Jul 1, 2009

On That Saturday Night


On That Saturday Night

Pagi hari, terbangun oleh suara televisi. Tidak lama kemudian terdengar nada dering -Jason Mraz’s Lucky- yang hanya akan berbunyi jika satu orang tertentu menelepon ke telepon genggam saya. Setelah menekan tombol bergambar seperti gagang telepon, yang artinya saya menjawab telepon tersebut, suara yang menyejukkan hati terdengar di seberang sana. Suara itu menanyakan apakah saya masih tertidur, apakah dirinya membangunkan saya yang sedang terlelap. Segera saya menjawab tidak, karena saya memang sudah terbangun sebelum dirinya menelepon saya. Suara itu mengingatkan akan rencana yang saya dan dirinya buat di hari sebelumnya, rencana untuk membawa Aiyo-nya tersayang ke dokter, agar tidak lagi sakit, agar tidak lagi ngambek. Segera setelah sambungan telepon diakhiri, kami mandi (tidak bersama, di rumah masing-masing….saya mandi, saya tidak tahu apakah dirinya mandi karena saya tidak melihatnya saat itu, saya hanya percaya pada kata-katanya yang mengatakan bahwa dirinya akan mandi).

Selesai mandi, saya menyempatkan membuka buku-wajah (facebook), sambil berpakaian dan kemudian mengambil makanan, makanan yang saat saya makan waktu itu disebut sarapan. Dari buku-wajah, saya melihat status dirinya, menggambarkan apa yang akan dirinya lakukan hari itu, pergi ke dokternya Aiyo. Sudah ada beberapa komentar yang masuk, dan dirinya juga sudah menjawab, membuat saya bertanya apakah benar dirinya tadi mandi? Jangan-jangan malah sibuk membalas komentar pada buku-wajahnya 

Setelah sarapan saya habiskan, saya beranjak keluar rumah, dengan pakaian kegemaran saya, yang santai, sambil menenteng tas yang berisi notebook, charger notebook dan mouse. Saya berjalan agak jauh, menerjang teriknya matahari di pagi menjelang siang itu, panasnya membuat saya berkeringat. Tiba di rumah seorang teman baik, menitipkan tas berisi notebook, charger notebook dan mouse kepada seorang ibu yang bekerja di rumah itu, berpamitan, bertemu teman baik di sebuah pos penjagaan keamanan, mengobrol dengannya selama beberapa saat, mengenai gaji saya yang belum dibayarkan saat itu,dan juga mengenai keinginan adik teman baik saya itu bersekolah di tempat yang lebih murah, sesuatu yang melegakan teman baik saya.

Mengingat waktu yang tidak bersahabat, saya berpamitan pada teman baik saya, melanjutkan perjalan kakian menuju tempat yang sudah disepakati bersama dirinya. Saat sudah dekat dengan tempat yang dimaksud, telepon genggam saya bergetar, mengeluarkan nada dering singkat, yang berarti pertanda ada sebuah pesan singkat yang masuk. Dirinya mengirimkan pesan kepadaku untuk merubah tempat bertemu, padahal saya sudah dekat tempat tersebut. Segera saya balas, mengatakan padanya agar tetap di tempat awal, mengatakan padanya bahwa saya sudah dekat tempat awal. Saya pun akhirnya menunggu di tempat awal. Menunggu dan menunggu, bagian dari hidup saya, dan juga semua orang, tidak ada manusia di dunia ini yang terhindar dari kegiatan yang bernama menunggu. Tidak lama kemudian, sebuah benda yang sangat saya kenal, terlihat oleh mata saya, dan membuyarkan lamunan saya. Segera saya berdiri dari tempat yang saya duduki, berjalan cepat menuju benda yang saya kenal baik, benda yang didalamnya terdapat dirinya, benda yang diberi nama Aiyo.

Saya, dirinya dan Aiyo segera menuju dokter Aiyo. Sesampainya disana, kami menunggu Aiyo disembuhkan, melihat cara-cara para dokter menyembuhkan Aiyo. Setelah selesai, saya dan dirinya menyempatkan makan siang terlebih dahulu, makan yang sebenarnya sudah tidak siang lagi, tetapi sudah sore. Barulah setelah perut terisi tepung dan bongkahan daging, ditambah air dan buah kelapa, yang disajikan dengan es batu dan air gula, juga segelas teh yang dikemas dalam botol, disajikan dengan es batu, kami beranjak pulang. Dirinya mangantar diriku (terima kasih), lalu kemudian pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan, dirinya meminta diriku untuk datang ke rumah dirinya malam ini, sebelum saya dan dirinya pergi menemui beberapa teman dirinya, untuk menyanyi dan bergembira.

Setelah tertidur selama setengah jam, saya bergegas membersihkan tubuh saya dengan mandi. Kemudian berpakaian lengkap. Lalu setelah itu beranjak keluar rumah, dan bergegas menuju rumah dirinya. Naik angkutan umum sebanyak dua kali, ditambah satu kali menaiki sepeda motor yang dikendarai seorang bapak tua, bapak tua yang bercerita bagaimana saat-saat seperti ini, saat-saat liburan sekolah, jalanan akan ramai dipenuhi mereka yang pulang kampung. Sampai di rumah dirinya, bermain dengan kucing dirinya, diajak makan malam bersama keluarga dirinya (terima kasih), dan kemudian pergi lagi bersama dirinya dan Aiyo. Pergi menembus malam menuju tempat dimana saya dan dirinya, akan bertemu teman-teman dirinya. Tiba lebih awal, saya dan dirinya menunggu, bukan hanya menunggu teman-teman dirinya, tapi juga menunggu adanya tempat untuk kami semua bernyanyi. Menunggu sambil melihat-lihat, melihat majalah, melihat orang lain, melihat buku-wajah lewat telepon genggam. Satu-persatu teman dirinya datang, saya dikenalkan, mereka dikenalkan, saling mengenal, bertukar cerita, bertukar canda.

Saat tempat tersedia, saya, dirinya dan teman-teman dirinya bergegas memasuki ruangan, ruangan kecil dengan tempat duduk berbentuk L, meja, televisi layar lebar, layar monitor, dua buah mikrofon dan sebuah alat pengendali jarak jauh berukuran besar. Semuanya bernyanyi, tertawa, bergembira, mengeluarkan asap, minum, tidur, semua dilakukan di ruangan kecil itu. Semua dilakukan sampai lewat tengah malam. Setelah itu, semua meninggalkan tempat itu, menuju rumah masing-masing. Saya, dirinya dan Aiyo pulang melewati jalanan yang gelap dan sepi, jauh lebih sepi dibandingkan pagi, siang atau sore hari. Tetap bertukar cerita, bertukar canda, tersenyum, tertawa. Sampai di rumah, mengganti pakaian, mencuci muka, menyikat gigi, minum air putih, mengirim pesan singkat pada dirinya, mengucapkan selamat malam, dan kemudian dengan senyuman yang lebar saya tertidur.

Hari yang menyenangkan.

Bagaimana tidak? Apakah anda tidak senang menghabiskan satu hari bersama seseorang yang anda cintai? Tentu saja semua akan senang menghabiskan waktu bersama yang dicintainya, begitupun saya. Dirinya mempercayai bahwa tiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaan dirinya sendiri, bahwa tidak ada yang bisa membuat seseorang bahagia selain dirinya sendiri, dan ya, saya memilih untuk berbahagia bersama dirinya 

“Lucky I’m in love with my best friend…” (Lucky – Jason Mraz featuring Colbie Caillat)

2 comments:

Ariyanti said...

awwhhh... you r so sweet :)
Btw, cara penulisannya unik. Detil banget pula, hehe :)

Arnold Linting said...

Just trying to be detailed...just like u said...:)