Oct 12, 2009

Two in one Day


King and Queen

If i'm a bee, would you be my honey?
If i'm a king, would you be my queen?
When i fall down, would you pick me up?
When i'm being honest, would you lie?

Words are often just spoken
Vows shall not be broken
I love you, and that is true
Have i become the best for you

What a Day

What a day, what a day
What a fabulous day
A day when i see lots of smiles
A day full of things so nice

Today i'm being reassured
By things that you said
Oh how lucky i'll be
To have you as my wife to be

What you said you'd become
Has made me really calm
Through your eyes i saw honesty
What a great wife you are to be

thank you for the day 

Oct 3, 2009

Batik Day


Beberapa waktu yang lalu, saya diberitahu oleh seorang teman bahwa pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO (bener yah?) akan mengesahkan Batik Indonesia sebagai World Culture Heritage. Katanya, ini artinya, dunia sudah mengakui bahwa Batik yang belakangan di-klaim oleh negara tetangga sebagai budayanya adalah budaya Indonesia. Dia juga mengajak saya untuk memakai batik pada hari tersebut.

Setelah diperiksa di kalender, tanggal 2 Oktober jatuh pada hari Jum'at, hari dimana saya mengenakan batik ke tempat kerja sebagai seragam, jadi tanpa himbauan atau tanpa kejadian batik diakui sebagai budaya Indonesia, saya akan tetap mengenakan batik.

Tiba di tanggal yang dimaksud, saya terkejut saat di angkot menuju ke tempat kerja. Bukan terkejut karena melihat semua penumpang memakai batik pagi itu, tapi saya terkejut karena supir angkotnya juga memakai batik. Bukannya mengecilkan seorang supir angkot, tapi bagi saya untuk seorang supir angkot memakai batik saat ia bekerja adalah pemandangan yang tidak pernah saya temui. Hebat juga si supir angkot berusia sekitar 30-an itu sampai tahu tentang hari batik.

Setibanya di kantor, saya masih disuguhi pemandangan orang-orang memakai batik. Bahkan pekerja yang jarang memakai batik hari itu memakai batik. Disini batik, disana batik, dimana-mana batik. Untungnya, sepanjang hari itu saya tidak menemukan orang yang memakai batik dengan motif yang sama dengan saya.

Senangnya bisa ikut berpartisipasi merayakan disahkannya batik sebagai warisan budaya dunia. Sudah sepantasnya kita sebagai warga Indonesia bangga dengan budaya Indonesia. Kalau negara lain saja bisa menyukai budaya kita, kenapa kita harus malu dengan budaya kita.


- Kota batik di Pekalongan, bukan Jogja, bukan Solo....- Slank

Sep 23, 2009

The Bear Writes a Blog


Beberapa hari belakangan, semasa liburan Lebaran ini, keseharian saya seperti layaknya seekor beruang. Setiap hari diisi dengan tidur dan makan, disellingi kegiatan yang (menurut banyak orang) tidak bermanfaat hehehehe....

Oleh karena itu beberapa hari belakangan ini status di Facebook saya berhubungan dengan beruang, dimulai dari Polar bear mode On, Grizzlie bear mode On, sampai ke Honey Bear mode On. Sebenarnya semua beruang memang memiliki masa hibernasi dimana mereka akan tidur dalam waktu yang cukup lama untuk menghemat energi mereka, jadi tidak masalah beruang mana yang saya pakai.



Awalnya saya pakai polar bear alias beruang kutub karena warnanya putih dan terlihat lebih lucu (saya kan lucu, jadi cocok dong hehehehe). Tapi kemudian ada yang protes, katanya saya lebih cocok seperti beruang madu karena hitam (uhhh!). Akhirnya saya ambil jalan tengah, mengganti menjadi beruang grizzly yang berwarna coklat. Setelah beberapa saat, kalau dipikir-pikir, beruang grizzly kan menyeramkan, biarpun coklat (seperti warna kulit saya) tapi grizzly besar dan menyeramkan. Sehingga pada akhirnya saya menurut dan memakai beruang madu yang berwarna hitam.

Lebih cocok manakah?

Sep 18, 2009

Perutkuuu……


Kenapa dengan perutku? Buncit? Kalau itu sih semua yang pernah melihat saya sudah tau. Tapi sekarang saya bukan mau menulis tentang seberapa buncit perut saya jika dibandingkan dengan perut orang lain, saya mau menulis sebuah kejadian yang berhubungan dengan perut saya yang buncit.

Perut saya (atau lebih tepatnya lambung saya) sensitif dengan makanan pedas dan asam. Seringkali jika saya memakan makanan yang pedas atau asam (atau dua-duanya, sayur asem dan sambal terasi pedas misalnya) perut saya memberontak, perut saya sakit dan memaksa saya harus bolak-balik ke toilet. Hal seperti ini yang seringkali menghalangi niat saya untuk bisa menikmati makanan tertentu, makanan yang sebenarnya sangat lezat tetapi tidak bisa saya nikmati karena rasanya.

Yanti sudah tau tentang “kekurangan” ini, dan ia dengan penuh perhatian selalu mengingatkan apabila makanan yang hendak saya santap itu asam atau pedas. Beberapa kali bahkan melarang saya menyantap makanan yang memiliki rasa asam dan pedas (terima kasih banyak sudah mengingatkan saya untuk tidak menyiksa diri sendiri). Tapi karena pada dasarnya saya sangat senang makan, dan karena pada dasarnya saya nakal, jadi seringkali peringatan atau larangannya saya tidak ikuti (maaf ya sering bikin kamu kawatir).

Nah, pada saat menulis ini, perut saya sakit luar biasa, mengerjakan tulisan ini sambil sesekali ditinggal ke toilet. Kenapa? Apakah saya habis menyantap sesuatu yang pedas dan asam?

Malam sebelumnya (lebih tepat sore sih) saya ikut buka bersama dengan teman kantor Yanti. Acaranya diadakan di sebuah restoran seafood di kawasan Jakarta Pusat. Makanan yang dipesan beraneka macam dan dalam jumlah cukup banyak. Sebut saja udang saus mayonnaise, udang api cabai garam, tahu kipas, kerang ijo, calamari ring (cumi goreng tepung), cah kangkung dan kepiting saus tiram.

Dari menu diatas, masih ada dua menu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ada udang bambu dan kepiting soka. Udang bambu bernama seperti itu karena memang bentuk cangkangnya seperti bambu. Sementara nama kepiting soka sering saya lihat di daftar sold out dari restoran tersebut (terlihat setiap kali saya melewati restoran tersebut), membuat saya penasaran dengan bentuk dan rasa kepiting soka. Saya tanya pada teman yang membuka tenda seafood dekat rumah, menurutnya kepiting soka adalah jenis kepiting yang cangkangnya tidak sekeras kepiting biasa sehingga bisa ikut dimakan. Entahlah apa benar seperti itu.

Mengingat saya belum pernah merasakan kedua jenis makanan itu, saya tidak mau kelupaan untuk ikut menikmati du jenis makanan tersebut. Udang bambunya dimasak dalam 2 bumbu, tidak ada yang pedas, dan rasanya mirip rasa bekicot tanpa rasa pahit yang kadang didapati pada bekicot. Lalu kepiting soka dimasak cabai garam, rasanya tidak terlalu istimewa, mirip rasa kepiting biasa, hanya saja tekstur dagingnya lebih lembut dan lebih berair.

Selama ini, saya tidak pernah punya alergi pada seafood, oleh karena itu saya dengan percaya diri menyantap makanan yang ada. Yang terjadi kemudian adalah, lidah saya gatal. Merasa itu merupakan gejala awal alergi, saya kemudian meminum susu segar, berharap susu kembali dapat menolong saya (kalau sakit atau tidak enak badan, saya sering minum susu dan kemudian merasa lebih segar). Gatal di lidah memang tidak hilang, tapi kekakuannya hilang (sebelumnya sempat terasa lidah saya kaku). Beberapa saat kemudian, saat berada di kendaraan, perut saya sakit. Sesampainya di rumah, pemberontakan perut saya agak berkurang. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke warnet. Sepulangnya dari warnet, saya makan lagi, kali ini menyantap nasi goreng buatan sendiri. Setelah makan, perut saya kembali berontak, dan malam itu saya beberapa kali harus terbangun untuk pergi ke kamar mandi.

Sampai pagi ini, perut saya belum juga bersahabat. Tiba di tempat bekerja, saya langsung mampir di toilet. Setelah itu menyalakan computer, memulai menulis postingan ini, ke toilet lagi, meneruskan postingan, toilet lagi, menyelesaikan postingan ini, dan sekarang selesai sudah postingan ini. Ada yang mau berpendapat kenapa kira-kira perut saya berontak padahal saya tidak menyentuh makanan pedas atau asam? Kalau saya curiga dengan kepiting soka atau kerang bambu…..

Sep 13, 2009

Lagi Lagi Soal Antri


Lagi lagi saya berurusan dengan orang yang tidak bisa mengantri dengan baik. Kejadiannya baru saja, tepatnya Sabtu 12 September 2009 di sebuah restoran yang menyajikan menu berbahan dasar ayam di Plasa Semanggi.

saat itu saya, Yanti dan Dios sedang menunggu waktu dimulainya pertunjukan film yang akan kami tonton (Final Destination - Red). Karena sudah dekat waktunya berbuka puasa, kami bergegas menempati tempat duduk di restoran itu sebelum terlalu ramai oleh pengunjung yang akan berbuka puasa. Kami secara bergantian memesan makanan agar tempat duduk kami tidak ditempati orang lain.

Saya dan Yanti kemudian mulai mengantri untuk memesan makanan. Antrian yang tidak terlalu panjang sebenarnya, hanya ada satu orang didepan kami berdua. Lalu kemudian datang 2 orang lagi dibelakang kami, dan seorang Ibu-ibu disebelah baris antrian. dari awal saya sudah mencium niat busuk ibu tersebut.

Benar saja. Segera setelah orang di depan kami beranjak pergi, si ibu dengan seenaknya hendak menyalip antrian. Ibu itu sepertinya ditegur oleh Yanti, saya sendiri terlalu sibuk memelototi ibu tersebut sehingga tidak mendengar apa yang dikatakan Yanti. Ibu itu berkata pada pramusaji restoran "Mas, air mineralnya berapa?" Mas pramusaji yang ditanya menjawab "Lima ribu lima ratus bu"

Saya kesal, sudah si ibu tidak tahu diri, si pramusaji malah meladeni, padahal dia tau kami sudah antri dari tadi. Saya dengan kesal berkata pada pramusaji tersebut "Mana managernya, saya mau bicara sama managernya." Yanti mencoba menenangkan saya sementara si pramusaji mulai berubah raut mukanya menjadi takut dan si ibu kurang ajar itu terus berusaha meyakinkan agar dia bisa dilayani lebih dulu dengan alasan hanya membeli sedikit dan cepat.

Saat saya hendak menanyakan dimana managernya kembali, si pramusaji berkata pada ibu kurang ajar itu "Maaf bu, Mba ini duluan" sambil menunjuk ke arah Yanti. Saya sudah kesal, dan meskipun si pramusaji berusaha melayani kami dengan baik, tapi saya tidak mau bicara lagi sama pramusaji bodoh itu. Saya membiarkan Yanti melakukan semua pesanan dan segala macam urusan dengan si pramusaji.

Kenapa sih orang Indonesia susah sekali mengantri? Kalaupun memang mau beli sedikit ya harus antri dong. Mau beli banyak atau sedikit semua harus antri. Orang-orang yang selalu memudahkan segala cara adalah orang yang bisa membuat negara ini hancur.

Oh, sepertinya kata-kata saya yang mencari manager restoran sangat berpengaruh pada si pramusaji bodoh. Kenapa? Dia dengan bodohnya tidak memasukkan satu pesanan kami ke dalam struk, dan salah memberikan nomor pada kami sehingga nomor yang kami pegang berbeda dengan nomor pesanan pada struk. Hal ini menyebabkan pesanan kami terlambat diantar dan sudah dingin saat tiba di meja kami. Restoran bodoh, pramusaji bodoh, dan ibu kurang ajar, lengkap sudah!

Sep 6, 2009

Buka Bersama Teman SD, and A Whole Lot More


Bulan Ramadhan sudah tiba. Di saat istimewa ini biasanya banyak diadakan acara sahur atau berbuka puasa bersama. Kami, alumni Sekolah Dasar Negeri 07 PAgi Cipinang Muara, juga tidak mau ketinggalan mengadakan acara serupa.

Idenya terbersit dari beberapa minggu lalu, saat saya dan sahabat saya Diosnardo Rahmanto, kopdar dengan 2 teman SD lain, Euis Noviyanti dan Wahyu Kumala Jati, di Plasa Senayan. Rencananya mau reunian, di sekolah tercinta sambil mungkin ada bakti sosialnya, tapi berhubung bulan Ramadhan sudah dekat jadi diambillah keputusan berbuka puasa bersama.

Akhirnya, acara yang disiapkan secara mendadak dan dengan waktu yang singkat, bisa terlaksana dengan baik. dari banyak nama yang bisa dihubungi (terima kasih banyak Facebook) akhirnya hanya sebagian besar saja yang bisa datang. Saya dan Yanti yang tiba pertama di rumah makan tempat acara berlangsung. Disusul kemudian oleh Euis, Dios dan Arry. Beberapa saat kemudian berturut-turut datang Menik, Indra, Irsan, Adi, Indah Irma beserta Syauqi sang buah hati dan suami, Iin dan Lukman.

Tidak terlalu lama menunggu, saat terdengar Adzan Maghrib, semua langsung menikmati makanan dan minuman yang sudah tersedia. Dibuka dengan es kacang merah yang mantap rasanya (hanya saya yang memesan es kacang merah, yang lain memesan es kopyor), kemudian dilanjutkan mencicipi sayur asem yang ternyata juga mantap, menyegarkan, dan terakhir menyantap nasi pluncut empal gepuk, tempe mendoan, ikan asin dan sambal. Meskipun bukan menu yang terkenal dari rumah makan tersebut, tapi rasa masakannya tetap enak. Setelah makan, rombongan perokok terpaksa mengungsi ke luar rumah makan karena larangan merokok dari ibu yang membawa anak bayi hehehehe….



Setelah Adi dan Indah pamit undur diri lebih dulu dari yang lain, tidak lama kemudian saya, Yanti dan Dios pamit undur diri juga. Saya sudah dikejar waktu untuk futsal, sementara Dios ikut kami karena sehabis futsal rencananya kami akan pergi karaoke. Kurang dari satu jam bermain, kami kemudian beranjak ke tempat karaoke. Kami sedikit beruntung karena waiting list malam itu tidak terlalu banyak dan pergerakannya tidak lama, sehingga kurang dari 30 menit menunggu, kami sudah berada di ruangan karaoke, bernyanyi gila-gilaan, tertawa dan bercanda. Setelah itu, tentu saja kami pulang, karena sudah malam.

Saya mengatakan pada Yanti bahwa malam itu kembali jadi hari yang membahalahkan. Paginya saya menemani Yanti ke daerah Jakarta Selatan, kemudian menempuh kemacetan menuju toko buku, berbuka puasa bersama teman SD saya, futsal, dan ditutup karaoke (setelah itu di rumah sempat menonton DVD sebentar). Melelahkan, tapi juga membahagiakan. Senangnya saya bisa menemani orang tersayang, bertemu teman-teman yang sudah lama tidak saya jumpai, serta melakukan kegiatan yang menjadi kesenangan saya, dan melakukannya bersama orang-orang terdekat.

Aug 11, 2009

Hari yang membahalahkan


Hari yang membahalahkan?
Bingung ya?
Bahasa apa itu?
Itu bahasa yang saya ciptakan sendiri, dengan asal-asalan, yang penting mengandung dua kata yang saya maksud.

Hari yang membalahkan adalah hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan. Iya, hari itu hari Rabu yang cerah. Saya berangkat sesuai waktu saya biasanya berangkat. Tapi karena tidak beruntung mendapatkan bis yang berjalan layaknya seekor siput, saya akhirnya sampai kantor terlambat. Sesampainya dikantor, langsung mengerjakan apa yang harus dikerjakan (sarapan pagi, menikmati teh manis panas, mendengarkan musik, dan sesekali memutar DVD konser Jason Mraz yang saya beli semalam sebelumnya). Semua dikerjakan dengan mengejar waktu, karena menurut pengumuman di hari sebelumnya, listrik di kantor akan dimatikan mulai pukul 10.00 sampai pukul 13.00.

Tunggu punya tunggu, listrik baru padam pukul 11.00 siang. Karena tidak bisa bekerja tanpa listrik yang menyalakan komputer, maka kami pergi ke luar kantor. Saya memanfaatkan waktu untuk pergi menemani Yanti mengurus SIM di Kalibata. Setelah ojek yang saya tumpangi sempat salah jalan, akhirnya saya tiba di tujuan setengah jam kemudian. Bertemu dengan Yanti, menunggu, makan siang, menunggu lagi, semua dilakukan di bawah teriknya sinar matahari. Setelah menunggu dan menunggu (dengan sabar tentunya…bukan si Sabar teman SMU lho, maksudnya dengan hati sabar….bukan hatinya si Sabar teman SMU juga lho….ah, sudahlah, pusing saya) akhirnya SIM yang dinanti diperoleh. Bergegas kami kembali ke kantor masing-masing.

Saya yang tergesa-gesa, memutuskan naik ojek dari kantor Yanti. Hamper mengalami kecelakaan karena pengemudinya mengendarai motor layaknya Valentino Rossi di sirkuit balap, saya tiba di kantor 10 menit dari saat menaiki ojek. Bergegas menuju ruangan, menanyakan keadaan, turun kembali ke bawah membeli kertas pembungkus kado, naik lagi ke lantai 6, membungkus kado untuk Yanti (dimarahi oleh Mba’ ku karena salah membungkus), menikmati segelas teh vanilla, bersiap pulang dan akhirnya pulang.

Tidak pulang juga, tapi menjemput Yanti lebih dulu. Rencana awal sih mau mengajak Yanti pergi entah kemana menghabiskan waktu sampai mendekati pergantian hari, baru kemudian memberikan kado yang sudah disiapkan. Tapi mengingat diri saya dan dirinya sudah terkuras energinya saat menunggu SIM, saya memutuskan untuk tidak mengajaknya pergi dan menyerahkan kadonya 4 jam sebelum pergantian hari. Kado yang diterima dengan senyuman yang paling manis yang pernah saya lihat. Setelahnya, kami pulang. Saya mampir ke warnet untuk mem-post tulisan-tulisan yang sudah menumpuk layaknya cucian. Setelah itu pulang ke rumah, mencuci muka, chatting sebentar dengan Yanti sampai saya tertidur karena lelahnya. Terbangun di 22 menit melewati pergantian hari, menelpon Yanti, mengucapkan selamat ulang tahun, membuka facebook, menulis pesan di wall Yanti, membuat beberapa komentar disana sini, lalu tertidur pulas.

Wuah, what a day. Lelah memang, tapi kalau melihat senyumannya sepertinya semua kelelahan hilang saat itu juga. Percaya atau tidak, saya sendiri juga terus tersenyum sepanjang malam….teringat senyum dirinya….saya mungkin tersenyum juga saat tertidur hehehehehehe…..

Aug 5, 2009

Biro Jodoh??


Selagi saya mulai menulis sebuah tulisan yang serupa dengan dua tulisan saya sebelumnya, saya terhenti dan terdiam. Sesaat kemudian saya tertawa sendiri. Saya geli bila memikirkannya..

Saya pernah membuat beberapa tulisan mengenai teman saya, orang yang saya kenal, yang masih sendiri (alias belum punya pacar). Berhubung saya senang berbagi, saya sangat ingin mereka yang saya kenal, teman-teman saya, yang masih sendiri, merasakan apa yang sedang saya rasakan, merasa sangat beruntung dan bahagia. Ya, merasa beruntung saya telah menemukan seseorang yang saya sayangi, dan juga menyayangi saya. Ya, bahagia karena hidup menjadi lebih berwarna dengan kehadirannya. Oleh karena itu saya sangat ingin teman-teman saya, orang yang saya kenal, yang masih sendiri, untuk dapat memiliki pasangan, maka terciptalah beberapa tulisan yang “mempromosikan” diri mereka.

“Promosi” disini bukan berarti saya bermaksud menjual atau menyewakan mereka, sama sekali tidak ada maksud seperti itu. Tidak ada juga niat saya merendahkan atau mengejek mereka, lihat saja isi tulisan saya, tidak ada yang menjelek-jelekkan. Tidak untuk membuat malu, karena tulisan dibuat setelah disetujui yang bersangkutan. Tujuannya hanyalah mendeskripsikan hal-hal baik mengenai yang bersangkutan.

Lalu kenapa saya tertawa?
Saya tertawa karena geli. Geli kalau memikirkan betapa saya melakukannya dengan serius. Saya benar-benar serius saat menulis deskripsi tentang mereka. Geli karena saya dengan serius ingin mereka bahagia bertemu dengan (mungkin) jodoh mereka. Geli karena saya merasa diri saya seperti apa yang orang sebut sebagai “mak comblang”. Geli karena setelah dilihat beberapa kali, rumah saya seperti sebuah biro jodoh online. Geli karena sebenarnya aktifitas “mak comblang” pernah beberapa kali saya lakukan sebelum ini…dan hasilnya memuaskan. Bukan dalam hal finansial, tapi lebih dari berhasilnya beberapa pasangan berjodoh karena ulah saya mempromosikan orang lain.

Hahahahaha….tuh kan, saya tertawa lagi :P

Aug 4, 2009

Influence


Yanti pernah bertanya pada saya, jenis musik apakah yang didengar oleh mereka yang pernah mengisi hati saya (ex-girlfriend), dan apakah ada yang mempengaruhi selera saya dalam mendengar musik. Saya menjawab, karena pada dasarnya saya mendengarkan hampir semua jenis musik maka tidak ada yang terlalu membawa pengaruh besar pada selera musik saya. Dan setelah dipikir-pikir lagi, memang yang memberi pengaruh pada selera saya bukanlah mereka yang pernah mengisi hati saya.

Waktu kecil, musik yang saya dengarkan adalah lagu anak-anak, dan juga soundtrack dari film-film kegemaran saya. Sebut saja lagu pembuka dari film Lion Maru, Megaloman, Getter Robo, Zabogar, Voltus, Goggle Five, Gaban, Sarivan, Saider, dan banyak film anak lainnya. Saya bahkan punya kaset lagu-lagu dari film tersebut.

Saya kemudian berkenalan dengan musik-musik lain dari kakak sepupu saya. Ia mengenalkan saya pada Michael Jackson, Tommy Page, Frente, Neri Per Caso, The Cranberries, Stryper, musik reggae, Jazz, musik hip-hop dan rap. Ia juga mengenalkan saya pada The Police, U2, Yes, DreamTheatre, Toto, Metallica, Suede, Porno For Pyros, Mighty-Mighty Bosstones, R.E.M, Bjork, Sade, Smashing Pumpkins, dan masih banyak lagi.

Dari kakak saya, saya berkenalan dengan banyak musik lokal seperti Slank, Dewa 19, KLA Project, Nike Ardilla, dan banyak lagi. Dari dirinya juga saya mengenal boy-band pertama yaitu New Kids On The Block. Kakak saya adalah penggemar berat dari kwintet Danny, Donnie, Jordan, Jonathan dan Joey ini.

Oh, hampir lupa, saya juga terpengaruh oleh koleksi kaset Papa saya yang banyaak. Darinya saya mengenal ABBA, The Beeges, The Beatles, Lobo, Nana Miskouri (ini bener gak yah?), Simon and Garfunkel, The Everly Brothers, The Carpenters, dan masih banyak lagi.

Teman-teman sekolah saya mengenalkan saya pada Iwa K, Ramones, Sex Pistols, Green Day, Ugly Kid Joe, Oasis, Blur, Space, Netral, dan banyak lainnya. Dari teman kuliah, saya mengenal Morissey, The Cardigans, Coldplay, The Rasmus, Placebo, dan banyak lagi.

Dari TV, saya mengenal dan menyukai Jewel, No Doubt, Britney Spears, Spice Girls, Hanson, The Moffatts, Lene Marlin, /rif, Avril Lavigne, Sarah McLachlan, Alanis Morissette, Aerosmith, Maroon 5, Rihanna, James Blunt, Mika, Alicia Keys, t.a.T.u, Kings of Convenience, Sheila on 7, Padi, Peterpan, dan lain-lain.

Dari sepupu saya Andre, saya mengenal musik-musik Jepang seperti Do As Infinity, L’arc en Ciel, Day After Tomorrow, Glay, dan dari dia pula saya menyukai Mocca. Dari adik angkat saya, Iwan, saya mengenal My Chemical Romance, Fall Out Boys, Story of the Year, dan band-band beraliran keras lainnya. Dari Rio saya mengenal band yang bahkan lebih keras lagi, seperti Straightout, dan lain-lain.

Intinya selera musik saya tidak pernah terpengaruh oleh ex-girlfriend. Selera musik mereka kebetulan sudah saya kenal dan sukai sebelum bertemu mereka. Saya memang kemudian menyukai Jason Mraz, Led Zepellin dan Endah-Rhesa dari Yanti, tapi Yanti kan bukan ex-girlfriend saya..hehehehehehe…..

---- Let the music heal your soul – Bravo All Stars ----

Aug 2, 2009

How Does It Feels Like To Have A Celebrity As Your Couple?


Ada yang pernah merasakan punya pasangan/teman seorang selebritis? Tidak perlu seorang aktris atau aktor, bisa siapa saja yang dikenal orang banyak, memiliki penggemar, dan dicintai oleh banyak orang. Atau mungkin anda sendiri adalah seorang selebritis? Atau mantan selebritis yang sekarang tidak laku? (hehehehehe)

Bagaimana rasanya jadi seseorang yang kenal dekat dengan selebriti? Menyenangkankah untuk anda? Atau mungkin pertanyaannya adalah, maukah anda mempunyai pasangan hidup seorang selebriti?

Banyak yang menghindari memiliki pasangan hidup seorang selebriti, hal ini khususnya aktor dan aktris. Alasan mereka adalah seorang selebriti terlalu sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk pasangannya. Terbayang tidak kalau anda harus tidak bertemu hanya karena dirinya sibuk bekerja? Kesalkah anda? Bagaimana jika sibuknya bukan karena kerja? Bagaimana jika waktunya dipergunakan untuk bersenang-senang tanpa diri anda? Apa rasanya jika seharian dia tidak menghubungi anda?

Kemudian, katanya selebriti sangat dekat dengan dunia malam dan hal-hal negatif didalamnya seperti alkohol dan narkoba. Tidak usah dijabarkan, anda pasti tahu sendiri kan resikonya kalau berurusan dengan hal-hal tersebut? Bagaimana jika pasangan anda ditangkap oleh pihak yang berwajib? Atau bagaimana jika ia meninggal karena over dosis?

Selebriti juga katanya sangat berpotensi berselingkuh karena dikelilingi dan dikejar-kejar oleh banyak lawan jenis. Beberapa diantaranya bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian dan mungkin cinta dari sang idola, jika perlu selalu mengikuti kemanapun dirinya pergi, atau apapun yang dilakukannya. Lihat saja tayangan infotainment, banyak kan selebriti yang selingkuh? Kalau anda jadi pasangan selebriti seperti itu bagaimana? Anda terima pasangan anda dicintai orang lain? Kesal? Cemburu? Atau apa? Bagaimana jika suatu saat pasangan anda benar-benar berselingkuh dengan orang lain? Tidak ada yang tahu pasti tentang masa depan bukan?

Selanjutnya, selebriti tidak memiliki privasi karena akan selalu dikejar media. Terbayang tidak saat anda sedang menikmati waktu berdua dengan pasangan anda, tiba-tiba puluhan orang datang dan mulai mengambil foto anda berdua? Sedang menikmati makan malam tiba-tiba disodorkan perekam suara dan mikrofon ke wajah anda dan menanyakan banyak hal pada anda berdua?

Jadi, apakah benar memiliki pasangan hidup seorang selebriti seburuk yang diperkirakan orang?

Mungkin Ya, mungkin Tidak. Pastinya sih butuh kesabaran tingkat tinggi jika kita ingin berhubungan dengan seorang selebriti. Dengan sabar menerima semua hal yang mungkin tidak mengenakkan bagi anda.

-untung Yanti bukan selebriti….setidaknya belum hehehehehe-

Aug 1, 2009

Wierd Thing...


Aneh…

Ada kejadian yang buat saya aneh. Mungkin seorang sarjana komputer atau seseorang yang mengerti tentang gelombang radio yang mungkin bisa menjelaskan apa yang terjadi.

Di kantor, saya menggunakan PC Acer Aspiredengan spesifikasi yang lumayan. Monitor yang saya pakai adalah Acer X193w, sebuah monitor LCD layar lebar. PC tersebut dilengkapi dengan sepasang speaker standar. Suara yang dihasilkan untuk mendengar musik tentu tidak maksimal, tetapi lumayanlah untuk sekedar bernyanyi kecil saat bekerja. Karena keterbatasan ruang (mungkin), PC-nya diletakkan diatas meja, bersebelahan dengan monitor, dan speaker ada di samping monitor.

Saya set volume pada volume control PC ke semua maksimum. Volume pada program pemutar file musik juga di set pada posisi maksimum, sehingga kendali volume ada pada tombol pengatur volume pada speaker. Jika sedang ada rapat, volume speaker saya kecilkan, tapi tidak mematikan speaker, sehingga kadang sayup terdengar suara musik, dan seringkali menangkap sinyal handphone sehingga mengeluarkan suara khas sinyal handphone.

Yang sedikit aneh adalah, beberapa kali, saat saya mengecilkan volume speaker, suara yang keluar dari speaker tetap terdengar, dan suara yang keluar itu bukanlah suara dari PC. Tadinya saya pikir suara itu adalah suara sayup-sayup dari musik yang saya putar. Tapi saat saya dengarkan dengan seksama, mendekatkan speaker yang sedang ber-volume rendah ke telinga saya, apa yang saya dengar sedikit mengejutkan saya. Suara volume rendah yang terdengar adalah suara siaran sebuah stasiun radio.

Kenapa sampai bisa mengeluarkan suara radio saat volumenya minimum? Entahlah. Mungkin karena gelombang radionya tertangkap oleh PC, atau karena hal lain yang sifatnya teknis, yang saya tidak mengerti. Suara siaran radio itu tidak terdengar lagi saat volume dinaikkan.

Buat yang mengerti, bisa jelaskan pada saya kenapa seperti itu? Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

Jul 30, 2009

Happy Birthday Ariyanti


Life is full of ups and downs
Life is full of smiles and frowns
At times you cried so hard
And times you laughed so loud

Spending my life with you
Will always be my ups, not downs
Spending a second without you
That’s when I lose grounds

Knowing someone like you
Is what every man would want to
Spending entire life with you
Is the first thing I want to do

Your eyes are beautiful, they shine like star
Each stare will sent every man up far
Your smile is like a medicine
That cures every hurt and pain

Everything about you is special
It’s not a lie, it’s so real
I already see my future with you
Please stay with me and say I do

And on this special day
I have a few words to say
Happy Birthday dear Ariyanti
You will always be my sweet Tea

-I Love You Tea-

Jul 29, 2009

Here I Am Again


“Here I Am, This is Me..”
Sepotong kata dari lagu yang didendangkan oleh Bryan Adams. Sebuah lagu yang dijadikan lagu tema sebuah film animasi. Film yang bagus, dan lagunya juga. Tapi saya tidak akan membahas lagu ataupun film itu hehehehe……

Sudah beberapa hari ini saya tidak mem-post-ing tulisan baru. Ide-ide yang ada selalu muncul di malam hari (sesaat sebelum saya tertidur) dan akan hilang di pagi harinya. Seringkali, saya sudah bersiap dengan program Microsoft Word, jari-jemari sudah stand by di keyboard, tapi apa daya, tanpa ide di kepala maka jari-jemari tidak akan bergerak, menekan tombol-tombol yang menyebabkan keluarnya huruf-huruf di layar monitor, merangkai kata demi kata, menciptakan sebuah dokumen yang siap di-post.

Selain itu, saya juga sempat sakit. Bukan sakit yang parah sehingga haruslah dirawat di rumah sakit. Hanya sekedar demam, pilek, batuk dan sedikit sakit kepala yang menyerang sekaligus. Kondisi badan yang tidak fit seperti itu juga menghambat saya dalam menuliskan sebuah tulisan baru.

Alhamdulillah, badan saya sudah fit, ide-ide juga mulai dating (lho, kok jadi dating?? Wah, auto correct-nya canggih juga…atau dia sok tau? Hahaha..). Jadii…inilah saya….Here I Am….This is Me….. Saya bisa melanjutkan menulis lagi dan memajangnya di rumah sederhana saya ini. Semoga bisa bermanfaat bagi yang membaca.

--- Ayooohhh…Semangat Odee!!!---

Jul 23, 2009

Hanya Untaian Kata

Saya Copy and Paste dari Notes saya di Facebook....

Diriku malu
Negaraku kelabu
Masih ada yg tidak malu
Berbuat sesuatu yg tabu...

Diriku sedih
Batinku teriris perih
Mulutku berkata lirih
Saat nyawa tak berharga lebih...

Diriku marah
Pada mereka yg salah
Mereka kehilangan arah
Atau memang hatinya rusak parah...

Diriku kesal
Pada fanatisme yg terlalu kental
Agama dijadikan tumbal
Atas perbuatan yg melanggar pasal...

Diriku berduka
Pada semua yg terluka
Semoga pintu hati terbuka
Bagi mereka penyebab petaka...

Mari bergandengan tangan
Kau dan aku bukanlah lawan
Doa mari kita panjatkan
Pada mereka yg menjadi korban...

Damailah negaraku...
Aku kan selalu mencintaimu...


Dedicated to my beloved Indonesia

Jul 16, 2009

The Return of The King


Bukan, saya bukan hendak me-review installment ke-tiga dari trilogi The Lord of the Rings. Saya hendak memberikan pengalaman saya saja sebagai penggila sepakbola. Hobi saya sejak lama adalah sepakbola, baik itu menonton pertandingannya ataupun memainkannya. Mengingat sudah sulitnya mendapatkan sebuah lapangan sepakbola di Jakarta ini, dan tidak terlalu banyaknya teman saya untuk bermain sepakbola, maka alternatifnya adalah Futsal. Sebuah permainan sepakbola yang dimainkan di lapangan berukuran lebih kecil dan setiap tim hanya terdiri dari 5 pemain.

Beberapa bulan yang lalu, saya mengalami cedera yang cukup parah pada lutut kiri saya (seperti yang sudah saya tulis berbulan-bulan lalu). Cedera itu memaksa saya beristirahat dari dunia menendang bola selama beberapa waktu, dan bahkan sempat membuat saya ingin berhenti bermain karena sakit yang ditimbulkan oleh cedera saya. Seiring berjalannya waktu, cedera pada lutut kiri saya berangsur-angsur membaik. Rasa sakit yang sering timbul sebelumnya mulai berkurang, dan saya kemudian memberanikan diri untuk kembali bermain.

Awal kembalinya saya ke lapangan saya mulai dengan menjadi penjaga gawang, dan tanpa sepatu (sepatu saya sudah saya jual saat saya sempat berpikir ingin berhenti). Pikir saya waktu itu adalah dengan menjadi penjaga gawang, lutut kiri saya tidak akan menerima tekanan berlebih karena seorang penjaga gawang tidak perlu berlari kesana-kemari, sebuah kegiatan yang menimbulkan rasa sakit pada lutut kiri saya. Awal kembali yang tidak mengesankan, saya hanya mampu bertahan sebentar, karena kemudian lutut saya sakit.

Beberapa kali kemudian, saya mulai membiasakan ikut bermain, tapi tetap sebagai penjaga gawang. Kalaupun saya kemudian bertukar posisi dan kembali menjadi penyerang, itu hanya sebentar saja, lutut saya masih sakit. Lama-kelamaan, saya kembali membiasakan diri bermain sebagai penyerang. Agak sulit pada awalnya, karena saya tidak bisa memaksakan untuk bergerak cepat, menendang dari posisi yang sulit, dan yang pasti saya selalu menghindari benturan dengan pemain lain.

Rabu kemarin, pasca mencontreng, saya dan teman-teman saya bermain selama dua jam, setelah sebelumnya tidak pernah bermain lagi selama satu bulan penuh. Awalnya saya bermain sebagai penjaga gawang, tapi kemudian dorongan keinginan yang kuat membuat saya maju menjadi penyerang. Dua jam yang menyenangkan, karena saya merasakan saya sudah sangat mendekati kondisi pulih sepenuhnya. Saya bisa berlari lebih cepat (meskipun jarang saya lakukan, malas hehehehe), menendang dari posisi sulit, melakukan trik sederhana, dan mulai kembali mencetak gol *hehehehehe.

Yap! The King has returned!

Jul 14, 2009

Love Me If You Dare


Judulnya sama dengan film Perancis yang dibintangi oleh Marion Cottillard, tapi tulisan ini bukanlah review film tersebut. Filmnya bagus, tapi biarlah Yanti yang me-review-nya suatu saat dalam Our Cinema Sanctuary, karena Yanti yang merekomendasikan film tersebut pada saya. Lalu, tulisan ini mengenai apa?

Saya kembali mencoba mempromosikan seorang teman baik saya. Saya ingin teman baik saya merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang saya rasakan saat saya bersama seseorang yang saya sayangi. Dalam kata lain, saya ingin mencarikannya jodoh terbaik buat dia hehehehe…..

Baiklah, saya akan memulai…

Saya punya seorang teman baik, sebut saja namanya Titi (bukan nama sebenarnya). Saya kenal Titi sudah lama, mungkin lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saya dan Titi bersekolah di sekolah yang sama selama bertahun-tahun. Titi adalah pribadi yang periang, sedikit tegas, seru dan lucu. Beberapa orang mungkin terintimidasi oleh ketegasannya, tapi jangan kawatir, Titi orang yang baik hati. Berbicara dengan Titi mungkin akan melelahkan, karena kemungkinan besar kita akan tertawa sepanjang pembicaraan. Titi jaminan mutu deh kalau soal mengobrol, mau ngobrolin apa saja bisa, kalaupun Titi tidak mengerti yang dibicarakan Titi tetap akan mendengarkan sepenuh hati, mungkin karena rasa ingin taunya yang besar (mirip mba'ku di postingan sebelumnya ya? Jangan-jangan sayanya yang menarik kalau berbicara, hehehehehe).

Titi bukan tipe perempuan yang girlie dan manja, walaupun sekilas penampilannya mengesankan dirinya girlie (hehehehe). Tapi jangan kemudian menganggap Titi adalah tipe perempuan tomboy, karena Titi tidak tomboy (atau setidaknya tidak terlalu tomboy). Titi seorang perempuan mandiri. Kalau anda tidak suka atau merasa terintimidasi dengan perempuan yang melakukan segala sesuatu sendiri, lebih baik jangan memaksakan diri.

Mau hari-hari anda diisi dengan beragam keseruan? Titi jawabnya. Melakukan apa saja dengan perempuan yang satu ini dijamin seru. Kalau tidak percaya dengan saya, boleh bertanya pada teman-temannya.
- Miss AA : “Mmmh…yang gue inget dari Titi si rame n ceplas-ceplos…”
- Miss AD : “Orangnya Fun, ga terlalu girlie, lucu, apa lagi ya hehe…”
- Mister SN : “Titi ituh ramah, setia kawan, smart, kadang terlalu smart jadi rada dong-dong :P, Titi baik, xxxxxxx dan xxxxxxx handal (ajarin aku xxxx), enak diajak ngobrol”
- Mister VP : “Titi itu baik, ramah, supel, rajin, taat ibadah, nyenengin, aktif……kurang apalagi coba?”

Terus apa lagi yah? Oh iya, walaupun kadang terlihat tidak “connect”, seorang Titi sebenarnya adalah perempuan yang pintar. Titi lulus dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Saat ini Titi sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang…eiittsss…nanti ketahuan dong kalau saya bilang, hehehehehe.

Titi orang yang sangat perhatian pada orang lain. Titi mungkin satu-satunya penghuni kelas saat sekolah duluuu, yang menyadari perasaan suka saya pada seseorang, yang sebisa mungkin tidak saya tunjukkan. Tapi memang dasarnya Titi senang memperhatikan orang lain, dirinya jadi mengetahui apa yang saya rasakan. Saya sendiri malu waktu Titi bilang dia tau saya suka sama siapa.

Dari tadi saya hanya bahas sifatnya ya? Yah, maaf, saya termasuk orang yang tidak terlalu memperdulikan masalah tampilan luar, saya lupa kalau masih banyak laki-laki yang hanya tertarik berdasarkan cantik tidaknya seorang perempuan. Baiklah, mengenai tampilan luarnya, Titi itu putih dan manis (jarang kan putih manis? Biasanya hitam manis, tapi ini beneran putih manis, kaya gula tebu). Titi memakai kerudung, memiliki tinggi tubuh rata-rata perempuan Indonesia, dengan bobot tubuh yang saya tidak ketahui jumlah persisnya.

Overall, Titi adalah perempuan yang sangat menarik. Seorang perempuan yang memenuhi kriteria bagi banyak laki-laki yang mancari pasangan.

Nah, setelah mengetahui sedikit tentang Titi, saatnya melihat kriteria pria idaman dari seorang Titi.
  • Putih, ganteng, tinggi, mirip bintang pelem lokal (ini tidak terpenuhi juga tidak apa-apa, tapi sebisa mungkin dipenuhi, wehehehehe)
  • Tidak GAPTEK, alias gagap teknologi
  • Open minded (alias memiliki pola berpikir terbuka)
  • Dan yang tidak kalah penting katanya…Doyan Makan tapi tidak boleh Obesitas! (nah lho, susah dong??)
Anda tertarik mengenal Titi lebih jauh? Hmmmm….kasitau saya saja yah, nanti saya yang bantu, dijamin halal…hehehehehehe .

Jul 12, 2009

Mba' Ku


Sewaktu bercerita bahwa saya punya blog dan sudah banyak tulisan yang saya “pajang” di sana, Mba R, rekan kerja yang duduk bersebelahan dengan saya nyeletuk “Bikin tulisan tentang Mba dong” katanya dengan nada bercanda. Saya langsung menjawab “Boleh…mau seperti Machmoey kah?” tanya saya. Sebagai informasi, Machmoey pernah mempublish tulisan di Notes Facebooknya yang kalau dibaca seperti “mengiklankan diri” tentu dengan gaya khas Machmoey yang penuh humor. Tulisan ini sempat menjadi topik hangat dan seru untuk menggoda Moey.
Setelah menjawab boleh, Mba Re ternyata panik sendiri dan menyesali celetukannya. Dia wanti-wanti agar saya tidak usah menulis apa-apa, tapi saya terlanjur sudah sangat ingin menulis tentang teman kerja saya yang satu ini.

Meski bekerja pada kantor yang sama, awalnya saya tidak mengenalnya. Karena kami bekerja di lantai yang berbeda. Saya baru mengenalnya pada saat saya dipindah ke lantai 6, berada dalam satu tim dengannya. Awal bertemu, saya sudah merasa si Mba adalah seorang pekerja keras, karena di hari pertama Mba yang memakai kerudung ini terlihat serius dan sibuk sekali. Pulangnya selalu di atas jam pulang normal. Saya pribadi tidak ada masalah kalau memang diharuskan pulang sore, yang penting pekerjaan selesai. Ternyata saat itu memang load pekerjaan sedang tinggi untuk mengejar target penyelesaian dokumen acuan yang menjadi tugas utama tim kami.
Karena seriusnya kalau bekerja, saya berpikir bahwa si Mba adalah orang yang susah diajak bercanda, sementara saya jenis orang iseng yang 50% hari saya tidak lepas dari mencandai orang di sekitar saya, saya merasa akan kesusahan untuk bisa dekat dengan si Mba. Ternyata eh ternyata, setelah cukup lama berkenalan dan saat ada waktu senggang di antara pekerjaan, saya jadi tau si Mba orangnya tidak kalah seru untuk dicandai. Dengan sabarnya si Mba menerima semua keisengan saya dengan tertawa bahkan kadang berbalik menyerang saya dengan candaannya.

Setelah itu si Mba juga enak diajak ngobrol. Ngobrol apa saja tetap nyambung kalaupun ada topik permbicaraan yang tidak dia mengerti, si Mba selalu menunjukkan rasa ingin tahu, sehingga saya dan mungkin siapapun yang telah mengenalnya menjadi merasa nyaman bercerita dari A sampai Z dan balik lagi ke A sampai Z lagi.

Seiring waktu saya jadi tau, ada koleksi lagu-lagu yang cukup lengkap di laptop yang digunakan oleh si Mba yang dia akui sebagai milik sodaranya yang dia pinjam. Koleksi lagu yang bikin saya ngiler dan akhirnya menyalin ke flashdisk milik saya, termasuk lagu Daniel Sahuleka----yang saya kenal lewat lagu You Make My World So Colorful, yang berjudul I Adore You.
Si Mba juga yang mengenalkan saya pada hobi baru, Origami. Kegiatan yang kami kerjakan sebagai selingan saat mengunggu hasil review dari enjinir. Dari si Mba saya menyalin satu folder yang isinya berupa video cara membuat origami. Karena dengan ukuran jari-jari saya yang besar, saya sering kesulitan untuk melipat dan menekuk bentuk origami dengan detail yang rumit, namun saya mulai menyukainya.

Obrolan tentang buku merupakan salah satu obrolan yang membuat saya dan si Mba nyambung. Ternyata si Mba penggemar buku. Beberapakali saya melihat buku-buku pesanan atau majalah langganannya diantar ke kantor. Beberapa di antaranya sempat saya pinjam, seperti seri komik setebal 15 centi dan novel Pidi Baiq yang saya baca di waktu senggang. Hal-hal kecil seperti ini membuat saya tau kalau si Mba sangat perhatian kepada siapapun. Punya empati yang tinggi serta senang berbagi.

Oh, ya. Ada satu kegiatan unik yang kami lakukan setiap hari sebelum pulang yaitu “suit”. Untuk menentukan siapa yang membawa pulang kunci ruangan dan siapa yang harus pamit kepada bos, yang menang berhak memilih pamit atau bawa kunci. Saya sering geregetan karena susah sekali untuk menang suit melawan si Mba, dari berpuluh-puluh kali kami suit, saya hanya pernah menang hanya 1-2 kali saja. Arrggggh…!

Sayangnya, si Mba ku ini masih single. Saya pikir mungkin karena pembawaannya yang kelihatan serius dan kaku orang menjadi sungkan, padahal sebenarnya kalau sudah saling mengenal kita bisa jadi lupa betapa serius dan kakunya dia saat pertama kali kenal.
Saya sih ingin sekali “mengiklankan” si Mba seperti yang dilakukan Moey, siapa tau berhasil. Tapi sekali lagi saya diwanti-wanti, diancam bahkan diomeli agar tidak menulis macam-macam, padahal saya sudah penah mewawancarainya tentang kriteria seperti apa yang dia harapkan dari calon pendampingnya. Yah, saya bisa mengerti alasannya. Mungkin karena Moey adalah laki-laki, lebih cuek dan logis, sementara si Mba seperti kebanyakan wanita tentu lebih pemalu.

Mohon maaf, karena tidak diizinkannya saya mempublikasikan nama dan alamat rumahnya maka saya tidak bisa menulisnya disini.

Jul 10, 2009

Not While Eating Please


Big No While Eating

Setiap manusia pasti ingin disaat mereka makan, mereka bisa menikmati makanan yang mereka makan tanpa gangguan. Tapi untuk bisa makan tanpa gangguan rasanya sulit sekali didapat tiap orang. Memang jenis gangguannya akan berbeda pengaruhnya pada tiap orang. Ada yang tidak bermasalah jika saat makan harus ditemani lalat, tetapi ada juga yang akan menghentikan makannya jika ada satu lalat hadir didekatnya. Lalu, hal-hal apa yang mengganggu saya saat saya sedang makan?

1. Orang di dekat saya makan berdecak.
Pernah tidak melihat (atau lebih tepatnya mendengar) seseorang yang makan sampai mengeluarkan suara decak mengunyah? Buat saya yang dari kecil diajarkan untuk tidak berdecak saat makan merasa sangat terganggu jika saya sedang makan dan orang di dekat saya makan sambil berdecak. Mengunyah dengan mulut tertutup akan mengurangi kebiasaan makan berdecak. Mengunyah makanan secukupnya (tidak berlebihan dan memenuhi rongga mulut) juga membantu mengurangi decak kunyah anda.
2. Melihat darah.
Jangankan saat makan, melihat dan mencium aroma darah saat melakukan apapun bisa membuat saya muntah, dan mungkin pingsan. Herannya, harus kombinasi keduanya barulah reaksi tersebut ada. Kalau hanya melihat darah (atau apapun yang menyerupai darah) saya masih bisa tahan. Begitupun kalau hanya mencium bau amis khas darah, saya masih bisa kuat. Tapi begitu saya melihat dan mencium darah, wah…siap-siap saja.
3. Beradu argumen saat makan.
Anda mau bertengkar saat sedang enak-enaknya menikmati hidangan? Sedapnya rasa makanan akan hilang begitu emosi anda berubah, begitu darah anda mendidih. Belum pernah coba? Yuk, adu argumen sama saya sambil makan (tapi anda yang traktir) hehehehehe….
4. Melihat orang muntah saat saya makan.
Kalau hanya menirukan suara seperti orang yang hendak muntah saya masih bisa cuek-cuek saja. Tapi kalau sampai ada yang muntah dihadapan saya saat saya sedang makan, maka secara otomatis reaksi saya adalah ikut-ikutan muntah.
5. Aroma yang tidak sedap.
Aroma yang saya maksud adalah aroma-aroma yang tidak enak dicium, seperti bau sampah, bau makanan basi, bau badan, dan bau lainnya. Kalau sampai aroma tidak sedap itu mengalahkan aroma dari makanan, maka saya akan berhenti makan saat itu juga. Makanya, akan sangat hebat jika anda melihat saya makan di dekat tempat sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap.
6. Aroma yang terlalu wangi dan tajam.
Aroma yang ini justru aroma yang sebenarnya wangi, seperti parfum. Hal ini karena hidung saya yang agak sensitif, sehingga aroma yang terlalu tajam, yang mengalahkan aroma makanan yang sedang saya nikmati, bisa membuat saya berhenti makan saat itu juga.
7. Orang yang tidak berhenti berbicara saat mengunyah makanan.

Banyak orang bilang “Jangan berbicara saat mulutmu penuh” atau dalam bahasa daerah asal saya “Don’t talk when your mouth is full.” Tapi beberapa diantara kita yang entah terlalu menghargai waktu yang ada, atau alasan lainnya, sepertinya senang sekali mengobrol sambil mengunyah makanan. Seolah-olah waktu sangat sedikit sehingga kalau tidak berbicara saat itu juga maka tidak akan ada kesempatan lainnya. Tidak masalah sih kalau harus mengobrol saat menikmati makanan, tapi telan dulu makanan yang ada di mulut baru bicara.


Baru saja, tadi saat istirahat makan siang, saya bertemu seseorang yang memenuhi beberapa hal yang saya sebut diatas. Saya kesal setengah mati, hingga makanan yang saya beli saya tinggalkan dalam keadaan baru dimakan setengahnya. Orang ini satu gedung dengan saya. Makannya berdecak, dan kencang pula. Punya masalah bau badan (setidaknya saat itu ia bermasalah dengan hal itu). Terus-terusan mengoceh padahal mulutnya sedang penuh, dan ocehannya bukanlah sesuatu yang penting, bukan sesuatu yang harus disampaikan saat itu juga, bisa nanti setelah makan atau lain waktu. Terakhir, dia terus-terusan bertanya dan bertanya, seolah-olah memaksa saya untuk ikut bicara. Menyebalkan.

Bagaimana dengan anda?

Jul 8, 2009

One Day..


Pagi ini matahari bersinar terang, langit biru tanpa awan...
Gedung tinggi terlihat di kejauhan, tersamarkan kepulan asap kendaraan…
Gedung-gedung terlihat semakin buram, dan buram, dan buram…
Hingga kemudian menjadi gelap, semuanya gelap…

Cahaya datang bersama dengan hadirnya wajah
Sesosok wajah yang kukenal dengan baik…
Wajah yang tersenyum dengan indahnya…
Wajah yang memancarkan kehangatan…

Wajah itu memberikan kecupan lembut…
Tangannya menggenggam tanganku…
Menarik tanganku, menariknya untuk mengikutinya…
Memasuki sebuah rumah kecil yang indah…

Suara merdunya memenuhi telinga…
Menyanyikan lagu yang kusuka…
Sambil terus bernyanyi dan tersenyum…
Ia memelukku dengan erat…

Pundakku terguncang, suara merdunya hilang…
Pundakku terguncang, terdengar suara lain…
Suara yang berbeda namun kukenal juga…
Suara yang berkata “De..de..bangun…ada bos”

Handphone-ku


Handphone-ku

Sudah beberapa bulan ini handphone saya, Samsung tipe SGH-J200, mengalami kerusakan. Joystick (penggerak kursor) – nya sedikit susah di gerakkan ke bawah. Tadinya, karena masih ada tombol atas-bawah di samping, saya membiarkan saja. Lama-kelamaan, semua arah tidak bisa, hanya tinggal menekan tengahnya, dan kadang-kadang tombol atas yang bisa.

Keadaan joystick rusak itu saya biarkan selama beberapa waktu, karena saya masih bisa menggunakan fungsi yang lain. Meskipun saya kemudian harus merelakan tidak bisa memakai beberapa fitur kegemaran saya seperti browsing menggunakan Opera Mini, aplikasi-aplikasi seperti Yamee, e-Buddy, Nimbuzz dan skype. Pikir saya waktu itu adalah yang penting saya masih bisa membuka facebook dan browsing melalui browser bawaan handphone (Netfront). Sementara menu-menu lain di handphone masih bisa dijalankan juga menggunakan tombol atas-bawah di samping dan kedua softkeys.

Hari ini, akhirnya joystick handphone saya menyerah. Joystick handphone saya lepas dari tempatnya seharusnya berada. Sekarang, di hendphone saya ada sebuah lubang yang cukup besar, tempat joystick awalnya. Uh, sekarang hanya bisa menyesal, kenapa tidak dari awal saya perbaiki ya?

Jul 5, 2009

Nonton Ice Age 3D


Nonton Ice Age 3D

Kamis siang, setelah mendengar bahwa film Ice Age 3: Dawn of the Dinosaur sudah beredar dari hari rabunya, saya tiba-tiba ingin menonton film itu. Bulan ini memang sepertinya pecinta film dimanjakan dengan banyaknya film musim panas (summer movies) dari Hollywood yang dirilis. Setelah sebelumnya berturut-turut merilis Terminator 4, Star Trek dan Transformers 2, kini giliran Ice Age 3. Berikutnya masih banyak film yang mengantri, menunggu jadwal rilis seperti Harry Potter and the Half Blood Prince, Public Enemies, 2012, dan judul-judul lainnya.

Kembali ke hari kamis siang itu, saya menanyakan Yanti apakah mau menonton film Ice Age juga. Ternyata Yanti mau (dooh, sudah tahu sebenarnya, tapi ditanya lagi untuk memastikan hehehehe), jadi kami berencana menonton di malam harinya sepulang kerja, karena kalau Jum’at Yanti tidak bisa. Ketika Yanti mengusulkan menonton di Blitz Megaplex, saya mengiyakan, berhubung masih di awal bulan jadi masih bisa mengiyakan, dan lagi ada sesuatu yang menarik yang membuat saya juga mengiyakan (hehehehe). Kamipun janjian bertemu di Blitz dan kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing.

Pulang kerja, saya dengan santai (mengingat saya pulang 1 jam lebih awal daripada Yanti) pergi menuju Grand Indonesia. Sempat terpikir jalan kaki karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dan masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi akhirnya saya memutuskan untuk naik metro mini saja, mumpung kosong pikir saya. Tapi di pertengahan jalan ternyata banyak sekali yang naik, sampai-sampai saya yang duduk bisa terjepit oleh mereka yang berdiri (aneh kan? Ya memang begitu kejadiannya hehehe). Akhirnya, setelah beberapa menit terjepit, saya tiba di Grand Indonesia, dan langsung meluncur ke 2 tempat tujuan, toilet dan Blitz .

Seperti biasa, tempat menunggunya adalah smoking lounge. Saya tiba tepat pada saat Yanti justru baru mau berangkat. Karena masih agak lama, saya membeli minum, melihat-lihat trailer film dan berkutat dengan Facebook. Sekitar satu jam kemudian Yanti datang, dan kami masih harus menunggu selama sekitar 1 jam lagi. Yanti memberitahu saya bahwa filmnya dalam format 3-D, another surprise (hehehehe). Rupanya animo masyarakat terhadap film ini cukup tinggi, karena setelah ritual ke toilet dan membeli cemilan plus minuman, kami terpaksa menunggu hingga antrian memasuki ruangan auditorium agak sepi.

Setelah berfoto sambil mengenakan kacamata yang dibagikan, filmnya dimulai. Untuk review filmnya silakan klik disini. Komentar pertama yang keluar dari Yanti adalah “No Subtitle?” Iyalah, mungkin agak bingung juga kalau gambar yang kita lihat 3 Dimensi tapi ada teksnya, makanya tidak ada subtitlenya. Mudah-mudahan anak-anak kecil yang menonton malam itu bisa mengerti jalan ceritanya hanya dengan mendengar suara dalam bahasa inggris dan melihat gambarnya. Sepanjang film, saya tidak henti-hentinya tertawa (dan mengunyah tentunya, hehehehe). Filmnya sangat lucu, saya sampai capek tertawa terus. Tampaknya seisi ruang pertunjukan juga capek tertawa. Gambar animasinya sangat bagus, ditambah lagi format 3-dimensinya, menambah bagus animasi yang sudah bagus. Saya jadi teringat, terakhir kali saya melihat film 3-dimensi adalah waktu saya kecil di Teater Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah. Lama sekali? Iya, memang sudah selama itu saya tidak menonton film 3-dimensi. Sensasinya masih sama, menyenangkan, menakjubkan, dan membuat saya sedikit pusing karena saya harus menatap gambar baik-baik dalam waktu yang lama.

Malam yang menyenangkan, malam yang selalu membuat saya berharap……yah, biar saya saja yang tahu harapan saya sendiri hehehehe .

Awards Dua dan Tiga

Wah, senangnya dapat Award lagi.... kali ini dapat award dari my lovely Tea (bukan KKN kan sayang? :P)

Daan....eng ing eng....ini dia





Dan....sesuai petuahnya....saya juga meneruskan award-award ini.....tapi ke siapa ya? saya tidak banyak kenalan......ah, baiklah saya coba saja

buat Quino yang mengajarkan saya untuk selalu posting...
buat Andre yang mengenalkan dunia blog pada saya...
Buat Raya yang tulisannya bagus tapi gak pede...
buat Melyn...saya sukaa blognya :)
dan terakhir buaaat.....siapa ya?? Muy sajalah....supaya aktif menulis lagi, jangan fesbukan saja :P

Makasih Awardnya Tea :)-

Jul 1, 2009

Only Human


Oh Me….

Tidak semua manusia terlahir sempurna. Beberapa terlahirkan dengan kekurangan, baik secara fisik maupun non fisik. Ada yang terlahir dengan mata yang cacat, ada yang terlahir dengan telinga yang cacat, hidung yang cacat, terlahir dengan bentuk kepala yang tidak sesuai, dan lain sebagainya. Ada yang terlahir dari keluarga yang miskin, hidup berkesusahan, terlahir sebagai anak haram, hasil hubungan diluar nikah, dan lain sebagainya. Tetapi walaupun mereka terlahir dengan kekurangan, tidak akan merubah kenyataan bahwa mereka tetaplah manusia, mahluk Tuhan.

Saya bisa dikatakan terlahir sempurna. Kedua mata saya berfungsi dengan baik, dapat melihat dengan jelas. Kedua telinga saya dapat mendengar suara-suara dengan baik. Hidung saya dapat mencium bermacam bau dengan baik. Lidah saya mampu mengecap rasa dengan baik, mampu membedakan satu rasa dengan yang lainnnya. Saya diberikan pita suara yang baik, yang membuat saya bisa berbicara dan bernyanyi, mengeluarkan suara untuk berkomunikasi. Kulit saya bisa merasakan sentuhan, halus atau kasarnya permukaan sebuah benda. Semua organ tubuh saya berfungsi normal, dan saya bersyukur akan hal itu, berkat yang luar biasa.

Tetapi apa yang terjadi? Mata saya yang biasanya tajam, tidak pernah memakai alat bantu, kini berkurang ketajamannya, karena diri saya yang menggunakan kedua mata ini dengan sembrono, tidak mampu menjaganya. Telinga saya yang dulu mampu mendengar suara dari kejauhan, kini mengalami kesulitan untuk mendengarkan sesuatu dari jarak dekat, terutama jika suaranya kecil. Karena saya tidak berhati-hati, saya seringkali tidak menghindari tempat bising yang mampu merusak pendengaran saya. Hidung saya, yang dulu mampu mengendus bebauan dari jarak jauh, kini berkurang kemampuannya, karena saya tidak menghindari bau tidak sedap, yang bisa mengurangi kemampuan indera penciuman saya. Maafkan saya, yang tidak menjaga pemberian-Mu.

Saya tetap bersyukur, karena walaupun kemampuannya berkurang, saya tetap memiliki semua indera saya. Begitu banyak yang kehilangan indera mereka dan mereka tetap bersyukur atas kehidupan mereka, maka sudah sepatutnya saya bersyukur.

-Because we’re only human, oh yes we are..- (Jason Mraz-Only Human)

Garuda Di Dadaku


Garuda Di Dadaku

Beberapa hari sebelum beredarnya Transformers 2: Revenge of the Fallen, Yanti merekomendasikan untuk menonton Garuda Di Dadaku. Saya meng-iya-kan, maka Garuda Di Dadaku masuk kedalam daftar menonton saya dan Yanti. Terus terang, sebelum saya menontonnya, saya tidak berharap banyak pada film ini, mengingat ini film lokal. Bahkan setelah beberapa teman baik merekomendasikan film ini juga, saya tetap tidak berharap banyak pada film ini. Sudah terlalu banyak film mengecewakan dari sineas-sineas lokal.

Filmnya berkisah tentang seorang anak kecil berusia 12 tahun yang bernama Bayu. Bayu memiliki bakat dalam bermain sepakbola, bakat yang didapat dari (almarhum) Ayahnya. Tetapi Kakek Bayu tidak menyukai sepakbola dan melarang Bayu bermain sepakbola. Bahkan untuk membahas mengenai sepakbola juga tidak boleh. Kakek Bayu menginginkan Bayu menjadi orang sukses, dan menurutnya sepakbola bukan jalan untuk menjadi sukses. Oleh karena itu ia memasukkan Bayu ke dalam berbagai macam les, mulai dari les musik, melukis, sampai bahasa Inggris.

Bayu mempunyai seorang sahabat bernama Heri yang juga menggemari sepakbola. Hanya saja, tidak seperti Bayu, Heri tidak bisa bermain sepakbola karena dirinya lumpuh sejak kecil. Di hari ulang tahun Bayu, Heri mengajaknya menonton pertandingan final sepakbola remaja. Setelah pertandingan, mereka bertemu dengan seorang pelatih dari SSB Arsenal (kenapa harus Arsenal ya? Kan ga jago heheheheheh). Dari pertemuan itu dimulailah perjalanan Bayu yang dibantu Heri mengejar impian memakai Garuda di dada (baju tim nasional Indonesia). Berhasil tidaknya, silahkan anda lihat sendiri ya.

Film ini dikemas ringan, mengingat sasaran penontonnya kemungkinan adalah semua umur, ditambah humor-humor yang cukup menggelitik. Ide cerita yang sama mungkin sudah pernah anda temukan pada film lainnya seperti Bend it like Beckham, tapi bahkan film Hollywood juga sering mengulang ide yang sama dengan film lain, jadi saya tidak akan mempermasalahkan itu. Tidak ada akting yang menonjol, baik dari pemeran yang senior maupun yang junior. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah baiknya akting pendatang baru Emir yang berperan sebagai Bayu. Juga begitu pasnya seorang Ramzi memerankan tokoh Mang Duloh, supir Heri, dengan celotehan-celotehan dan polah tingkah lakunya yang membuat penonton tertawa. Secara keseluruhan, film ini menghibur, tidak terlalu bagus tapi menghibur. Saya bahkan berani mengatakan, menurut pendapat saya, film ini lebih baik jika dibandingkan dengan Transformer 2: Revenge of the Fallen (lagi-lagi, saya terlanjur dibuat sangat kecewa oleh Michael Bay dan tim Transformers 2 yang gagal membuat film yang lebih menarik dari apa yang sudah mereka buat).

Rate : 2/5

On That Saturday Night


On That Saturday Night

Pagi hari, terbangun oleh suara televisi. Tidak lama kemudian terdengar nada dering -Jason Mraz’s Lucky- yang hanya akan berbunyi jika satu orang tertentu menelepon ke telepon genggam saya. Setelah menekan tombol bergambar seperti gagang telepon, yang artinya saya menjawab telepon tersebut, suara yang menyejukkan hati terdengar di seberang sana. Suara itu menanyakan apakah saya masih tertidur, apakah dirinya membangunkan saya yang sedang terlelap. Segera saya menjawab tidak, karena saya memang sudah terbangun sebelum dirinya menelepon saya. Suara itu mengingatkan akan rencana yang saya dan dirinya buat di hari sebelumnya, rencana untuk membawa Aiyo-nya tersayang ke dokter, agar tidak lagi sakit, agar tidak lagi ngambek. Segera setelah sambungan telepon diakhiri, kami mandi (tidak bersama, di rumah masing-masing….saya mandi, saya tidak tahu apakah dirinya mandi karena saya tidak melihatnya saat itu, saya hanya percaya pada kata-katanya yang mengatakan bahwa dirinya akan mandi).

Selesai mandi, saya menyempatkan membuka buku-wajah (facebook), sambil berpakaian dan kemudian mengambil makanan, makanan yang saat saya makan waktu itu disebut sarapan. Dari buku-wajah, saya melihat status dirinya, menggambarkan apa yang akan dirinya lakukan hari itu, pergi ke dokternya Aiyo. Sudah ada beberapa komentar yang masuk, dan dirinya juga sudah menjawab, membuat saya bertanya apakah benar dirinya tadi mandi? Jangan-jangan malah sibuk membalas komentar pada buku-wajahnya 

Setelah sarapan saya habiskan, saya beranjak keluar rumah, dengan pakaian kegemaran saya, yang santai, sambil menenteng tas yang berisi notebook, charger notebook dan mouse. Saya berjalan agak jauh, menerjang teriknya matahari di pagi menjelang siang itu, panasnya membuat saya berkeringat. Tiba di rumah seorang teman baik, menitipkan tas berisi notebook, charger notebook dan mouse kepada seorang ibu yang bekerja di rumah itu, berpamitan, bertemu teman baik di sebuah pos penjagaan keamanan, mengobrol dengannya selama beberapa saat, mengenai gaji saya yang belum dibayarkan saat itu,dan juga mengenai keinginan adik teman baik saya itu bersekolah di tempat yang lebih murah, sesuatu yang melegakan teman baik saya.

Mengingat waktu yang tidak bersahabat, saya berpamitan pada teman baik saya, melanjutkan perjalan kakian menuju tempat yang sudah disepakati bersama dirinya. Saat sudah dekat dengan tempat yang dimaksud, telepon genggam saya bergetar, mengeluarkan nada dering singkat, yang berarti pertanda ada sebuah pesan singkat yang masuk. Dirinya mengirimkan pesan kepadaku untuk merubah tempat bertemu, padahal saya sudah dekat tempat tersebut. Segera saya balas, mengatakan padanya agar tetap di tempat awal, mengatakan padanya bahwa saya sudah dekat tempat awal. Saya pun akhirnya menunggu di tempat awal. Menunggu dan menunggu, bagian dari hidup saya, dan juga semua orang, tidak ada manusia di dunia ini yang terhindar dari kegiatan yang bernama menunggu. Tidak lama kemudian, sebuah benda yang sangat saya kenal, terlihat oleh mata saya, dan membuyarkan lamunan saya. Segera saya berdiri dari tempat yang saya duduki, berjalan cepat menuju benda yang saya kenal baik, benda yang didalamnya terdapat dirinya, benda yang diberi nama Aiyo.

Saya, dirinya dan Aiyo segera menuju dokter Aiyo. Sesampainya disana, kami menunggu Aiyo disembuhkan, melihat cara-cara para dokter menyembuhkan Aiyo. Setelah selesai, saya dan dirinya menyempatkan makan siang terlebih dahulu, makan yang sebenarnya sudah tidak siang lagi, tetapi sudah sore. Barulah setelah perut terisi tepung dan bongkahan daging, ditambah air dan buah kelapa, yang disajikan dengan es batu dan air gula, juga segelas teh yang dikemas dalam botol, disajikan dengan es batu, kami beranjak pulang. Dirinya mangantar diriku (terima kasih), lalu kemudian pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan, dirinya meminta diriku untuk datang ke rumah dirinya malam ini, sebelum saya dan dirinya pergi menemui beberapa teman dirinya, untuk menyanyi dan bergembira.

Setelah tertidur selama setengah jam, saya bergegas membersihkan tubuh saya dengan mandi. Kemudian berpakaian lengkap. Lalu setelah itu beranjak keluar rumah, dan bergegas menuju rumah dirinya. Naik angkutan umum sebanyak dua kali, ditambah satu kali menaiki sepeda motor yang dikendarai seorang bapak tua, bapak tua yang bercerita bagaimana saat-saat seperti ini, saat-saat liburan sekolah, jalanan akan ramai dipenuhi mereka yang pulang kampung. Sampai di rumah dirinya, bermain dengan kucing dirinya, diajak makan malam bersama keluarga dirinya (terima kasih), dan kemudian pergi lagi bersama dirinya dan Aiyo. Pergi menembus malam menuju tempat dimana saya dan dirinya, akan bertemu teman-teman dirinya. Tiba lebih awal, saya dan dirinya menunggu, bukan hanya menunggu teman-teman dirinya, tapi juga menunggu adanya tempat untuk kami semua bernyanyi. Menunggu sambil melihat-lihat, melihat majalah, melihat orang lain, melihat buku-wajah lewat telepon genggam. Satu-persatu teman dirinya datang, saya dikenalkan, mereka dikenalkan, saling mengenal, bertukar cerita, bertukar canda.

Saat tempat tersedia, saya, dirinya dan teman-teman dirinya bergegas memasuki ruangan, ruangan kecil dengan tempat duduk berbentuk L, meja, televisi layar lebar, layar monitor, dua buah mikrofon dan sebuah alat pengendali jarak jauh berukuran besar. Semuanya bernyanyi, tertawa, bergembira, mengeluarkan asap, minum, tidur, semua dilakukan di ruangan kecil itu. Semua dilakukan sampai lewat tengah malam. Setelah itu, semua meninggalkan tempat itu, menuju rumah masing-masing. Saya, dirinya dan Aiyo pulang melewati jalanan yang gelap dan sepi, jauh lebih sepi dibandingkan pagi, siang atau sore hari. Tetap bertukar cerita, bertukar canda, tersenyum, tertawa. Sampai di rumah, mengganti pakaian, mencuci muka, menyikat gigi, minum air putih, mengirim pesan singkat pada dirinya, mengucapkan selamat malam, dan kemudian dengan senyuman yang lebar saya tertidur.

Hari yang menyenangkan.

Bagaimana tidak? Apakah anda tidak senang menghabiskan satu hari bersama seseorang yang anda cintai? Tentu saja semua akan senang menghabiskan waktu bersama yang dicintainya, begitupun saya. Dirinya mempercayai bahwa tiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaan dirinya sendiri, bahwa tidak ada yang bisa membuat seseorang bahagia selain dirinya sendiri, dan ya, saya memilih untuk berbahagia bersama dirinya 

“Lucky I’m in love with my best friend…” (Lucky – Jason Mraz featuring Colbie Caillat)

Transformer –Was it Worth It?- (Spoiler Alert!!)


Transformer –Was it Worth It?- (Spoiler Alert!!)

Peringatan! Bagi yang belum menonton Transformer 2: Revenge of the Fallen dan bagi yang tidak menyukai Spoiler, jangan teruskan membaca.

Transformer 2 sudah merupakan salah satu film yang saya ingin lihat sejak lama. Yanti juga bersemangat menanti waktu pemutaran film ini, mengingat film pertamanya yang beredar tahun 2007 cukup bagus. Karena itu, begitu mendengar Transformer mulai tayang Rabu kemarin (24 Juni 2009) kami langsung merencanakan menonton film ini. Sepertinya tidak hanya kami yang bersemangat, hampir semua penduduk Jakarta berniat menonton film ini sehingga tiket menonton di hari-hari awal pemutarannya cepat sekali terjual habis, meneruskan apa yang terjadi pada saat salah satu film Indonesia diputar beberapa waktu sebelumnya.

Cepatnya tiket terjual habis juga kami alami di hari Kamis, hari pertama kami berusaha mendapatkan tiket. Waktu itu Yanti dan beberapa teman kantornya memutuskan untuk menonton di hari itu juga (rencana sebelumnya adalah beramai-ramai menonton di MPX, yang menurut perkiraan kami akan sepi, tidak seperti bioskop lainnya). Jadilah kami berusaha menonton di Taman Ismail Marzuki yang murah meriah (maklum, hari itu belum gajian jadi pilihannya adalah tempat yang murah). Ternyata, tiketnya habis. Sebenarnya tidak habis sih, masih ada bangku yang kosong saat kami tiba disana, tapi tidak cukup untuk rombongan kami dan posisinya di deretan bangku terdepan. Batal di hari itu maka kami kembali ke rencana awal untuk menonton di MPX (biarpun kalau pada akhirnya hanya tinggal berdua, yang mana kami punya pengalaman buruk nonton berdua di MPX – baca so much for Grande).

Di hari yang ditunggu, pada akhirnya hanya 4 orang yang menonton. Saya, Yanti, Ananta dan Mas Santo. Ananta dan Mas Santo adalah teman kantor Yanti. Kami mendapatkan tiket, dan tempat duduk yang tidak terlalu buruk. Ananta sangat senang berhasil mendapatkan tiket menonton Transformer 2, dan sejujurnya saya juga, hanya saja saya tidak terlalu menunjukkannya (hehehehe). Lalu, bagaimana film yang saya tungu-tunggu ini? Baguskah? Maaf jika saya menjadi orang yang sebenarnya saya tidak suka (menjadi seorang Spoiler), tapi bagi yang tidak berkeberatan dengan seorang spoiler, mudah-mudahan apa yang saya tulis bisa membantu anda menentukan pilihan untuk menontonnya atau tidak.


-Spoiler Alert!!- Teruskan membaca dengan resiko sendiri.


Filmnya diawali sebuah narasi dari Optimus Prime tentang manusia dan pertemuan pertama manusia dengan para transformer. Kisah kemudian beralih ke masa kini dimana manusia bersama para Autobots bahu membahu menumpas Decepticons yang masih tersisa di bumi. Optimus Prime mendapat peringatan dari sebuah robot Decepticons yang ia musnahkan di Cina, bahwa The Fallen akan bangkit kembali. Saat kembali ke markas, Autobots diminta untuk meninggalkan bumi oleh perwakilan Presiden Amerika Serikat karena dianggap bahwa Decepticons masih menyerang bumi karena Autobots ada di bumi. Optimus menyetujui, tetapi hanya setelah perwakilan Presiden itu menanyakan kepada Presiden “Apa yang akan terjadi kalau mereka (manusia) salah dan para autobots sudah tidak ada lagi di bumi?” Sebuah pertanyaan yang membuat perwakilan Presiden tidak mampu berkata-kata.

Kisah beralih ke Sam Witwicky (Shia LaBoeuf) yang akan segera memasuki dunia kuliah, dan kisah cintanya dengan Mikhaila (Megan Fox). Terjadi kekacauan di rumah Sam setelah Sam secara tidak sengaja menemukan dan menyentuh pecahan Cube Allspark (dari Transformer pertama) dan menyebabkan seluruh peralatan elektronik di dapur rumahnya berubah menjadi robot-robot yang menyerang Sam dan keluarganya. Beruntung ada Bumblebee yang menolong Sam (sekaligus memporak-porandakan rumahnya). Sam kemudian meminta Mikhaila untuk menyembunyikan pecahan cube allspark tersebut. Setelah itu, Sam memulai kehidupannya di Kampus, terpisah dari Mikhaila, dan juga Bumblebee karena mahasiswa tingkat pertama dilarang membawa mobil.

Sam kemudian sempat bertemu Optimus Prime setelah Bumblebee menjemputnya dengan paksa saat Sam sedang berada dalam sebuah pesta di kampus. Optimus Prime meminta bantuan dari Sam, manusia yang ia percaya. Sam menolak dengan alasan bahwa ia punya kehidupan sendiri yang ingin ia jalani, dan bahwa seorang Optimus Prime tidak membutuhkan bantuannya. Sementara itu, Soundwave, salah satu robot Decepticons berhasil menyadap satelit manusia dan memperoleh informasi tentang tempat penyimpanan pecahan cube allspark (selain yang dimiliki oleh Sam), dan lokasi dimana mayat Megatron ditenggelamkan. Dari informasi yang didapatkan, Decepticons berhasil mencuri pecahan cube allspark dan menggunakannya untuk membangkitkan kembali pimpinan mereka, Megatron. Dengan bangkitnya Megatron, Decepticons berencana mulai menyerang bumi sambil berusaha menemukan alat yang bisa menciptakan Energon, sumber tenaga Transformer, yang berada di bumi dan tersembunyi. Mereka mengincar Sam karena Sam mengetahui rahasia letak sumber tenaga tersebut, karena informasi yang tersembunyi di dalam cube allspark berpindah kedalam otaknya setelah Sam menyentuh pecahan cube allspark.

Demi melindungi Sam, Optimus Prime akhirnya terbunuh. Sam berhasil kabur bersama Bumblebee, The Twins, Mikhaila dan salah seorang teman asramanya, Leo. Karena kerusakan yang ditimbulkan, Presiden Amerika Serikat meminta Autobots sesegera mungkin meninggalkan bumi. Sementara Sam, yang diminta oleh pimpinan Decepticons untuk diserahkan agar bumi selamat, menjadi buronan dan bersembunyi dari tempat umum. Sam kemudian bertemu kembali dengan (mantan Agen) Simmons, guna mencari jawaban dari simbol-simbol yang ada di otaknya. Bersama-sama mereka berusaha mencari alat pencipta energon yang juga dicari Decepticons, untuk menghidupkan kembali Optimus Prime. Sam dan kawan-kawan kemudian mengetahui sejarah tentang kedatangan transformer untuk pertama kali, dan mengapa Decepticons ingin mencari alat pencipta energon tersebut, dari sebuah robot tua Decepticon yang membelot membela Autobots, Jetfire.

Setelah berhasil menemukan kunci untuk menghidupkan alat pencipta energon yang dimaksud, tugas Sam berikutnya adalah menggunakan benda tersebut (yang hancur menjadi debu) untuk membangkitkan Optimus Prime. Berhasilkah Sam membangkitkan Optimus Prime kembali? Apakah Autobots kembali meraih kemenangan atas Decepticons? Atau Decepticons yang kali ini meraih kemenangan? Lalu siapakah sebenarnya The Fallen? Semua bisa anda saksikan sendiri.

Saya merasa film ini terlalu dipaksakan untuk dibuat. Mungkin karena takut euforia dari Transformers yang pertama hilang sehingga sepertinya film ini agak kurang digarap dengan baik (sedikit pengecualian untuk CGI dan adegan laganya). Atau mungkin juga karena tekanan berbagai pihak yang menginginkan film ini cepat dibuat dan dirilis, karena rumor akan adanya sekuel Transformers sudah berhembus sejak film pertamanya keluar.

Saya hanya mau bilang, jika anda berminat menontonnya, pastikan setelah beberapa waktu, atau mungkin beli saja DVD bajakannya, lebih murah. Kenapa demikian? Karena buat saya film-nya tidak terlalu bagus untuk dibela-belain berburu tiket dan mengantri, keluar keringat dan biaya besar. Kenapa begitu? Film ini memang dipenuhi adegan laga dan tembak-menembaknya (ciri khas Michael Bay?), CGI yang sangat bagus, tata suara yang menakjubkan, tapi ceritanya sangat datar, dipanjang-panjangkan, dan tidak terfokus, jadinya tidak jelas dan membosankan. Saya kemudian mengerti kenapa Roger Ebert hanya memberikan 1 bintang untuk film ini. Saya sendiri mungkin hanya memberikan 2 bintang dari 5 maksimal, itupun karena saya berbaik hati sebagai penggemar film kartun Transformers.

Sekali lagi, semua pilihan ada di tangan anda, apakah anda ingin menontonnya atau tidak. Mohon maaf sudah men-Spoil kegemaran menonton anda. Sesekali bolehlah saya nakal sedikit, tidak akan menjadi kebiasaan kok . Toh saya tidak menceritakan bagaimana akhir film membosankan ini.


-From now on, remember what I have done to this world-

Gerrardino Togar Putra


Gerrardino Togar Putra

Sabtu malam, 20 Juni 2009, sewaktu saya sedang berada di rumah Yanti, sebuah pesan singkat masuk ke handphone saya. Isinya “A new liverpudlian was born today..Gerrardino Togar Putra..w 3,19 kg, h 49 cm..ynwa...” Pesan singkat tersebut dari sahabat baik saya, Alfred Roy Marlo (Ook), yang beristrikan sahabat baik saya juga, Pudji Rahayu (Poo). Melihat kata “Liverpudlian” (penggemar klub Liverpool) saya seharusnya kesal, tapi untuk liverpudlian yang satu ini saya sangat senang. Saya senang dua sahabat baik saya mendapatkan buah hati mereka.

Hari senin, 22 Juni 2009, saya dan Yanti pergi ke Rumah Sakit St. Carolus untuk mengunjungi Pudji, Ook dan Gerrard. Karena sudah mengetahui di ruang mana Pudji dan Gerrard menginap dari Ook, saya dan Yanti langsung menuju informasi menanyakan letak kamar tersebut. Setelah mendapat petunjuk lengkap, kami bergegas menuju ruangan tersebut. Sesampainya di ruangan yang dituju, saya sempat bingung ada dimana Pudji, karena ternyata di dalam ruangan itu terdapat banyak tempat tidur dan hampir semuanya tertutup tirai. Tidak mungkin dong saya mengintip ke setiap tirai yang tertutup. Akhirnya saya kembali keluar ruangan, sambil memastikan apakah benar yang sekilas saya lihat dari luar jendela adalah Pudji. Ternyata benar Pudji, meski tidak jelas sedang apa. Sesaat kemudian Ook datang bersama Ibunya, Ibu mertuanya, dan Adiknya, Uteng. Ook mengatakan pada saya bahwa Pudji ada di tempat tidur dekat jendela. Saya kemudian masuk dan mencoba melihat ke balik tirai, namun Pudji sedang menyusui, jadi saya keluar ruangan lagi dan mengobrol dengan Ook. Setelah sempat ke toilet sebentar, akhirnya saya diperbolehkan masuk untuk melihat Gerrard.

Lucuuuuuu….. Gerrard lucu, mungil, merah, ganteng. Saking gemasnya, saya berkali-kali mencubit Pudji (iya dong, daripada saya cubit Gerrard :P) dan Yanti (maaf ya, yang terdekat kamu ma Pudji sih :P). Matanya sipit, yang menurut pudji mirip Kakeknya Gerrard (Bapaknya Ook). Hidungnya jelas bukan hidung Pudji yang mancung dan bentuknya bagus, mungkin hidungnya Ook (bukan berarti Ook tidak mancung, tapi hidungnya tidak sebagus Pudji). Bibirnya jelas bukan bibir Pudji juga, lebih ke bibirnya Ook. Telinganya, jelas telinga Pudji, dan yang paling akhir, kata Pudji, keningnya mirip kening Pudji (ya ya ya…saya lupa melihat keningnya…benar mirip). Benar-benar perpaduan kedua orang tuanya.

I love babies, and I really love little Gerrard. Selamat datang di dunia Gerrard. Semoga menjadi anak yang baik, yang bisa membahagiakan orang tua dan keluarga. GBU.

Oh….jangan ikut-ikut bapak jadi Liverpudlians ya Gerrard. Biarpun nama kamu diambil dari gelandang terbaik Liverpool, tapi klub terbaik di Inggris itu Manchester United .

Where Did You Go Queen Bee?


Where Did You Go Queen Bee?

Beberapa waktu yang lalu, saat sedang mengobrol di kantor, Mba Raya melihat sesuatu di jendela. Saat saya menoleh, saya melihat apa yang dilihat Mba Raya, seekor serangga menempel di jendela. Tertarik, kami mendekati jendela tersebut dan memperhatikan serangga yang menempel pada sisi luar jendela. Saya dan Mba Raya kemudian berusaha memotret serangga tersebut.

Serangga yang menempel pada jendela waktu itu adalah seekor lebah besar. Tidak gemuk, tidak juga berwarna oranye-hitam (seperti kebanyakan digambarkan). Sebenarnya mungkin hanya lebah biasa, tapi ukurannya yang besar membuatnya berbeda di mata kami. Saya pribadi belum pernah melihat lebah sebesar itu. Kalau saya melihatnya terbang di dekat saya, pastilah saya tidak akan terkagum-kagum melihatnya, dan akan berlari secepat mungkin menjauh dari lebah itu. Tapi kali ini, karena saya bisa dengan tenang mengamatinya, saya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengagumi lebah itu.

Saya menyebutnya Queenbee (Ratu Lebah – entah apakah ia benar ratu lebah atau hanya lebah pekerja biasa), karena ukurannya yang besar dan keanggunannya layaknya ratu. Pada awal kedatangannya, Queenbee tidak memiliki sungut…atau alat penyengatnya…saya lupa namanya apa, apa benar ya namanya sungut? Di hari berikutnya, Queenbee kembali mampir ke jendela yang sama, namun kali ini di bagian ekornya sudah terlihat ujung yang tajam seperti duri. Alat penyengatnya sudah kembali. Queenbee kembali datang di hari berikutnya, sampai-sampai saya menganggapnya sebagai teman baru kami. Setiap kali hadir Queenbee akan selalu berada di tempat yang sama.

Sampai suatu hari, kami tidak melihatnya lagi. Queenbee yang selalu menghiasi jendela ruangan lantai 6 tidak terlihat lagi. Yang terlihat kini hanya gedung-gedung di kejauhan, langit biru dan awan putih (plus kepulan asap kendaraan). Kemana perginya Queenbee? We misses you….

- God Save the Queen -

Jun 21, 2009

Hari Nonton Sedunia


Hari Nonton Sedunia

Rabu ini saya tidak masuk kerja karena sampai jam 7 pagi mata saya tidak bisa diajak kerja sama untuk terbuka. Sekalinya mata saya terbuka, ganti kepala saya yang tidak bisa diajak kerja sama, pusiiiiing banget. Sepertinya pengaruh sulit tidur saya datang lagi, pasti ada satu hari dimana tubuh saya berontak dan minta diistirahatkan sepenuhnya. Agak aneh, karena sebenarnya Minggu-nya saya Hibernasi total, tidak kemana-mana, tidak beraktifitas yang menyebabkan saya lelah, hanya beberapa jam didepan komputer warnet pada minggu malamnya. Lalu kenapa ya tubuh saya minta diistirahatkan? Apakah karena yang menyebabkan saya susah tidur selasa malamnya adalah karena terlalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya konyol dan tidak saya inginkan? Entahlah, bisa jadi juga, but I don’t know. Yang saya ketahui, hari rabu pagi tubuh saya menolak berangkat kerja.




Setelah mengabari orang kantor tentang ketidak hadiran saya hari itu, saya mencoba untuk tidur. Tapi kemudian saya harus beradu argumen dulu dengan Yanti tentang hal konyol yang saya pikirkan semalaman (I was so stupid, sorry Tea, won’t happen again, I promise) selama beberapa saat. Setelah masalahnya selesai, saya kemudian tertidur. Sekitar jam 11 (sebelas) siang, saya terbangun dengan keadaan kepala saya sudah agak berkurang pusingnya. Karena mata tidak mau kembali terpejam, saya akhirnya melanjutkan film “Ichi” yang sempat terhenti dua malam sebelumnya. Film “Ichi” menceritakan tentang seorang wanita buta yang jago pedang, sedang bekelana mencari guru yang sekaligus ayahnya. Selain itu ada juga seorang samurai yang penampilannya meyakinkan, tapi mencabut pedangnya saja tidak mampu. Keduanya harus berhadapan dengan segerombolan penjahat. Gaya pengambilan gambar film ini sangat seperti film-film serial jagoan bertopeng atau tokusatsu Jepang masa kini, seperti Kamen Rider Blade, Kuuga, dan lainnya. Kemudian karena cerita di bagian awalnya sangat lemah, kemudian para pemerannya juga tidak terlalu mencolok permainannya, membuat film ini agak membosankan awalnya. Tapi di sepertiga bagian akhir, film ini mulai menunjukkan inti cerita yang tidak terlalu ringan. Rahasia mengenai sang jagoan wanita, Ichi, dan rahasia samurai penakut (yang dipanggil sensei – guru) digambarkan dengan baik. Meskipun lagi-lagi saya tetap kecewa dengan pengambilan gambar, film ini pada akhirnya saya beri nilai 2,5/5.



Oh, Yanti sempat menelpon saya di pertengahan film “Ichi” sekedar mengingatkan saya untuk makan (senangnyaaa…hehehe). Selesai menonton “Ichi”, saya melanjutkan menonton film “Hotel for Dogs”. Film ini sangat ditujukan buat penonton remaja, atau keluarga. Menceritakan tentang Kakak-beradik yatim piatu dengan seekor anjingnya yang bernama Friday. Mereka menemukan sebuah gedung bekas hotel. Mereka kemudian menggunakan gedung itu sebagai tempat mereka merawat anjing-anjing terlantar. Dengan kepintaran sang adik dalam membuat alat, mereka bisa memberikan banyak hiburan untuk anjing-anjing yang ditampung disana, anjing-anjing yang mereka anggap keluarga mereka. Sebagai film keluarga, film ini cukup menghibur. Saya sendiri sangat senang menontonnya karena begitu banyak anjing lucu yang ada di dalam film ini. Sebut saja jenis poodle, hound, pug, rough collie, german Sheppard, sampai Doberman ada disini. Untuk film ini saya beri nilai 3/5 karena banyaknya anjing. Kalau tidak ada anjing, 1,5/5 cukup.



Setelah “Hotel for Dogs” saya kembali tidur, kepala saya mulai pusing lagi. Setelah tidur sekitar 2-3 jam, saya terbangun pada jam 5 sore dengan keadaan pusing di kepala saya hilang. Setelah minum air dan menerima telpon dari Yanti, saya kemudian menonton film yang saya beli minggu lalu saat saya menunggu Yanti olah raga, “Silent Hill”. Film ini sebenarnya film yang sudah sangat saya tunggu waktu belum beredar, tapi kemudian saya selalu lupa membelinya (karena tidak pernah melihat film ini dijual di tempat biasa saya membeli) ketika sudah beredar. Ceritanya tentang seorang Ibu bernama Rose yang membawa putri angkatnya, Sharon, ke sebuah tempat bernama Silent Hill, karena putrinya tersebut sering mengalami mimpi mengenai Silent Hill. Keduanya mengalami kecelakaan. Saat tersadar, Rose mendapati bahwa putrinya menghilang. Jadilah Rose mencari Sharon di kota yang penuh dengan kejadian dan mahluk menyeramkan. Filmnya baguuus banget. Gelap, seram, menegangkan, pokoknya semua elemen horror ada deh. Saya suka horror seperti ini, makanya saya kasih nilai 4/5.



Terakhir, setelah menonton “Silent Hill”, saya menonton “Inkheart”, film yang saya beli karena menurut info yang saya dapat, digadang-gadang sebagai film fantasi yang mampu menyaingi The Chronicles of Narnia. Ceritanya tentang Mortimer, seorang Silvertongue, yang jika membaca buku keras-keras maka tokoh atau apapun dalam buku itu akan keluar dari buku dan menjadi nyata. Tapi tidak hanya itu, sesuatu dari dunia nyata juga akan masuk ke dalam buku tersebut sebagai penggantinya. Suatu hari, Mortimer membaca buku berjudul Inkheart dan mengeluarkan beberapa tokoh, tokoh jahat dan baik seperti Carpicorn dan Dustfinger, dan tanpa sengaja memasukkan Istrinya ke dalam buku. Seumur hidupnya Mortimer mencari buku yang langka itu, agar bisa mengeluarkan istrinya dari buku tersebut. Film ini lumayan menarik, tapi penggarapannya agak kurang. Entah ya, saya belum membaca novelnya, tapi apakah mungkin karena di novelnya ceritanya memang kurang greget? Atau memang karena pembuat filmnya? Anyway, apapun alasannya, mungkin perlu dipikirkan lagi menyamakan ini dengan Narnia (terutama Prince of Caspian, jauh bangeet kalahnya Inkheart). Sebagai film fantasi, Inkheart masih belum bisa disandingkan dengan Narnia. Dengan sedikit perbaikan mungkin bisa, tapi mengingat keadaannya yang sekarang, mungkin lebih cocok disandingkan dengan Bridge to Terabithia dan The Seeker (kalau kurang setuju maaf ya, ini cuma pendapat saya lho).

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan lewat jam 9 malam. Kenapa ya waktu berlalu cepat sekali kalau kita melakukan sesuatu yang kita sukai atau saat bersama dengan seseorang yang kita cintai? Apapun alasanya, yang penting rabu ini saya deklarasikan sebagai Hari Menonton Sedunia milik saya di bulan Juni. Bulan depan tanggal berapa ya enaknya? Hehehehehe…