"Ndut maaf y, kyaknya q butuh waktu buat sendiri dl y. Kt jalan sndri2 dl y. maaf y. Nanti kl ak dah selesai mkr ttg kt q ksh tau km"
Diatas adalah sms terakhir yang saya terima dari Sara. Biarpun saya tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia minta seperti itu, saya terima saja kemauannya. Sedikit banyak saya sadar punya banyak salah sama dia, cuma agak kaget saja dia sms seperti itu, karena selama ini saya selalu percaya jawabannya waktu saya tanya "Yakin mau nikah sama aq?". Jawabnya "Yakin bgt"
Dec 4, 2008
Dec 1, 2008
Gadis Manis Dalam Bis
Gadis Manis Dalam Bis
Seperti diketahui, hampir setiap hari saya naik bis ke kantor. Di dalam bis saya hampir pasti bertemu orang-orang yang sama tiap harinya. Ada bapak bertubuh pendek dan berambut tipis, pegawai PEMDA, turun di DKI tiap harinya. Ada seorang wanita gemuk berkacamata, keturunan tionghoa, naik dari Kramat Sentiong dan turun di Jembatan Serong. Ada seorang wanita gemuk dengan rambut panjang dan agak berwarna kuning, tiap pagi memakai sandal jepit, turun di Gang Harlan, tempat saya turun juga – dan ia ternyata karyawan di anak perusahaan yang berkantor di lantai 3-
Kemudian ada seorang wanita berambut panjang, selalu memberikan uang receh kepada pengamen (yang sepanjang perjalanan kadang-kadang bisa sampai 4-5 kali), turun di Jatibaru. Ada seorang pria, selalu berseragam, kulitnya hitam, turun di Bank Indonesia. Ada anak STM, kecil, kurus, bertampang menyebalkan (dan memang menyebalkan dengan sering meminta temannya membayari ongkos), turun di Kenari, dekat sekolahnya SMK Negeri 34.
Mengamati wajah-wajah mereka yang sejalan, satu bis dengan kita, kadang sangat menyenangkan mengingat begitu sedikitnya hal yang bisa dilakukan sepanjang perjalanan. Tapi yang paling menyenangkan buat saya adalah melihat salah seorang gadis penumpang bis yang belum saya sebutkan diatas. Gadis ini punya sorot mata tajam (duhh, kalau sudah lihat sorot mata tajam wanita saya suka terpesona sendiri….GAK BOLEH…GAK BOLEHHHHH!!!), matanya juga bagus, bulat, wajahnya manis, senyumnya juga manis, giginya berpagar, tidak memakai make-up, rambutnya hitam panjang, sedikit ikal. Saya pertama bertemu gadis ini justru bukan di pagi hari saat berangkat bekerja, melainkan saat pulang kantor. Waktu itu saya naik duluan. Saat bus berjalan saya tertidur. Saya kemudian terbangun karena ada yang duduk di samping saya, gadis itu yang duduk di samping saya. Saat itu bus berada di jalan Sabang, gadis itu naik dari sana. Sepanjang perjalanan, saya tidak bisa tertidur kembali, karena gadis yang duduk di sebelah saya sepertinya lelah sekali, atau mungkin juga dugem semalaman, hingga langsung tertidur pulas, dan kepalanya berkali-kali mengenai pundak saya. Karena kasihan, saya kemudian mengijinkan dia menyandarkan kepalanya di pundak saya sepanjang perjalanan (btw, Sara, ini kejadiannya tahun 2007 ya, bukan baru-baru ini). Gadis itu terbangun di Kantor Pos Jatinegara, dan turun di Terminal Kampung Melayu, tempat saya turun. Gadis itu kemudian melanjutkan naik mikrolet M16 jurusan Kp.Melayu-Pasar Minggu. Tapi perkiraan saya rumahnya ada di sepanjang jalan Otista – jalan Dewi Sartika, karena lewat dari itu ada kendaraan yang langsung ke Tanah Abang, logikanya buat apa dia jauh-jauh naik kendaraan ke Kampung Melayu dulu kalau ada yang langsung ke Tanah Abang?
Beberapa hari kemudian saya melihat dia lagi, kali ini pagi hari dalam perjalanan berangkat ke kantor. Seperti saat pertama saya melihatnya, sorot matanya tajam dan terlihat mengantuk (pada akhirnya saya selalu melihat dia mengantuk…mungkin malamnya dia selalu dugem, atau mungkin senang begadang seperti saya sebelum bekerja) dan ada lingkar hitam di sekitar matanya. Sepertinya, dia masih ingat saya, karena sempat melempar senyumnya ke arah saya, dan sepertinya dia mau duduk di sebelah saya, tapi tempat duduk sebelah saya sudah diisi oleh bapak-bapak, merokok pula, akhirnya dia duduk tiga baris di depan saya. Sepanjang perjalanan gadis itu mendengarkan musik melalui handphone-nya. Hari itu dia turun di Telkom. Kemudian saya tidak pernah bertemu gadis itu lagi selama kurang lebih 2 bulan.
Sampai kemudian, saya kembali melihatnya. Tapi kali ini sepertinya dia sudah lupa pada saya, dan saya tidak begitu perduli karena toh saya hanya senang memperhatikan saja, tidak ada harapan berkenalan atau lebih. Yang bikin kaget, sekarang tempat turunnya berbeda, tidak lagi di Telkom, tetapi turun di Jembatan Serong (keterangan : jarak Jembatan Serong dan Telkom cukup jauh). Selama berbulan-bulan dia turun di jembatan serong, sampai kemudian tempat turunnya berubah lagi, dan kali ini turun di jalan Sabang. Entah apa atau dimana kerjanya sampai harus berpindah-pindah seperti itu. Sampai hari ini saya masih sering melihat gadis itu di dalam bis, tadi pagi pun saya melihatnya. Awalnya saya lihat dia tidak ada di dalam bis, yang ada adalah wanita yang satu gedung kantor dengan saya. Kemudian saya melihat gadis itu keluar dari toilet umum terminal, lagi-lagi dengan wajah tanpa make-up dan penuh kantuknya. Dalam hati saya berkata “dugem lagi nih yee..” hehehehe………
Take a look around, you might like what you found
Seperti diketahui, hampir setiap hari saya naik bis ke kantor. Di dalam bis saya hampir pasti bertemu orang-orang yang sama tiap harinya. Ada bapak bertubuh pendek dan berambut tipis, pegawai PEMDA, turun di DKI tiap harinya. Ada seorang wanita gemuk berkacamata, keturunan tionghoa, naik dari Kramat Sentiong dan turun di Jembatan Serong. Ada seorang wanita gemuk dengan rambut panjang dan agak berwarna kuning, tiap pagi memakai sandal jepit, turun di Gang Harlan, tempat saya turun juga – dan ia ternyata karyawan di anak perusahaan yang berkantor di lantai 3-
Kemudian ada seorang wanita berambut panjang, selalu memberikan uang receh kepada pengamen (yang sepanjang perjalanan kadang-kadang bisa sampai 4-5 kali), turun di Jatibaru. Ada seorang pria, selalu berseragam, kulitnya hitam, turun di Bank Indonesia. Ada anak STM, kecil, kurus, bertampang menyebalkan (dan memang menyebalkan dengan sering meminta temannya membayari ongkos), turun di Kenari, dekat sekolahnya SMK Negeri 34.
Mengamati wajah-wajah mereka yang sejalan, satu bis dengan kita, kadang sangat menyenangkan mengingat begitu sedikitnya hal yang bisa dilakukan sepanjang perjalanan. Tapi yang paling menyenangkan buat saya adalah melihat salah seorang gadis penumpang bis yang belum saya sebutkan diatas. Gadis ini punya sorot mata tajam (duhh, kalau sudah lihat sorot mata tajam wanita saya suka terpesona sendiri….GAK BOLEH…GAK BOLEHHHHH!!!), matanya juga bagus, bulat, wajahnya manis, senyumnya juga manis, giginya berpagar, tidak memakai make-up, rambutnya hitam panjang, sedikit ikal. Saya pertama bertemu gadis ini justru bukan di pagi hari saat berangkat bekerja, melainkan saat pulang kantor. Waktu itu saya naik duluan. Saat bus berjalan saya tertidur. Saya kemudian terbangun karena ada yang duduk di samping saya, gadis itu yang duduk di samping saya. Saat itu bus berada di jalan Sabang, gadis itu naik dari sana. Sepanjang perjalanan, saya tidak bisa tertidur kembali, karena gadis yang duduk di sebelah saya sepertinya lelah sekali, atau mungkin juga dugem semalaman, hingga langsung tertidur pulas, dan kepalanya berkali-kali mengenai pundak saya. Karena kasihan, saya kemudian mengijinkan dia menyandarkan kepalanya di pundak saya sepanjang perjalanan (btw, Sara, ini kejadiannya tahun 2007 ya, bukan baru-baru ini). Gadis itu terbangun di Kantor Pos Jatinegara, dan turun di Terminal Kampung Melayu, tempat saya turun. Gadis itu kemudian melanjutkan naik mikrolet M16 jurusan Kp.Melayu-Pasar Minggu. Tapi perkiraan saya rumahnya ada di sepanjang jalan Otista – jalan Dewi Sartika, karena lewat dari itu ada kendaraan yang langsung ke Tanah Abang, logikanya buat apa dia jauh-jauh naik kendaraan ke Kampung Melayu dulu kalau ada yang langsung ke Tanah Abang?
Beberapa hari kemudian saya melihat dia lagi, kali ini pagi hari dalam perjalanan berangkat ke kantor. Seperti saat pertama saya melihatnya, sorot matanya tajam dan terlihat mengantuk (pada akhirnya saya selalu melihat dia mengantuk…mungkin malamnya dia selalu dugem, atau mungkin senang begadang seperti saya sebelum bekerja) dan ada lingkar hitam di sekitar matanya. Sepertinya, dia masih ingat saya, karena sempat melempar senyumnya ke arah saya, dan sepertinya dia mau duduk di sebelah saya, tapi tempat duduk sebelah saya sudah diisi oleh bapak-bapak, merokok pula, akhirnya dia duduk tiga baris di depan saya. Sepanjang perjalanan gadis itu mendengarkan musik melalui handphone-nya. Hari itu dia turun di Telkom. Kemudian saya tidak pernah bertemu gadis itu lagi selama kurang lebih 2 bulan.
Sampai kemudian, saya kembali melihatnya. Tapi kali ini sepertinya dia sudah lupa pada saya, dan saya tidak begitu perduli karena toh saya hanya senang memperhatikan saja, tidak ada harapan berkenalan atau lebih. Yang bikin kaget, sekarang tempat turunnya berbeda, tidak lagi di Telkom, tetapi turun di Jembatan Serong (keterangan : jarak Jembatan Serong dan Telkom cukup jauh). Selama berbulan-bulan dia turun di jembatan serong, sampai kemudian tempat turunnya berubah lagi, dan kali ini turun di jalan Sabang. Entah apa atau dimana kerjanya sampai harus berpindah-pindah seperti itu. Sampai hari ini saya masih sering melihat gadis itu di dalam bis, tadi pagi pun saya melihatnya. Awalnya saya lihat dia tidak ada di dalam bis, yang ada adalah wanita yang satu gedung kantor dengan saya. Kemudian saya melihat gadis itu keluar dari toilet umum terminal, lagi-lagi dengan wajah tanpa make-up dan penuh kantuknya. Dalam hati saya berkata “dugem lagi nih yee..” hehehehe………
Take a look around, you might like what you found
From a Friend
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi dikhianati.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi tidak dihargai.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi tidak dimengerti.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi disalah mengerti.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi tidak dihiraukan.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencegah dan melarang untuk kebaikan tapi dimusuhi
Cinta itu menyakitkan tatkala kita tidak menghiraukan jeritan dan peringatan dari orang yang mencintai kita.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi cinta kita dipermainkan
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi tidak dihargai.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi tidak dimengerti.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi disalah mengerti.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi tidak dihiraukan.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencegah dan melarang untuk kebaikan tapi dimusuhi
Cinta itu menyakitkan tatkala kita tidak menghiraukan jeritan dan peringatan dari orang yang mencintai kita.
Cinta itu menyakitkan bila kita mencintai tapi cinta kita dipermainkan
Nov 19, 2008
Sosok itu....
Dulu
Saya sepertinya menemukan sosok wanita sempurna
Manis
Baik
Penyayang
Pintar
Talkative
Independent
Humourous
Generous
and Honest
saya menemukannya di SMA
biarpun berkali-kali ditolak, saya tetap mengaguminya
and then
saya bertemu sosok lainnya yang berbeda
manis
baik
pintar
talkative
generous
humourous
tapi manja
perlahan-lahan, sosok wanita pertama tergantikan
saya mengaguminya, tapi tidak berani mengatakannya
karena satu dan lain hal
and then
saya bertemu sosok lainnya yang berbeda
cantik
talkative
humourous
independent
yet childish
we become very close
and i thought i love her
saya pikir sosok wanita kedua telah terganti
tapi ternyata tidak
sosoknya tetap ada di hati
sosoknya tidak terganti
dan tidak akan terganti
today
i'm thankful
karena sosok kedua
love me as i love her
yes, it's you
Sara Christina Kusumaningsih
Saya sepertinya menemukan sosok wanita sempurna
Manis
Baik
Penyayang
Pintar
Talkative
Independent
Humourous
Generous
and Honest
saya menemukannya di SMA
biarpun berkali-kali ditolak, saya tetap mengaguminya
and then
saya bertemu sosok lainnya yang berbeda
manis
baik
pintar
talkative
generous
humourous
tapi manja
perlahan-lahan, sosok wanita pertama tergantikan
saya mengaguminya, tapi tidak berani mengatakannya
karena satu dan lain hal
and then
saya bertemu sosok lainnya yang berbeda
cantik
talkative
humourous
independent
yet childish
we become very close
and i thought i love her
saya pikir sosok wanita kedua telah terganti
tapi ternyata tidak
sosoknya tetap ada di hati
sosoknya tidak terganti
dan tidak akan terganti
today
i'm thankful
karena sosok kedua
love me as i love her
yes, it's you
Sara Christina Kusumaningsih
Sleep
Kadang kalau susah tidur saya memindahkan tempat saya tidur. Kalau kurang tidur di malam hari, biasanya saya tertidur di bis dalam perjalanan ke kantor. kalau masih kurang juga dan ada kesempatan saya tidur di kantor. Bisa di meja saya, bisa di ruang rapat (ini kalau bos lagi ga ada di tempat), bisa juga di dapur (disini paling enak, dingin, dan ga ada yang ganggu hehehehe). Kalau tidur di kantor belum cukup, atau kalau tidak ada kesempatan tidur di kantor, biasanya saya tertidur di di bis dalam perjalanan pulang.
Disini masalahnya...
Biasanya kalau pulang (berangkat juga sih) saya mendengarkan lagu lewat hp saya. Hampir setiap hari saya pulang naik patas 916 jurusan Kampung Melayu - Tanah Abang. Kalau 916 lama datangnya, saya naik Kopaja 502 jurusan Kampung Rambutan - Tanah Abang yang lewat Kampung Melayu. Dari Kampung Melayu saya naik mikrolet 54 jurusan Kampung Melayu - Pondok Bambu dan turun di Hero Cipinang. Atau kalau malas jalan saya turun di Kantor Pos Jatinegara naik Mikrolet 32 jurusan Kampung Melayu - Perumnas Klender, turun di halte dekat rumah. Lebih sering sih saya turun di Kampung Melayu karena tertidur dan Kantor Posnya kelewat.
One day, saya pulang naik 502 karena 916 tidak kunjung datang. seperti biasa saya mendengarkan musik dan tak beberapa lama setelah membayar ongkos saya tertidur. Kali ini cukup pulas karena semalamnya saya baru tertidur jam 2 dan tidak ada kesempatan tidur di kantor. saat membuka mata, saya heran karena kopajanya hampir kosong, suatu hal yang jarang terjadi di jam pulang kantor. Karena "nyawanya belum kumpul", saya belum sadar ada di mana. Setelah beberapa saat saya menyadari bahwa saya ada di Jl. Otista, yang artinya sudah lewat Kampung Melayu. Dengan agak panik tapi mencoba terlihat "cool", saya meminta untuk berhenti dan sayapun turun. Dari sana saya terpaksa berjalan ke jembatan penyebrangan terdekat, menyebrang, naik Mikrolet ke Kampung Melayu, berjalan ke tempat "Ngetem"-nya 54, naik 54, turun di hero dan berjalan kaki lebih dari 500m ke rumah. Cape? YOU BET!!!
So, a little warning buat yang suka tidur di bus...jangan tidur sambil denger musik, suara kenek yang teriak2 jadi ga kedengeran, dan anda bisa bablas jauh dari tujuan anda yang sebenarnya.
Disini masalahnya...
Biasanya kalau pulang (berangkat juga sih) saya mendengarkan lagu lewat hp saya. Hampir setiap hari saya pulang naik patas 916 jurusan Kampung Melayu - Tanah Abang. Kalau 916 lama datangnya, saya naik Kopaja 502 jurusan Kampung Rambutan - Tanah Abang yang lewat Kampung Melayu. Dari Kampung Melayu saya naik mikrolet 54 jurusan Kampung Melayu - Pondok Bambu dan turun di Hero Cipinang. Atau kalau malas jalan saya turun di Kantor Pos Jatinegara naik Mikrolet 32 jurusan Kampung Melayu - Perumnas Klender, turun di halte dekat rumah. Lebih sering sih saya turun di Kampung Melayu karena tertidur dan Kantor Posnya kelewat.
One day, saya pulang naik 502 karena 916 tidak kunjung datang. seperti biasa saya mendengarkan musik dan tak beberapa lama setelah membayar ongkos saya tertidur. Kali ini cukup pulas karena semalamnya saya baru tertidur jam 2 dan tidak ada kesempatan tidur di kantor. saat membuka mata, saya heran karena kopajanya hampir kosong, suatu hal yang jarang terjadi di jam pulang kantor. Karena "nyawanya belum kumpul", saya belum sadar ada di mana. Setelah beberapa saat saya menyadari bahwa saya ada di Jl. Otista, yang artinya sudah lewat Kampung Melayu. Dengan agak panik tapi mencoba terlihat "cool", saya meminta untuk berhenti dan sayapun turun. Dari sana saya terpaksa berjalan ke jembatan penyebrangan terdekat, menyebrang, naik Mikrolet ke Kampung Melayu, berjalan ke tempat "Ngetem"-nya 54, naik 54, turun di hero dan berjalan kaki lebih dari 500m ke rumah. Cape? YOU BET!!!
So, a little warning buat yang suka tidur di bus...jangan tidur sambil denger musik, suara kenek yang teriak2 jadi ga kedengeran, dan anda bisa bablas jauh dari tujuan anda yang sebenarnya.
Oct 7, 2008
Dear Sara.....
Dear Sara,
I just want to say I LOVE YOU
hehehe....
I just want to say I LOVE YOU
hehehe....
Lebih Parah??
Ini baru saja terjadi kemarin sore.
Kemarin saat saya sedang berada di dalam bis pulang dari kantor, naiklah 3 orang berwajah sangar ke dalam bis. Dua orang diantaranya berambut panjang dan seorang lagi berambut pendek. Ketiganya berbadan agak gemuk, tangannya bertato dan semuanya memakai anting di telinga (salah satu bahkan memakai anting di bibir).
"Selamat sore bapak-bapak ibu-ibu sekalian, kami disini tidak akan basa-basi, kami disini hanya ingin meminta sebagian harta bapak dan ibu. Sebelumnya perkenankan kami membacakan sebuah puisi yang berjudul perut kami lapar"
Setelah membaca puisi yang sangat singkat dan tidak jelas, dua orang diantara mereka menyodorkan topi kepada setiap penumpang. Saya yang sangat membenci perilaku orang-orang seperti ini dari awal tidak berniat memberikan mereka sepeserpun.
Seorang ibu yang duduk tiga bangku di depan saya juga menolak memberikan uang kepada mereka. Tapi apa yang terjadi? salah satu dari mereka mendorong tubuh ibu itu sambil memaksa supaya ibu itu memberikan uang. Ibu itu sepertinya ketakutan dan akhirnya memberikan uang.
Sesaat kemudian seorang bapak yang duduk di deretan sebelah kanan saya juga menolak memberi uang, dan bapak itu kemudian dipaksa untuk memberikan rokoknya sebanyak tiga batang. Saat salah satu dari mereka menyodorkan topi ke arah saya, saya mengangkat tangan saya sebagai tanda menolak memberikan apapun. Orang itu kemudian menepuk pundak saya sambil terus menyodorkan topi ke arah saya. Saya kemudian melihat ke arah orang itu.
"Mau ngasih ga lu?", tanyanya
"Kalau engga mang kenapa? kalau gue gak ngasih mang lu mau apa?!", jawab saya sambil melotot ke arah orang itu.
Orang itu tidak menjawab dan menyodorkan topinya ke orang lain.
Saya bukannya sok jago, tapi sudah seharusnya setiap orang berani melawan perbuatan yang seperti itu. Meminta dengan paksaan sama saja dengan pemalakan atau penodongan, sesuatu yang dilarang oleh hukum. Orang-orang seperti itu tidak akan berani memaksa lebih jauh karena jumlah mereka pasti kalah banyak dengan jumlah penumpang bis bukan? Yang diperlukan tinggal ketegasan kita sebagai penumpang untuk menolak diperlakukan seperti pengecut.
Buat yang tidak berani melawan, sebaiknya berhati-hati di dalam kendaraan umum
Kemarin saat saya sedang berada di dalam bis pulang dari kantor, naiklah 3 orang berwajah sangar ke dalam bis. Dua orang diantaranya berambut panjang dan seorang lagi berambut pendek. Ketiganya berbadan agak gemuk, tangannya bertato dan semuanya memakai anting di telinga (salah satu bahkan memakai anting di bibir).
"Selamat sore bapak-bapak ibu-ibu sekalian, kami disini tidak akan basa-basi, kami disini hanya ingin meminta sebagian harta bapak dan ibu. Sebelumnya perkenankan kami membacakan sebuah puisi yang berjudul perut kami lapar"
Setelah membaca puisi yang sangat singkat dan tidak jelas, dua orang diantara mereka menyodorkan topi kepada setiap penumpang. Saya yang sangat membenci perilaku orang-orang seperti ini dari awal tidak berniat memberikan mereka sepeserpun.
Seorang ibu yang duduk tiga bangku di depan saya juga menolak memberikan uang kepada mereka. Tapi apa yang terjadi? salah satu dari mereka mendorong tubuh ibu itu sambil memaksa supaya ibu itu memberikan uang. Ibu itu sepertinya ketakutan dan akhirnya memberikan uang.
Sesaat kemudian seorang bapak yang duduk di deretan sebelah kanan saya juga menolak memberi uang, dan bapak itu kemudian dipaksa untuk memberikan rokoknya sebanyak tiga batang. Saat salah satu dari mereka menyodorkan topi ke arah saya, saya mengangkat tangan saya sebagai tanda menolak memberikan apapun. Orang itu kemudian menepuk pundak saya sambil terus menyodorkan topi ke arah saya. Saya kemudian melihat ke arah orang itu.
"Mau ngasih ga lu?", tanyanya
"Kalau engga mang kenapa? kalau gue gak ngasih mang lu mau apa?!", jawab saya sambil melotot ke arah orang itu.
Orang itu tidak menjawab dan menyodorkan topinya ke orang lain.
Saya bukannya sok jago, tapi sudah seharusnya setiap orang berani melawan perbuatan yang seperti itu. Meminta dengan paksaan sama saja dengan pemalakan atau penodongan, sesuatu yang dilarang oleh hukum. Orang-orang seperti itu tidak akan berani memaksa lebih jauh karena jumlah mereka pasti kalah banyak dengan jumlah penumpang bis bukan? Yang diperlukan tinggal ketegasan kita sebagai penumpang untuk menolak diperlakukan seperti pengecut.
Buat yang tidak berani melawan, sebaiknya berhati-hati di dalam kendaraan umum
Aug 1, 2008
Over...Restart...
It's Over
All our differences...
All the arguments...
All the fighting...
All the tears shed...
It's all over now
I don't love you anymore
not after what you have done to me
these wounds won't heal
and i certainly won't forgive
Please do forget me
For i will forget you
let's just live our own life
you and me are over....
Restart...
It's been years since i met you
It's been years since i liked you
It's been years
and yet i still love you
You and me were close
so very close
but this fear of losing you
the fear of you not feeling the same way
have kept me silence
for years....
then i heard from your friend
and you as well
that you felt the same way
and still do after all these years
i was relieved
i finally knew how you feel
finally knew you felt the same as i do
i hope it's not too late
for us to restart....
All our differences...
All the arguments...
All the fighting...
All the tears shed...
It's all over now
I don't love you anymore
not after what you have done to me
these wounds won't heal
and i certainly won't forgive
Please do forget me
For i will forget you
let's just live our own life
you and me are over....
Restart...
It's been years since i met you
It's been years since i liked you
It's been years
and yet i still love you
You and me were close
so very close
but this fear of losing you
the fear of you not feeling the same way
have kept me silence
for years....
then i heard from your friend
and you as well
that you felt the same way
and still do after all these years
i was relieved
i finally knew how you feel
finally knew you felt the same as i do
i hope it's not too late
for us to restart....
Jun 20, 2008
Ou Em Jii... (Oh My God)
Minggu lalu, tanggal 12 Juni 2008, saya kebetulan dinas ke Bandung untuk mengevaluasi dokumen tender. Saya dan Pak Agung memilih menginap di Wisma Patrakomala milik Itjenad di jalan Patrakomala karena dekat dengan Prima Rasa Bakery tempat membeli oleh-oleh kalau ke Bandung.
Saya dan Pak Agung berangkat dari kantor pukul 09.00 pagi, dan sampai di wisma sekitar pukul 11. Di wisma sudah menunggu rekan Pak Agung yaitu Pak Sudarwanto. Beliau menunggu di wisma dan tidak berangkat bersama kami karena rumahnya memang di Bandung, sementara di Jakarta beliau Kost. Setelah check in, kami langsung mulai bekerja dengan mengubah ruang makan wisma menjadi ruang kerja (salah satu alasan juga kenapa menginap di wisma patrakomala adalah tidak perlu membayar sewa ruang rapat, cukup menggunakan ruang makan yang cukup luas). Kami memutuskan untuk makan siang pukul 2 karena kami masih cukup kenyang.
Setelah makan siang, kami kembali meneruskan pekerjaan. Saat sedang seriusnya bekerja, lewatlah 2 orang muda, 1 pria dan 1 wanita, keduanya berumur sekitar 16-20 tahun, yang langsung masuk ke dalam kamar nomor 5. Pak Agung terlihat kebingungan.
" Nold, yang dua tadi masuk kamar mana?" tanya Pak Agung
" Kamar nomor 5 Pak"
" Mereka satu kamar?"
" Iya, kenapa Pak?"
" Kok boleh ya? ini kan mess punya tentara, kok boleh ya cowok-cewek satu kamar"
" Yang mana Pak Agung? Yang barusan lewat? Mungkin sudah menikah Pak Agung" Pak Sudarwanto ikut menimpali
" Iyo yang tadi..gak mungkin ah sudah menikah, masih muda begitu kok, paling-paling SMA atau kuliah tingkat awal"
" Atau mungkin adik-kakak..."
" Opo iyo? ga ada miripnya kok"
" Kalau gitu ditanya saja Pak sama yang jaga, kok boleh.."
" Wah, gak beres nih..."
Memang agak mencurigakan, keduanya tidak bawa tas atau apapun sebagai tempat pakaian ganti, yang wanita hanya membawa plastik putih yang isinya bisa terlihat oleh saya adalah snack, rokok dan minuman ringan kaleng. Yang pria memakai t-shirt dan celana 3/4 serta jaket, yang wanita memakai t-shirt dan celana pendek serta jaket. Begitu masuk ruangan mereka langsung menutup pintu dan tirai jendela. Kemudian terdengar suara air, sepertinya sedang mengisi bak kamar mandi, tapi kemudian sampai air keran mati tidak terdengar seperti ada yang mandi, jadi apa tujuannya mengisi bak kamar mandi??
Pasangan itu terus menerus mengurung diri di kamar sampai menjelang Maghrib, mereka keluar kamar. Setelah Maghrib, mereka kembali masuk kamar sambil membawa plastik yang lagi-lagi terlihat isinya adalah snack dan minuman ringan. Kemudian sesaat sebelum saya dan Pak Agung keluar mencari makan malam, saya melihat mereka kembali meninggalkan kamar. Sepulangnya dari makan malam sekitar jam 9 malam, saya dan Pak Agung mendapati kamar yang dipakai tadi sudah kosong dan dirapihkan. "Mereka short-time rupanya nold. Gawat juga eh, anak jaman sekarang" kata Pak Agung.
Entah apa yang terjadi di dalam kamar nomor 5 wisma tersebut hari itu, hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Tapi saya mungkin bisa tahu kalau saja saya mengambil kamar nomor 6 yang letaknya bersebelahan. Dari kamar mandi kamar nomor 6 bisa terdengar suara dari kamar nomor 5, dan mungkin sebaliknya juga. Saya bisa tahu karena terakhir kali saya menginap di wisma itu saya berada di kamar nomor 6, dan dari kamar mandi saya bisa mendengar obrolan Bu Kiki dan Bu Anna yang waktu itu ada di kamar nomor 5. Sayangnya, saya mengambil kamar nomor 7, karena sesuai dengan nomor rumah saya yang baru....dan juga CR7 hehehehehe....
Saya dan Pak Agung berangkat dari kantor pukul 09.00 pagi, dan sampai di wisma sekitar pukul 11. Di wisma sudah menunggu rekan Pak Agung yaitu Pak Sudarwanto. Beliau menunggu di wisma dan tidak berangkat bersama kami karena rumahnya memang di Bandung, sementara di Jakarta beliau Kost. Setelah check in, kami langsung mulai bekerja dengan mengubah ruang makan wisma menjadi ruang kerja (salah satu alasan juga kenapa menginap di wisma patrakomala adalah tidak perlu membayar sewa ruang rapat, cukup menggunakan ruang makan yang cukup luas). Kami memutuskan untuk makan siang pukul 2 karena kami masih cukup kenyang.
Setelah makan siang, kami kembali meneruskan pekerjaan. Saat sedang seriusnya bekerja, lewatlah 2 orang muda, 1 pria dan 1 wanita, keduanya berumur sekitar 16-20 tahun, yang langsung masuk ke dalam kamar nomor 5. Pak Agung terlihat kebingungan.
" Nold, yang dua tadi masuk kamar mana?" tanya Pak Agung
" Kamar nomor 5 Pak"
" Mereka satu kamar?"
" Iya, kenapa Pak?"
" Kok boleh ya? ini kan mess punya tentara, kok boleh ya cowok-cewek satu kamar"
" Yang mana Pak Agung? Yang barusan lewat? Mungkin sudah menikah Pak Agung" Pak Sudarwanto ikut menimpali
" Iyo yang tadi..gak mungkin ah sudah menikah, masih muda begitu kok, paling-paling SMA atau kuliah tingkat awal"
" Atau mungkin adik-kakak..."
" Opo iyo? ga ada miripnya kok"
" Kalau gitu ditanya saja Pak sama yang jaga, kok boleh.."
" Wah, gak beres nih..."
Memang agak mencurigakan, keduanya tidak bawa tas atau apapun sebagai tempat pakaian ganti, yang wanita hanya membawa plastik putih yang isinya bisa terlihat oleh saya adalah snack, rokok dan minuman ringan kaleng. Yang pria memakai t-shirt dan celana 3/4 serta jaket, yang wanita memakai t-shirt dan celana pendek serta jaket. Begitu masuk ruangan mereka langsung menutup pintu dan tirai jendela. Kemudian terdengar suara air, sepertinya sedang mengisi bak kamar mandi, tapi kemudian sampai air keran mati tidak terdengar seperti ada yang mandi, jadi apa tujuannya mengisi bak kamar mandi??
Pasangan itu terus menerus mengurung diri di kamar sampai menjelang Maghrib, mereka keluar kamar. Setelah Maghrib, mereka kembali masuk kamar sambil membawa plastik yang lagi-lagi terlihat isinya adalah snack dan minuman ringan. Kemudian sesaat sebelum saya dan Pak Agung keluar mencari makan malam, saya melihat mereka kembali meninggalkan kamar. Sepulangnya dari makan malam sekitar jam 9 malam, saya dan Pak Agung mendapati kamar yang dipakai tadi sudah kosong dan dirapihkan. "Mereka short-time rupanya nold. Gawat juga eh, anak jaman sekarang" kata Pak Agung.
Entah apa yang terjadi di dalam kamar nomor 5 wisma tersebut hari itu, hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Tapi saya mungkin bisa tahu kalau saja saya mengambil kamar nomor 6 yang letaknya bersebelahan. Dari kamar mandi kamar nomor 6 bisa terdengar suara dari kamar nomor 5, dan mungkin sebaliknya juga. Saya bisa tahu karena terakhir kali saya menginap di wisma itu saya berada di kamar nomor 6, dan dari kamar mandi saya bisa mendengar obrolan Bu Kiki dan Bu Anna yang waktu itu ada di kamar nomor 5. Sayangnya, saya mengambil kamar nomor 7, karena sesuai dengan nomor rumah saya yang baru....dan juga CR7 hehehehehe....
Jun 6, 2008
JACKASSES ON BUS
JERK! SIAPA SURUH DATANG KE JAKARTA!?
“Assalamualaikum, selamat sore menjelang malam!”
“ Mohon maaf jika kedatangan kami disini mengganggu perjalanan bapak dan ibu sekalian! Kedatangan kami disini bukan untuk merampok, menjambret, atau hal kriminalitas lainnya bak ibu! Kedatangan kami disini hanya ingin meminta bantuan dari bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!”
“Daripada kami menodong, merampok atau menjambret kami tidak mau bapak ibu! Karena itu haram bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!!”
“Karena itu kami mohon bantuannya bapak ibu, mohon bantuannya untuk kami membeli makan untuk menyambung hidup kami bapak ibu!”
“Untuk makan bapak ibu!!”
“Uang seribu dua ribu tidak akan membuat anda jatuh miskin bapak ibu! Malah anda dapat pahala karena beramal bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!!”
“Kami mohon toleransinya, kami mohon bantuannya bapak ibu! Kami tidak akan memaksa, tapi tolong hargai usaha kami bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!!”
Diatas adalah kata-kata yang sering saya dengar di dalam bus saat pulang kantor. Kata-kata yang biasanya diucapkan oleh remaja tanggung dekil dan seolah-olah terlihat menakutkan dengan anting dimana-mana, kadang sendirian, tapi lebih sering berdua atau bertiga, mungkin untuk memberikan efek teror kepada para penumpang. Setelah mengucapkan (atau lebih tepat berteriak) kata-kata tersebut, salah satu berkeliling meminta uang dari penumpang sementara yang lain (kalau datangnya tidak sendirian) terus mengoceh sambil mengatakan “Bantu kami bapak ibu! Hargai usaha kami bapak ibu! Jangan sampai kami berbuat kasar bapak ibu!”.
Entah kenapa masih ada juga yang memberikan uangnya kepada mereka, mungkin karena merasa takut, padahal sebenarnya kalau mereka memaksa apa iya penumpang lain tidak membantu? Begundal-begundal yang meminta uang seperti itu lebih parah daripada pengamen, mereka tidak ada usaha apapun, cuma membuat orang takut untuk kemudian memberikan sedikit uang buat begundal brengsek. Saya sendiri tidak pernah takut sama mereka.
Saya juga tidak mengerti, anak muda seperti mereka sudah membiasakan menggunakan kekerasan, terror untuk mendapatkan apa yang diinginkan, mau dibawa kemana bangsa ini. Kalau dipikir lagi, mereka kan masih bisa berusaha untuk mencari nafkah tanpa harus meresahkan orang lain. Dengan modal tepuk tangan dan sedikit bernyanyi mereka masih bisa dapat uang meskipun suaranya sumbang. Dengan tenaga mudanya mereka bisa menjadi kuli angkut, kuli bangunan, penjual koran, pedagang asongan, apalah yang halal dan tidak meresahkan. Tapi memang dasarnya orang-orang seperti mereka itu pemalas, tidak mau berusaha tapi mau dapat banyak, jadinya ya seperti itu. Saya sendiri tidak yakin pada kata-kata mereka kalau uangnya dipakai membeli makanan, yang ada paling mereka membeli sesuatu yang tidak ada gunanya seperti lem untuk “ngelem”, atau malah langsung ke narkoba dengan paket hematnya, atau untuk membeli minuman keras (karena banyak orang yang seperti ini, lebih memilih beli minuman keras ketimbang makanan kalau punya sedikit uang), atau untuk beli rokok (malah ada yang naik keatas bus, berkata kalau dia lapar tapi sambil menghisap rokok, kenapa dia gak beli makanan malah beli rokok?)
Saya mengerti mencari uang di Jakarta itu susah, tapi sesusah-susahnya cari uang di Jakarta mbok ya cari uangnya yang halal dan tidak memaksa. Lagian, siapa suruh datang ke Jakarta?
“Assalamualaikum, selamat sore menjelang malam!”
“ Mohon maaf jika kedatangan kami disini mengganggu perjalanan bapak dan ibu sekalian! Kedatangan kami disini bukan untuk merampok, menjambret, atau hal kriminalitas lainnya bak ibu! Kedatangan kami disini hanya ingin meminta bantuan dari bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!”
“Daripada kami menodong, merampok atau menjambret kami tidak mau bapak ibu! Karena itu haram bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!!”
“Karena itu kami mohon bantuannya bapak ibu, mohon bantuannya untuk kami membeli makan untuk menyambung hidup kami bapak ibu!”
“Untuk makan bapak ibu!!”
“Uang seribu dua ribu tidak akan membuat anda jatuh miskin bapak ibu! Malah anda dapat pahala karena beramal bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!!”
“Kami mohon toleransinya, kami mohon bantuannya bapak ibu! Kami tidak akan memaksa, tapi tolong hargai usaha kami bapak ibu!”
“Betul bapak ibu!!”
Diatas adalah kata-kata yang sering saya dengar di dalam bus saat pulang kantor. Kata-kata yang biasanya diucapkan oleh remaja tanggung dekil dan seolah-olah terlihat menakutkan dengan anting dimana-mana, kadang sendirian, tapi lebih sering berdua atau bertiga, mungkin untuk memberikan efek teror kepada para penumpang. Setelah mengucapkan (atau lebih tepat berteriak) kata-kata tersebut, salah satu berkeliling meminta uang dari penumpang sementara yang lain (kalau datangnya tidak sendirian) terus mengoceh sambil mengatakan “Bantu kami bapak ibu! Hargai usaha kami bapak ibu! Jangan sampai kami berbuat kasar bapak ibu!”.
Entah kenapa masih ada juga yang memberikan uangnya kepada mereka, mungkin karena merasa takut, padahal sebenarnya kalau mereka memaksa apa iya penumpang lain tidak membantu? Begundal-begundal yang meminta uang seperti itu lebih parah daripada pengamen, mereka tidak ada usaha apapun, cuma membuat orang takut untuk kemudian memberikan sedikit uang buat begundal brengsek. Saya sendiri tidak pernah takut sama mereka.
Saya juga tidak mengerti, anak muda seperti mereka sudah membiasakan menggunakan kekerasan, terror untuk mendapatkan apa yang diinginkan, mau dibawa kemana bangsa ini. Kalau dipikir lagi, mereka kan masih bisa berusaha untuk mencari nafkah tanpa harus meresahkan orang lain. Dengan modal tepuk tangan dan sedikit bernyanyi mereka masih bisa dapat uang meskipun suaranya sumbang. Dengan tenaga mudanya mereka bisa menjadi kuli angkut, kuli bangunan, penjual koran, pedagang asongan, apalah yang halal dan tidak meresahkan. Tapi memang dasarnya orang-orang seperti mereka itu pemalas, tidak mau berusaha tapi mau dapat banyak, jadinya ya seperti itu. Saya sendiri tidak yakin pada kata-kata mereka kalau uangnya dipakai membeli makanan, yang ada paling mereka membeli sesuatu yang tidak ada gunanya seperti lem untuk “ngelem”, atau malah langsung ke narkoba dengan paket hematnya, atau untuk membeli minuman keras (karena banyak orang yang seperti ini, lebih memilih beli minuman keras ketimbang makanan kalau punya sedikit uang), atau untuk beli rokok (malah ada yang naik keatas bus, berkata kalau dia lapar tapi sambil menghisap rokok, kenapa dia gak beli makanan malah beli rokok?)
Saya mengerti mencari uang di Jakarta itu susah, tapi sesusah-susahnya cari uang di Jakarta mbok ya cari uangnya yang halal dan tidak memaksa. Lagian, siapa suruh datang ke Jakarta?
Subscribe to:
Posts (Atom)