Jun 21, 2009

Hari Nonton Sedunia


Hari Nonton Sedunia

Rabu ini saya tidak masuk kerja karena sampai jam 7 pagi mata saya tidak bisa diajak kerja sama untuk terbuka. Sekalinya mata saya terbuka, ganti kepala saya yang tidak bisa diajak kerja sama, pusiiiiing banget. Sepertinya pengaruh sulit tidur saya datang lagi, pasti ada satu hari dimana tubuh saya berontak dan minta diistirahatkan sepenuhnya. Agak aneh, karena sebenarnya Minggu-nya saya Hibernasi total, tidak kemana-mana, tidak beraktifitas yang menyebabkan saya lelah, hanya beberapa jam didepan komputer warnet pada minggu malamnya. Lalu kenapa ya tubuh saya minta diistirahatkan? Apakah karena yang menyebabkan saya susah tidur selasa malamnya adalah karena terlalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya konyol dan tidak saya inginkan? Entahlah, bisa jadi juga, but I don’t know. Yang saya ketahui, hari rabu pagi tubuh saya menolak berangkat kerja.




Setelah mengabari orang kantor tentang ketidak hadiran saya hari itu, saya mencoba untuk tidur. Tapi kemudian saya harus beradu argumen dulu dengan Yanti tentang hal konyol yang saya pikirkan semalaman (I was so stupid, sorry Tea, won’t happen again, I promise) selama beberapa saat. Setelah masalahnya selesai, saya kemudian tertidur. Sekitar jam 11 (sebelas) siang, saya terbangun dengan keadaan kepala saya sudah agak berkurang pusingnya. Karena mata tidak mau kembali terpejam, saya akhirnya melanjutkan film “Ichi” yang sempat terhenti dua malam sebelumnya. Film “Ichi” menceritakan tentang seorang wanita buta yang jago pedang, sedang bekelana mencari guru yang sekaligus ayahnya. Selain itu ada juga seorang samurai yang penampilannya meyakinkan, tapi mencabut pedangnya saja tidak mampu. Keduanya harus berhadapan dengan segerombolan penjahat. Gaya pengambilan gambar film ini sangat seperti film-film serial jagoan bertopeng atau tokusatsu Jepang masa kini, seperti Kamen Rider Blade, Kuuga, dan lainnya. Kemudian karena cerita di bagian awalnya sangat lemah, kemudian para pemerannya juga tidak terlalu mencolok permainannya, membuat film ini agak membosankan awalnya. Tapi di sepertiga bagian akhir, film ini mulai menunjukkan inti cerita yang tidak terlalu ringan. Rahasia mengenai sang jagoan wanita, Ichi, dan rahasia samurai penakut (yang dipanggil sensei – guru) digambarkan dengan baik. Meskipun lagi-lagi saya tetap kecewa dengan pengambilan gambar, film ini pada akhirnya saya beri nilai 2,5/5.



Oh, Yanti sempat menelpon saya di pertengahan film “Ichi” sekedar mengingatkan saya untuk makan (senangnyaaa…hehehe). Selesai menonton “Ichi”, saya melanjutkan menonton film “Hotel for Dogs”. Film ini sangat ditujukan buat penonton remaja, atau keluarga. Menceritakan tentang Kakak-beradik yatim piatu dengan seekor anjingnya yang bernama Friday. Mereka menemukan sebuah gedung bekas hotel. Mereka kemudian menggunakan gedung itu sebagai tempat mereka merawat anjing-anjing terlantar. Dengan kepintaran sang adik dalam membuat alat, mereka bisa memberikan banyak hiburan untuk anjing-anjing yang ditampung disana, anjing-anjing yang mereka anggap keluarga mereka. Sebagai film keluarga, film ini cukup menghibur. Saya sendiri sangat senang menontonnya karena begitu banyak anjing lucu yang ada di dalam film ini. Sebut saja jenis poodle, hound, pug, rough collie, german Sheppard, sampai Doberman ada disini. Untuk film ini saya beri nilai 3/5 karena banyaknya anjing. Kalau tidak ada anjing, 1,5/5 cukup.



Setelah “Hotel for Dogs” saya kembali tidur, kepala saya mulai pusing lagi. Setelah tidur sekitar 2-3 jam, saya terbangun pada jam 5 sore dengan keadaan pusing di kepala saya hilang. Setelah minum air dan menerima telpon dari Yanti, saya kemudian menonton film yang saya beli minggu lalu saat saya menunggu Yanti olah raga, “Silent Hill”. Film ini sebenarnya film yang sudah sangat saya tunggu waktu belum beredar, tapi kemudian saya selalu lupa membelinya (karena tidak pernah melihat film ini dijual di tempat biasa saya membeli) ketika sudah beredar. Ceritanya tentang seorang Ibu bernama Rose yang membawa putri angkatnya, Sharon, ke sebuah tempat bernama Silent Hill, karena putrinya tersebut sering mengalami mimpi mengenai Silent Hill. Keduanya mengalami kecelakaan. Saat tersadar, Rose mendapati bahwa putrinya menghilang. Jadilah Rose mencari Sharon di kota yang penuh dengan kejadian dan mahluk menyeramkan. Filmnya baguuus banget. Gelap, seram, menegangkan, pokoknya semua elemen horror ada deh. Saya suka horror seperti ini, makanya saya kasih nilai 4/5.



Terakhir, setelah menonton “Silent Hill”, saya menonton “Inkheart”, film yang saya beli karena menurut info yang saya dapat, digadang-gadang sebagai film fantasi yang mampu menyaingi The Chronicles of Narnia. Ceritanya tentang Mortimer, seorang Silvertongue, yang jika membaca buku keras-keras maka tokoh atau apapun dalam buku itu akan keluar dari buku dan menjadi nyata. Tapi tidak hanya itu, sesuatu dari dunia nyata juga akan masuk ke dalam buku tersebut sebagai penggantinya. Suatu hari, Mortimer membaca buku berjudul Inkheart dan mengeluarkan beberapa tokoh, tokoh jahat dan baik seperti Carpicorn dan Dustfinger, dan tanpa sengaja memasukkan Istrinya ke dalam buku. Seumur hidupnya Mortimer mencari buku yang langka itu, agar bisa mengeluarkan istrinya dari buku tersebut. Film ini lumayan menarik, tapi penggarapannya agak kurang. Entah ya, saya belum membaca novelnya, tapi apakah mungkin karena di novelnya ceritanya memang kurang greget? Atau memang karena pembuat filmnya? Anyway, apapun alasannya, mungkin perlu dipikirkan lagi menyamakan ini dengan Narnia (terutama Prince of Caspian, jauh bangeet kalahnya Inkheart). Sebagai film fantasi, Inkheart masih belum bisa disandingkan dengan Narnia. Dengan sedikit perbaikan mungkin bisa, tapi mengingat keadaannya yang sekarang, mungkin lebih cocok disandingkan dengan Bridge to Terabithia dan The Seeker (kalau kurang setuju maaf ya, ini cuma pendapat saya lho).

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan lewat jam 9 malam. Kenapa ya waktu berlalu cepat sekali kalau kita melakukan sesuatu yang kita sukai atau saat bersama dengan seseorang yang kita cintai? Apapun alasanya, yang penting rabu ini saya deklarasikan sebagai Hari Menonton Sedunia milik saya di bulan Juni. Bulan depan tanggal berapa ya enaknya? Hehehehehe…

8 comments:

Quinie said...

hohoho.. dikau ga masuk kantor lalu nonton.. sama dong... bedanya sayah nonton di plangi :D

Ariyanti said...

@Nod: Senangnya bisa nonton seharian di hari kerja, nakalnya :P. Btw, "Digadang-gadang" itu artinya apa? Bahasa Torajakah?
@Quinie: Dasar lo juga nakal, hehe...

machmoedsantoso said...

pantes..pantes ga masuk kerja tuh yah..hmmmm ckckckckck

Arnold Linting said...

@Quino : hebat euy bisa nonton di pelangi....nongolnya kan cuma abis ujan :P

@Tea : Digadang-gadang?....kayanya artinya dianggap oleh khalayak ramai....apa salah bahasa ya saya?

@Muy : Iya, soalnya daripada bete tiduran di tempat tidur Kang hehehehehe.... :P

Cebong Ipiet said...

waaaa featuring mbak ariyanti ya mas... hiihihih

Arnold Linting said...

@Ipiet : Iya mba, jadi malyuu akyuu :P

Natazya said...

ihihihihihi

as an unemploy one, everyday is a movie day for me heheheu

tadi malem baru nonton INKHEART, and yes, ga terlalu istimewa. Ide cerita oke juga... cuma ga ada gregetnya sama sekali... terlalu plain!

Arnold Linting said...

@ Taz : iya kan? males banget deh nonton tu film...lebih enak baca novelnya kayanya