May 11, 2010

Ga Jelas

Saatnya menulis sesuatu yang tidak jelas :D

Sedikit mau bercerita tentang beberapa orang yang saya temui baru-baru ini.

Orang pertama saya temui Senin malam di pangkalan angkot yang akan mengantar saya pulang ke rumah. Kita sebut saja si A. Ceritanya malam itu sekitar jam 10, saya tiba di pankalan angkot jurusan Narogong yang biasa saya naiki tiap hari -kalau tidak kemalaman-. Berdiri di dekat angkot itu, angkot yang ternyata merupakan angkot terakhir yang beroperasi hari itu, adalah si A dan sang supir. Si A meneriakkan jurusan angkot, guna menarik perhatian calon penumpang yang baru turun dari bis atau angkot lain di perempatan jalan. Teriakan si A ini terdengar aneh -buat saya setidaknya-, karena bukannya menyebut kata "narogong" dirinya lebih terdengar menyebut "narong", atau "naronrong", atau "nadong". Selain pelafalan yang aneh, tingkah lain dari si A juga bisa dibilang aneh -dan menyebalkan-. Dia berkali-kali membuang ludah setelah berteriak. Selain itu, tangannya yang memegang beberapa keping uang logam, barkali-kali mengetukkan koin-koin itu ke bagian mana saja dari angkot, entah kacanya, bodinya, sampai ke atapnya, layaknya yang dilakukan kenek bis kota saat memberi tanda pada supir untuk berhenti. Aneh karena angkotnya memang tidak akan kemana-mana, jadi buat apa disuruh berhenti. Aneh karena ini angkot, bukan bis kota, yang mana dengan bersuara sedikit dan mengatakan "stop" atau "kiri" maka si supir akan berhenti -itupun kalau sedang berjalan angkotnya, lah ini masih mangkal, mesinnya saja masih mati-. Menyebalkan karena suaranya membuat gaduh, berisik, dan membuat tidak nyaman penumpang yang menunggu angkotnya berangkat.

Setelah lebih dari 30 menit menunggu, akhirnya bapak supir angkot mulai menjalankan kendaraannya -itupun setelah ditegur oleh ibu-ibu penumpang lainnya yang tidak sabar bertemu suami dan anaknya di rumah-. Si A ikut di dalam angkot, duduk di bangku artis -bangku tambahan yang ada di dekat pintu angkot-. Ia tetap mengetukkan koin-koinnya saat hendak berhenti, tetap beberapa kali berteriak "narong" atau "narongrong" atau "nadong", dan kali ini tambahannya adalah ia berkali-kali berkata "tarik, terus" walaupun angkotnya sedang tidak dalam posisi berhenti. Dalam  pikiran saya si A ini adalah mantan kenek bis kota, atau seseorang yang bercita-cita menjadi kenek bis kota namun tidak kesampaian.

Beberapa saat sebelum saya turun dari angkot, saya baru tau kenapa si A bertingkah laku seperti itu. Supir angkotnya bilang "Ga usah takut ya bapak-bapak ibu-ibu, dia emang sedikit gila, tapi ga berbahaya kok, dia ponakan saya". *Speechless*

Orang kedua saya temui selasa pagi di dalam bis patas AC yang mengantar saya menuju tempat bekerja. Sebut saja bapak B. Ceritanya pagi itu saat matahari belum menampakkan diri, saya sudah berada di dekat pintu tol Bekasi Barat, menunggu bis kota. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya bis yang saya tunggu datang juga. Segera saya menaiki bis tersebut. Tidak seperti biasanya dimana bis tersebut akan diserbu banyak orang yang berebut menaiki bis, pagi itu hanya ada 2 orang yang menaiki bis. Tapi walaupun yang naik hanya berdua, kami tetap tidak mendapatkan tempat duduk. Saya kemudian memilih berdiri dekat bapak B yang duduk di deretan belakang kursi bis.

Baru beberapa saat meninggalkan pintu tol, bapak B terlihat gelisah, duduknya tidak tenang. Saya mencoba memperhatikan kenapa dirinya gelisah. Ternyata, dirinya terkena tetesan air pendingin udara yang bocor. Berkali-kali bapak B menengok ke atas mencoba mencari lubang tempat air tersebut menetes. Kalau saya ada di posisi bapak B, yang saya lakukan kemungkinan adalah pindah tempat duduk -kondisi penuh seperti itu berarti merelakan tempat duduk dan berdiri-, atau tetap duduk dengan konsekuensi sedikit basah. Tapi bapak B tidak berpikir seperti saya, karena beberapa saat kemudian dia berdiri dan memukul pendingin udara yang bocor tersebut. Alih-alih memperkecil kebocoran, air yang mengalir malah tambah keras akibat pukulannya. Dia kemudian kembali memukul pendingin udara tersebut, tapi setiap pukulan yang ia lancarkan tidak memperkecil debit air yang mengalir. Akhirnya setelah kemejanya basah hampir setengahnya, ia menyerah dan mulai berdiri menjauh dari kebocoran pendingin udara. *yaelah, kenapa ga dari tadi, pake ngerusak segala*

1 comment:

Vicky Laurentina said...

Orang-orang gila yang aneh. Nggak bisakah Bang Ode ketemu orang yang sedikit lebih "normal"?