk kategori yang tidak terlalu bergengsi (tapi tetap sangat punya peran penting dalam sebuah film), hanya di visual efek, Art Direction dan Sinematografi. Sementara saingan beratnya, The Hurt Locker, berhasil membawa pulang piala Oscar untuk kategori Sound Mixing, Sound Editing, Film Editing, Screenplay, Sutradara dan yang paling bergengsi, Film Terbaik Tahun Ini. Jadi sudah jelas, di Academy Awards 2010, The Hurt Locker lebih berjaya.

Saya sendiri belum menonton The Hurt Locker jadi saya belum bisa menilai apakah film itu layak menang sebagai film terbaik. Dari banyak informasi yang saya dapat, film The Hurt Locker termasuk film yang bagus. Saya hanya sedikit terkejut melihat seorang Meryl Streep yang tampil total dalam Julie & Julia gagal membawa pulang piala Oscar, dikalahkan oleh Sandra Bullock untuk kategori Pemeran Utama Wanita.
Sisanya tidak terlalu mengejutkan buat saya, seorang Christoph Waltz yang berperan prima dalam Inglourious Basterds sangat pantas mengulangi kesuksesannya meraih Golden Globe dan BAFTA, tahun ini di kategori Pemeran Pembantu Pria memang persaingannya kurang (atau perannya sebagai Hans Landa tidak terkalahkan??).

Nah, itu daftar pemenang piala Oscar 2010. Mudah-mudahan bisa jadi referensi kalau ada film-film yang belum ditonton tapi menang ^_^

Jul 5, 2009

Nonton Ice Age 3D


Nonton Ice Age 3D

Kamis siang, setelah mendengar bahwa film Ice Age 3: Dawn of the Dinosaur sudah beredar dari hari rabunya, saya tiba-tiba ingin menonton film itu. Bulan ini memang sepertinya pecinta film dimanjakan dengan banyaknya film musim panas (summer movies) dari Hollywood yang dirilis. Setelah sebelumnya berturut-turut merilis Terminator 4, Star Trek dan Transformers 2, kini giliran Ice Age 3. Berikutnya masih banyak film yang mengantri, menunggu jadwal rilis seperti Harry Potter and the Half Blood Prince, Public Enemies, 2012, dan judul-judul lainnya.

Kembali ke hari kamis siang itu, saya menanyakan Yanti apakah mau menonton film Ice Age juga. Ternyata Yanti mau (dooh, sudah tahu sebenarnya, tapi ditanya lagi untuk memastikan hehehehe), jadi kami berencana menonton di malam harinya sepulang kerja, karena kalau Jum’at Yanti tidak bisa. Ketika Yanti mengusulkan menonton di Blitz Megaplex, saya mengiyakan, berhubung masih di awal bulan jadi masih bisa mengiyakan, dan lagi ada sesuatu yang menarik yang membuat saya juga mengiyakan (hehehehe). Kamipun janjian bertemu di Blitz dan kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing.

Pulang kerja, saya dengan santai (mengingat saya pulang 1 jam lebih awal daripada Yanti) pergi menuju Grand Indonesia. Sempat terpikir jalan kaki karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dan masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi akhirnya saya memutuskan untuk naik metro mini saja, mumpung kosong pikir saya. Tapi di pertengahan jalan ternyata banyak sekali yang naik, sampai-sampai saya yang duduk bisa terjepit oleh mereka yang berdiri (aneh kan? Ya memang begitu kejadiannya hehehe). Akhirnya, setelah beberapa menit terjepit, saya tiba di Grand Indonesia, dan langsung meluncur ke 2 tempat tujuan, toilet dan Blitz .

Seperti biasa, tempat menunggunya adalah smoking lounge. Saya tiba tepat pada saat Yanti justru baru mau berangkat. Karena masih agak lama, saya membeli minum, melihat-lihat trailer film dan berkutat dengan Facebook. Sekitar satu jam kemudian Yanti datang, dan kami masih harus menunggu selama sekitar 1 jam lagi. Yanti memberitahu saya bahwa filmnya dalam format 3-D, another surprise (hehehehe). Rupanya animo masyarakat terhadap film ini cukup tinggi, karena setelah ritual ke toilet dan membeli cemilan plus minuman, kami terpaksa menunggu hingga antrian memasuki ruangan auditorium agak sepi.

Setelah berfoto sambil mengenakan kacamata yang dibagikan, filmnya dimulai. Untuk review filmnya silakan klik disini. Komentar pertama yang keluar dari Yanti adalah “No Subtitle?” Iyalah, mungkin agak bingung juga kalau gambar yang kita lihat 3 Dimensi tapi ada teksnya, makanya tidak ada subtitlenya. Mudah-mudahan anak-anak kecil yang menonton malam itu bisa mengerti jalan ceritanya hanya dengan mendengar suara dalam bahasa inggris dan melihat gambarnya. Sepanjang film, saya tidak henti-hentinya tertawa (dan mengunyah tentunya, hehehehe). Filmnya sangat lucu, saya sampai capek tertawa terus. Tampaknya seisi ruang pertunjukan juga capek tertawa. Gambar animasinya sangat bagus, ditambah lagi format 3-dimensinya, menambah bagus animasi yang sudah bagus. Saya jadi teringat, terakhir kali saya melihat film 3-dimensi adalah waktu saya kecil di Teater Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah. Lama sekali? Iya, memang sudah selama itu saya tidak menonton film 3-dimensi. Sensasinya masih sama, menyenangkan, menakjubkan, dan membuat saya sedikit pusing karena saya harus menatap gambar baik-baik dalam waktu yang lama.

Malam yang menyenangkan, malam yang selalu membuat saya berharap……yah, biar saya saja yang tahu harapan saya sendiri hehehehe .

Jul 1, 2009

Garuda Di Dadaku


Garuda Di Dadaku

Beberapa hari sebelum beredarnya Transformers 2: Revenge of the Fallen, Yanti merekomendasikan untuk menonton Garuda Di Dadaku. Saya meng-iya-kan, maka Garuda Di Dadaku masuk kedalam daftar menonton saya dan Yanti. Terus terang, sebelum saya menontonnya, saya tidak berharap banyak pada film ini, mengingat ini film lokal. Bahkan setelah beberapa teman baik merekomendasikan film ini juga, saya tetap tidak berharap banyak pada film ini. Sudah terlalu banyak film mengecewakan dari sineas-sineas lokal.

Filmnya berkisah tentang seorang anak kecil berusia 12 tahun yang bernama Bayu. Bayu memiliki bakat dalam bermain sepakbola, bakat yang didapat dari (almarhum) Ayahnya. Tetapi Kakek Bayu tidak menyukai sepakbola dan melarang Bayu bermain sepakbola. Bahkan untuk membahas mengenai sepakbola juga tidak boleh. Kakek Bayu menginginkan Bayu menjadi orang sukses, dan menurutnya sepakbola bukan jalan untuk menjadi sukses. Oleh karena itu ia memasukkan Bayu ke dalam berbagai macam les, mulai dari les musik, melukis, sampai bahasa Inggris.

Bayu mempunyai seorang sahabat bernama Heri yang juga menggemari sepakbola. Hanya saja, tidak seperti Bayu, Heri tidak bisa bermain sepakbola karena dirinya lumpuh sejak kecil. Di hari ulang tahun Bayu, Heri mengajaknya menonton pertandingan final sepakbola remaja. Setelah pertandingan, mereka bertemu dengan seorang pelatih dari SSB Arsenal (kenapa harus Arsenal ya? Kan ga jago heheheheheh). Dari pertemuan itu dimulailah perjalanan Bayu yang dibantu Heri mengejar impian memakai Garuda di dada (baju tim nasional Indonesia). Berhasil tidaknya, silahkan anda lihat sendiri ya.

Film ini dikemas ringan, mengingat sasaran penontonnya kemungkinan adalah semua umur, ditambah humor-humor yang cukup menggelitik. Ide cerita yang sama mungkin sudah pernah anda temukan pada film lainnya seperti Bend it like Beckham, tapi bahkan film Hollywood juga sering mengulang ide yang sama dengan film lain, jadi saya tidak akan mempermasalahkan itu. Tidak ada akting yang menonjol, baik dari pemeran yang senior maupun yang junior. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah baiknya akting pendatang baru Emir yang berperan sebagai Bayu. Juga begitu pasnya seorang Ramzi memerankan tokoh Mang Duloh, supir Heri, dengan celotehan-celotehan dan polah tingkah lakunya yang membuat penonton tertawa. Secara keseluruhan, film ini menghibur, tidak terlalu bagus tapi menghibur. Saya bahkan berani mengatakan, menurut pendapat saya, film ini lebih baik jika dibandingkan dengan Transformer 2: Revenge of the Fallen (lagi-lagi, saya terlanjur dibuat sangat kecewa oleh Michael Bay dan tim Transformers 2 yang gagal membuat film yang lebih menarik dari apa yang sudah mereka buat).

Rate : 2/5