Showing posts with label keluh kesah. Show all posts
Showing posts with label keluh kesah. Show all posts

Jul 4, 2012

Catatan Pendek

Sejujurnya, banyak ide di kepala saya selama beberapa bulan ini...tapi sayangnya, waktu tidak memungkinkan...di kantor tidak mungkin, di rumah yang ada tinggal tidur aja...maklum, tiap hari menempuh jarak bekasi-tanah abang pp...

Jan 24, 2012

Xenia Maut, Contoh Betapa Tidak Bertanggung Jawabnya Pengguna Jalanan Jakarta

Xenia Maut Tugu Tani (detik.com)
Di suatu siang yang cerah, sebuah mobil bermerk Daihatsu Xenia menabrak belasan orang di trotoar di sekitar Tugu Tani. Hingga saat ini tercatat 9 orang meninggal dan 3 luka berat akibat kecelakaan ini. Berita mengenai kejadian ini menyebar luas dengan cepat di berbagai media. Bagi yang belum mengetahuinya, bisa dilihat di sini. Pengemudi Xenia tersebut adalah seorang wanita berusia 29 tahun, yang setelah diselidiki oleh pihak berwajib ternyata tidak memiliki SIM dan berada dalam pengaruh alkohol dan narkotika. Kendaraan itu sendiri sampai saat ini setelah diteliti, tidak menjadi penyebab kejadian ini, tidak ada rem blong, tidak ada cacat pada sistem pengendalian kendaraan, semua murni terjadi karena tindakan sang pengendara.

Bukannya mau ikut-ikutan memberitakan, saya hanya ingin sedikit memberikan pendapat saya tentang kejadian tersebut. Pertama-tama jelas saya turut merasakan duka mendalam bagi para korban. Tidak ada dalam pikiran mereka bahwa trotoar yang memang dikhususkan bagi pejalan kaki, serta halte bus yang diperuntukkan untuk menunggu angkutan umum akan menjadi tempat mereka menemui ajal. Tapi semua sudah terjadi, hal ini tentunya akan mengingatkan kita untuk selalu waspada, bahkan saat berada di tempat yang anda pikir merupakan tempat yang aman bagi anda.

May 5, 2010

B9, B10, B11

Haaaiiii….

Sudah nonton film “Manusia Setrikaan Kedua” –Iron Man 2- belum? Kemarin –Selasa, 4 Mei 2010- atas prakarsa seorang wanita berparas manis, saya menonton film yang sepertinya banyak dinanti orang tersebut. Bagaimana tidak banyak dinanti? Semenjak tiketnya dijual pertama kali pada Rabu minggu sebelumnya, begitu banyak orang yang terlihat Excited dengan kehadiran film tersebut. Akun Twitter saya sampai dipenuhi dengan ReTweet orang-orang yang senang karena telah mendapat tiket menonton Iron Man 2. Entah kenapa mereka sampai berlebihan seperti itu, padahal filmnya hanya film yang tidak terlalu istimewa. Atau karena mereka mengidolakan sang superhero? Saya malah berpikir kalau penggemar Batman, Superman dan Spiderman lebih banyak.

Iron Man jilid pertama menceritakan tentang bagaimana seorang multi milyarder yang bernama Tony Stark bisa menjadi sang Manusia Besi. Sebuah film superhero dengan efek khusus yang sangat baik. Tapi ya itu saja kelebihannya. Dalam jilid kedua ini kisahnya melanjutkan kisah dalam jilid pertama setelah beberapa tahun kemudian. Dikisahkan bagaimana sang superhero mengalami kejenuhan akibat tidak adanya lawan yang seimbang, perseteruan dengan pesaing bisnis, sampai ke munculnya seseorang yang mampu menciptakan reaktor mini yang mirip dengan kepunyaan sang superhero.

Eniweey…saya menulis kali ini bukan untuk membahas bagaimana serunya film tersebut. Saya lebih berkeinginan berbagi tentang apa yang terjadi saat saya dan seorang wanita berparas manis menonton film tersebut.

Saya dan wanita berparas manis memutuskan menonton di Plaza Indonesia XXI, jam pertunjukan 19.30. Karena memesan tiket melalui M-Tix, kami tidak bisa memilih tempat duduk yang kami inginkan. Tempat duduk yang kami dapatkan adalah B7 dan B8. Saya lebih senang menonton dari kursi deret A, karena pasti terhindar dari tendangan kaki penonton dibelakang –secara baris A adalah baris paling belakang-, tapi karena tidak bisa memilih ya saya terima saja duduk di baris B. Untungnya B7 dan B8 terletak agak di tengah-tengah, saya agak kurang bisa menikmati film kalau duduk di pinggiran.

Untung? Setidaknya saya pikir seperti itu……

Sebelumnya, biar saya jelaskan dulu kenapa lokasi yang terpilih adalah Plaza Indonesia. Pertama, dari sekian banyak lokasi bioskop yang dekat dengan kantor kami, Plaza Indonesia adalah lokasi terdekat yang menyediakan fasilitas M-Tix. Kedua, kebetulan saat itu Plaza Indonesia XXI menayangkan film Iron Man 2 di 3 (Tiga) studio sekaligus, sehingga ada banyak pilihan waktu menonton. Ketiga, dan ini pendapat pribadi saya, suasananya enak, karena Plaza Indonesia tergolong tempat untuk kalangan menengah keatas maka fasilitas yang disediakan sangat baik. Keempat, kembali pendapat pribadi saya, karena tempatnya yang eksklusif saya merasa seharusnya tempat tersebut dikunjungi oleh orang-orang yang berpendidikan, tidak norak, dan sedikit banyak mengerti peraturan.

Kembali ke kejadian saat menonton. Beberapa menit film diputar, mulai terasa ada hal-hal yang mengganggu. Suara-suara mengobrol sambil berbisik sesekali terdengar, namun karena sudah memaklumi sifat penonton Indonesia saya tidak bereaksi, setidaknya sampai batas volume suara tertentu. Lalu ada juga beberapa yang menggunakan telepon genggamnya, menyebabkan kesilauan sesaat. Tapi gangguan-gangguan itu belum seberapa jika dibandingkan dengan gangguan yang dialami oleh wanita berparas manis teman menonton saya.

Apa yang dialami olehnya adalah sesuatu yang bisa membuat saya meledak-ledak, dan bahkan mungkin akan memasukkan Plaza Indonesia XXI ke dalam daftar bioskop yang tidak akan dikunjungi. Sebagai orang yang mengenyam pendidikan dan mengerti peraturan saat menonton film di bioskop, saya mengerti dan mematuhi dengan baik semua peraturan yang ada. Telepon genggam sudah dalam kondisi Silent, dimasukkan ke dalam tas dan tas tersebut saya letakkan dibawah tempat duduk, jadi tidak ada yang akan terganggu oleh telepon genggam saya. Saya tidak mengangkat kaki, tidak menyandarkan kaki pada tempat duduk di depan saya, dan juga tidak menendang-nendang tempat duduk di depan saya. Saya duduk tenang, menikmati film yang ditayangkan, berbisik jika memang ada yang harus dibicarakan pada teman menonton. Hampir semua yang saya lakukan, TIDAK dilakukan oleh orang yang duduk di tempat duduk B9, B10 dan B11, tempat duduk yang lebih dekat dengan wanita berparas manis teman menonton saya.

Tempat duduk B9 diisi oleh seorang wanita bertubuh kurus, dengan rambut diikat, mengenakan kemeja dan rok. Tempat duduk B10 diisi seorang wanita berjilbab bertubuh sedang. Tempat duduk B11 diisi seorang wanita berkacamata dan sedikit gemuk. Ketiganya selalu berceloteh tanpa memelankan volume suara mereka, untuk mengomentari setiap adegan yang ada. Biarpun sudah diminta untuk diam –secara tidak langsung, dengan mengeluarkan suara ssshhhhh- tapi mereka tetap menjadi komentator film di malam itu. Selain itu, beberapa kali saya mendapati B9 menggunakan telepon genggamnya, mungkin untuk mengirim SMS kepada seseorang, dan isi SMS itu adalah komentarnya yang tidak penting atas film yang ditontonnya. Lalu beberapa saat setelah seorang teknisi memperbaiki pendingin udara –lebih tepatnya menurunkan temperatur pendingin udara- B9 mulai bergerak-gerak yang tidak perlu. Gerakannya seperti seseorang yang menahan keinginan buang air karena dinginnya udara di dalam ruangan. Buat saya, tingkah laku norak mereka seperti tingkah laku seseorang yang belum pernah menonton film di bioskop.

Begitulah, wanita berparas manis teman menonton saya sepanjang pertunjukan terganggu oleh tingkah laku norak dan kampungan dari penonton yang pada tanggal 4 Mei 2010 duduk di B9, B10 dan B11, Teater 2, Plaza Indonesia XXI, jam pertunjukan 19.30 WIB.


Apr 22, 2010

Telepon

Nomor telepon seluler saya yang baru ini bermasalah....

Masalahnya bukanlah masalah teknis seperti tidak dapat digunakan berkomunikasi, tapi lebih ke masalah non-teknis. Belakangan ini banyak nomor-nomor dari orang yang tidak saya kenal, menghubungi saya. Saya sangaaaat tidak suka hal seperti ini.

Nomor pertama yang "nyasar" ke telepon saya adalah sebuah nomor yang mengirim pesan singkat bahwa saya memenangkan sejumlah uang dan ia "mengaku-ngaku" sebagai perwakilan perusahaan operator telepon seluler yang saya pakai. Karena saya tau ini adalah salah satu modus penipuan, saya cuekin pesan singkat tersebut, dan bahkan akhirnya setelah mencatat nomor pengirimnya -dengan tujuan melaporkannya ke polisi- saya menghapus pesan tersebut -bodohnyaa...gimana bisa melapor kalau tidak ada bukti, Nod??- tidak lama setelah saya hapus pesan tersebut, nomor yang sama kembali mengirimkan pesan yang sama pula. Mulai kesal, saya benar-benar menelepon nomor yang diakuinya sebagai nomor customer service, sekedar ingin mendengar suara -dan memaki- si penipu. Suara yang saya dengar adalah suara seorang pria, yang mengatakan "kami sedang sibuk saat ini pak, mohon hubungi kembali nanti ya". Setelah menelepon, saya kembali menghapus pesan singkatnya -dooh, ga jadi melapor lagi deh-.

Esoknya, nomor tersebut kembali mengirimkan pesan singkat kepada saya. Tidak tanggung-tanggung, kali ini 3 pesan sekaligus mampir ke telepon seluler saya secara bersamaan. "What the h**l??" Akhirnya saya memutuskan untuk memasukkan nomor tersebut ke dalam blacklist telepon saya -setelah menghapus satu nomor dalam blacklist karena kepenuhan :P- dan nomor itu tidak lagi mengganggu saya.

Setidaknya saya pikir begitu......

Beberapa hari kemudian nomor berbeda mengirimkan saya pesan yang sama. Nomor yang dijadikan customer service juga sama. Dalam artian, ini adalah penipu yang sama, dengan nomor berbeda.

Di lain hari, saya menerima pesan sinkat yang bertuliskan "Assalamualaikum...mus, pa kbr nih? msh ingat g ma q?". Merasa tidak memiliki nama panggilan "mus", saya membalasnya dengan "Walaikumsalam. Maaf anda salah sambung, saya bukan Mus". Tidak lama dibalasnya pula pesan singkat saya, katanya "oh ya? kl gt ni siapa? blh kenalan kan?". Aduuuuhhh...saya paling males nih kalau dapet pesan singkat begini, orang-orang itu apa maunya sih nyari kenalan dengan cara begini? Saya tidak balas pesan tersebut. Bukannya berhenti mengganggu saya, nomor tersebut malah menelepon saya berkali-kali. Tapi setiap saya angkat, langsung ditutup bahkan sebelum saya bilang "halo". Karena kesal saya masukkan nomor tersebut ke dalam blacklist.

Dua hari setelahnya, alias KEMARIN, saya kembali mendapat pesan singkat nyasar yang menganggap saya bernama Eno, pesan singkat yang bertuliskan "Malam Eno...Eno besok masuk ga?". Saya tidak membalas. Untungnya nomor terakhir tidak menganggu lagi tanpa saya masukkan ke dalam blacklist

Saya heran, darimana orang-orang yang tidak saya kenal itu mendapatkan nomor baru saya? Padahal, karena sudah sering mengalami gangguan dari orang tak dikenal, saya selalu berhati-hati untuk tidak mencantumkan nomor telepon seluler saya secara sembarangan. Saya hanya memberitahukan nomor telepon seluler saya kepada beberapa orang terdekat saja. Nomor telepon di status Facebook masih yang lama, belum di-update, dan itupun privacy setting-nya terbatas pada beberapa orang yang benar-benar saya kenal saja. Saya hanya membeli pulsa dalam bentuk voucher fisik, kalaupun harus elektrik saya hanya melakukan transaksi dengan orang yang saya percaya, yaitu pada teman kantor saya dan tetangga saya, mereka yang saya yakini tidak akan menyebarluaskan nomor telepon seluler saya pada orang lain yang tidak saya kenal. 

Lalu bagaimana caranya nomor telepon saya bisa berada di tangan orang-orang yang tak bertanggung jawab?

Entahlah, saya juga capek berurusan dengan hal ini. Kalau ada yang tau, mohon di-sharing informasinya...

Mar 9, 2010

Oh....Ojek

Ojek adalah angkutan umum tidak resmi yang sering dijumpai di jalanan. Sebuah angkutan umum menggunakan sepeda motor yang bisa mengantar seseorang kemana saja motor itu bisa melaju, layaknya taksi namun bukan memakai mobil, tidak bisa mengangkut banyak orang dan tidak menggunakan argometer.

Saat ini pangkalan ojek menjamur di seluruh pelosok kota dan daerah. Bahkan untuk mencapai sebuah daerah pantai yang konon masih “perawan”, seorang teman harus menaiki ojek, karena itu adalah satu-satunya alat angkutan darat yang ada. Untuk pemakaian di kota, ojek sering dimanfaatkan oleh seseorang yang ingin segera tiba di tujuannya, dikarenakan sebuah ojek dapat menembus kemacetan jalan dengan ukurannya yang kecil.

Pangkalan ojek yang ada pun kini sudah banyak yang dihias, berbentuk hampir seperti pos penjagaan lingkungan, bahkan ada beberapa pangkalan ojek yang terdapat televisi didalamnya, sebagai hiburan bagi para pengendara ojek dikala menunggu calon penumpang. Motor-motor para tukang ojek biasanya berjejer rapih di pinggir jalan dekat tempat para pengemudinya berteduh. Tapi tidak jarang pula para pengemudinya terlihat menunggu diatas motor mereka, dengan cara berpakaian yang bervariasi (ada yang rapih, tapi ada juga yang terlihat sangat dekil).

Tapi ada juga para tukang ojek yang tingkahnya saya anggap sebagai tindakan orang gila, tidak teratur seperti ojek lainnya.

Saya setiap hari sepulang dari tempat bekerja pasti menemui tukang ojek dengan kelakuan gila. Tidak hanya satu, tapi begitu banyaknya dan terletak di pangkalan yang berbeda-beda pula. Bagaimana tidak disebut gila? Para tukang ojek itu awalnya memang menunggu di pinggir jalan, tapi kemudian bila ada angkutan umum lain yang lewat maka tukang ojek gila itu akan memacu motornya mengiringi angkutan umum sambil berharap penumpang angkutan umum itu akan turun dan menaiki ojeknya. Jika angkutan umumnya melaju dengan kecepatan tinggi, maka tukang ojek gila itu tidak mau kalah, dia juga memacu motornya sampai motornya tersebut sejajar dengan pintu keluar angkutan umum. Malah ada yang memanggil-manggil para penumpang, menawarkan –atau lebih tepatnya mengajak setengah memaksa- penumpang angkutan umum untuk manaiki motornya, dengan “rayuan” naik ojek lebih cepat sampai ketimbang naik angkot.

Jika tidak mengejar angkutan umum yang lewat, mereka akan menghampiri setiap –catat, setiap- kendaraan yang berhenti dan menurunkan orang di dekat mereka, seolah-olah orang yang turun itu pasti akan melanjutkan perjalanan dengan ojek. Ada beberapa yang bahkan membuka pintu kendaraan yang berhenti, seolah-olah penumpang di dalamnya pasti turun dari kendaraan itu. Jika yang turun tidak menaiki motor mereka, beberapa bahkan ada yang dengan beraninya menyebut “pelit” atau “miskin” orang yang tidak menaiki ojek mereka. Dimana otaknya sih para pengemudi ojek yang seperti itu?

Tindakan-tindakan yang mereka lakukan itu sudah kelewat batas. Katakanlah mereka berebut mencari rezeki, tapi apa iya harus membahayakan diri sendiri dan orang lain? Berapa sih ongkos ojek yang mereka terima? Apakah sepadan dengan mempertaruhkan keselamatan? Apakah setara dengan biaya pengobatan jika mereka celaka atau mencelakai orang lain? Apakah setara dengan biaya bagi keluarga mereka jika mereka meninggal? Apa salahnya sih menunggu dengan tertib, hanya bergerak jika ada yang benar-benar memanggil dan membutuhkan jasa mereka? Saya sendiri tidak pernah mau naik ojek jika pengendaranya berkelakuan seperti itu, berbahaya buat keselamatan diri sendiri.

Jan 13, 2010

Belajar dari Hachiko



Saya mengetahui tentang Hachiko dari seorang teman, Lidya namanya. Awalnya Lidya merekomendasikan sebuah film yang dibintangi oleh Richard Gere berjudul Hachiko, tentang kisah seekor anjing bernama Hachiko. Dari hanya melihat trailernya yang sangat menyentuh, saya kemudian tertarik dengan kisah sebenarnya, karena film tersebut diangkat dari kisah nyata.

Alkisah, pada jaman dulu di Jepang, sekitar tahun 1920-an, seorang profesor, Hidesaburo Ueno, memungut seekor anak anjing jenis akita. Anjing tersebut kemudian dipelihara oleh profesor tersebut dan diberi nama Hachi. Hachi kemudian menjadi sahabat sang profesor dan tumbuh besar bersama sang profesor. Setiap harinya, hachi mengantar sang profesor ke stasiun kereta dan akan kembali ke stasiun itu sore harinya untuk menyambut sang profesor pulang mengajar. Hingga suatu hari, sang profesor terkena stroke dan meninggal saat mengajar. Hachi yang tidak mengetahui tentang meninggalnya sang sahabat, tetap kembali untuk menunggu di stasiun kereta, menunggu kedatangan sahabatnya itu, bahkan setelah tidak lagi tinggal dengan keluarga profesor Ueno. Bertahun-tahun lamanya Hachi kembali untuk menunggu di depan stasiun, hingga ajal menjemputnya. Tersentuh oleh kesetiaan Hachi, seorang seniman membuat sebuah patung Hachi di depan stasiun Shibuya, Tokyo, Jepang. Sampai sekarang, patung Hachiko dianggap sebagai lambang kesetiaan.

Apa yang bisa kita pelajari dari Hachiko? Tentu saja kesetiaannya. Meskipun sudah banyak orang mengetahui bahwa seekor anjing adalah hewan paling setia kepada majikannya, tapi tetap saja ketinggian hati manusia membuat kita tidak belajar dari anjing. Begitu banyak contoh ketidak setiaan manusia yang bahkan mungkin anda sendiri pernah melakukannya. Ambil saja contoh para selebriti yang meramaikan acara infotainment dengan perselingkuhan mereka. Atau mungkin anda mau mengambil contoh rekan kerja anda yang selalu berpindah-pindah pekerjaan dengan alasan mencari pendapatan yang lebih besar, tidak ada nilai kesetiaan pada perusahaan tempatnya bekerja (beberapa menyebutnya profesional). Apa susahnya sih setia? Anjing saja bisa melakukannya, masa kita tidak bisa?

Lalu apakah saya termasuk orang yang setia? Sampai saat ini saya berani katakan YA. Bagaimana dengan anda?

Sep 23, 2009

The Bear Writes a Blog


Beberapa hari belakangan, semasa liburan Lebaran ini, keseharian saya seperti layaknya seekor beruang. Setiap hari diisi dengan tidur dan makan, disellingi kegiatan yang (menurut banyak orang) tidak bermanfaat hehehehe....

Oleh karena itu beberapa hari belakangan ini status di Facebook saya berhubungan dengan beruang, dimulai dari Polar bear mode On, Grizzlie bear mode On, sampai ke Honey Bear mode On. Sebenarnya semua beruang memang memiliki masa hibernasi dimana mereka akan tidur dalam waktu yang cukup lama untuk menghemat energi mereka, jadi tidak masalah beruang mana yang saya pakai.



Awalnya saya pakai polar bear alias beruang kutub karena warnanya putih dan terlihat lebih lucu (saya kan lucu, jadi cocok dong hehehehe). Tapi kemudian ada yang protes, katanya saya lebih cocok seperti beruang madu karena hitam (uhhh!). Akhirnya saya ambil jalan tengah, mengganti menjadi beruang grizzly yang berwarna coklat. Setelah beberapa saat, kalau dipikir-pikir, beruang grizzly kan menyeramkan, biarpun coklat (seperti warna kulit saya) tapi grizzly besar dan menyeramkan. Sehingga pada akhirnya saya menurut dan memakai beruang madu yang berwarna hitam.

Lebih cocok manakah?

Sep 18, 2009

Perutkuuu……


Kenapa dengan perutku? Buncit? Kalau itu sih semua yang pernah melihat saya sudah tau. Tapi sekarang saya bukan mau menulis tentang seberapa buncit perut saya jika dibandingkan dengan perut orang lain, saya mau menulis sebuah kejadian yang berhubungan dengan perut saya yang buncit.

Perut saya (atau lebih tepatnya lambung saya) sensitif dengan makanan pedas dan asam. Seringkali jika saya memakan makanan yang pedas atau asam (atau dua-duanya, sayur asem dan sambal terasi pedas misalnya) perut saya memberontak, perut saya sakit dan memaksa saya harus bolak-balik ke toilet. Hal seperti ini yang seringkali menghalangi niat saya untuk bisa menikmati makanan tertentu, makanan yang sebenarnya sangat lezat tetapi tidak bisa saya nikmati karena rasanya.

Yanti sudah tau tentang “kekurangan” ini, dan ia dengan penuh perhatian selalu mengingatkan apabila makanan yang hendak saya santap itu asam atau pedas. Beberapa kali bahkan melarang saya menyantap makanan yang memiliki rasa asam dan pedas (terima kasih banyak sudah mengingatkan saya untuk tidak menyiksa diri sendiri). Tapi karena pada dasarnya saya sangat senang makan, dan karena pada dasarnya saya nakal, jadi seringkali peringatan atau larangannya saya tidak ikuti (maaf ya sering bikin kamu kawatir).

Nah, pada saat menulis ini, perut saya sakit luar biasa, mengerjakan tulisan ini sambil sesekali ditinggal ke toilet. Kenapa? Apakah saya habis menyantap sesuatu yang pedas dan asam?

Malam sebelumnya (lebih tepat sore sih) saya ikut buka bersama dengan teman kantor Yanti. Acaranya diadakan di sebuah restoran seafood di kawasan Jakarta Pusat. Makanan yang dipesan beraneka macam dan dalam jumlah cukup banyak. Sebut saja udang saus mayonnaise, udang api cabai garam, tahu kipas, kerang ijo, calamari ring (cumi goreng tepung), cah kangkung dan kepiting saus tiram.

Dari menu diatas, masih ada dua menu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ada udang bambu dan kepiting soka. Udang bambu bernama seperti itu karena memang bentuk cangkangnya seperti bambu. Sementara nama kepiting soka sering saya lihat di daftar sold out dari restoran tersebut (terlihat setiap kali saya melewati restoran tersebut), membuat saya penasaran dengan bentuk dan rasa kepiting soka. Saya tanya pada teman yang membuka tenda seafood dekat rumah, menurutnya kepiting soka adalah jenis kepiting yang cangkangnya tidak sekeras kepiting biasa sehingga bisa ikut dimakan. Entahlah apa benar seperti itu.

Mengingat saya belum pernah merasakan kedua jenis makanan itu, saya tidak mau kelupaan untuk ikut menikmati du jenis makanan tersebut. Udang bambunya dimasak dalam 2 bumbu, tidak ada yang pedas, dan rasanya mirip rasa bekicot tanpa rasa pahit yang kadang didapati pada bekicot. Lalu kepiting soka dimasak cabai garam, rasanya tidak terlalu istimewa, mirip rasa kepiting biasa, hanya saja tekstur dagingnya lebih lembut dan lebih berair.

Selama ini, saya tidak pernah punya alergi pada seafood, oleh karena itu saya dengan percaya diri menyantap makanan yang ada. Yang terjadi kemudian adalah, lidah saya gatal. Merasa itu merupakan gejala awal alergi, saya kemudian meminum susu segar, berharap susu kembali dapat menolong saya (kalau sakit atau tidak enak badan, saya sering minum susu dan kemudian merasa lebih segar). Gatal di lidah memang tidak hilang, tapi kekakuannya hilang (sebelumnya sempat terasa lidah saya kaku). Beberapa saat kemudian, saat berada di kendaraan, perut saya sakit. Sesampainya di rumah, pemberontakan perut saya agak berkurang. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke warnet. Sepulangnya dari warnet, saya makan lagi, kali ini menyantap nasi goreng buatan sendiri. Setelah makan, perut saya kembali berontak, dan malam itu saya beberapa kali harus terbangun untuk pergi ke kamar mandi.

Sampai pagi ini, perut saya belum juga bersahabat. Tiba di tempat bekerja, saya langsung mampir di toilet. Setelah itu menyalakan computer, memulai menulis postingan ini, ke toilet lagi, meneruskan postingan, toilet lagi, menyelesaikan postingan ini, dan sekarang selesai sudah postingan ini. Ada yang mau berpendapat kenapa kira-kira perut saya berontak padahal saya tidak menyentuh makanan pedas atau asam? Kalau saya curiga dengan kepiting soka atau kerang bambu…..

Sep 13, 2009

Lagi Lagi Soal Antri


Lagi lagi saya berurusan dengan orang yang tidak bisa mengantri dengan baik. Kejadiannya baru saja, tepatnya Sabtu 12 September 2009 di sebuah restoran yang menyajikan menu berbahan dasar ayam di Plasa Semanggi.

saat itu saya, Yanti dan Dios sedang menunggu waktu dimulainya pertunjukan film yang akan kami tonton (Final Destination - Red). Karena sudah dekat waktunya berbuka puasa, kami bergegas menempati tempat duduk di restoran itu sebelum terlalu ramai oleh pengunjung yang akan berbuka puasa. Kami secara bergantian memesan makanan agar tempat duduk kami tidak ditempati orang lain.

Saya dan Yanti kemudian mulai mengantri untuk memesan makanan. Antrian yang tidak terlalu panjang sebenarnya, hanya ada satu orang didepan kami berdua. Lalu kemudian datang 2 orang lagi dibelakang kami, dan seorang Ibu-ibu disebelah baris antrian. dari awal saya sudah mencium niat busuk ibu tersebut.

Benar saja. Segera setelah orang di depan kami beranjak pergi, si ibu dengan seenaknya hendak menyalip antrian. Ibu itu sepertinya ditegur oleh Yanti, saya sendiri terlalu sibuk memelototi ibu tersebut sehingga tidak mendengar apa yang dikatakan Yanti. Ibu itu berkata pada pramusaji restoran "Mas, air mineralnya berapa?" Mas pramusaji yang ditanya menjawab "Lima ribu lima ratus bu"

Saya kesal, sudah si ibu tidak tahu diri, si pramusaji malah meladeni, padahal dia tau kami sudah antri dari tadi. Saya dengan kesal berkata pada pramusaji tersebut "Mana managernya, saya mau bicara sama managernya." Yanti mencoba menenangkan saya sementara si pramusaji mulai berubah raut mukanya menjadi takut dan si ibu kurang ajar itu terus berusaha meyakinkan agar dia bisa dilayani lebih dulu dengan alasan hanya membeli sedikit dan cepat.

Saat saya hendak menanyakan dimana managernya kembali, si pramusaji berkata pada ibu kurang ajar itu "Maaf bu, Mba ini duluan" sambil menunjuk ke arah Yanti. Saya sudah kesal, dan meskipun si pramusaji berusaha melayani kami dengan baik, tapi saya tidak mau bicara lagi sama pramusaji bodoh itu. Saya membiarkan Yanti melakukan semua pesanan dan segala macam urusan dengan si pramusaji.

Kenapa sih orang Indonesia susah sekali mengantri? Kalaupun memang mau beli sedikit ya harus antri dong. Mau beli banyak atau sedikit semua harus antri. Orang-orang yang selalu memudahkan segala cara adalah orang yang bisa membuat negara ini hancur.

Oh, sepertinya kata-kata saya yang mencari manager restoran sangat berpengaruh pada si pramusaji bodoh. Kenapa? Dia dengan bodohnya tidak memasukkan satu pesanan kami ke dalam struk, dan salah memberikan nomor pada kami sehingga nomor yang kami pegang berbeda dengan nomor pesanan pada struk. Hal ini menyebabkan pesanan kami terlambat diantar dan sudah dingin saat tiba di meja kami. Restoran bodoh, pramusaji bodoh, dan ibu kurang ajar, lengkap sudah!

Aug 5, 2009

Biro Jodoh??


Selagi saya mulai menulis sebuah tulisan yang serupa dengan dua tulisan saya sebelumnya, saya terhenti dan terdiam. Sesaat kemudian saya tertawa sendiri. Saya geli bila memikirkannya..

Saya pernah membuat beberapa tulisan mengenai teman saya, orang yang saya kenal, yang masih sendiri (alias belum punya pacar). Berhubung saya senang berbagi, saya sangat ingin mereka yang saya kenal, teman-teman saya, yang masih sendiri, merasakan apa yang sedang saya rasakan, merasa sangat beruntung dan bahagia. Ya, merasa beruntung saya telah menemukan seseorang yang saya sayangi, dan juga menyayangi saya. Ya, bahagia karena hidup menjadi lebih berwarna dengan kehadirannya. Oleh karena itu saya sangat ingin teman-teman saya, orang yang saya kenal, yang masih sendiri, untuk dapat memiliki pasangan, maka terciptalah beberapa tulisan yang “mempromosikan” diri mereka.

“Promosi” disini bukan berarti saya bermaksud menjual atau menyewakan mereka, sama sekali tidak ada maksud seperti itu. Tidak ada juga niat saya merendahkan atau mengejek mereka, lihat saja isi tulisan saya, tidak ada yang menjelek-jelekkan. Tidak untuk membuat malu, karena tulisan dibuat setelah disetujui yang bersangkutan. Tujuannya hanyalah mendeskripsikan hal-hal baik mengenai yang bersangkutan.

Lalu kenapa saya tertawa?
Saya tertawa karena geli. Geli kalau memikirkan betapa saya melakukannya dengan serius. Saya benar-benar serius saat menulis deskripsi tentang mereka. Geli karena saya dengan serius ingin mereka bahagia bertemu dengan (mungkin) jodoh mereka. Geli karena saya merasa diri saya seperti apa yang orang sebut sebagai “mak comblang”. Geli karena setelah dilihat beberapa kali, rumah saya seperti sebuah biro jodoh online. Geli karena sebenarnya aktifitas “mak comblang” pernah beberapa kali saya lakukan sebelum ini…dan hasilnya memuaskan. Bukan dalam hal finansial, tapi lebih dari berhasilnya beberapa pasangan berjodoh karena ulah saya mempromosikan orang lain.

Hahahahaha….tuh kan, saya tertawa lagi :P

Aug 4, 2009

Influence


Yanti pernah bertanya pada saya, jenis musik apakah yang didengar oleh mereka yang pernah mengisi hati saya (ex-girlfriend), dan apakah ada yang mempengaruhi selera saya dalam mendengar musik. Saya menjawab, karena pada dasarnya saya mendengarkan hampir semua jenis musik maka tidak ada yang terlalu membawa pengaruh besar pada selera musik saya. Dan setelah dipikir-pikir lagi, memang yang memberi pengaruh pada selera saya bukanlah mereka yang pernah mengisi hati saya.

Waktu kecil, musik yang saya dengarkan adalah lagu anak-anak, dan juga soundtrack dari film-film kegemaran saya. Sebut saja lagu pembuka dari film Lion Maru, Megaloman, Getter Robo, Zabogar, Voltus, Goggle Five, Gaban, Sarivan, Saider, dan banyak film anak lainnya. Saya bahkan punya kaset lagu-lagu dari film tersebut.

Saya kemudian berkenalan dengan musik-musik lain dari kakak sepupu saya. Ia mengenalkan saya pada Michael Jackson, Tommy Page, Frente, Neri Per Caso, The Cranberries, Stryper, musik reggae, Jazz, musik hip-hop dan rap. Ia juga mengenalkan saya pada The Police, U2, Yes, DreamTheatre, Toto, Metallica, Suede, Porno For Pyros, Mighty-Mighty Bosstones, R.E.M, Bjork, Sade, Smashing Pumpkins, dan masih banyak lagi.

Dari kakak saya, saya berkenalan dengan banyak musik lokal seperti Slank, Dewa 19, KLA Project, Nike Ardilla, dan banyak lagi. Dari dirinya juga saya mengenal boy-band pertama yaitu New Kids On The Block. Kakak saya adalah penggemar berat dari kwintet Danny, Donnie, Jordan, Jonathan dan Joey ini.

Oh, hampir lupa, saya juga terpengaruh oleh koleksi kaset Papa saya yang banyaak. Darinya saya mengenal ABBA, The Beeges, The Beatles, Lobo, Nana Miskouri (ini bener gak yah?), Simon and Garfunkel, The Everly Brothers, The Carpenters, dan masih banyak lagi.

Teman-teman sekolah saya mengenalkan saya pada Iwa K, Ramones, Sex Pistols, Green Day, Ugly Kid Joe, Oasis, Blur, Space, Netral, dan banyak lainnya. Dari teman kuliah, saya mengenal Morissey, The Cardigans, Coldplay, The Rasmus, Placebo, dan banyak lagi.

Dari TV, saya mengenal dan menyukai Jewel, No Doubt, Britney Spears, Spice Girls, Hanson, The Moffatts, Lene Marlin, /rif, Avril Lavigne, Sarah McLachlan, Alanis Morissette, Aerosmith, Maroon 5, Rihanna, James Blunt, Mika, Alicia Keys, t.a.T.u, Kings of Convenience, Sheila on 7, Padi, Peterpan, dan lain-lain.

Dari sepupu saya Andre, saya mengenal musik-musik Jepang seperti Do As Infinity, L’arc en Ciel, Day After Tomorrow, Glay, dan dari dia pula saya menyukai Mocca. Dari adik angkat saya, Iwan, saya mengenal My Chemical Romance, Fall Out Boys, Story of the Year, dan band-band beraliran keras lainnya. Dari Rio saya mengenal band yang bahkan lebih keras lagi, seperti Straightout, dan lain-lain.

Intinya selera musik saya tidak pernah terpengaruh oleh ex-girlfriend. Selera musik mereka kebetulan sudah saya kenal dan sukai sebelum bertemu mereka. Saya memang kemudian menyukai Jason Mraz, Led Zepellin dan Endah-Rhesa dari Yanti, tapi Yanti kan bukan ex-girlfriend saya..hehehehehehe…..

---- Let the music heal your soul – Bravo All Stars ----

Aug 2, 2009

How Does It Feels Like To Have A Celebrity As Your Couple?


Ada yang pernah merasakan punya pasangan/teman seorang selebritis? Tidak perlu seorang aktris atau aktor, bisa siapa saja yang dikenal orang banyak, memiliki penggemar, dan dicintai oleh banyak orang. Atau mungkin anda sendiri adalah seorang selebritis? Atau mantan selebritis yang sekarang tidak laku? (hehehehehe)

Bagaimana rasanya jadi seseorang yang kenal dekat dengan selebriti? Menyenangkankah untuk anda? Atau mungkin pertanyaannya adalah, maukah anda mempunyai pasangan hidup seorang selebriti?

Banyak yang menghindari memiliki pasangan hidup seorang selebriti, hal ini khususnya aktor dan aktris. Alasan mereka adalah seorang selebriti terlalu sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk pasangannya. Terbayang tidak kalau anda harus tidak bertemu hanya karena dirinya sibuk bekerja? Kesalkah anda? Bagaimana jika sibuknya bukan karena kerja? Bagaimana jika waktunya dipergunakan untuk bersenang-senang tanpa diri anda? Apa rasanya jika seharian dia tidak menghubungi anda?

Kemudian, katanya selebriti sangat dekat dengan dunia malam dan hal-hal negatif didalamnya seperti alkohol dan narkoba. Tidak usah dijabarkan, anda pasti tahu sendiri kan resikonya kalau berurusan dengan hal-hal tersebut? Bagaimana jika pasangan anda ditangkap oleh pihak yang berwajib? Atau bagaimana jika ia meninggal karena over dosis?

Selebriti juga katanya sangat berpotensi berselingkuh karena dikelilingi dan dikejar-kejar oleh banyak lawan jenis. Beberapa diantaranya bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian dan mungkin cinta dari sang idola, jika perlu selalu mengikuti kemanapun dirinya pergi, atau apapun yang dilakukannya. Lihat saja tayangan infotainment, banyak kan selebriti yang selingkuh? Kalau anda jadi pasangan selebriti seperti itu bagaimana? Anda terima pasangan anda dicintai orang lain? Kesal? Cemburu? Atau apa? Bagaimana jika suatu saat pasangan anda benar-benar berselingkuh dengan orang lain? Tidak ada yang tahu pasti tentang masa depan bukan?

Selanjutnya, selebriti tidak memiliki privasi karena akan selalu dikejar media. Terbayang tidak saat anda sedang menikmati waktu berdua dengan pasangan anda, tiba-tiba puluhan orang datang dan mulai mengambil foto anda berdua? Sedang menikmati makan malam tiba-tiba disodorkan perekam suara dan mikrofon ke wajah anda dan menanyakan banyak hal pada anda berdua?

Jadi, apakah benar memiliki pasangan hidup seorang selebriti seburuk yang diperkirakan orang?

Mungkin Ya, mungkin Tidak. Pastinya sih butuh kesabaran tingkat tinggi jika kita ingin berhubungan dengan seorang selebriti. Dengan sabar menerima semua hal yang mungkin tidak mengenakkan bagi anda.

-untung Yanti bukan selebriti….setidaknya belum hehehehehe-

Jul 29, 2009

Here I Am Again


“Here I Am, This is Me..”
Sepotong kata dari lagu yang didendangkan oleh Bryan Adams. Sebuah lagu yang dijadikan lagu tema sebuah film animasi. Film yang bagus, dan lagunya juga. Tapi saya tidak akan membahas lagu ataupun film itu hehehehe……

Sudah beberapa hari ini saya tidak mem-post-ing tulisan baru. Ide-ide yang ada selalu muncul di malam hari (sesaat sebelum saya tertidur) dan akan hilang di pagi harinya. Seringkali, saya sudah bersiap dengan program Microsoft Word, jari-jemari sudah stand by di keyboard, tapi apa daya, tanpa ide di kepala maka jari-jemari tidak akan bergerak, menekan tombol-tombol yang menyebabkan keluarnya huruf-huruf di layar monitor, merangkai kata demi kata, menciptakan sebuah dokumen yang siap di-post.

Selain itu, saya juga sempat sakit. Bukan sakit yang parah sehingga haruslah dirawat di rumah sakit. Hanya sekedar demam, pilek, batuk dan sedikit sakit kepala yang menyerang sekaligus. Kondisi badan yang tidak fit seperti itu juga menghambat saya dalam menuliskan sebuah tulisan baru.

Alhamdulillah, badan saya sudah fit, ide-ide juga mulai dating (lho, kok jadi dating?? Wah, auto correct-nya canggih juga…atau dia sok tau? Hahaha..). Jadii…inilah saya….Here I Am….This is Me….. Saya bisa melanjutkan menulis lagi dan memajangnya di rumah sederhana saya ini. Semoga bisa bermanfaat bagi yang membaca.

--- Ayooohhh…Semangat Odee!!!---

Jul 23, 2009

Hanya Untaian Kata

Saya Copy and Paste dari Notes saya di Facebook....

Diriku malu
Negaraku kelabu
Masih ada yg tidak malu
Berbuat sesuatu yg tabu...

Diriku sedih
Batinku teriris perih
Mulutku berkata lirih
Saat nyawa tak berharga lebih...

Diriku marah
Pada mereka yg salah
Mereka kehilangan arah
Atau memang hatinya rusak parah...

Diriku kesal
Pada fanatisme yg terlalu kental
Agama dijadikan tumbal
Atas perbuatan yg melanggar pasal...

Diriku berduka
Pada semua yg terluka
Semoga pintu hati terbuka
Bagi mereka penyebab petaka...

Mari bergandengan tangan
Kau dan aku bukanlah lawan
Doa mari kita panjatkan
Pada mereka yg menjadi korban...

Damailah negaraku...
Aku kan selalu mencintaimu...


Dedicated to my beloved Indonesia

Jul 10, 2009

Not While Eating Please


Big No While Eating

Setiap manusia pasti ingin disaat mereka makan, mereka bisa menikmati makanan yang mereka makan tanpa gangguan. Tapi untuk bisa makan tanpa gangguan rasanya sulit sekali didapat tiap orang. Memang jenis gangguannya akan berbeda pengaruhnya pada tiap orang. Ada yang tidak bermasalah jika saat makan harus ditemani lalat, tetapi ada juga yang akan menghentikan makannya jika ada satu lalat hadir didekatnya. Lalu, hal-hal apa yang mengganggu saya saat saya sedang makan?

1. Orang di dekat saya makan berdecak.
Pernah tidak melihat (atau lebih tepatnya mendengar) seseorang yang makan sampai mengeluarkan suara decak mengunyah? Buat saya yang dari kecil diajarkan untuk tidak berdecak saat makan merasa sangat terganggu jika saya sedang makan dan orang di dekat saya makan sambil berdecak. Mengunyah dengan mulut tertutup akan mengurangi kebiasaan makan berdecak. Mengunyah makanan secukupnya (tidak berlebihan dan memenuhi rongga mulut) juga membantu mengurangi decak kunyah anda.
2. Melihat darah.
Jangankan saat makan, melihat dan mencium aroma darah saat melakukan apapun bisa membuat saya muntah, dan mungkin pingsan. Herannya, harus kombinasi keduanya barulah reaksi tersebut ada. Kalau hanya melihat darah (atau apapun yang menyerupai darah) saya masih bisa tahan. Begitupun kalau hanya mencium bau amis khas darah, saya masih bisa kuat. Tapi begitu saya melihat dan mencium darah, wah…siap-siap saja.
3. Beradu argumen saat makan.
Anda mau bertengkar saat sedang enak-enaknya menikmati hidangan? Sedapnya rasa makanan akan hilang begitu emosi anda berubah, begitu darah anda mendidih. Belum pernah coba? Yuk, adu argumen sama saya sambil makan (tapi anda yang traktir) hehehehehe….
4. Melihat orang muntah saat saya makan.
Kalau hanya menirukan suara seperti orang yang hendak muntah saya masih bisa cuek-cuek saja. Tapi kalau sampai ada yang muntah dihadapan saya saat saya sedang makan, maka secara otomatis reaksi saya adalah ikut-ikutan muntah.
5. Aroma yang tidak sedap.
Aroma yang saya maksud adalah aroma-aroma yang tidak enak dicium, seperti bau sampah, bau makanan basi, bau badan, dan bau lainnya. Kalau sampai aroma tidak sedap itu mengalahkan aroma dari makanan, maka saya akan berhenti makan saat itu juga. Makanya, akan sangat hebat jika anda melihat saya makan di dekat tempat sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap.
6. Aroma yang terlalu wangi dan tajam.
Aroma yang ini justru aroma yang sebenarnya wangi, seperti parfum. Hal ini karena hidung saya yang agak sensitif, sehingga aroma yang terlalu tajam, yang mengalahkan aroma makanan yang sedang saya nikmati, bisa membuat saya berhenti makan saat itu juga.
7. Orang yang tidak berhenti berbicara saat mengunyah makanan.

Banyak orang bilang “Jangan berbicara saat mulutmu penuh” atau dalam bahasa daerah asal saya “Don’t talk when your mouth is full.” Tapi beberapa diantara kita yang entah terlalu menghargai waktu yang ada, atau alasan lainnya, sepertinya senang sekali mengobrol sambil mengunyah makanan. Seolah-olah waktu sangat sedikit sehingga kalau tidak berbicara saat itu juga maka tidak akan ada kesempatan lainnya. Tidak masalah sih kalau harus mengobrol saat menikmati makanan, tapi telan dulu makanan yang ada di mulut baru bicara.


Baru saja, tadi saat istirahat makan siang, saya bertemu seseorang yang memenuhi beberapa hal yang saya sebut diatas. Saya kesal setengah mati, hingga makanan yang saya beli saya tinggalkan dalam keadaan baru dimakan setengahnya. Orang ini satu gedung dengan saya. Makannya berdecak, dan kencang pula. Punya masalah bau badan (setidaknya saat itu ia bermasalah dengan hal itu). Terus-terusan mengoceh padahal mulutnya sedang penuh, dan ocehannya bukanlah sesuatu yang penting, bukan sesuatu yang harus disampaikan saat itu juga, bisa nanti setelah makan atau lain waktu. Terakhir, dia terus-terusan bertanya dan bertanya, seolah-olah memaksa saya untuk ikut bicara. Menyebalkan.

Bagaimana dengan anda?

Jul 8, 2009

Handphone-ku


Handphone-ku

Sudah beberapa bulan ini handphone saya, Samsung tipe SGH-J200, mengalami kerusakan. Joystick (penggerak kursor) – nya sedikit susah di gerakkan ke bawah. Tadinya, karena masih ada tombol atas-bawah di samping, saya membiarkan saja. Lama-kelamaan, semua arah tidak bisa, hanya tinggal menekan tengahnya, dan kadang-kadang tombol atas yang bisa.

Keadaan joystick rusak itu saya biarkan selama beberapa waktu, karena saya masih bisa menggunakan fungsi yang lain. Meskipun saya kemudian harus merelakan tidak bisa memakai beberapa fitur kegemaran saya seperti browsing menggunakan Opera Mini, aplikasi-aplikasi seperti Yamee, e-Buddy, Nimbuzz dan skype. Pikir saya waktu itu adalah yang penting saya masih bisa membuka facebook dan browsing melalui browser bawaan handphone (Netfront). Sementara menu-menu lain di handphone masih bisa dijalankan juga menggunakan tombol atas-bawah di samping dan kedua softkeys.

Hari ini, akhirnya joystick handphone saya menyerah. Joystick handphone saya lepas dari tempatnya seharusnya berada. Sekarang, di hendphone saya ada sebuah lubang yang cukup besar, tempat joystick awalnya. Uh, sekarang hanya bisa menyesal, kenapa tidak dari awal saya perbaiki ya?

Jul 1, 2009

Only Human


Oh Me….

Tidak semua manusia terlahir sempurna. Beberapa terlahirkan dengan kekurangan, baik secara fisik maupun non fisik. Ada yang terlahir dengan mata yang cacat, ada yang terlahir dengan telinga yang cacat, hidung yang cacat, terlahir dengan bentuk kepala yang tidak sesuai, dan lain sebagainya. Ada yang terlahir dari keluarga yang miskin, hidup berkesusahan, terlahir sebagai anak haram, hasil hubungan diluar nikah, dan lain sebagainya. Tetapi walaupun mereka terlahir dengan kekurangan, tidak akan merubah kenyataan bahwa mereka tetaplah manusia, mahluk Tuhan.

Saya bisa dikatakan terlahir sempurna. Kedua mata saya berfungsi dengan baik, dapat melihat dengan jelas. Kedua telinga saya dapat mendengar suara-suara dengan baik. Hidung saya dapat mencium bermacam bau dengan baik. Lidah saya mampu mengecap rasa dengan baik, mampu membedakan satu rasa dengan yang lainnnya. Saya diberikan pita suara yang baik, yang membuat saya bisa berbicara dan bernyanyi, mengeluarkan suara untuk berkomunikasi. Kulit saya bisa merasakan sentuhan, halus atau kasarnya permukaan sebuah benda. Semua organ tubuh saya berfungsi normal, dan saya bersyukur akan hal itu, berkat yang luar biasa.

Tetapi apa yang terjadi? Mata saya yang biasanya tajam, tidak pernah memakai alat bantu, kini berkurang ketajamannya, karena diri saya yang menggunakan kedua mata ini dengan sembrono, tidak mampu menjaganya. Telinga saya yang dulu mampu mendengar suara dari kejauhan, kini mengalami kesulitan untuk mendengarkan sesuatu dari jarak dekat, terutama jika suaranya kecil. Karena saya tidak berhati-hati, saya seringkali tidak menghindari tempat bising yang mampu merusak pendengaran saya. Hidung saya, yang dulu mampu mengendus bebauan dari jarak jauh, kini berkurang kemampuannya, karena saya tidak menghindari bau tidak sedap, yang bisa mengurangi kemampuan indera penciuman saya. Maafkan saya, yang tidak menjaga pemberian-Mu.

Saya tetap bersyukur, karena walaupun kemampuannya berkurang, saya tetap memiliki semua indera saya. Begitu banyak yang kehilangan indera mereka dan mereka tetap bersyukur atas kehidupan mereka, maka sudah sepatutnya saya bersyukur.

-Because we’re only human, oh yes we are..- (Jason Mraz-Only Human)