Jun 1, 2009

SSsssSSShhhHHHhhhh......


SSsssSSShhhHHHhhhh……..

Sabtu kemarin, saya dan “Best Movies Partner” saya menonton Terminator: Salvation. Berhubung bosan dengan biskop yang paling sering kami kunjungi (bioskop yang dekat kantor kami) maka kami memutuskan (sebenarnya saya membiarkan dia yang memutuskan huehehehehe) untuk menonton di Djakarta Theatre XXI. Alasan lainnya adalah bahwa hari itu kedua studio Djakarta Theatre menayangkan Terminator: Salvation.

Tiba pukul 7 malam, kami membeli tiket untuk jam 21.50 karena jam pertunjukan lain yang dekat waktunya (19.30 dan 20.00) sudah hampir terisi penuh tempat duduknya. Karena harus menunggu lama, kami memutuskan makan malam dahulu. Dan karena masih belum waktunya juga, kami memutuskan membeli snack dan minuman untuk didalam bioskop, dan kemudian menunggu sambil ngopi dan nyoklat (hazelnut coffee dan ice chocolate, mudeng opo ora?). sempat juga saya mencoba memakan coklat yang akhirnya membuat saya mual dan ingin (maaf) muntah. Untungnya tidak sampai (maaf) muntah hehehehehe….

Setelah quick toilet time, kami akhirnya memasuki ruangan bioskop. Layarnya sudah memutar trailer pertama. Kami memilih deretan favorit yaitu deret paling atas, hanya saja kali ini kami tidak di tengah, tapi 2 bangku dari bangku paling kanan. 2 bangku paling kanan sudah terisi oleh laki-laki dan perempuan yang tampaknya usianya lebih tua dari kami (kalau lebih muda berarti mukanya boros banget, sumpah!). Dari gelagat awal yang saya lihat, saya sepertinya akan kesal dengan perempuan itu, karena sepanjang trailer terus berkutat dengan handphone. Tapi saat film akan dimulai, dia mematikan handphone-nya, dan saya sedikit tenang.

Beberapa saat setelah film dimulai, 4 bangku sebelah kiri kami yang tadinya kosong akhirnya diisi oleh sang pemilik karcis (doh, penonton yang telat begini nih yang bikin kesal, harus disenterin jalannya dan akhirnya bikin silau, sering menghalangi layar pula). Beberapa saat kemudian, mereka memancing kekesalan lainnya dengan tetap memainkan handphone dan mengobrol. Karena kesal, saya mengeluarkan suara “SSSHHHHH…..” tanda agar diam dan mereka terdiam, meskipun yang perempuan tetap berkali-kali memainkan handphone-nya (kalau penting banget sms-annya, keluar dulu deh, jangan bikin silau yang lain…buat yang sibuk fesbukan lewat bebehnya juga, nanti-nanti saja kenapa sih…ngeseliiiiiinnnnn). Tidak lama, pasangan disebelah kanan saya juga mengobrol, bahkan lebih keras daripada rombongan 4 orang yang sebelumnya berisik. Saya kembali mau mengeluarkan suara “SSSHHHHH..” pada mereka, tapi partner menonton saya mencegah dan mencoba menenangkan saya. Mereka akhirnya tetap mengobrol layaknya orang norak yang baru pertama kali menonton di bioskop, sepertinya mereka mendapat gelar Doktor dalam hal menonton layar tancap, tapi mereka tidak lulus TK menonton di bioskop (iya, kalian yang duduk di bangku A1 dan A2 Djakarta Theatre 1 hari Sabtu 30 Mei 2009 jam pertunjukan 21.50 WIB). Karena terus-terusan dicegah, saya tidak bisa melampiaskan kekesalan saya yang sudah sampai di kepala. Akhirnya saya memutuskan untuk meledek mereka dengan menyumpal kuping kanan saya, dengan harapan mereka cukup berpendidikan dan mengerti maksud saya, yang adalah mereka terlalu berisik. Tapi dasar memang norak dan tidak berpendidikan, mereka tetap mengobrol seolah-olah bioskop itu milik mereka sendiri. Terus seperti itu sampai akhir film. Selesai film, saya terus melihat ke arah laki-laki norak itu, dengan harapan dia melihat saya juga dan memulai gara-gara (uugghhh…beneran mau nonjok tu orang waktu itu…kesaaaaaaaaaalllll). Tapi dia selamat karena dia tidak sekalipun melihat ke arah saya. Setelah setengah kosong, kamipun beranjak keluar dan memutuskan langsung pulang.

Untungnya, mood buruk saya segera hilang sekeluarnya kami dari bioskop. Bahkan saya jadi super senang setibanya di rumah. Kenapa? Kasih tahu tidak yaa…? Hmmmmm….. Ogah :-P

Good Movie + Good Company = Amazing Time
Thank you so much…It’s been another amazing time 

5 comments:

Ariyanti Danurtiyas said...

Mungkin mereka seperti itu karena memang tidak tahu... Mereka seperti itu karena menganggap mereka benar. Sama seperti kamu yg menganggap kamu yg benar. Mungkin mereka menganggap kamu yg norak yg nonton bioskop tanpa mengobrol, hehehe... Masing2 punya persepsi, yg saling menganggap diri kita sendirilah yg benar.

Mungkin lain kali dicoba untuk ngasih tau dengan cara baik2 (dgn asumsi mereka sebelumnya emang gak tau aturannya di bioskop gak boleh ngobrol). Kalau mereka diam, berarti mereka akhirnya menjadi tahu. Kalau masih berisik atau nyolot, berarti mereka gak bisa bahasa manusia, dan menghadapi mereka hanya membuang2 waktu. Mendingan energi kita dipakai untuk berbuat sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri aja :)

Quinie said...

besok2 sebelom nonton, sediain karton gede yang tulisannya :
JANGAN BERISIKKKK!!!!

Ariyanti Danurtiyas said...

Hihihi... kayak lagi demo :)

Bandit Batak said...

haaha..kasusnya sama seperti yang sering saya hadapi. yang penting tetap sabar aj deh

Arnold Linting said...

@ Quinie : ya elah...karton...daku mah maunya bawa megafon wakakakakakak

@ Yanti : ya ya ya.. u got a point

@ Bandit Batak : thanks for the comment, sering2 mampir ya