May 5, 2010

B9, B10, B11

Haaaiiii….

Sudah nonton film “Manusia Setrikaan Kedua” –Iron Man 2- belum? Kemarin –Selasa, 4 Mei 2010- atas prakarsa seorang wanita berparas manis, saya menonton film yang sepertinya banyak dinanti orang tersebut. Bagaimana tidak banyak dinanti? Semenjak tiketnya dijual pertama kali pada Rabu minggu sebelumnya, begitu banyak orang yang terlihat Excited dengan kehadiran film tersebut. Akun Twitter saya sampai dipenuhi dengan ReTweet orang-orang yang senang karena telah mendapat tiket menonton Iron Man 2. Entah kenapa mereka sampai berlebihan seperti itu, padahal filmnya hanya film yang tidak terlalu istimewa. Atau karena mereka mengidolakan sang superhero? Saya malah berpikir kalau penggemar Batman, Superman dan Spiderman lebih banyak.

Iron Man jilid pertama menceritakan tentang bagaimana seorang multi milyarder yang bernama Tony Stark bisa menjadi sang Manusia Besi. Sebuah film superhero dengan efek khusus yang sangat baik. Tapi ya itu saja kelebihannya. Dalam jilid kedua ini kisahnya melanjutkan kisah dalam jilid pertama setelah beberapa tahun kemudian. Dikisahkan bagaimana sang superhero mengalami kejenuhan akibat tidak adanya lawan yang seimbang, perseteruan dengan pesaing bisnis, sampai ke munculnya seseorang yang mampu menciptakan reaktor mini yang mirip dengan kepunyaan sang superhero.

Eniweey…saya menulis kali ini bukan untuk membahas bagaimana serunya film tersebut. Saya lebih berkeinginan berbagi tentang apa yang terjadi saat saya dan seorang wanita berparas manis menonton film tersebut.

Saya dan wanita berparas manis memutuskan menonton di Plaza Indonesia XXI, jam pertunjukan 19.30. Karena memesan tiket melalui M-Tix, kami tidak bisa memilih tempat duduk yang kami inginkan. Tempat duduk yang kami dapatkan adalah B7 dan B8. Saya lebih senang menonton dari kursi deret A, karena pasti terhindar dari tendangan kaki penonton dibelakang –secara baris A adalah baris paling belakang-, tapi karena tidak bisa memilih ya saya terima saja duduk di baris B. Untungnya B7 dan B8 terletak agak di tengah-tengah, saya agak kurang bisa menikmati film kalau duduk di pinggiran.

Untung? Setidaknya saya pikir seperti itu……

Sebelumnya, biar saya jelaskan dulu kenapa lokasi yang terpilih adalah Plaza Indonesia. Pertama, dari sekian banyak lokasi bioskop yang dekat dengan kantor kami, Plaza Indonesia adalah lokasi terdekat yang menyediakan fasilitas M-Tix. Kedua, kebetulan saat itu Plaza Indonesia XXI menayangkan film Iron Man 2 di 3 (Tiga) studio sekaligus, sehingga ada banyak pilihan waktu menonton. Ketiga, dan ini pendapat pribadi saya, suasananya enak, karena Plaza Indonesia tergolong tempat untuk kalangan menengah keatas maka fasilitas yang disediakan sangat baik. Keempat, kembali pendapat pribadi saya, karena tempatnya yang eksklusif saya merasa seharusnya tempat tersebut dikunjungi oleh orang-orang yang berpendidikan, tidak norak, dan sedikit banyak mengerti peraturan.

Kembali ke kejadian saat menonton. Beberapa menit film diputar, mulai terasa ada hal-hal yang mengganggu. Suara-suara mengobrol sambil berbisik sesekali terdengar, namun karena sudah memaklumi sifat penonton Indonesia saya tidak bereaksi, setidaknya sampai batas volume suara tertentu. Lalu ada juga beberapa yang menggunakan telepon genggamnya, menyebabkan kesilauan sesaat. Tapi gangguan-gangguan itu belum seberapa jika dibandingkan dengan gangguan yang dialami oleh wanita berparas manis teman menonton saya.

Apa yang dialami olehnya adalah sesuatu yang bisa membuat saya meledak-ledak, dan bahkan mungkin akan memasukkan Plaza Indonesia XXI ke dalam daftar bioskop yang tidak akan dikunjungi. Sebagai orang yang mengenyam pendidikan dan mengerti peraturan saat menonton film di bioskop, saya mengerti dan mematuhi dengan baik semua peraturan yang ada. Telepon genggam sudah dalam kondisi Silent, dimasukkan ke dalam tas dan tas tersebut saya letakkan dibawah tempat duduk, jadi tidak ada yang akan terganggu oleh telepon genggam saya. Saya tidak mengangkat kaki, tidak menyandarkan kaki pada tempat duduk di depan saya, dan juga tidak menendang-nendang tempat duduk di depan saya. Saya duduk tenang, menikmati film yang ditayangkan, berbisik jika memang ada yang harus dibicarakan pada teman menonton. Hampir semua yang saya lakukan, TIDAK dilakukan oleh orang yang duduk di tempat duduk B9, B10 dan B11, tempat duduk yang lebih dekat dengan wanita berparas manis teman menonton saya.

Tempat duduk B9 diisi oleh seorang wanita bertubuh kurus, dengan rambut diikat, mengenakan kemeja dan rok. Tempat duduk B10 diisi seorang wanita berjilbab bertubuh sedang. Tempat duduk B11 diisi seorang wanita berkacamata dan sedikit gemuk. Ketiganya selalu berceloteh tanpa memelankan volume suara mereka, untuk mengomentari setiap adegan yang ada. Biarpun sudah diminta untuk diam –secara tidak langsung, dengan mengeluarkan suara ssshhhhh- tapi mereka tetap menjadi komentator film di malam itu. Selain itu, beberapa kali saya mendapati B9 menggunakan telepon genggamnya, mungkin untuk mengirim SMS kepada seseorang, dan isi SMS itu adalah komentarnya yang tidak penting atas film yang ditontonnya. Lalu beberapa saat setelah seorang teknisi memperbaiki pendingin udara –lebih tepatnya menurunkan temperatur pendingin udara- B9 mulai bergerak-gerak yang tidak perlu. Gerakannya seperti seseorang yang menahan keinginan buang air karena dinginnya udara di dalam ruangan. Buat saya, tingkah laku norak mereka seperti tingkah laku seseorang yang belum pernah menonton film di bioskop.

Begitulah, wanita berparas manis teman menonton saya sepanjang pertunjukan terganggu oleh tingkah laku norak dan kampungan dari penonton yang pada tanggal 4 Mei 2010 duduk di B9, B10 dan B11, Teater 2, Plaza Indonesia XXI, jam pertunjukan 19.30 WIB.


4 comments:

Enno said...

hihihi...
emang suka bete kalo ada org yg rese di dalem bioskop, apalagi di sebelah kita....

kenapa gak dipentung aja?

:P

Quinie said...

kayanya ga dimana2, tetep ajah bakalan ada orang yang kaya gitu. Btw, gua paling sebel kalo orang yang duduk di depan gua kepalanya gede banget dan nutupin sebagian teks pilm :((

ps. tebakan lu bener! hebaaat :)

Dioz said...

yea..i can feel the situation. kadang ada film yg exciting bgt menurut gue, tp jd drop di dalem bioskop kalo orang-orangnya katro en rese.
-sigh-

Arnold Linting - Ode said...

@Enno : maunya sih dipentung, tapi teman menontonku melarang :P

@Quinie : Maka dari itu saya lebih suka duduk paling belakang, biar ga ada yang nyumpahin :D
tebakan apa ya?? :P

@Dioz : Iya, herannya kenapa tempat seperti PI malah banyak yang katro ya?? :D