Jun 6, 2008

JACKASSES ON BUS

JERK! SIAPA SURUH DATANG KE JAKARTA!?

“Assalamualaikum, selamat sore menjelang malam!”
“ Mohon maaf jika kedatangan kami disini mengganggu perjalanan bapak dan ibu sekalian! Kedatangan kami disini bukan untuk merampok, menjambret, atau hal kriminalitas lainnya bak ibu! Kedatangan kami disini hanya ingin meminta bantuan dari bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!”
“Daripada kami menodong, merampok atau menjambret kami tidak mau bapak ibu! Karena itu haram bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!!”
“Karena itu kami mohon bantuannya bapak ibu, mohon bantuannya untuk kami membeli makan untuk menyambung hidup kami bapak ibu!”
“Untuk makan bapak ibu!!”
“Uang seribu dua ribu tidak akan membuat anda jatuh miskin bapak ibu! Malah anda dapat pahala karena beramal bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!!”
“Kami mohon toleransinya, kami mohon bantuannya bapak ibu! Kami tidak akan memaksa, tapi tolong hargai usaha kami bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!!”

Diatas adalah kata-kata yang sering saya dengar di dalam bus saat pulang kantor. Kata-kata yang biasanya diucapkan oleh remaja tanggung dekil dan seolah-olah terlihat menakutkan dengan anting dimana-mana, kadang sendirian, tapi lebih sering berdua atau bertiga, mungkin untuk memberikan efek teror kepada para penumpang. Setelah mengucapkan (atau lebih tepat berteriak) kata-kata tersebut, salah satu berkeliling meminta uang dari penumpang sementara yang lain (kalau datangnya tidak sendirian) terus mengoceh sambil mengatakan “Bantu kami bapak ibu! Hargai usaha kami bapak ibu! Jangan sampai kami berbuat kasar bapak ibu!”.

Entah kenapa masih ada juga yang memberikan uangnya kepada mereka, mungkin karena merasa takut, padahal sebenarnya kalau mereka memaksa apa iya penumpang lain tidak membantu? Begundal-begundal yang meminta uang seperti itu lebih parah daripada pengamen, mereka tidak ada usaha apapun, cuma membuat orang takut untuk kemudian memberikan sedikit uang buat begundal brengsek. Saya sendiri tidak pernah takut sama mereka.

Saya juga tidak mengerti, anak muda seperti mereka sudah membiasakan menggunakan kekerasan, terror untuk mendapatkan apa yang diinginkan, mau dibawa kemana bangsa ini. Kalau dipikir lagi, mereka kan masih bisa berusaha untuk mencari nafkah tanpa harus meresahkan orang lain. Dengan modal tepuk tangan dan sedikit bernyanyi mereka masih bisa dapat uang meskipun suaranya sumbang. Dengan tenaga mudanya mereka bisa menjadi kuli angkut, kuli bangunan, penjual koran, pedagang asongan, apalah yang halal dan tidak meresahkan. Tapi memang dasarnya orang-orang seperti mereka itu pemalas, tidak mau berusaha tapi mau dapat banyak, jadinya ya seperti itu. Saya sendiri tidak yakin pada kata-kata mereka kalau uangnya dipakai membeli makanan, yang ada paling mereka membeli sesuatu yang tidak ada gunanya seperti lem untuk “ngelem”, atau malah langsung ke narkoba dengan paket hematnya, atau untuk membeli minuman keras (karena banyak orang yang seperti ini, lebih memilih beli minuman keras ketimbang makanan kalau punya sedikit uang), atau untuk beli rokok (malah ada yang naik keatas bus, berkata kalau dia lapar tapi sambil menghisap rokok, kenapa dia gak beli makanan malah beli rokok?)

Saya mengerti mencari uang di Jakarta itu susah, tapi sesusah-susahnya cari uang di Jakarta mbok ya cari uangnya yang halal dan tidak memaksa. Lagian, siapa suruh datang ke Jakarta?

2 comments:

CLARITY said...

setujuu...

Ratusya said...

sapa suruh datang jakarta...
sapa suruh datang jakarta...
(music)