Jun 11, 2009

So Much For Shouting Boys..


So Much For Shouting Boys…

Pagi tadi, seperti biasa saya menaiki patas di Kampung Melayu. Patas itu di bagian belakangnya sudah dipenuhi oleh siswa SMK yang merokok. Karena menghindari asap rokok mereka, saya memilih tempat duduk yang agak ke tengah.

Tidak lama kemudian naiklah segerombolan anak sekolah dari kedua pintu. Semuanya langsung menghampiri sekelompok anak sekolah yang sedang merokok di bagian belakang. Dari tempat saya duduk saya bisa mendengar suara mereka semua. Tampaknya yang baru naik berasal dari sekolah yang berbeda dengan mereka yang sudah berada di dalam bis sebelumnya. Mereka yang baru naik memalak mereka yang duduk di bangku belakang. Beberapa anak terlihat berlari keluar melalui pintu depan. Saya kemudian menengok ke belakang dan mendapati satu anak yang dikerumuni sekitar 5-6 anak lainnya. Mereka memukuli dan mencoba terus memaksa satu anak itu untuk memberikan uangnya.

Entah kenapa, saya kemudian pindah tempat duduk ke bagian belakang, tepat disebelah anak-anak sekolah itu. Satu anak yang terpojok tadi mencoba melarikan diri, tapi tertahan karena ada yang memegangi tasnya sambil berkata “mati lu kalau lari. Cepetan keluarin duit lu.” Saya kemudian menatap semua anak sekolah yang memalak. Beberapa kemudian turun dan tersisa dua orang. Anak yang sendirian kemudian berkata “gak ada duit gue, periksa aja kalau ga percaya.” Salah satu dari dua anak yang memalak mengangkat tangannya, seperti mau memukul. Saya langsung berpura-pura batuk sambil terus melihat anak yang mau memukul. Anak itu kemudian melihat saya. Dalam hati saya kalau dia sampai mengeluarkan kata “apa lu” pada saya, atau ada gelagatnya yang menantang saya, maka saat itu juga akan ada dua anak sekolah yang terkapar, bahkan lebih kalau teman-temannya membantu. Anak yang mau memukul kemudian menurunkan tangannya, merogoh ke kantung anak yang mau dipukulnya, mengambil uang dari kantong itu (yang sekilas saya lihat adalah uang ribuan rupiah) dan kemudian turun disusul oleh temannya.

Bis belum bergerak sampai beberapa menit kemudian. Anak yang dipalak duduk satu bangku di depan saya, sambil terus celingak-celinguk, mungkin takut jika gerombolan anak sekolah yang tadi memalaknya datang lagi. Karena penasaran, saya terus memperhatikan anak itu, saya mau tahu bersekolah dimana dia. Tidak lama kemudian, saya lihat dia turun di tempat yang sama dengan anak-anak sekolah yang seringkali mengganggu kenyamanan saya di pagi hari dengan tawuran. Anak itu bersekolah di SMK yang sama, yang hampir setiap pagi berteriak-teriak menantang sekolah lain, berlagak seperti jagoan. Tapi ternyata, kalau sudah dalam posisi seperti tadi, sama saja dengan anak sekolah lain yang tidak berlagak jagoan. Kemana perginya sikapnya yang seperti jagoan ya? Saya pikir mereka berlagak seperti jagoan karena memang jago, ternyata cuma menang berteriak, itupun kalau rame-rame.

Lalu anak sekolah mana yang memalak ya??

-Tonk kosonk nyaring bunyinya.. klentang klentonk kosonk banyak bicara..(Tonk Kosonk – Slank)-

4 comments:

Ariyanti Danurtiyas said...

Hhhmmm... Ini salah satu yg membuat hari kamu jadi buruk?

Arnold Linting said...

bukan, ini kejadian hari sebelumnya

Ariyanti Danurtiyas said...

Ohh... kirain :P

natazya said...

heran emang sama anak abege yang banyak gaya begini... hahaha padahal kalo dihajar lebih asik tuh kayanya :p

cuma... sayangnya yang begini kepelihara sampe tua... dan sok sok an di dalam kelompok itu terpelihara... padahal kalo sendiri mah ga pada bisa apa apa... sigh... just dealt with that kind of people lately...

*curcol :p