Jun 1, 2009

Not This Year Lads...


Not This Year Lads

Tadinya, saya berencana untuk cepat pulang kerja dan tidur lebih awal (sangat awal, sebisa mungkin sebelum jam 9) agar saya bisa tetap segar saat dan setelah menonton pertandingan final Liga Champions Eropa antara Barcelona melawan Manchester United. Tapi, saat pagi hari di hari H, saya menjadi sangat malas untuk menonton pertandingan tersebut. Saya menjadi malas kalau harus pulang cepat dan tidur lebih awal. Biasanya ini tanda-tanda Manchester United akan kalah, kalau saya kemudian menjadi malas menonton Manchester United tanpa alasan jelas dan kuat.
Saya kemudian memutuskan mengikuti permintaan seseorang untuk menonton film Angels and Demons sepulang kantor. Dia lupa dengan rencana saya tidur lebih awal hari itu, lupa ada pertandingan final Liga Champions dini harinya. Tapi saya justru sangat senang dia lupa hal itu, karena kalau dia ingat, sudah tentu dia tidak akan mengeluarkan ide menonton film hari itu dan membuat saya bosan di rumah saja (Thanks).
Maka, hari itu, saya tidak jadi pulang cepat dan tidur lebih awal, melainkan menghabiskan malam dengan seseorang. Perasaan cemas dan takut Manchester United kalah, lenyap begitu saja, tergantikan perasaan bahagia menghabiskan waktu dengannya.
Filmnya bagus, bahkan sedikit lebih baik dibanding film yang diadaptasi dari novel Dan Brown sebelumnya, Da Vinci Code. Beberapa hal yang sedikit menyebalkan adalah masih adanya orang bodoh dan norak yang hadir di dalam ruangan teater (tidak mematikan atau men-silent handphone), beberapa yang mengobrol dengan suara yang cukup keras, beberapa yang duduk dalam posisi yang menghalangi pandangan mata, transisi antar roll film yang kurang mulus dan pasangan sesama jenis yang duduk disebelah saya yang sekaligus merupakan Spoiler. Sepanjang film, kedua orang tersebut berulang kali mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan kejadian berikutnya dalam film, mengungkap siapa tokoh antagonis sebenarnya, pokoknya benar-benar menyebalkan (ternyata begini ya rasanya kalau di spoil…maaf ya Ri kalau sering spoiling).
Pulangnya, saya sempat mampir ke tempat saya biasa nongkrong, karena ada rencana nonton bareng dan saya diajak ikutan. Tepat tengah malam saya pulang ke rumah. Setibanya di rumah saya mengganti baju, mencuci muka dan kaki, mencoba kembali menelpon seseorang, menemukan donat kampung dan kemudian memakannya, meminum air 2 botol dan mengobrol di telpon dengan seseorang sampai sekitar jam 00.30 WIB. Jam 01.30 saya bangun kembali, menyalakan televisi, dan menunggu dimulainya pertandingan sambil tetap tiduran di tempat tidur. Entah kenapa saya merasa harus tetap member dukungan pada Manchester United.
Menit ke-10, Barcelona mencetak gol melalui Samuel Eto’o. Pertandingan berjalan berat sebelah, Barcelona terus mengurung Manchester United. Saat istirahat, saya sempat memindahkan channel ke stasiun TV lain, mencari-cari yang agak lebih menarik ketimbang mendengarkan orang-orang sok jago yang mencoba mengatakan kesalahan Manchester United dan bagaimana caranya Manchester United bisa keluar dari tekanan (seolah-olah seorang Sir Alex Ferguson tidak ada apa-apanya dibanding mereka). Setelah babak kedua dimulai, saya kembali menonton. Menit ke-70, Barcelona kembali mencetak gol melalui sundulan Lionel Andres “Messias” Messi. Manchester United tetap tidak bisa membalikkan keadaan, hingga akhirnya wasit meniup peluit panjang. Barcelona menjadi juara Liga Champions Eropa tahun ini, mengalahkan sang juara bertahan.
Selesai menonton, saya mengucapkan selamat kepada teman-teman saya yang saya tahu merupakan fans Barcelona (buat yang dukung barca karena tidak mau MU menang, kelaut aja, tim anda bukan yang mengalahkan MU. Apalagi kalau anda penggemar klub Italia, tidak usah bicara banyak dan berkomentar, dua tahun belakangan saya tidak mendengar ada gaung kehebatan dari klub Italia huahahahahaha). Mungkin untuk pertama kalinya saya bisa tersenyum setelah Manchester United kalah. Semua karena malam sebelumnya yang menyenangkan, dan juga karena saya mengakui bahwa pagi itu Barcelona bermain lebih hebat, mereka pantas menjadi juara eropa.
Salut buat el Barca. Untuk Red Devils, selalu ada tahun berikutnya, dan berikutnya, dan seterusnya. Saya akan tetap menjadi pendukung setiamu sampai mati.

Glory! Glory! Man United!

4 comments:

Ariyanti Danurtiyas said...

Nice... Sebuah contoh tulisan dari seseorang yg amat bijak dan berhati besar :)

Quinie said...

pas pindah2 channel, ada acara gosip ga?!

Ariyanti Danurtiyas said...

Jangan2 kasus Manohara lageee... Bosen :(

Arnold Linting said...

@ Quinie : Ada sih, rerun acara gosip siangnya

@ Yanti : thanks :)-