Jun 11, 2009

Busway


Busway

Sebenarnya ide membuat tulisan ini sudah ada sejak beberapa bulan lalu. Tapi berhubung saya lumayan pelupa untuk seseorang yang semuda saya, jadilah idenya terbengkalai tanpa bisa dikembangkan menjadi tulisan.

Lagi – lagi saya menulis tentang Busway. Sepertinya alat transportasi Jakarta yang satu ini memang memiliki banyak hal menarik yang bisa diceritakan. Kali ini ada beberapa yang ingin saya tuliskan. Pertama, ada seseorang yang berkomentar di televisi swasta “kenapa sih harus dibuat landai dan bukan tangga aja? Kan capek, jadi jauh jalannya.” Bagi saya ini komentar dari orang yang entah tidak berwawasan, tidak perduli sesame, atau hanya asal bicara saja yang penting bisa masuk TV. Saya rasa yang harus diketahui, bahwa bus transjakarta diadakan untuk mengakomodasi kebutuhan transportasi bagi banyak orang. Diusahakan hampir seluruh warga Jakarta akan bisa menaikinya. Mengingat bahwa tidak seluruhnya warga Jakarta memiliki tubuh yang sempurna, masih banyak yang cacat, maka didesainlah jembatan halte yang bisa mengakomodasi penderita cacat (lumpuh). Caranya ya dengan mengubah akses ke jembatan yang berbentuk tangga menjadi sebuah jalan menanjak yang landai, sehingga mereka yang berkusi roda bisa dengan mudah naik ke atas jembatannya. Bisa membayangkan kan betapa repotnya dia jika bentuknya masih tangga? Selain itu di beberapa halte di jalan utama juga menyediakan lift bagi orang cacat, terutama bagi halte yang memang tidak bisa didesain bentuk landai dan harus berbentuk tangga. Jadi kalau anda merasa capek harus berjalan jauh setiap akan menuju halte busway, mungkin anda harus merasakan hidup lumpuh dan mencoba menaiki TANGGA jembatan penyeberangan. Nanti kalau anda sudah merasakannya, baru boleh anda mengatakan berjalan menuju halte busway itu melelahkan. Have some empathy for others dear.

Kedua, saya beberapa kali melihat bus transjakarta berhenti di tengah jalan. Bus itu mogok. Beberapa yang saya lihat sudah ditemani mobil servis, beberapa belum yang mungkin karena baru saja mogok. Bus yang mogok, paling banyak yang saya lihat adalah bus gandeng. Saya heran, maintenance yang dilakukan seperti apa sih? Bus gandeng itu kan belum ada 5 tahun dipakai oleh armada transjakarta, kenapa sudah banyak yang mogok? Atau mungkinkah bus yang digunakan memang bus yang tidak qualified? Atau merupakan bus rekondisi (bekas tapi didandani sehingga terlihat baru)? Masalah ini mungkin hanya pihak pengelola yang bisa menjawab. Tapi jujur saja, buat saya sebuah kendaraan yang belum berumur 5 tahun tapi sudah mogok, berarti ada yang salah dengan pemeliharaan dan penggunaannya.

Ketiga, tentang mereka yang menggunakan bus transjakarta. Saya tidak mengerti, mungkin memang sifat manusia Indonesia-kah kebiasaan tidak bisa mengantri dengan benar? Sudah kebiasaan manusia Indonesia-kah untuk selalu terburu-buru, sehingga kemudian tidak mengindahkan aturan mengantri? Rusak Negara ini kalau manusianya terus-terusan seperti itu. Saya sering melihat orang mengantri tidak pada tempatnya, mereka berusaha menyelipkan diri dari samping. Pintu halte yang normalnya muat untuk antrian 4 baris, dirusak oleh mereka yang membuat baris baru disisi, yang mana kalau mereka berjalan lurus akan menabrak dinding halte. Lucunya, disaat saya pikir hanya orang berpendidikan rendah saja yang bersikap seperti itu, saya pernah melihat seseorang yang mengenakan seragam Tentara Nasional Indonesia yang terhormat, melakukan hal yang sama, mengantri dengan tidak benar. Dia kan harusnya memberi contoh, memberi teladan bagi masyarakat sipil, bukan malah menjadi lebih parah daripada masyarakat sipil.

Well, masih banyak yang perlu diperbaiki 

2 comments:

Ariyanti Danurtiyas said...

sabaarr yaaa :P

Arnold Linting said...

Iya...