Mar 13, 2009

Huahahahaha –Eat Your Heart Out Ultras-


Semua bermula saat saya sedang menantikan siaran langsung Liga Champions Eropa antara Inter Milan melawan Manchester United sekitar 2 minggu lalu. Waktu itu saya belum logout dari messenger saya. Ada beberapa nama yang terlihat masih aktif, dan salah satunya adalah nama teman saya Rio Yohanes Hutajulu. Saya kemudian iseng melihat statusnya. Ternyata statusnya berbunyi (kurang lebih, saya lupa) “Nonton UCL…Ayo Internazionale, kalahkan klub sampah MU.”


Panas? Jelas. Sudah lama saya mengidolakan klub Manchester United, dan bahkan sudah menganggapnya seperti agama kedua, can’t live without it. Karena lawannya Inter Milan, dengan pelatih Jose Mourinho yang punya rekor bagus melawan pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson, saya mengurungkan niat perang kata dengan teman saya yang seorang Juventini (Penggemar klub Juventus) dan penggemar kompetisi Serie A Italia. Saya marah karena dia menganggap ManUtd sebagai klub sampah, padahal klub tersebut adalah juara bertahan Liga Champions Eropa dan baru saja keluar sebagai yang terbaik dalam Kejuaraan Dunia Antar Klub. Dan lagi, melihat dia yang seorang ultras Juventus, mendukung rival dari Juventus hanya supaya ManUtd kalah, adalah hal yang menjijikkan buat saya. Kalau anda mengaku pendukung fanatik sebuah klub, anda seharusnya tidak akan merasa senang sama sekali melihat rival anda meraih sukses. Seperti saya yang ogah merayakan kemenangan Liverpool, Chelsea, Arsenal, Bolton, Manchester City, dan rival-rival ManUtd lainnya.

Anyway, pertandingan kemudian berakhir dengan skor kacamata (0-0). Selesai pertandingan, saya sempat mengirim pesan “Inter ga bisa menang lawan klub sampah ya?” dan akhirnya berujung ke perdebatan yang tidak jelas (heheheheheh). Dia mengatakan bahwa dia menggemari Italia, jadi dalam Liga Champions Eropa dia mendukung klub-klub Italia yang berlaga. Saya membalas dengan mengatakan bahwa saya juga Hooligans (penggemar tim nasional Inggris), tapi saya tidak akan pernah mendukung tim selain Manchester United karena menurut saya hal seperti itu salah. Saya mencintai Inggris karena saya mencintai Manchester United, bukan karena klub-klub lainnya.

Saling ejek berlanjut keesokan harinya, karena klub favoritnya, Juventus, kalah dari klub Liga Inggris Chelsea. Saya mengejek bukan karena mendukung Chelsea (karena saya sebenarnya tidak suka Chelsea menang) tapi karena Juventus kalah. Setelah panjang berdebat, dia akhirnya mengatakan “Kita liat aja di leg kedua, siapa yang menang.” Dengan senang hati.

Semalam, seluruh hasil leg kedua sudah saya dapat. Hasilnya, tidak satupun klub Serie A Italia yang lolos ke babak berikutnya. AS Roma, kalah dalam adu Penalti (setelah menang 1-0 di leg kedua sehingga agregat 1-1) melawan Klub Inggris Arsenal. Juventus, bermain seri 2-2 dan tersingkir karena kalah agregat 2-3 melawan klub Inggris Chelsea. Internazionale Milan, kalah 0-2 dari Manchester United. Dalam hati, saya tidak senang dengan keberhasilan Liverpool, Chelsea dan Arsenal lolos ke babak berikutnya, saya hanya senang karena sekarang saya bisa mengatakan sesuatu pada teman saya….

Internazionale Milan?? Lebih sampah dari klub yang lo anggap sampah!!”

INGGRIS 4, Spanyol 2, Jerman 1, Portugal 1….ITALIA? NOL BESAR!!!”

GYAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!


- it’s all about winning…IN STYLE!! -

2 comments:

Quinie said...

huahaha.. untung gue ga suka bola. Kalo iya, mungkin bakalan cela2an juga ama lu...xixixi...

Ariyanti Danurtiyas said...

Parah... Ode suara ketawanya sampe kedengeran ke rumah gw...! Puas bgt kayaknya. Bwahaha...!!!